NovelToon NovelToon
Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Time Travel / Reinkarnasi / Harem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Indah

"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.

Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!

"Tidak mau."

Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.

Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.

"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apakah aku akan mati?

Siang itu terlalu cerah untuk sebuah ketenangan.

Cahaya matahari memantul di permukaan sungai di belakang Taman Teratai, berkilau seperti ribuan pisau kecil. Angin berembus lembut, membawa aroma bunga dan dedaunan basah. Pemandangan yang damai—jika saja tidak ada niat busuk yang tersembunyi di balik senyum para wanita istana.

Mei Yuxin berdiri paling depan.

Wajahnya tenang, sikapnya anggun, seolah ia hanya seorang selir yang sedang menikmati waktu senggang. Namun di balik lengan bajunya yang lebar, jemarinya mengepal. Detak jantungnya stabil. Tidak gugup. Tidak ragu. Rencana ini telah disusun terlalu matang untuk gagal.

“Hari ini sunyinya menyenangkan,” ucap salah satu selir sambil tertawa kecil. “Jarang sekali Taman Teratai sepi seperti ini.”

“Benar,” sahut Mei Yuxin, suaranya lembut. “Dan Selir Xue jarang datang ke tempat seperti ini. Bukankah itu kebetulan yang indah?”

Para selir lain saling bertukar pandang, senyum mereka mengembang tipis. Kebetulan. Ya. Semuanya selalu tampak seperti kebetulan di istana.

Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat.

Bai Ruoxue muncul di balik pepohonan, berjalan pelan dengan sikap hati-hati. Begitu melihat siapa saja yang berkumpul di sana, langkahnya terhenti sepersekian detik. Matanya menyapu wajah-wajah itu—Mei Yuxin, dua selir lain, dan beberapa dayang yang berdiri agak jauh.

Senyum mereka terlalu rapi.

Dadanya mengencang.

“Apa yang mereka rencanakan…?” pikirnya.

Naluri bertahan hidupnya berteriak. Sejak memasuki istana ini, ia telah belajar satu hal: tidak ada pertemuan yang benar-benar kebetulan. Terutama jika Mei Yuxin ada di sana.

Namun ia sudah terlanjur datang.

Jika ia berbalik sekarang, rumor akan menyebar. Penolakan bisa diartikan sebagai penghinaan. Dan di istana, penghinaan sering kali lebih mematikan daripada jebakan terbuka.

Bai Ruoxue melangkah maju.

“Selir Mei,” sapaannya sopan, datar. “Aku tidak menyangka akan bertemu kalian di sini.”

Mei Yuxin tersenyum. Senyum yang lembut. Senyum yang berbahaya.

“Kami juga,” jawabnya. “Kebetulan kami sedang membicarakan betapa jernihnya sungai ini. Selir Xue, kau harus melihatnya dari dekat.”

Bai Ruoxue tidak menjawab. Matanya tertuju pada air sungai. Terlalu dekat. Terlalu tenang. Batu-batu di tepi sungai tampak licin oleh lumut.

Ia berhenti beberapa langkah dari tepi.

Namun Mei Yuxin tidak berniat memberi jarak aman.

“Ah—!” seru salah satu selir tiba-tiba, berpura-pura terkejut. “Lihat itu! Ada ikan besar!”

Ia melangkah mendekat dengan cepat—terlalu cepat—dan dalam gerakan yang tampak kacau, tangannya mencengkeram lengan Bai Ruoxue.

Tarikan itu kuat.

Terlalu kuat untuk disebut kecelakaan.

“Lepas—!”

Bai Ruoxue belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika keseimbangannya hilang. Kakinya menginjak batu licin. Tubuhnya condong ke depan. Dunia berputar.

Dan kemudian—

BYUR!

Air dingin menelan tubuhnya.

Rasa sakit menghantam seketika. Dingin menusuk hingga ke tulang. Air masuk ke hidung dan mulutnya, membuat dadanya terasa seperti diremas kuat-kuat. Ia meronta, mencoba menggerakkan tangan dan kaki, namun pakaian istana yang berat justru menariknya ke bawah.

"To—tolong!"

Di atas, suara tawa meledak.

“Tuhan, lihat wajahnya!”

“Astaga, dia benar-benar jatuh!”

“Tenang saja, airnya tidak terlalu dalam… kan?”

Tawa itu tidak ditutupi lagi.

Mereka tidak khawatir dengan teriakan Bai Ruoxue. Karena di sini sangat jarang didatangi oleh dayang atau pengawal, bahkan tidak pernah. Jadi, ini akan menjadi sebuah kecelakaan yang sempurna. Tidak ada yang dicurigai dan akan menjadi kesalahan Bai Ruoxue sendiri yang terpeleset dalam air.

Mei Yuxin berdiri di tepi sungai, menatap ke bawah dengan mata berbinar. Kepuasan merambat di dadanya seperti racun manis. Ia melihat Bai Ruoxue terombang-ambing, tangannya mencakar air dengan panik.

