Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.
Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.
Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.
Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.
"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Penelitian Pertama
Jennie terpekik kecil saat tubuhnya mendarat di bantalan sofa yang empuk. Sebelum sempat bangkit, Johan sudah berada di atasnya mengunci pergerakannya dengan kedua tangan yang bertumpu kuat di sisi kepala wanita itu.
"Selain deskripsi ciumanmu di kertas tadi, kau juga menulis adegan di mana pria itu menyentuh leher sang wanita," suara Johan merendah, membuat bulu kuduk Jennie meremang.
"Kau bilang rasanya seperti sengatan arus listrik, benar-benar klasik," sambungnya dengan senyum mengejek.
Jennie menelan ludahnya, dadanya naik turun dengan cepat. "Itu kan baru draft kasar! Aku belum sempat memolesnya!
"Belum sempat atau tidak bisa karena tidak berpengalaman?" provokasi Johan. Dia mendekatkan wajahnya hingga ujung hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung Jennie.
"Listrik itu instan dan cepat hilang, tapi sentuhan secara langsung adalah sesuatu yang membutuhkan proses lambat," sambungnya menjelaskan.
Pria itu menarik satu tangannya, lalu jemarinya yang panjang mulai merayap ke arah leher Jennie. Dia tidak menyentuhnya dengan ujung jari, melainkan dengan punggung jarinya, mengelus pelan dari bawah telinga hingga tulang selangka.
"Ini adalah penelitian pertama," bisik Johan. "Tulis bagaimana rasanya saat sarafmu mulai berteriak bahkan sebelum kulit kita benar-benar bersentuhan. Tulis juga bagaimana udara di antara kita mendadak menjadi panas karena rangsangan kecil ini."
Tangan Johan kemudian berpindah ke belakang tengkuk Jennie, menariknya agar Jennie mendongak. Jemarinya menyelinap diantara rambut Jennie yang berantakan, sementara ibu jarinya menekan lembut di titik sensitif di bawah rahangnya.
"Ini... sepertinya terlalu berlebihan untuk penelitian," rintih Jennie, tapi dia tidak mencoba melepaskan diri. Justru sebaliknya, tanpa sadar dia menutup matanya dan tangannya meremas bahu Johan, merasakan otot keras dibalik kaos polo yang dikenakan pria itu.
"Jangan tutup matamu, lihat aku," perintah Johan dengan nada yang tak terbantahkan.
Saat Jennie membuka matanya, dia melihat Johan yang sedang menatapnya dengan intens. Pria itu menyusupkan tangannya ke bawah kemeja kebesaran yang dia pinjamkan pada Jennie.
Telapak tangannya yang panas bersentuhan langsung dengan kulit pinggang Jennie, naik perlahan mengikuti garis rusuknya.
"Bab terbarumu butuh detail tentang bagaimana napas seorang wanita akan tercekat saat tangan pria yang dia inginkan berada di tempat yang tidak seharusnya," gumam Johan, suaranya kini hanya berupa bisikan di depan bibir Jennie.
Dia kemudian menarik pinggang Jennie agar lebih merapat, membuat tubuh mereka menempel tanpa celah.
Saat itu juga Jennie bisa merasakan setiap inci tubuh Johan, kekuatannya, panasnya, bahkan gairah yang mulai tidak terkendali.
Johan membenamkan wajahnya di ceruk leher Jennie, menghirup aroma tubuh wanita itu dengan dalam sebelum memberikan kecupan-kecupan kecil yang sangat lambat di sepanjang garis lehernya.
"Kau merasakannya?" tanya Johan, suaranya bergetar di kulit leher Jennie. "Detak jantungmu yang memukul dadaku, serta gemetar di tangamu, itu bukan karena sengatan listrik. Itu adalah bentuk penyerahan diri."
Jennie merasa otaknya mencair, semua kosa kata yang dia banggakan sebagai menulis best-seller mendadak lenyap. Sekarang dia hanya bisa merasakan sensasi terbakar setiap kali bibir Johan menyentuh kulitnya.
Johan memberikan satu gigitan kecil di pangkal lehernya, tepat seperti di tempat yang dia tulis di dalam draft. Hal itu membuat Jennie membusungkan dada dan mengeluarkan desahan tertahan yang sangat dalam.
Pria itu mendongak, menatap bibir Jennie yang memerah karena napas yang memburu. "Tulis itu. Tulis bahwa kau tidak bisa lagi membedakan mana yang merupakan bagian dari ceritamu dan mana yang merupakan kenyataan yang menghancurkan akal sehatmu."
Setelah mengatakan itu Johan tiba-tiba bangkit, berdiri tegak dan merapikan kaosnya yang sedikit kusut. Dia lalu menatap Jennie yang masih terbaring lemas di sofa dengan mata sayu dan rambut yang jauh lebih berantakan dari sebelumnya.
"Selesai untuk hari ini," ujar Johan dengan tenang, meskipun ada kilatan gelap di matanya yang menunjukkan dia pun terpengaruh.
"Pulanglah, jika bab terbarumu masih terasa hambar mungkin besok pagi kita bisa masuk ke penelitian yang lebih mendalam," lanjutnya.
Jennie sudah tidak sanggup berkata-kata lagi, dia segera berdiri dengan kaki gemetar lalu merapikan kemejanya yang tersingkap, kemudian ia berjalan keluar menuju apartemennya tanpa menoleh lagi.
Begitu sampai di ruang kerjanya, meskipun napasnya masih memburu dia segera menghidupkan laptopnya. Jemarinya menari dengan liar di atas keyboard, menuangkan setiap sensasi panas dan setiap getaran yang baru saja dia alami.
"Sentuhannya bukan hanya sebuah permainan, itu adalah aktivitas terencana. Di atas sofa itu, aku baru menyadari jika aku menulis tentang api lewat kata-kata, sementara dia adalah kebakaran itu sendiri."
"Saat tangannya menyentuh kulitku, duniaku rasanya runtuh. Hanya meninggalkan satu keinginan yang sangat memalukan, yaitu agar dia tidak cepat-cepat berhenti."
Saat ini dia mungkin sedang menulis novel, tapi Johan? Pria itu justru sedang menulis ulang hidupnya.
Bersambung