NovelToon NovelToon
Menjadi Madu Dalam Semalam

Menjadi Madu Dalam Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.

"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Beratus-ratus kilometer dari Jakarta, di sebuah pesantren asri yang dikelilingi perbukitan hijau, Patricia melangkah keluar dari musala kecil. Ia mengenakan gamis longgar berwarna Hitam dan cadar hitam yang menutupi separuh wajahnya. Ia tidak lagi menampakkan identitasnya sebagai Patricia. Di sini, ia adalah Nia, santriwati yang paling tekun menghafal kalam-kalam Ilahi.

Ia tidak tahu bahwa di sebuah mobil yang terparkir agak jauh dari gerbang pesantren, Hilman dan Rukayyah sedang memperhatikannya melalui teropong.

Rukayyah menurunkan teropongnya, matanya berkaca-kaca "Benar,Mas.... Itu dia. Dia berada di pondok milik Gus Azmi, kakak iparku. Dia aman di sana."

Hilman menghela napas panjang, rahangnya mengeras. Ada rasa lega yang luar biasa, namun juga kemarahan yang tertahan.

"Biarkan dia di sana, Sayang. Jangan beri tahu Alendra dulu. Pria itu sudah gagal menjaganya. Lihat bagaimana Patricia sekarang... dia terlihat lebih tenang, lebih bercahaya meski tubuhnya terlihat sedikit berbeda." sahut Hilman pelan.

Rukayyah menoleh ke arah suaminya dengan tatapan serius "Mas, Kirana sudah sadar. Jika kita membawa Patricia kembali sekarang, itu hanya akan mempercepat kematian Kirana karena stres. Tapi jika kita membiarkan Alendra seperti ini, dia juga akan hancur."

"Biarlah Alendra merasakan sakit itu. Biar dia tahu rasanya kehilangan sesuatu yang ia sia-siakan. Patricia butuh waktu untuk sembuh. Dan di bawah bimbingan Gus Azmi, dia akan menjadi wanita yang jauh lebih kuat." balas Hilman tersenyum penuh arti.

Rukayyah mengangguk pelan. Ia sengaja meretas data perjalanan dan menyembunyikan keberadaan Patricia dari Alendra karena ia tahu, inilah jalan terbaik. Patricia bukan lagi sekadar pelarian, ia sedang berhijrah.

" Baiklah, kalau begitu,kita temui mas Azmi dulu, kita titipkan Patricia di sini, barulah kita pulang " ucap Rukayyah mantap.

" iya sayang, ayo" sahut Hilman lembut,lalu ia memacu mobilnya kembali ke gerbang pesantren.

***

Kembali ke rumah sakit di Jakarta, Alendra terbangun karena merasakan guncangan di ranjangnya. Ia membuka mata dan menemukan Kirana sedang terisak di depannya, menutupi wajah dengan kedua tangan.

Suara Alendra lemah, mencoba duduk "Kiran? Kamu... kamu sudah sadar? Sejak kapan kamu di sini?"

Kirana mendongak. Matanya merah dan bengkak. Ia menatap Alendra dengan tatapan yang sulit diartikan,campuran antara cinta, kebencian, dan keputusasaan.

"Tidakkah kamu merasakannya, Mas? Saat aku berjuang untuk hidup di dalam koma, aku mendengar suaramu yang terus memanggilnya. Bahkan sekarang, saat aku duduk di depanmu, jiwamu sedang berlari mencarinya." jawab Kirana pelan.

Alendra terdiam. Ia memegang perutnya yang mendadak mual kembali. Rasa bersalahnya pada Kirana sangat besar, namun kerinduannya pada Patricia adalah sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.

"Maafkan aku, Kiran... Aku benar-benar minta maaf. Aku laki-laki paling jahat, kan? Istriku sedang sakit, tapi aku justru kehilangan akal sehatku mencari wanita lain."

