"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kepulangan Sang Bayangan
LAUT Mediterania di malam hari adalah sebuah jurang hitam yang tak berujung, di mana ombak-ombak besar menghantam lambung kapal nelayan tua itu dengan kekuatan yang sanggup mematahkan tulang. Di dalam kabin bawah yang sempit dan berbau solar, Aria Moretti duduk bersandar pada tumpukan jaring ikan. Lampu minyak yang menggantung di langit-langit berayun liar, menciptakan bayangan yang memanjang dan memendek di dinding kayu yang lembap.
Setiap guncangan kapal terasa seperti hantaman di perutnya. Aria memejamkan mata, tangannya melindungi perutnya yang kini menjadi pusat semesta barunya. Ia tidak lagi merasakan mual karena kehamilan; rasa itu telah digantikan oleh rasa mual karena kecemasan yang konstan. New York, yayasan sosialnya, dan orang-orang yang ia sayangi sedang berada di bawah moncong senjata Valerio.
"Minum ini," suara Dante memecah deru mesin kapal.
Dante berlutut di depannya, menyodorkan sebuah termos berisi teh jahe hangat. Wajah suaminya tampak kuyu di bawah cahaya lampu yang remang, namun matanya tetap tajam, seperti mata elang yang mengintai mangsa dari balik awan badai.
Aria menerima termos itu, tangannya yang dingin bersentuhan dengan tangan Dante yang panas. "Seberapa dekat kita, Dante?"
"Dua jam lagi menuju pantai selatan Sisilia. Portopalo," jawab Dante. Ia duduk di lantai di samping Aria, membiarkan bahunya menjadi sandaran bagi istrinya. "Marco sudah mengatur agar kita mendarat di area yang dikuasai oleh keluarga nelayan yang berutang nyawa pada kakekku. Mereka tidak akan bicara pada siapa pun."
"Dan setelah itu?" tanya Aria setelah menyesap tehnya. "Valerio pasti sudah menempatkan mata-mata di setiap pelabuhan."
Dante menghela napas, jemarinya mengusap cincin gagak di tangannya dengan gerakan ritmis. "Kita tidak akan menuju Palermo atau Castello dei Corvi. Tempat-tempat itu terlalu mudah diprediksi. Kita akan menuju pedalaman, ke Corleone tua. Di sana ada sebuah biara yang ditinggalkan yang memiliki gudang senjata dan sistem komunikasi satelit yang tidak terdaftar di jaringan mana pun."
Dante menoleh ke arah Aria, tatapannya melembut sejenak. "Aku tahu ini bukan perjalanan yang kubayangkan untukmu di trimester kedua ini, Aria. Aku merasa gagal sebagai suami."
Aria meletakkan termosnya dan memegang wajah Dante, memaksanya untuk menatapnya. "Hentikan, Dante. Kita sudah melewati ini berkali-kali. Kau menyelamatkan kita dari serangan di Kythira. Sekarang, tugasku adalah membantumu menjatuhkan Valerio. Jangan biarkan rasa bersalahmu menjadi celah bagi musuh."
Dante tersenyum miring—sebuah senyuman yang penuh dengan kepahitan namun juga kekaguman. "Kadang aku lupa bahwa aku menikahi seorang pengacara yang lebih keras kepala daripada beton Roma."
Pukul 04.00 dini hari.
Kapal itu merapat di sebuah teluk kecil yang dikelilingi oleh tebing-tebing kapur yang menjulang. Tidak ada lampu, tidak ada suara, kecuali suara ombak yang memecah di bebatuan. Beberapa pria berpakaian nelayan muncul dari balik kegelapan, membantu mereka turun.
Marco sudah menunggu di sana dengan sebuah van putih yang tampak berkarat dan penuh dengan noda tanah. Di dalamnya, peralatan medis dan senjata sudah tersusun rapi.
"Selamat datang kembali di rumah yang tidak ramah, Bos," bisik Marco sambil memberikan rompi anti-peluru khusus yang lebih ringan untuk Aria.
Mereka berkendara menyusuri jalanan setapak yang sempit, mendaki perbukitan Sisilia yang gersang. Aroma tanah kering, zaitun, dan belerang memenuhi udara, membangkitkan memori-memori lama di benak Dante. Bagi Dante, Sisilia adalah sebuah luka yang tidak pernah benar-benar kering; tempat di mana ia belajar bahwa darah lebih kental daripada air, namun pengkhianatan jauh lebih tajam daripada pisau.
Setelah tiga jam berkendara, mereka sampai di sebuah bangunan batu tua yang berdiri kokoh di puncak bukit yang terisolasi. L'Abbazia dei Segreti—Biara Rahasia. Bangunan itu dulunya adalah biara abad ke-12, namun selama perang dunia kedua, kakek Dante mengubahnya menjadi benteng perlindungan terakhir bagi klan Moretti.
