"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"
Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.
Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.
Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.
Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA PILAR DIRUMAH TUA
Seiring berjalannya waktu, tembok tinggi seolah terbangun secara permanen antara rumah Mbah Akung dan kehidupan baru Bagas. Hubungan mereka semakin renggang; komunikasi hanya terjalin melalui pesan singkat yang kaku atau melalui perantara untuk urusan biaya sekolah. Bagas jarang berkunjung, dan setiap kali ia mencoba datang, atmosfer di rumah selalu berubah menjadi dingin dan tegang, sehingga akhirnya ia pun semakin menarik diri. Namun, di balik kerenggangan itu, sebuah ikatan baru yang jauh lebih kuat terjalin di dalam rumah kecil tersebut. Kanaya, Maya, dan Mbah Akung menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, seolah-olah mereka adalah tiga pilar yang saling menopang agar atap rumah mereka tidak roboh.
Malam-malam mereka kini diisi dengan kehangatan yang sederhana. Tidak ada lagi suara teriakan atau pecahan barang, hanya ada suara tawa kecil Kanaya saat ia menceritakan kejadian lucu di sekolahnya. Di ruang tengah, pemandangan yang paling sering terlihat adalah Kanaya yang duduk di antara Mbah Akung dan Ibu Maya. Maya sering kali mengelus rambut Kanaya sambil mendengarkannya membaca buku, sementara Mbah Akung sesekali memberikan tantangan soal matematika yang lebih sulit dari pelajaran sekolahnya.
"Ibu, lihat... Naya sudah bisa hitung pembagian susun. Mbah Akung yang ajari tadi sore pakai lidi," ucap Kanaya dengan bangga sambil menunjukkan buku tulisnya yang penuh coretan angka.
Maya mengecup kening Kanaya dengan haru. "Pintarnya anak Ibu. Mbah Akung memang guru paling hebat ya, Naya? Nanti kalau Naya sudah besar, Naya harus jaga Mbah terus seperti Mbah jaga Naya sekarang."
Mbah Akung terkekeh, meskipun wajahnya tampak lebih rapuh, namun matanya bersinar cerah saat melihat cucunya. "Bapak nggak perlu dijaga, May. Lihat Naya tumbuh sehat dan pintar begini saja, penyakit Mbah rasanya sudah hilang semua. Naya itu obat buat kita, kan?"
Kanaya menggenggam tangan kakek dan ibunya secara bersamaan. Ia tahu betul betapa besar pengorbanan mereka untuk memastikannya tetap merasa dicintai meskipun ayahnya tidak lagi tinggal bersama mereka. "Naya nggak mau ke mana-mana. Naya mau di sini terus sama Mbah Akung dan Ibu Maya. Naya janji nggak akan nakal, biar Ibu nggak capek kerja dan Mbah nggak sedih lagi."
Kehilangan sosok ayah secara fisik memang meninggalkan ruang kosong di hati Kanaya, namun ruang itu segera dipenuhi oleh kasih sayang Maya yang tulus dan bimbingan Mbah Akung yang tak kenal lelah. Mereka bertiga menciptakan dunia kecil yang aman, di mana kejujuran dan ketulusan menjadi landasan utama. Kanaya belajar bahwa keluarga bukan selalu soal struktur yang lengkap, melainkan tentang siapa yang tetap berdiri di sampingmu dan menggenggam tanganmu paling erat saat keadaan menjadi paling sulit.
Siang itu, Kanaya sengaja memperlambat gerakannya di dalam kelas. Saat bel pulang berdering nyaring, ia hanya diam menatap teman-temannya yang bersorak gembira, berhamburan keluar untuk memeluk ayah atau ibu mereka yang sudah menunggu di depan gerbang. Kanaya tetap duduk di bangkunya, pura-pura sibuk merapikan isi tas yang sebenarnya sudah rapi. Ia menunggu hingga suasana benar-benar sepi, hingga suara tawa anak-anak yang pamer nilai ujian kepada orang tua mereka tidak lagi terdengar sampai ke koridor kelas.
Ada rasa sesak yang menghimpit dada kecilnya setiap kali melihat pemandangan itu. Ia merasa iri, bukan karena ia tidak punya keluarga yang mencintainya—karena ia tahu Ibu Maya dan Mbah Akung sangat menyayanginya—tapi karena ia merindukan sosok utuh yang dulu pernah ada. Ia rindu saat ayahnya masih menjadi security di outlet dan ia bisa duduk santai di sana tanpa harus ada rahasia atau pengusiran. Kanaya tidak mau pulang sekarang karena ia tahu, jika ia pulang dengan wajah sembap, Mbah Akung akan bertanya dan Ibu Maya akan ikut bersedih. Ia ingin menenangkan dirinya sendiri di tengah kesunyian sekolah.