Kirana menghela napas panjang, suaranya sangat lirih "Dokter bilang aku tidak punya waktu lama, Mas. Tolong... di sisa waktuku, jangan sebut namanya lagi. Anggaplah dia sudah mati, sebagaimana aku akan segera mati."

Alendra memejamkan mata. Ia ingin berjanji, namun hatinya menolak. Di dalam rahim yang jauh di Jawa Timur, sebuah detak jantung baru mulai terbentuk, mengikat batin Alendra dan Patricia dalam frekuensi yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh Kirana.

***

Seminggu telah berlalu, namun dinding-dinding rumah sakit seolah semakin menghimpit jiwa yang terluka. Aroma antiseptik dan suara monitor jantung menjadi melodi kematian yang menyiksa bagi Kirana. Tubuhnya yang kian menyusut kini bersandar pada bantal tinggi. Ia bersikeras ingin pulang, ingin menghabiskan sisa napasnya di rumah Suhadi, tempat di mana ia pernah merasa menjadi ratu, meski kini ia tahu takhtanya telah runtuh.

Alendra duduk di kursi samping ranjang. Wajahnya pucat, matanya cekung, sesekali masih mual muntah di pagi hari dan tangannya yang gemetar menggenggam tangan Kirana. Ia mencoba menjadi suami yang sempurna di sisa waktu ini. Ia tidak lagi menyebut nama Patricia di hadapan Kirana. Ia membungkam lidahnya rapat-rapat.

Namun, cinta dan rindu bukanlah sesuatu yang bisa dipenjara oleh logika.

___

Sore itu, saat azan ashar berkumandang dari masjid rumah sakit, Alendra berpamitan untuk salat. Kirana, dengan sisa tenaganya, meminta perawat untuk mendorong kursi rodanya ke arah mushala bangsal, berniat ingin melihat suaminya beribadah, ingin merasakan ketenangan dari doa Alendra.

Namun, saat ia sampai di ambang pintu mushala yang sepi, Kirana membeku. Ia melihat Alendra bersujud sangat lama. Saat pria itu duduk dalam doa terakhirnya, suara bisikan Alendra yang parau pecah oleh isak tangis yang tertahan.

Suara Alendra bergetar hebat, menengadah dengan air mata mengalir "Ya Allah... jaga dia. Jaga Patricia di mana pun ia berada. Ampuni hamba yang telah merusak kesuciannya... Lindungi dia, Ya Allah. Hamba merindukannya hingga napas hamba terasa sesak..."

Kirana mencengkeram lengan kursi rodanya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sesak di dadanya bukan lagi karena kanker yang menggerogoti paru-parunya, melainkan karena kenyataan bahwa dalam sujud paling suci pun, Alendra tidak menyebut kesembuhan untuk istrinya yang sedang sekarat, melainkan keselamatan untuk wanita yang telah pergi.

___

Malam harinya, mereka telah kembali ke kamar rawat. Alendra tertidur di sofa panjang karena kelelahan setelah seharian mengurus kepulangan mereka besok. Kirana terjaga, matanya menatap langit-langit dengan pandangan kosong, tangannya meraba perutnya yang nyeri luar biasa.

Tiba-tiba, keheningan pecah oleh suara igauan Alendra.

Napasnya memburu dalam tidur, kepalanya bergerak gelisah"Cia... jangan lari... Cia, maafkan aku... Sakit, Cia... Perutku sakit..."

Alendra meringkuk di sofa, memegang perutnya sendiri sambil terus merintih memanggil nama Patricia. Kirana melihat itu dengan hati yang hancur berkeping-keping. Ia melihat suaminya mengalami penderitaan fisik yang tidak masuk akal, seolah-olah Alendra sedang berbagi rasa sakit dengan Patricia di kejauhan.

Kirana menangis tanpa suara, air matanya membasahi bantal "Bahkan dalam tidurmu, kamu mencarinya, Mas. Kamu tidak pernah tahu bahwa istrimu di sini sedang menghitung detik menuju kematian, tapi kamu justru merintih memanggil namanya."