Begitu mereka masuk, Agostino menyambut mereka. Wajah pria tua itu tampak lega, namun matanya mencerminkan ketegangan yang sama.
"Tuan Dante, Nyonya... semuanya sudah disiapkan," ucap Agostino. "Para Capo dari faksi lama sedang dalam perjalanan. Beberapa tetap setia, namun ada dua orang yang sudah mulai menerima suap dari Valerio. Anda harus berhati-hati."
Dante mengangguk. "Siapa mereka?"
"Pietro dari Catania dan Silvio dari Messina. Mereka percaya bahwa Valerio adalah masa depan, karena dia membawa janji teknologi dan pembersihan hukum yang dilakukan oleh Project Phoenix."
Dante mendengus. "Pembersihan hukum? Valerio hanya mengganti satu set korupsi dengan korupsi yang lebih canggih. Dia tidak ingin membersihkan sistem; dia ingin memiliki kuncinya."
Sore harinya, pertemuan besar dimulai di ruang bawah tanah biara yang luas, yang dulunya adalah tempat penyimpanan wine namun kini diubah menjadi ruang strategi. Sebuah meja kayu besar diletakkan di tengah ruangan, dikelilingi oleh kursi-kursi tinggi.
Aria duduk di sisi kanan Dante. Ia mengenakan gaun hitam panjang dengan jaket kulit, rambutnya diikat rapi. Ia tampak seperti seorang permaisuri yang sedang mempersiapkan perang. Di depannya terdapat laptop yang terhubung dengan jaringan satelit terenkripsi.
Tiga orang pria tua masuk ke ruangan itu. Mereka adalah para Capo yang menguasai wilayah-wilayah kunci di Sisilia. Mereka adalah sisa-sisa dari era kakek Dante, pria-pria yang tubuhnya penuh dengan bekas luka dan matanya dipenuhi dengan sinisme.
Pietro, pria bertubuh tambun dengan cerutu di mulutnya, menatap Aria dengan pandangan meremehkan. "Dante, kita semua tahu kau adalah pemimpin yang hebat. Tapi membawa istrimu yang sedang hamil ke meja ini? Apakah klan Moretti sudah kekurangan pria?"
Dante tidak bergerak, namun auranya berubah seketika. "Pietro, jika kau menganggap Aria hanya sebagai 'istri', maka kau lebih bodoh dari yang kukira. Dia adalah otak di balik jatuhnya Julian Vane dan Kardinal di Roma. Tanpa dia, kau mungkin sekarang sudah mendekam di penjara atau menjadi budak Lucchese."
Aria angkat bicara, suaranya tenang namun memiliki getaran otoritas yang membuat Pietro terdiam. "Tuan Pietro, saya di sini bukan untuk mendengarkan hinaan Anda. Saya di sini untuk menunjukkan kepada Anda mengapa Valerio Moretti adalah ancaman bagi bisnis Anda masing-masing."
Aria membuka laptopnya dan memproyeksikan data ke dinding batu biara. "Ini adalah rencana Valerio untuk wilayah Catania. Dia tidak akan membagi persentase dengan Anda. Dia berencana mengotomatisasi seluruh jalur logistik menggunakan perusahaan-perusahaan cangkang miliknya di Swiss. Dalam enam bulan, bisnis manual Anda akan dianggap 'ilegal' oleh sistem yang ia bangun, dan Anda akan disingkirkan sebagai 'sampah sejarah'."
Pietro mengamati data itu dengan wajah yang mulai memerah. "Bajingan itu menjanjikanku kenaikan keuntungan dua puluh persen!"
"Kenaikan itu hanya umpan agar Anda menyerahkan kode akses pelabuhan," sahut Aria tajam. "Setelah dia memilikinya, Anda tidak lagi berguna baginya."
Silvio, pria yang lebih kurus dan tampak lebih licik, mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. "Lalu apa tawaranmu, Dante? Kau membawa perang ke pulau ini. Valerio memiliki dukungan dari faksi-faksi besar di Roma yang selamat dari pembersihanmu."
Dante berdiri, ia menaruh kedua tangannya di meja, mencondongkan tubuh ke arah Silvio. "Tawaranku adalah kehormatan dan kelangsungan hidup. Valerio adalah seorang teknokrat; dia tidak peduli pada tradisi Sisilia. Dia akan menjual tanah ini kepada kartel asing asalkan angkanya benar di layar komputernya. Jika kalian berdiri di belakangku, kita akan menghancurkan infrastruktur digitalnya. Kita akan menggunakan cara lama: peluru, darah, dan loyalitas."
Dante mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin gagak asli. "Aku adalah pewaris sah. Dan siapa pun yang berkhianat malam ini, tidak akan pernah melihat matahari terbit di atas Gunung Etna lagi."
Suasana di ruangan itu menjadi sangat tegang. Marco dan tim Reapers berdiri di bayang-bayang dengan tangan di atas senjata mereka.
