NovelToon NovelToon
Mau Tapi Malu

Mau Tapi Malu

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Keluarga / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga dari sebuah kerinduan

“Sudah, mandi sana,” dorong Ibu pelan.

Aku akhirnya mengalah.

Dengan langkah cepat aku masuk kamar mandi. Air dingin menyentuh wajahku, membuatku semakin sadar bahwa ini bukan mimpi.

Dia sudah pulang.

Setelah mandi, aku memilih pakaian yang sederhana tapi rapi. Aku menyisir rambutku lebih hati-hati dari biasanya. Bahkan sedikit lip balm pun kupakai.

Aku menghias wajahku agar terlihat lebih segar. Rambutku masih sedikit basah ketika aku bergegas keluar kamar.

Jantungku berdebar tidak karuan.

Aku berlari menuju halaman belakang.

Di sana Ayah dan Ibu duduk, dan dia masih di kursi kayu itu. Tapi aku tidak memperdulikan siapa pun.

“Mas!”

Ia belum sempat berdiri.

Belum sempat mengatakan apa-apa.

Aku lansung bergegas duduk di pangkuannya.

Tanganku langsung melingkar di lehernya. Dan tanpa memberi waktu pada rasa malu atau pikiranku sendiri, aku mencium bibirnya.

Lama.

Sangat lama.

Seolah dua hari itu adalah dua tahun yang harus kubayar lunas saat itu juga.

Air mataku jatuh begitu saja.

Ayah dan Ibu membeku.

Begitu juga dengannya.

Seolah mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja kulakukan.

“Ya ampun… Ayah dan Ibu di sini loh!” seru Ayah kaget, tepat saat bibirku masih menempel di bibirnya.

Tapi aku tidak peduli.

Aku malah semakin erat menciumnya, seakan takut ia akan menghilang lagi.

Baru setelah beberapa detik yang terasa panjang, aku perlahan melepaskan ciuman itu.

Ia memegang wajahku lembut.

“Kenapa nangis?” ucapnya pelan sambil mengusap air mataku. “Aku kan sudah pulang.”

Aku tidak menjawab.

Aku langsung memeluknya lagi dan menyembunyikan wajahku di lehernya. Bibirku menempel di sana, bukan untuk mencium lagi—tapi untuk bersembunyi.

Karena aku baru sadar.

Ayah dan Ibu melihat semuanya.

“Lihat tuh, Bu. Putrimu berubah banget,” kata Ayah dengan nada setengah terkejut setengah terhibur.

Ibu tertawa lepas. “Hahaha… sudah kayak ditinggal lima tahun saja.”

Aku makin tenggelam di lehernya.

“Yahh…” protesku pelan, suaraku masih sesak karena menangis.

Schevenko mengusap punggungku pelan. “Sudah… jangan nangis lagi. Aku kan sudah pulang.”

Tangannya hangat di punggungku.

“Aku bawain kamu banyak hadiah lhoo, ayo kita lihat lihat dulu hadiahnya, kamu suka apa enggak. ” lanjutnya lembut.

Aku langsung mengangkat wajahku. Mataku masih basah.

Aku menatapnya lama.

Lalu mendekat lagi, mencium bibirnya singkat—bahkan sedikit menggigit pelan karena gemas dan kesal.

“Aku nggak butuh hadiah,” kataku pelan tapi tegas. “Aku cuma mau kamu pulang.”

Lalu aku kembali menyembunyikan wajahku di lehernya.

Ia tersenyum sambil mengelus rambutku yang masih setengah basah.

Ayah dan Ibu benar-benar tertawa sekarang.

“Dulu malu-malu,” kata Ayah menggoda. “Sekarang dicium terus.”

Ibu ikut menimpali, “Baru dua hari saja sudah begini. Nanti kalau seminggu gimana?”

“Yahhh…” protesku lagi, kali ini lebih keras, tapi tetap tidak berani mengangkat wajahku.

Aku masih bersembunyi di pelukannya.

Tangannya tetap mengusap punggungku dengan sabar.

“Ayah, Ibu…” katanya sopan tapi sambil menahan senyum. “Maaf ya.”

“Bukan kamu yang salah, Mas,” jawab Ayah sambil tertawa. “Itu tuh anak Ayah yang berubah, manjanya minta ampun.”

Aku akhirnya memberanikan diri mengangkat wajah sedikit. Wajahku pasti merah sekali.

“Ayah jahat,” gumamku pelan.

Schevenko tertawa kecil di dekat telingaku.

“Sudah, sini,” katanya pelan.

Ia memegang daguku, memaksaku menatapnya.

“Dua hari saja kamu nangis terus?”

Aku mengangguk kecil.

“Telepon nggak aktif,” kataku pelan.

“Sinyal jelek,” jawabnya. “Baterai habis. Aku juga pusing cari colokan.”

Aku menatapnya kesal.

“Minimal kabarin.”

“Iya,” katanya lembut. “Maaf.”

Kata maafnya sederhana, tapi cukup membuat dadaku yang tadi sesak perlahan lega.

Ayah berdiri sambil membawa cangkir kopinya. “Sudah-sudah. Ayah masuk dulu. Biar kalian ngobrol.”

Ibu ikut berdiri sambil masih tersenyum. “Jangan lama-lama nangisnya ya.”

Aku langsung menunduk lagi, malu.

Begitu mereka masuk ke dalam rumah dan suara pintu terdengar pelan tertutup, suasana berubah. Hanya ada kami berdua. Udara pagi terasa lebih hangat dari sebelumnya.

Aku mendongak pelan.

Ia masih menatapku dengan senyum tipis yang membuat jantungku bergetar lagi.

