Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.
Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.
Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.
Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 - Rahasia di Tengah Keramaian
...Di tengah keramaian, kami menyimpan rahasia paling hangat....
Happy Reading!
...----------------...
Pagi itu terasa aneh.
Bukan karena cuacanya berbeda. Bukan karena sekolah tiba-tiba berubah. Semua masih sama—koridor yang ramai, suara langkah kaki, tawa yang memantul di dinding, dan obrolan yang saling bertabrakan.
Yang berubah cuma satu.
Status.
Dan aku merasakannya di setiap napas.
Aku berdiri di depan kelas bersama Nara, pura-pura fokus mendengarkan cerita semalam yang entah sudah diulang tiga kali. Kepalaku mengangguk otomatis, tapi pikiranku jauh dari sana.
Karena Raven ada di ujung koridor.
Dan sekarang—
Dia pacarku.
Kata itu terasa aneh di kepala. Berat. Nyata. Membuat jantungku berdetak lebih cepat hanya dengan memikirkannya.
Raven sedang tertawa bersama Keno dan Arkan. Tangannya masuk saku celana, bahunya santai seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari cara dia berdiri, dari cara dia bicara.
Kecuali setiap beberapa detik—matanya mencariku.
Dan setiap kali tatapan kami bertemu, ada senyum kecil yang nyaris tidak terlihat orang lain.
Tapi aku melihatnya.
Dan itu cukup untuk membuat perutku terasa seperti jatuh dari ketinggian.
“Lo kenapa senyum-senyum sendiri?” bisik Nara tiba-tiba.
Aku langsung tersedak udara. “Hah? Nggak.”
Nara menyipitkan mata curiga. “Bohong.”
“Serius,” kataku cepat, menunduk pura-pura membetulkan tali tas.
Dari ujung mata, aku melihat Raven masih menatapku. Bukan terang-terangan. Hanya sekilas. Tapi cukup lama untuk terasa seperti sentuhan.
Aku langsung mengalihkan pandangan.
Ini gila.
Semalam kami jadian. Resmi. Dengan kalimat yang masih terngiang jelas di kepalaku.
Dan sekarang aku harus berdiri di depan semua orang seolah tidak ada yang berubah. Seolah dadaku tidak penuh oleh sesuatu yang hangat dan menakutkan sekaligus.
Bel masuk berbunyi.
Keramaian bergerak masuk kelas. Kursi bergeser, tas dijatuhkan, suara meja dipukul bercampur dengan keluhan pagi.
Raven masuk beberapa detik setelah aku duduk.
Tempat duduk kami tidak bersebelahan. Hari ini jarak itu terasa kejam.
Aku bisa melihat Raven dari sudut mataku—dua bangku di depan, sedikit ke kanan. Raven duduk santai, tapi kakinya bergerak kecil, gelisah dengan cara yang hanya bisa ditangkap orang yang benar-benar memperhatikan.
Dan aku memperhatikan.
Setiap gerak kecilnya. Setiap tarikan napasnya.
Ini menyiksa.
Guru mulai menjelaskan. Suara kapur di papan tulis mengisi ruangan. Semua terlihat normal.
Di bawah meja, ponselku bergetar. Aku menunduk pelan, memastikan guru tak melihat, jari-jemariku sedikit gemetar saat membuka layar.
Pesan dari Raven.
Rasanya aneh ya pura-pura biasa.
Jantungku langsung melompat. Aku menahan senyum.
Aku membalas cepat,
Fokus belajar.
Beberapa detik. Getar lagi. Balasannya cukup cepat.
Aku fokus kok. Fokus nahan buat nggak liatin kamu terus.
Aku menutup mulut dengan tangan. Kalau tidak, aku pasti sudah ketahuan senyum seperti orang bodoh.
Aku tidak membalas. Karena kalau dibalas, aku tidak akan bisa berhenti.
Di depan, Raven sedikit menoleh. Hanya sedikit. Cukup untuk memastikan aku membaca pesannya.