"Naya? Kenapa masih di sini, Sayang? Belum dijemput?" tanya Bu Guru yang hendak mengunci ruang kelas.
Kanaya tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. "Naya lagi mau gambar sebentar di buku, Bu. Sebentar lagi Naya jalan ke depan kok, Mbah Akung katanya nunggu di depan toko buku."
Setelah Bu Guru pergi, Kanaya melangkah pelan keluar gerbang. Ia tidak mengambil jalan pintas yang biasa ia lalui bersama Mbah Akung. Ia justru berbelok ke arah gang-gang kecil yang sepi, menjauh dari jalan raya yang ramai oleh kendaraan jemputan. Ia tidak ingin melihat anak-anak lain digandeng ayahnya, atau melihat seorang ayah yang membawakan tas sekolah anaknya. Di gang yang sunyi itu, Kanaya duduk di atas sebuah batu besar di bawah pohon rindang. Ia membuka tasnya, mengambil botol minumnya, dan menatap ke arah langit Bandung yang mendung.
"Ayah... Naya pinter hitung, tapi Naya nggak tau cara hitung berapa hari lagi sampai Ayah boleh main ke rumah lagi," bisiknya lirih pada dirinya sendiri.
Air matanya akhirnya jatuh juga. Di tempat sepi itu, ia membiarkan dirinya menjadi anak kecil seutuhnya yang rapuh. Ia merasa terjepit di antara rasa sayangnya pada Mbah Akung yang sangat protektif dan kerinduannya pada ayahnya yang kini sudah punya kehidupan baru. Kanaya tahu ia harus segera pulang agar kakeknya tidak khawatir, tapi untuk sejenak, ia hanya ingin duduk di sana, di tempat yang tidak ada orang tua lain yang pamer kebahagiaan, membiarkan hatinya yang kecil belajar memaafkan keadaan yang begitu rumit ini.
Perubahan suasana hati Kanaya yang mendalam itu akhirnya mulai berdampak pada dunianya yang paling ia banggakan: pelajaran sekolah. Gadis kecil yang biasanya menjadi bintang di kelas, yang paling cepat mengacungkan tangan saat soal matematika diberikan, kini lebih banyak melamun menatap papan tulis. Konsentrasinya pecah oleh bayangan pertengkaran di rumah, suara pecahan vas bunga, dan kerinduan yang ia pendam sendirian di gang-gang sepi saat pulang sekolah.
Saat pembagian hasil ujian tengah semester tiba, suasana di ruang tamu rumah Mbah Akung mendadak mencekam. Maya memegang lembar kertas hasil ujian Kanaya dengan tangan gemetar. Angka-angka yang tertera di sana sangat jauh dari biasanya; nilai matematika yang selalu sempurna kini merosot tajam, bahkan beberapa mata pelajaran lain hanya menyentuh batas kelulusan. Maya menatap Kanaya yang tertunduk lesu, memainkan ujung seragamnya tanpa berani mendongak.
"Naya... bisa jelaskan ke Ibu kenapa nilainya jadi begini?" tanya Maya dengan suara pelan yang sarat akan kekecewaan sekaligus rasa khawatir. "Bukannya kemarin Naya bilang sudah belajar sama Mbah Akung? Apa soalnya susah sekali, Sayang?"
Mbah Akung yang duduk di kursi rotannya ikut terdiam. Ia mengambil kertas itu, memakai kacamata tuanya, dan menghela napas panjang saat melihat coretan merah dari guru yang menyatakan Kanaya sering melamun di kelas. "Naya, ada apa, Nak? Apa ada yang sakit? Mbah nggak marah soal nilainya, tapi Mbah sedih kalau cucu Mbah yang pintar ini jadi nggak semangat begini."
Kanaya masih bungkam. Air matanya mulai menetes satu per satu, jatuh membasahi lantai ubin. Ia ingin jujur bahwa kepalanya terlalu penuh dengan pikiran tentang ayahnya, tentang mengapa ayahnya diusir, dan tentang mengapa ia harus berpura-pura tidak tahu apa-apa demi menjaga perasaan mereka. Namun, lidahnya terasa kaku. Kecerdasannya kali ini seolah menjadi bumerang; ia terlalu paham bahwa jika ia bicara jujur, itu akan memicu kemarahan baru terhadap ayahnya.
"Maafin Naya, Bu... Mbah... Naya... Naya cuma capek hitung," bisik Kanaya lirih di sela isaknya.