Tanpa banyak berpikir, aku kembali mencium bibirnya.

Kali ini lebih lama.

Seolah rindu dua hari itu masih belum benar-benar habis.

Tanganku memegang kerah bajunya, takut ia menjauh. Sampai akhirnya aku sadar napasnya mulai tidak teratur.

Aku langsung melepaskannya.

Ia menghela napas pelan sambil tertawa kecil.

Belum sempat aku berkata apa-apa, ia justru membalas—mencium bibirku singkat, lembut, tapi terasa begitu dalam.

Pipiku langsung memerah.

Padahal dari tadi aku yang berani menciumnya duluan, bahkan di depan ayah dan ibu. Tapi satu ciuman darinya saja sudah cukup membuatku kehilangan kata-kata.

Aku langsung menutupi wajahku dengan kedua tanganku.

Ia tertawa pelan.

Tangannya menarik perlahan kedua tanganku dari wajahku.

“Malu ya?” godanya lembut.

“Enggak,” jawabku cepat, walau suaraku kecil.

Aku memonyongkan bibirku ke depan. “Cium lagi.”

Ia menggeleng kecil sambil tersenyum, tapi tetap menuruti.

Bibirnya kembali menyentuh bibirku. Lembut. Hangat.

Namun saat ia hendak melepaskannya, aku menariknya kembali.

Aku menggigit bibirnya agak lama—terlalu lama—hingga ia sedikit meringis.

“Ah… Zahra…” sambil menepuk punggungku.

Baru saat itu aku sadar dan melepaskannya.

“Kamu itu…” katanya sambil menyentuh bibirku.

Aku menatapnya dengan mata masih sedikit sembab.

“Pokoknya kalau pergi lagi, aku ikut.”

Ia langsung mencium pipiku singkat. “Nggak mauu…” sambil menjauhkan wajahnya sedikit, hanya sedikit.

Aku langsung menariknya ke depan wajahku dan menggigit bibirnya lagi, kali ini lebih keras.

“Zahra!” Ia tertawa setengah kesakitan.

Aku baru melepaskannya setelah ia menepuk punggungku pelan lagi.

“Iya, iya… nanti aku ajak kalau pergi lagi,” katanya menyerah sambil mengusap bibirnya sendiri. “Kamu galak banget.”

“Iya emang galak,” jawabku tanpa rasa bersalah.

Ia tertawa.

Tapi kemudian wajahnya berubah lebih lembut. Tangannya mengusap rambutku yang kini sudah mulai mengering.

“Kamu tahu nggak,” katanya pelan, “kerinduan itu ada harganya.”

Aku mengernyit. “Apa?”

“Harganya sabar.”

Aku terdiam.

“Kemarin kamu nangis. Aku juga kepikiran kamu terus. Tapi kalau setiap kali kita jauh sedikit saja langsung marah dan galak…” ia tersenyum kecil, “…nanti kamu capek sendiri.”

Aku menunduk sedikit.

“Aku cuma takut,” kataku jujur. “Takut kamu lupa pulang.”

Ia langsung mengangkat daguku pelan.

“Aku punya rumah,” katanya lembut. “Dan rumahku itu kamu.”

Kalimat itu membuat dadaku hangat.

Angin pagi bertiup pelan, membuat daun-daun berdesir.

“Aku nggak pernah pergi untuk meninggalkan,” lanjutnya. “Aku pergi untuk kembali.”

Air mataku hampir jatuh lagi, tapi kali ini aku menahannya.

“Kalau rindu lagi gimana?” tanyaku pelan.

Ia tersenyum.

“Kirim doa.”

“Cuma doa?”

“Dan percaya.”

Aku menghela napas.

Lalu aku bersandar di dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang tenang.

“Dua hari kemarin,” kataku pelan, “aku tidur peluk ponsel.”

Ia tertawa kecil. “Aku lihat tadi.”

“Kamu lihat?”

“Iya. Kamu tidur sambil peluk ponsel, matanya lebam.”

Aku langsung malu lagi dan memukul dadanya pelan.

“Jangan dibahas.”

Ia memelukku lebih erat.

“Rindu itu nggak salah,” katanya. “Tapi jangan sampai rindu bikin kamu sakit.”

Aku diam.

Mungkin benar.

Harga dari sebuah kerinduan bukan hanya air mata atau pelukan panjang.

Tapi juga belajar percaya.

Belajar menunggu tanpa takut.

Belajar bahwa seseorang yang benar-benar ingin pulang… tidak akan tersesat terlalu lama.

Ia mencium keningku pelan.

“Sekarang sudah lunas belum rindunya?”

Aku menggeleng kecil di dadanya.

“Belum.”

Ia tertawa. “Dasar.”

Aku mengangkat wajahku lagi.

“Di sini dong.” sambil memonyongkan bibirku.

Ia menggeleng pura-pura pasrah, lalu memilih memelukku lebih erat.

Dan pagi itu, di halaman belakang rumah, di bawah langit yang mulai terang sepenuhnya—

Rindu yang sempat menyiksa akhirnya berubah menjadi sesuatu yang lebih hangat.

Bukan lagi tangis.

Tapi ketenangan.

Karena kini aku tahu—

Harga dari sebuah kerinduan adalah sabar… dan keberanian untuk tetap percaya.

lalu tiba-tiba...

1
Tati Hartati
semangat terus kakak
checangel_
Nah, itu baru benar ... menjauh untuk menjaga 😇
checangel_: semangat/Determined/
total 2 replies
checangel_
Bagus itu/Good/
yanzzzdck
👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Tati Hartati
lanjut terus kak
Reenuctee 🐈‍⬛🐱
/Good//Good/
Tati Hartati
mantap kak... lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!