Tatapan kami bertemu sepersekian detik. Dan dunia mengecil.
Suara kelas memudar. Guru menghilang. Yang ada cuma jarak beberapa meter yang tiba-tiba terasa seperti kabel listrik—tak terlihat, tapi berdenyut.
Raven menoleh lagi ke depan. Aku baru sadar aku menahan napas.
Ini baru pagi. Dan aku sudah kelelahan menahan perasaan.
...----------------...
Jam istirahat lebih parah.
Kami duduk seperti biasa: lingkaran kecil di pojok kantin. Keno di tengah cerita, Arkan menyela setiap dua kalimat, Nara tertawa terlalu keras, dan Fadly sibuk makan.
Aku duduk di antara Nara dan… Raven.
Ini tidak direncanakan. Tidak ada yang sadar.
Tapi jarak lutut kami hanya beberapa sentimeter. Aku bisa merasakan panas tubuhnya bahkan tanpa menyentuh.
“Sha, minum,” kata Raven sambil mendorong botol ke arahku.
Biasa. Nada suaranya biasa.
Tapi jari kami bersentuhan saat aku mengambil botol itu. Listrik kecil menjalar sampai ke pundakku.
Aku menarik tangan terlalu cepat. Raven menahan senyum.
Keno menyipitkan mata. “Kenapa lo berdua aneh?”
Aku hampir tersedak minuman. “Aneh apanya?”
“Kayak… tegang,” kata Keno. “Baru ribut ya?”
“Ngaco,” potong Raven santai. “Lo aja yang kebanyakan mikir.”
Keno masih menatap kami bergantian.
Aku menunduk, pura-pura sibuk membuka bungkus makanan. Raven bersandar santai, seolah tidak ada apa-apa.
Tapi di bawah meja—lututnya menyentuh lututku. Tidak sengaja, atau mungkin sengaja.
Dan tidak ada yang menarik diri.
Percakapan tetap berjalan. Tawa tetap pecah.
Tapi aku tidak dengar apa-apa lagi. Karena seluruh fokusku ada di satu titik kecil di bawah meja.
Di sentuhan itu.
Di fakta bahwa kami duduk di tengah teman-teman, dikelilingi suara dan cahaya, dan tidak ada satu pun orang yang tahu—
bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi diam-diam.
Raven menoleh sedikit ke arahku. Suaranya pelan, hanya cukup untuk aku dengar.
“Aku suka.”
Aku tidak berani menatapnya. “Suka apa?”
“Punya kamu,” katanya ringan. “Tapi nggak ada yang tahu.”
Jantungku berhenti. Lalu berlari.
Aku menelan ludah. “Berisik.”
Raven tertawa kecil.
Dan lutut kami tetap bersentuhan sampai istirahat selesai. Rahasia kecil di tengah keramaian.
Dan entah kenapa—itu terasa lebih intim daripada pegangan tangan di tempat sepi.
...----------------...
Kerja kelompok ternyata tidak pernah benar-benar selesai di sekolah.
Siang itu aku duduk bersila di lantai rumah salah satu teman sekelas, laptop terbuka di pangkuan, kabel charger saling menyilang seperti sarang. Suasana ramai—ada yang debat soal jawaban, ada yang bercanda, ada yang pura-pura kerja tapi sebenarnya main ponsel.
Aku mencoba fokus. Benar-benar mencoba.
Tapi setiap beberapa menit, pikiranku melayang ke satu hal yang sama:
Raven.
Kami tidak satu kelompok. Harusnya itu membuat segalanya lebih mudah. Lebih aman. Tidak perlu jaga ekspresi di jarak dekat.
Tapi anehnya, sejak pagi aku tetap merasa dia ada di sekitar. Seperti keberadaannya menempel di pikiranku bahkan saat ia tidak terlihat.
Pintu depan terbuka.
Suara langkah masuk, disusul sapaan santai yang langsung dikenali telingaku.
Raven.
Aku tidak perlu menoleh untuk tahu itu dia. Jantungku sudah keburu bereaksi duluan.
