NovelToon NovelToon
Tumbal Pinjol Di Kerajaan Ghaib

Tumbal Pinjol Di Kerajaan Ghaib

Status: tamat
Genre:Dunia Lain / Fantasi / Hantu / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Slamet, seorang pengangguran yang hobi main game dan punya utang pinjol (pinjaman online) di 12 aplikasi berbeda, saking frustasinya, dia mencoba melakukan ritual pesugihan yang dia temukan di grup Facebook "Cepat Kaya Tanpa Kerja".

Bukannya dapat emas setumpuk, Slamet malah salah kirim sesajen. Dia malah melakukan kontrak kerja dengan Koperasi Makhluk Halus Nasional. Ternyata, dunia ghaib sedang mengalami krisis eksistensi karena manusia zaman sekarang sudah tidak takut setan (lebih takut tagihan cicilan).Slamet tidak jadi tumbal, tapi dipekerjakan sebagai "Manager Citra & Viralitas" untuk hantu-hantu lokal supaya mereka bisa eksis lagi di TikTok dan menakuti manusia modern. Komedinya muncul dari Slamet yang harus mengajari Kuntilanak cara skincare-an biar nggak kusam saat live streaming, atau Pocong yang minta dicarikan jasa lari maraton karena bosan lompat terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Data yang Hilang

Kantor K.MN pusat di Kuningan kini sudah bukan lagi kantor menteri, melainkan instalasi gawat darurat digital. Slamet duduk di kursi kebesarannya, menatap dinding dengan tatapan kosong yang biasanya hanya dimiliki oleh orang yang baru saja kena ghosting setelah pacaran tiga tahun. Bedanya, Slamet tidak merasa sedih; dia tidak merasakan apa-apa.

"Status Subjek: Sadar. Fungsi Motorik: Normal. Memori Personal: ERROR 404 - Arini Not Found," Bang Omen membacakan diagnosa dari layar hologramnya dengan nada lesu.

Arini berdiri di sudut ruangan, mencoba menahan air mata yang sudah hampir menjebol bendungan kesabarannya. Dia melihat Slamet yang sedang asyik menandatangani berkas kebijakan "Subsidi Menyan Nasional" seolah-olah Arini hanyalah pajangan dinding yang kebetulan bisa bicara.

"Mas Slamet..." Arini mendekat pelan. "Kamu beneran nggak inget waktu kita dikejar debt collector di gang sempit itu? Waktu kamu hampir kejepit pintu lift ghaib?"

Slamet mendongak, tersenyum dengan sangat sopan, sopan yang sangat menyakitkan. "Maaf, Nona Arini. Berdasarkan catatan administrasi saya, Anda adalah asisten teladan dengan performa kerja 9,8. Saya sangat menghargai dedikasi Anda. Tapi soal 'kejepit lift', sepertinya itu tidak ada dalam log aktivitas resmi saya."

Arini berbalik, pundaknya bergetar. Dia tidak tahan lagi.

"Omen! Sari! Geng!" Arini memanggil tim inti. "Kita harus cari cara. Sang Penjaga Gerbang bilang kenangan itu ditaruh ke sistem 'Berkah-Go', kan? Artinya kenangan itu ada di luar sana, tersebar di jutaan HP pengguna!"

Bang Omen menggaruk kepalanya yang mulai berasap. "Secara teknis, iya, Rin. Tapi itu bukan data mentah. Itu sudah di-enkripsi menjadi 'Energi Kebahagiaan'. Itu kayak kamu naruh satu sendok gula ke dalam satu galon air, terus kamu minta aku ambil lagi gulanya dalam bentuk butiran. Susah, Rin!"

"Nggak ada yang susah buat hacker ghaib nomor satu di Jakarta!" bentak Kunti Sari sambil mengikir kukunya dengan kecepatan tinggi. "Kalau data itu tersebar, kita bikin 'Crowdsourcing Memory'. Kita minta pengguna Berkah-Go buat balikin energi itu lewat fitur 'Donasi Balik'."

Sugeng si Pocong manggut-manggut. "Betul! Kita bikin kampanye: #Kembalikan.Cinta.Pak.Menteri. Pasti viral!"

Maka, dimulailah operasi paling gila dalam sejarah internet dunia ghaib dan nyata. Bang Omen meluncurkan update mendadak di aplikasi Berkah-Go. Sebuah notifikasi muncul di HP jutaan orang:

[Peringatan: Menteri Slamet sedang mengalami kehilangan data emosional demi kemerdekaan kalian. Apakah Anda bersedia menyumbangkan 1% kebahagiaan yang Anda rasakan hari ini untuk mengembalikan ingatan Beliau?]

Dalam hitungan detik, grafik di monitor Bang Omen meledak.

"Gila! Partisipasinya 99%!" seru Bang Omen. "Rakyat Indonesia emang paling nggak bisa liat orang susah soal asmara! Mereka kirim balik energi itu, Met!"

Cahaya-cahaya kecil mulai masuk melalui ventilasi kantor, berbentuk bola-bola cahaya pink dan emas. Bola-bola itu adalah fragmen memori: suara tawa Arini, aroma parfum Arini, hingga memori tentang betapa galaknya Arini kalau Slamet lupa bayar tagihan kantor.