Silvio menatap cincin itu, lalu menatap Dante. "Valerio mengatakan kau sudah lemah karena wanita ini, Dante. Tapi aku melihat... dia bukan kelemahanmu. Dia adalah senjata barumu."
Silvio berdiri dan menundukkan kepalanya sedikit. "Wilayah Messina ada di belakangmu, Dante."
Pietro, setelah ragu sejenak, akhirnya mematikan cerutunya dan mengangguk. "Catania tidak akan membiarkan seorang 'pelayan administrasi' menjadi raja di tanah kami. Kami bersamamu."
Setelah para Capo pergi, Aria menyandarkan kepalanya di meja. Ia merasa sangat lelah. Ketegangan itu menguras energinya lebih dari yang ia duga.
Dante mendekatinya, memijat bahunya dengan lembut. "Kau melakukannya dengan luar biasa, Aria. Tanpa data itu, mereka mungkin sudah menusukku sekarang."
"Ini baru permulaan, Dante," bisik Aria. "Valerio akan tahu pertemuan ini terjadi. Dia memiliki satelit dan mata-mata di mana-mana."
Tiba-tiba, monitor laptop Aria berkedip merah. Sebuah peringatan masuk.
"Ada apa?" tanya Dante.
Aria dengan cepat mengetik sesuatu. "Jaringan satelit kita... seseorang sedang mencoba menembusnya. Bukan dari luar, tapi dari titik akses yang sangat dekat. Dari dalam biara ini!"
Dante langsung menoleh ke arah Marco. "Kunci semua pintu! Tidak ada yang boleh keluar!"
Marco segera beraksi, namun terlambat. Sebuah ledakan kecil terdengar dari arah menara komunikasi di atas biara.
"Mereka sudah tahu posisi kita!" teriak Marco melalui radio. "Dua helikopter tempur terdeteksi mendekat dari arah laut!"
Dante mencengkeram lengan Aria. "Ayo! Kita harus ke bunker bawah tanah! Agostino, bawa tim medis!"
Mereka berlari melintasi koridor batu yang sempit saat suara raungan mesin helikopter mulai terdengar di atas mereka. Suara tembakan senapan mesin dari udara mulai menghujani atap biara, menghancurkan genteng-genteng tua dan mengirim debu serta batu berjatuhan.
RAT-TAT-TAT-TAT!
"Valerio tidak menunggu!" geram Dante. "Dia langsung mengirim pasukan udara!"
Mereka sampai di pintu bunker baja, namun tiba-tiba sesosok bayangan muncul dari balik pilar. Itu adalah salah satu pengawal baru yang dibawa Pietro. Pria itu memegang sebuah detonator.
"Maaf, Tuan Dante," ucap pengawal itu dengan suara gemetar. "Valerio memiliki keluarga saya."
Pria itu menekan tombolnya.
BOOOOM!
Bagian dari lorong menuju bunker runtuh, memisahkan Dante dan Aria dari Marco serta tim pengawal lainnya. Debu tebal memenuhi udara, membuat mereka terbatuk dan sulit melihat.
"Aria! Kau di mana?!" teriak Dante panik.
"Aku di sini!" jawab Aria dari balik reruntuhan batu.
Aria mencoba berdiri, namun ia merasakan nyeri yang tajam di perutnya. Ia merosot kembali ke lantai, wajahnya pucat pasi. "Dante... perutku..."
Dante segera merangkak melewati celah bebatuan, mencapai Aria. Ia melihat wajah istrinya yang penuh keringat dingin. Ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menghantam Dante—lebih besar daripada saat ia menghadapi todongan senjata di Roma.
"Agostino! Medis!" teriak Dante, namun tidak ada jawaban. Suara helikopter di atas semakin kencang, dan suara tentara bayaran yang mulai turun menggunakan tali terdengar di halaman biara.
Dante menatap istrinya, lalu menatap jalan keluar yang tertutup. Mereka terperangkap. Musuh ada di atas mereka, dan nyawa anak mereka sedang dalam bahaya.
"Dante," bisik Aria, tangannya mencengkeram baju Dante. "Jangan biarkan dia... mengambil bayi kita."
Dante mencium kening Aria, matanya memancarkan amarah yang bisa membakar seluruh pulau ini. Ia mengambil senapan serbunya, mengisi magasin terakhir, dan berdiri di depan reruntuhan, melindungi istrinya dengan tubuhnya sendiri.
"Hanya melewati mayatku, Aria," desis Dante. "Hanya melewati mayatku."
Di luar, pintu kayu besar biara hancur berantakan. Langkah kaki tentara bayaran elit Sombra mulai masuk ke dalam koridor, lampu senter mereka menyapu kegelapan, mencari mangsa utama mereka.
Perang saudara Moretti kini bukan lagi tentang wilayah atau uang. Ini adalah tentang kelangsungan hidup sebuah nyawa yang belum lahir, di tengah-tengah reruntuhan biara yang menjadi saksi bisu kekejaman sejarah.