Tiba-tiba, rasa sakit yang tak tertahankan menghantam rahim Kirana. Ia merasa seolah ada belati yang diputar-putar di dalam tubuhnya. Pendarahan hebat kembali terjadi. Ia mencoba memanggil Alendra, namun suaranya tercekat.

"M-Mas... Alen... s-sakit..."

Alendra tersentak bangun dari igauannya. Ia melihat Kirana bersimbah darah di atas sprei putih. Panik menyelimuti wajahnya. Ia segera menekan tombol darurat dan memeluk tubuh Kirana yang sudah mendingin.

"Kiran! Bertahanlah! Dokter akan datang!"

Kirana menatap Alendra dengan tatapan benci sekaligus cinta yang mendalam, tangannya mencengkeram kerah kemeja Alendra "Lepaskan... lepaskan aku, Mas. Pergilah cari dia. Jangan biarkan aku mati sambil mendengar kamu memanggil namanya. Itu lebih sakit daripada kanker ini!"

Dokter dan perawat menyerbu masuk, memaksa Alendra keluar dari ruangan. Alendra berdiri di lorong, tubuhnya gemetar. Ia kembali merasakan mual yang luar biasa, ia berlari ke arah wastafel dan memuntahkan cairan kuning.

Ia memukul-mukul dadanya sendiri. Ia merasa seperti monster. Istri pertamanya sedang meregang nyawa karena cintanya yang terbagi, sementara istri keduanya hilang entah ke mana membawa separuh jiwanya.

Alendra berteriak pelan di depan wastafel "Kenapa aku harus mencintai dua wanita di waktu yang salah?! Ya Allah, cabut saja nyawaku jika ini adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri penderitaan mereka!"

Di waktu yang sama, di ujung Jawa Timur, Patricia terbangun dari sujud tahajudnya. Ia merasakan denyutan aneh di dadanya , sebuah gerakan halus yang baru pertama kali ia rasakan. Ia menangis tersedu-sedu, merasakan ada getaran kesakitan yang sangat jauh namun terasa nyata.

"Mas Alen... apa kamu di sana sedang terluka? Maafkan aku... maafkan aku..."

Ia tidak tahu bahwa saat itu, Alendra sedang berdarah secara mental, dan Kirana sedang berdarah secara fisik, semuanya demi cinta yang kini menjadi sebuah tragedi berdarah.

1
Yuyun Srie Herawati
hmm gila sama kamu mbak Cia
Meiny Gunawan
up yg bnyk atuh thor...
nunik rahyuni
lha..wes konangan to...kurang ahli dalam penyamaran🤣🤣🤣🤣
@Mita🥰
yeeee semoga CIA peka klu itu alen
@Mita🥰
wah Alen bandung Bondowoso ...atau Roro Jonggrang 🤭🤭
Ulandary Ulandary
up lagi min
Sukarti Wijaya
alen bertranformasi jd bandung bondowoso siap beraksi, sblm ayam berkokok dan suara adzan menggema🤣
Yasmin Natasya
lanjut,up yang banyak thor 😁🙏
Nur Ayra
sangat bagus alurnya , 💪🥰🥰
Yuyun Srie Herawati
wahh nanti mbak Cia malah cinta sama kang Asep
@Mita🥰
semangat ya CIA .....Abang Alen selalu ada tuk mu
@Mita🥰
Alhamdulillah klu alendra yang dulu udah kembali🫣🫣🫣
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣 kang Asep Alon" 🤣🤣
Ulandary Ulandary
up lagi min
Nie
alhamdulillah kamu balik lagi ke asal Alen 😁🤭
Sukarti Wijaya
kekonyolannya ale muncul lg😄
@Mita🥰
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sri Supriatin
wouw da cerita baru n sdh 23 bab 👍👍..Happy Valentine days../Heart//Heart/ disimpen dulu bentar lagi Ramadhan...Tks thor tetap semangat ..🙏🙏
Ulandary Ulandary
up lagi min
Sukarti Wijaya
up lg thor, jgn bikin penasaran😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!