Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri pengganti
Anggika tersenyum tipis ke pramuniaga.
“Kami permisi ya, Mbak. Terima kasih.”
“Sama-sama, Mbak. Hati-hati di jalan.”
Mario menyerahkan helm ke Anggika.
“Silakan, calon—”
“Jangan lanjut!” potong Anggika cepat sambil langsung mengenakan helm.
“Jalan, tapi jangan ngebut.”
Mario terkekeh kecil.
“Siap, Bu Lurah.”
Anggika naik ke motor lebih dulu. Mario menyusul, menyalakan mesin. Suara knalpot terdengar halus saat motor mulai melaju keluar area parkir.
Mario melirik lewat spion.
“Kamu mau makan siang apa?”
Anggika menatap lurus ke depan.
“Terserah.”
“Bakso?”
“Nggak.”
“Paper Lunch?”
“Nggak.”
“Yoshinoya?”
“Nggak juga.”
Mario menghela napas.
“Terus maunya apa?”
“Terserah.” jawab Anggika lagi, datar.
Mario memiringkan kepala sedikit.
“Kamu ini bilang terserah tapi semua ditolak.”
Anggika mendengus.
“Ya kan kamu yang nawarin.”
Motor berbelok ke persimpangan.
“Ya sudah,” kata Mario akhirnya.
“Paper Lunch. Titik. Kalau nggak mau makan, ya temenin aku aja.”
“Ih kok gitu sih!” protes Anggika sambil mencengkeram jaket Mario.
“Ya ikut, kok! Kamu sensitif banget.”
Mario tertawa kecil.
“Katanya terserah. Aku pilih, kamu ribut.”
Anggika melipat tangan di dada meski masih duduk di belakangnya.
“Kamu tuh nggak sabaran.”
“Aku sabar,” balas Mario santai.
“Tapi kalau sama kamu, sabarku diuji tiap lima menit”
Anggika mencondongkan badan sedikit.
“Berarti jangan dekat-dekat aku.”
Motor melaju stabil.
“Sayangnya,” jawab Mario tenang,
“sebentar lagi kita sering dekat. Mau nggak mau.”
Anggika langsung diam. Ia menoleh ke samping, memperhatikan jalanan.
“Sok yakin.”
Motor akhirnya masuk ke area parkir mal. Mario memarkirkan motornya lalu turun lebih dulu.
“Eh, pelan napa jalannya!” keluh Anggika sambil turun dan membuka helm.
Mario berjalan lebih dulu.
“Kamu aja yang lelet kayak siput.”
“Maryono, tunggu!”
Tiba-tiba Mario berhenti mendadak. Anggika yang sedang berjalan cepat tak sempat menghindar dan menabrak punggungnya.
“Aduh! Kalau mau berhenti ngomong kek!” protes Anggika sambil memegangi hidungnya.
Mario tak menjawab. Tatapannya lurus ke depan.
“Nessa…”
Anggika mengerutkan dahi.
“Nessa siapa?”
Seorang perempuan berpenampilan glamor melangkah mendekat dengan senyum tipis.
“Mario? Apa kabar?”
Mario memasukkan tangan ke saku jaketnya.
“Baik. Seperti yang kamu lihat.”
Nessa tersenyum sinis, lalu merangkul pria di sampingnya.
“Kenalin, ini calon suami aku. Direktur utama.”
Nada suaranya meninggi.
“Nggak kayak kamu yang cuma mau jadi lurah kampung. Sayang banget gelar S2 Ilmu Pemerintahan kamu. Coba aja kamu mau jadi anggota dewan, mungkin aku nggak batalin pernikahan kita dulu.”
Anggika melirik Mario cepat.
Mario justru tersenyum tenang.
“Nggak apa-apa, Ness.”
Suaranya datar tapi tegas.
“Aku sudah menemukan perempuan yang mau menerima cita-citaku membangun desa.”
Tiba-tiba tangannya melingkar di pinggang Anggika, menariknya mendekat dengan sikap posesif.
Anggika membelalak dalam hati.
Jadi ini alasannya si Pinokio ngajak kawin kontrak? Karena gagal nikah?
Nessa menaikkan alis.
“Oh? Jadi ini penggantiku?”
Anggika tersenyum manis, lalu berdiri lebih tegak.
“Halo, Mbak. Saya calon istri Mario.”
Ia menautkan lengannya ke lengan Mario.
“Dan sedikit koreksi, lurah itu bukan kampungan.”
Senyumnya tetap ramah tapi menusuk.
“Kalau nanti perusahaan Mbak mau bikin proyek di desa kami, tetap butuh tanda tangan suami saya, kan?”
Wajah Nessa menegang.
Mario menahan senyum.
“Sudah ya, Ness. Kami mau makan siang.”
Nessa mendengus pelan sebelum berbalik pergi.
Begitu mereka menjauh, Anggika langsung melepas tangan Mario.
“Berani banget kamu peluk-peluk sembarangan!”
Mario menatapnya santai.
“Refleks. Biar mantan nggak merasa menang.”
Anggika menyipitkan mata.
“Jadi benar ya… kamu gagal nikah?”
Mario tersenyum tipis.
“Fokus ke makan siang dulu. Nanti kamu keburu cemburu.”
“Siapa yang cemburu?!” bentak Anggika, pipinya sedikit memerah.
Mario menghela napas pendek.
“Udah. Jangan debat lagi. Kamu cari kursi dulu, aku pesenin makanannya.”
Anggika mendengus tapi tetap menurut.