Beberapa teman langsung menyapanya. Ia tertawa, menyalami satu-dua orang, nimbrung obrolan seperti biasa—seolah kedatangannya tidak membawa maksud apa-apa.
Lalu matanya menemukanku. Dan dunia mengecil.
Aku berdiri sebelum sempat memikirkan alasan, lalu berjalan menghampirinya.
“Kamu ngapain ke sini?” tanyaku pelan.
“Aku mau ngajak kamu makan.”
Jawaban sesederhana itu membuat dadaku menghangat.
“Aku masih ngerjain tugas.”
“Iya, aku tahu. Kan kamu bilang tadi.”
“Kamu nggak lapar?”
“Lapar. Tapi aku bisa nunggu.”
Kalimat itu sederhana. Tapi cara ia mengatakannya seperti menunggu bukan beban—melainkan pilihan.
“Kamu nggak harus—”
“Aku mau.”
Tidak memaksa. Tidak membuatku merasa bersalah. Hanya memastikan aku tahu bahwa ia di sini karena ingin. Dan entah kenapa, itu terasa jauh lebih besar daripada ajakan makan itu sendiri.
Empat puluh menit berlalu.
Laptopku akhirnya tertutup.
“Aku selesai.”
Raven langsung berdiri. “Nggak lama.”
Padahal jelas-jelas hampir satu jam.
Kami berjalan ke warung kecil langganan. Duduk berhadapan. Dunia terasa lebih sunyi.
Raven menatapku sambil tersenyum kecil.
“Capek?”
“Lumayan. Tapi kelar.”
“Bagus.”
Satu kata. Tapi diucapkan seperti ia benar-benar ikut lega.
Di sela obrolan ringan, tatapannya selalu kembali ke aku. Seolah fakta bahwa aku duduk di depannya sudah cukup.
“Jangan liatin aku terus,” kataku, menunduk sambil menyibakkan rambut dari wajahku, berusaha menutupi pipiku yang terasa panas.
“Aku nggak ngapa-ngapain,” jawabnya, tubuhnya tetap santai, tapi matanya tetap menempel di aku. Bahunya sedikit condong ke depan, seperti diam-diam menunggu reaksiku.
“Kamu ngeliatin.”
Aku menelan ludah, jari-jariku menggenggam tepi meja seolah bisa menahanku dari menatapnya terlalu lama.
“Soalnya kamu pacar aku sekarang,” katanya ringan, senyumnya tipis tapi matanya berbicara sendiri—hangat, penuh perhatian, dan sedikit nakal.
Jantungku langsung melompat. Aku merasakan panas menjalar dari dada sampai ke wajah.
Aku menendang kakinya pelan dengan ujung sepatu, tapi tanganku masih menutupi mulut, mencoba menahan tawa kecil.
“Berisik,” kataku, nada suara setengah kesal tapi tak bisa sepenuhnya menutupi senyumku sendiri.
Ia tersenyum, pandangannya tetap padaku. Bahunya sedikit rileks, tapi jarinya menyentuh ujung meja, seolah menunggu gerakan selanjutnya dari aku. Seketika, udara di antara kami terasa ringan tapi berdenyut—seperti listrik kecil yang hanya kami berdua bisa rasakan.
Dan di momen kecil itu aku sadar—perhatian paling tulus sering datang dari hal-hal yang tidak pernah diminta.
Datang menjemput makan. Menunggu tanpa mengeluh. Duduk di depan aku seolah tidak ada tempat lain yang lebih penting.
Tidak ada deklarasi besar. Tapi ada rasa dipilih.
Dan untuk sekarang—itu lebih dari cukup.
Saat kami berjalan kembali, jarak di antara kami tetap dekat.bTidak ada pegangan tangan. Tidak ada pelukan. Hanya langkah yang disamakan.
Dan rahasia yang berjalan di tengah siang hari.
Pacaran diam-diam ternyata melelahkan. Tapi juga indah.
...----------------...
“Shaira – Senyum yang hanya untuknya”
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/