Lemah.

Tak berdaya.

“Kau selalu terlalu berani,” gumam Mei Yuxin pelan, nyaris seperti bisikan. “Sekarang lihat dirimu.”

Ada rasa puas dalam diri Mei Yuxin. Puas di mana keangkuhan wanita itu kini tertelan air sungai. Tak bisa apa-apa selain memasrahkan dirinya pada takdir.

Beberapa selir lain mendekat, menutupi mulut mereka, tapi tawa tetap lolos di sela-sela jari.

“Dia tidak bisa berenang, kan?”

“Lihat gerakannya. Seperti anak kecil.”

“Sudahlah. Anggap saja ini pelajaran.”

Bai Ruoxue mendengar semuanya, meski suaranya terdengar terdistorsi oleh air. Tubuhnya semakin berat. Setiap tarikan napas terasa seperti menyedot pisau. Kakinya mulai mati rasa. Tangannya melemah.

Ia mencoba berteriak, tapi yang keluar hanya gelembung.

Pandangan matanya mulai mengabur. Cahaya matahari di permukaan air tampak menjauh, semakin redup.

Jadi… begini rasanya mati?

Pikiran itu muncul begitu saja.

Apakah ini akhir dari perjalananku di dunia ini?

Ia teringat kehidupannya yang lama. Dunia yang asing namun terasa jauh lebih nyata dari istana penuh kepalsuan ini.

Apakah akhirnya aku akan kembali ke duniaku yang asli?

Kalau begitu, baiklah.

Lagipula aku tidak suka kehidupan di sini.

Akhirnya aku akan terbebas..

Meskipun harus melewati rasa sakit, aku akan menahannya..

Dan, tubuhnya berhenti meronta.

Air mengisi paru-parunya. Kesadaran perlahan terlepas. Suara tawa di atas terdengar jauh, semakin jauh, hingga akhirnya—

Sunyi.

Para selir di atas sungai saling memandang. Menatap satu sama lain dengan pikiran yang sama.

“Dia… tidak bergerak?” salah satu dari mereka berbisik, suaranya mulai ragu.

Mei Yuxin menyipitkan mata, mengamati permukaan air. Tubuh Bai Ruoxue tampak mengapung miring, hanyut perlahan.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada pergerakan.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada perlawanan.

Senyum Mei Yuxin mengembang penuh. Gadis itu, gadis penuh keangkuhan yang berani padanya kini tak bergerak di atas genangan air. Wajah yang selalu menatapnya dengan angkuh itu kini tertelan air sungai.

Inilah akibatnya, jika kau berani kepadaku.

Kau sangat percaya diri kan?

Sekarang? Kau bahkan tidak bisa menyelamatkan dirimu sendiri.

Rasakan kematian itu, Bai Ruoxue.

Ia tersenyum penuh kemenangan menatap sungai itu. Angin menghembuskan rambutnya yang panjang seolah juga merayakan hari ini.

“Sudah cukup,” katanya akhirnya. “Kita pergi.”

"Ini akan menjadi kecelakaan yang besar."

"Tanpa saksi."

"Tanpa bukti."

Kemenangan terasa manis di lidahnya. Bai Ruoxue—duri yang selama ini mengganggunya—akhirnya disingkirkan. Tidak ada darah. Tidak ada saksi langsung. Hanya kecelakaan.

Mereka yang puas dengan pemandangan itu pun memutuskan untuk beranjak dari sana. Mereka membiarkan tubuh dingin atau entah yang sudah mati itu mengambang di sungai yang indah.

Namun saat mereka berbalik—

“Apa yang terjadi?!”

Suara itu terdengar.

Keras. Tajam. Menggema di seluruh taman.

Langkah kaki tergesa terdengar mendekat membuat para selir membeku.

Mei Yuxin menegang.

Dan di sungai yang tenang itu, tubuh Bai Ruoxue masih tak bergerak, sementara tak satu pun dari mereka tahu—apakah ini benar-benar akhir… atau awal dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

1
aleena
apa kau yakin ingin menyingkirkan bay rouxue,,
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi
Enah Siti
Gak bisa bladrikah klau lmah bisa bisa selir jhat akan mnang thor ksih bldri yg kuat 💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏
Azia_da: Iya juga nih, ya🥹
Nantikan terus kelanjutannya, ya! 🥰
Terima kasih sudah membaca✨
total 1 replies
Putri Amalia
kak author apakah cerita ini bakalan smpe end? truama bgt dpt crta bgs entar hiatusss
Azia_da: Pasti end dan Author jamin, Kak✨
Terima kasih dukungannya dan nantikan terus, ya! 🥰
total 1 replies
Anonymous
Iya dia itu suamimu jadi kamu harus patuh ya🤭
aleena: patuh yg seperti apa😔
total 2 replies
Anonymous
Karya baru nih thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!