Maya langsung memeluk putrinya itu erat-erat. Ia menyadari bahwa prestasi Kanaya yang anjlok bukan karena kurang belajar, melainkan karena jiwanya yang sedang terluka hebat. Beban emosional yang mereka berikan—secara sadar maupun tidak—telah menguras energi anak sekecil itu hingga ia tak lagi punya ruang untuk memikirkan angka dan huruf. Di ruang tengah yang sunyi itu, mereka akhirnya tersadar bahwa kecerdasan Kanaya tidak akan berarti apa-apa jika kebahagiaannya telah dirampas oleh konflik orang-orang dewasa yang egois di sekelilingnya.
Tahun-tahun berlalu dengan sunyi, membawa Kanaya melewati masa-masa sekolah dasar yang penuh perjuangan batin hingga kini ia telah mengenakan seragam putih-biru. Di usia SMP, Kanaya tumbuh menjadi gadis yang lebih tertutup dan dewasa sebelum waktunya. Bagas benar-benar seolah menghilang ditelan bumi; tidak ada kunjungan di hari ulang tahun, tidak ada kehadiran di hari kelulusan SD, bahkan tidak pernah ada sosok ibu baru yang datang menyapa. Rumah Mbah Akung menjadi benteng yang benar-benar memutus akses Bagas, namun di balik benteng itu, Kanaya tetaplah seorang anak yang memiliki telinga untuk mendengar desas-desus yang berhembus di lingkungan sekitarnya.
Suatu sore, saat Kanaya pulang sekolah dan hendak masuk melalui pintu samping, ia terhenti ketika mendengar percakapan lirih antara Maya dan Mbah Akung di dapur. Suasana yang biasanya hangat mendadak terasa dingin saat nama ayahnya disebut.
"Aku dengar dari teman kerjanya di outlet dulu, Bagas baru saja punya anak lagi, Yah. Perempuan juga," suara Maya terdengar bergetar, ada nada pedih sekaligus marah di sana. "Dia sepertinya sudah benar-benar lupa kalau di sini ada Kanaya yang masih butuh perhatiannya. Sejak bayi itu lahir, dia bahkan tidak pernah menanyakan kabar sekolah Naya lagi."
Mbah Akung menghela napas panjang, suara cangkir teh yang diletakkan di meja terdengar berat. "Biarlah, May. Itu pilihan hidupnya. Yang penting kita jaga Naya baik-baik. Jangan sampai dia tahu soal ini, nanti hatinya tambah hancur. Dia sudah cukup menderita karena ayahnya tidak pernah datang."
Kanaya terpaku di balik tembok, tangannya mencengkeram erat tali tas ranselnya. Kabar itu menghantam dadanya lebih keras daripada nilai ujiannya yang dulu pernah anjlok. Ia punya adik perempuan. Seseorang yang kini mungkin sedang digendong oleh ayahnya, yang mendapatkan kasih sayang utuh yang dulu pernah ia miliki, dan yang tidak perlu merasakan sembunyi-sembunyi hanya untuk bertemu orang tua sendiri. Ada rasa sesak yang luar biasa, namun Kanaya tidak menangis dengan suara keras. Ia menarik napas panjang, mengusap air mata yang nyaris jatuh dengan punggung tangannya, lalu melangkah masuk ke dapur dengan wajah setenang mungkin.
"Ibu, Mbah, Naya pulang," ucapnya dengan nada datar, seolah ia tidak mendengar sepatah kata pun dari percakapan tadi.
Maya dan Mbah Akung tersentak, wajah mereka memucat seketika sambil mencoba bersikap biasa saja. "Eh, Naya sudah pulang. Mau makan apa, Sayang? Ibu masakan sop ayam kesukaanmu ya?" tanya Maya dengan nada yang terlalu riang, menutupi kecemasannya.
Kanaya hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Naya mau belajar di kamar saja dulu, Bu. Tadi ada tugas matematika yang susah."
Di dalam kamar, Kanaya hanya menatap buku tulisnya yang kosong. Ia tidak mengerjakan matematika. Di usianya yang sudah beranjak remaja, ia sadar bahwa ruang kosong di hatinya bukan lagi tentang kerinduan yang naif, melainkan sebuah penerimaan yang pahit. Ia tahu ayahnya sudah memiliki "pengganti" dirinya di rumah yang lain. Namun, demi melihat wajah cemas Maya dan punggung renta Mbah Akung yang terus melindunginya, Kanaya memilih untuk tetap diam. Ia menyimpan rahasia baru itu rapat-rapat, membiarkan dirinya tumbuh dalam sunyi, sambil belajar menguatkan hati bahwa ia harus menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri, meski tanpa kehadiran sosok ayah yang kini sudah berbahagia dengan putri kecilnya yang lain.