Namun, saat bola-bola itu hendak masuk ke kepala Slamet, sebuah penghalang hitam muncul. Ki Rentenir ternyata belum sepenuhnya musnah. Sisa-sisa jiwanya yang jahat kini menetap di dalam "Tempat Sampah" sistem batin Slamet.

"Jangan harap!" suara Ki Rentenir bergema dari dalam dada Slamet. "Kalau dia ingat, sistem hutang lama akan bangkit lagi karena dia akan punya 'kelemahan'! Biarkan dia jadi robot tanpa hati!"

"Mas Slamet!" Arini nekat memeluk Slamet, mencoba menjadi antena bagi bola-bola memori tersebut. "Jangan lawan cahayanya! Terima lagi rasa sakitnya! Jadi manusia itu emang sakit, Mas, tapi lebih baik sakit daripada kosong!"

Slamet mulai gemetar. Kepalanya terasa seperti sedang di-defragmentasi tanpa permisi. Potongan gambar muncul: Arini yang sedang marah, Arini yang sedang makan sate, Arini yang menangis di Den Haag.

"Nona... Arini..." suara Slamet mulai berubah, tidak lagi datar. "Kenapa... kenapa di kepala saya ada gambar Anda sedang melempar saya pakai sandal jepit?"

Arini tertawa di tengah tangisnya. "Karena kamu emang pantes dapet itu, Mas! Ayo, inget lagi!"

Tiba-tiba, monitor Bang Omen menunjukkan tanda bahaya. "Rin! Energinya terlalu besar! Kalau kita paksa semua masuk sekarang, otak Slamet bisa Overheat! Kita butuh 'Cooling System'!"

"Cooling System apa, Men?!"

"Sesuatu yang bener-bener murni dari dunia nyata! Sesuatu yang nggak ada urusannya sama ghaib!"

Arini langsung teringat sesuatu. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah jepit rambut murah seharga lima ribu rupiah—jepit rambut dari memori masa lalu Slamet yang sempat dia simpan saat simulasi dulu.

Arini memakaikan jepit rambut itu ke rambutnya sendiri, lalu mencium kening Slamet. "Mas, ini bukan soal sistem. Ini soal kita."

BOOM!

Sebuah ledakan emosional terjadi. Seluruh cahaya pink itu terserap masuk ke dalam jantung Slamet, menghancurkan sisa-sisa kegelapan Ki Rentenir sampai ke akar-akarnya. Ki Rentenir pun logout selamanya dari sejarah Nusantara dengan teriakan frustasi.

Keheningan menyelimuti ruangan. Slamet menutup matanya lama sekali. Bang Omen menahan napas. Sugeng berhenti main skateboard.

Slamet perlahan membuka mata. Dia menatap Arini. Dia melihat jepit rambut itu.

"Rin..." kata Slamet dengan suara serak yang sangat familiar. "Jepit rambut itu... kayaknya sekarang harganya udah naik jadi sepuluh ribu deh gara-gara inflasi."

Arini langsung menubruk Slamet dengan pelukan erat. "Mas Slamet! Kamu balik!"

"Aduh, Rin, pelan-pelan... memori saya baru aja di-install ulang, jangan sampe bad sector lagi," canda Slamet sambil membalas pelukan Arini.

Bang Omen bersorak, Kunti Sari melakukan selebrasi selfie, dan Sugeng melakukan trik *ollie* paling tinggi sepanjang karirnya.

Slamet berdiri, kini dengan mata yang kembali bersinar. Dia bukan lagi menteri yang hampa, dia adalah Slamet yang penuh dengan utang budi pada cinta. Namun, notifikasi di HP-nya kembali bergetar.

[Malaikat-Care: "Proses Restore Selesai. Selamat, Pak Menteri. Namun, karena Anda menggunakan fitur Crowdsourcing, Anda sekarang memiliki 'Hutang Harapan' kepada jutaan rakyat. Saatnya menyelesaikan tugas terakhir .]

Slamet menatap Arini. "Rin, satu babak lagi. Kita harus bikin sistem ini permanen supaya nggak ada lagi Ki Rentenir baru yang lahir. Kita harus bikin 'Konstitusi Kebahagiaan Nusantara'."

"Siap, Mas Menteri," jawab Arini dengan bangga. "Tapi setelah itu, beneran resign ya? Aku capek ngurusin hantu, aku mau ngurusin kamu aja."

Slamet tersenyum manis. "Janji, Rin. Setelah ini kita pensiun."

Tapi di luar sana, sebuah bayangan baru muncul. Bukan Ki Rentenir, bukan Mr. Void. Tapi sesuatu yang jauh lebih besar: Sang Pemilik Semesta Ghaib yang ingin melihat langsung siapa manusia yang berani mengacak-acak administrasi takdir-Nya.

Slamet harus bersiap. Ini bukan lagi soal melawan penjahat, tapi soal membuktikan kelayakan di depan Sang Pencipta.

1
Yeni Yeni
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣kok geli jadinya ya, ceritanya lucu
Wayan Surya Mahardani
😁😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!