Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Debu kayu dan serpihan batu beterbangan di sekelilingku, menutupi pandangan orang-orang yang tadinya bersorak ingin melihat kepalaku terpisah dari tubuh. Aku merasakan leher Jang Mi bergetar di dalam cengkeramanku. Wanita ini, yang beberapa detik lalu berlagak seperti penguasa takdir, kini hanya bisa menggapai-gapai udara dengan tangan yang gemetar hebat. Sabit besarnya jatuh berdentang ke lantai panggung yang hancur, kehilangan pendar ungu yang tadi terlihat begitu mengancam.
Aku tidak perlu melihat ke cermin untuk tahu bagaimana rupaku saat ini. Beban di punggungku, bentangan sayap yang terasa seperti perpanjangan otot jantungku, dan sensasi dingin dari sisik yang melapisi kulit adalah bukti bahwa aku bukan lagi Han Wol yang bisa mereka injak-injak. Aku menatap mata Jang Mi yang melebar, mencari sisa keberanian yang tadi ia pamerkan dengan begitu angkuh.
"Kau menghancurkan segel itu," rintih Jang Mi dengan suara yang nyaris hilang ditelan hiruk pikuk kepanikan penonton.
Aku tidak menjawabnya dengan kata-kata. Aku justru mengangkat tubuhnya lebih tinggi, membiarkan kakinya menendang udara kosong. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan tumpuan, persis seperti yang kurasakan saat dia menjebakku di dalam sel.
Para pengawal berseragam zirah merah mulai bergerak mengepung reruntuhan panggung. Mereka menghunuskan tombak dan pedang, namun langkah mereka terlihat ragu. Ketakutan adalah sesuatu yang menular, dan saat ini, aku adalah sumber wabahnya. Pemimpin pasukan yang tadi menyeretku kini berdiri di barisan paling depan, wajahnya kaku seperti batu.
"Lepaskan Nona Jang Mi sekarang juga, monster!" teriak pemimpin pasukan itu sembari mengacungkan pedangnya ke arahku.
Aku menoleh perlahan ke arahnya. Gerakanku terasa sangat ringan, seolah-olah gravitasi tidak lagi memiliki kuasa penuh atas tubuhku. Tanda teratai perak di pergelangan tanganku berdenyut hangat, memberikan ketenangan yang aneh di tengah luapan energi Asura yang mendidih.
"Kalian menyebutnya pahlawan, padahal dia adalah pencuri yang menggunakan kekuatan yang tidak ia pahami," sahutku dengan nada bicara yang rendah namun sanggup menggetarkan barisan terdepan mereka.
Jang Mi mencoba mencakar lenganku, namun kuku-kukunya hanya patah saat membentur sisik hitam yang kini berpendar emas keunguan. Ia mulai terisak, air mata ketakutan mengalir membasahi pipinya yang tadi tertutup bedak mahal.
"Han Wol, kumohon, lepaskan," rintih Jang Mi sembari menatapku dengan tatapan memohon.
"Kau tidak pernah memberikan ampunan pada Song Chi, atau pada siapa pun yang menghalangi jalanmu, bukan?" tanyaku sembari mempererat cengkeraman.
Tiba-tiba, sebuah kilatan perak melesat dari arah atap bangunan, mendarat tepat di antara aku dan para pengawal. Itu adalah He Ran. Rambut putihnya berkilau tertimpa cahaya matahari, memberikan kesan mistis yang membuat orang-orang di alun-alun semakin terdiam. Ia tidak lagi tampak seperti wanita yang terluka parah. Ada otoritas yang terpancar dari setiap gerakannya.
"Cukup, Han Wol," cetus He Ran sembari menatapku dengan sorot mata yang sulit dibaca.
"Kau ingin aku melepaskannya setelah apa yang dia lakukan padamu?" tanyaku dengan nada suara yang menuntut penjelasan.
He Ran menggelengkan kepala perlahan. Ia melangkah mendekat, mengabaikan pedang-pedang pengawal yang kini mengarah kepadanya juga. "Membunuhnya di sini hanya akan membuktikan bahwa mereka benar tentangmu. Kau bukan monster yang mereka bayangkan."
Aku merasakan gejolak energi di dalam dadaku mulai sedikit mereda mendengar suaranya. He Ran merogoh sesuatu dari balik pakaiannya, sebuah gulungan kecil yang memancarkan aura kuno yang sangat kuat.
"Aliansi Murim memiliki aturan yang lebih tua daripada jabatan orang-orang ini," tukas He Ran sembari mengangkat gulungan tersebut ke arah para pemimpin sekte yang duduk di podium kehormatan.
Para tetua yang tadinya duduk dengan tenang kini mulai berdiri dengan wajah cemas. Mereka sepertinya mengenali gulungan yang dibawa He Ran. Pria paruh baya yang tadi berdiri di samping Jang Mi di penginapan kini tampak pucat pasi, ia mencoba bersembunyi di balik pilar bangunan.
"Itu adalah Dekrit Darah Asura," gumam salah satu tetua dengan suara yang bergetar.
Aku melepaskan cengkeramanku pada leher Jang Mi, membiarkannya jatuh tersungkur dan terbatuk-batuk di lantai kayu yang retak. Aku melipat sayap hitamku, membiarkannya menghilang kembali ke dalam punggungku dengan suara desis yang halus. Perubahan itu menyisakan rasa lelah yang luar biasa, namun aku tetap berdiri tegak di samping He Ran.
"Apa yang kau lakukan, He Ran?" tanyaku pelan sembari menahan rasa pusing yang mulai menyerang.
"Menuntut hakmu sebagai pewaris sah Makam Pedang Kuno," jawab He Ran sembari menoleh ke arahku dengan senyum tipis.
Jang Mi mencoba merangkak menjauh, namun dua orang pengawal yang tadi membantunya kini justru menahan lengannya. Situasi telah berbalik seratus delapan puluh derajat. Kehadiran Dekrit Darah Asura tampaknya mengubah posisi hukumku di mata aliansi secara instan.
Pemimpin pasukan zirah merah menurunkan senjatanya, diikuti oleh seluruh anak buahnya. Mereka membungkuk hormat ke arah He Ran, atau lebih tepatnya ke arah gulungan yang ia bawa. Keheningan yang mencekam menyelimuti alun-alun Kota Guntur, hanya menyisakan suara isak tangis Jang Mi yang kini terdengar sangat menyedihkan.
"Han Wol, kau bebas untuk saat ini, namun kau harus mengikuti kami menuju Aula Penilaian untuk verifikasi darah," pungkasku pemimpin pasukan itu dengan nada suara yang jauh lebih sopan.
Aku menatap He Ran, mencari kepastian di matanya. Ia mengangguk kecil, memberikan isyarat bahwa semuanya berada di bawah kendalinya. Namun, jauh di sudut alun-alun, aku kembali melihat sosok pria misterius dari penjara tadi. Ia berdiri di balik kerumunan, memberikan hormat dengan cara yang sangat aneh sebelum akhirnya menghilang ditelan kegelapan gang sempit.
"Perjalanan ini belum benar-benar berakhir," gumamku sembari melangkah mengikuti He Ran menuruni reruntuhan panggung.
Massa yang tadi menghujatku kini membuka jalan dengan kepala tertunduk. Ketakutan mereka belum hilang, namun kini bercampur dengan rasa hormat yang dipaksakan oleh keadaan. Aku tahu, meskipun aku selamat dari eksekusi hari ini, bayang-bayang sebagai Vanguard Asura akan terus mengejarku ke mana pun aku pergi.