Di Universitas Negeri Moskow, kekuasaan tidak hanya diukur dari nilai, tapi dari sirkel pergaulan. Sky Remington adalah puncaknya, putra konglomerat Rusia yang sempurna, dingin, dan tak tersentuh. Selama empat bulan terakhir, ia menjalin hubungan yang tampak ideal dengan Anastasia Romanov, gadis tercantik di kampus yang sangat membanggakan statusnya sebagai kekasih Sky.
Di dalam sirkel elit yang sama, ada Ozora Bellvania. Meskipun ia adalah pewaris kekaisaran bisnis perkapalan yang legendaris, Ozora memilih menjadi bayangan. Di balik kasmir mahal dan sikap diamnya, ia menyimpan rasa tidak percaya diri yang dalam, merasa kecantikannya tak akan pernah menandingi aura tajam Anastasia, Stevani, atau Beatrix.
Selama ini, Sky dan Ozora hanyalah dua orang yang duduk di meja makan yang sama tanpa pernah bertukar kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi Yang Memuakkan
Empat Bulan Kemudian...
Apartemen lantai Dua Puluh enam itu adalah puncak dunia mereka, namun bagi Sky Remington, tempat itu mulai terasa seperti sel isolasi yang sangat mewah. Tidak ada suara teriakan. Tidak ada pecahan kaca. Hanya ada denting garpu perak yang beradu dengan porselen mahal saat Ozora memotong steak nya dengan presisi yang membosankan.
Sky meletakkan gelas wiski nya dengan hentakan yang sengaja dikencangkan. "Kau tidak ingin bertanya ke mana aku pergi semalam?"
Ozora bahkan tidak mendongak. Rambut hitamnya jatuh sempurna menutupi sebagian wajahnya yang pucat. "Kau pulang, Sky. Itu sudah cukup bagiku. Aku tahu kau tidak akan bisa bernapas tanpa oksigen yang kuberi."
Sky tertawa, tapi suaranya kering. "Oksigen? Kau lebih seperti karbon monoksida, Ozora. Mematikan pelan-pelan tanpa aku sadari. Tapi masalahnya... aku sadar. Dan aku mulai jengah."
Ozora berhenti memotong dagingnya. Dia meletakkan pisau itu pelan, seolah takut merusak ketenangan yang mencekam di antara mereka. Dia menatap Sky dengan mata gelapnya yang dulu selalu memancarkan api pemberontakan, api yang kini meredup menjadi bara yang statis.
"Apa kau sedang mencoba memancing keributan, Sky?" tanya Ozora tenang. "Setelah semua yang kita lalui untuk berada di sini, sekarang kau merasa... bosan?"
"Bosan adalah kata yang terlalu sopan," desis Sky.
Dia berdiri, melangkah mendekati Ozora, lalu mencengkeram sandaran kursi gadis itu. "Aku merindukan monster yang mencakar dadaku di setiap malam. Aku merindukan wanita yang mengancam akan membakar hidup-hidup siapapun yang menatapku. Sekarang? Kau hanya... ada. Kau seperti furnitur mahal di ruangan ini. Indah, tapi mati."
Ozora berdiri dengan sentakan yang membuat kursinya terjatuh ke lantai marmer. Suara dentuman itu adalah suara paling keras yang pernah terdengar di ruangan itu dalam sebulan terakhir.
"Indah tapi mati? Kau yang membunuhku, Sky! Kau menginginkan kepatuhan total. Kau menginginkanku terkunci di sini, hanya melihatmu, hanya memikirkanmu. Dan sekarang setelah aku memberikan jiwaku sepenuhnya, kau menyebutku membosankan?"
"Karena tidak ada lagi yang perlu ditaklukkan darimu!" suara Sky naik satu oktav. "Hubungan ini menjadi terlalu mudah. Terlalu bisa ditebak. Aku tahu jam berapa kau akan bangun, aku tahu apa yang akan kau katakan, aku bahkan tahu cara kau bernapas saat tidur. Tidak ada lagi tantangan, Ozora. Kita dua orang rusak yang terjebak dalam rutinitas yang sehat, dan itu menjijikkan."
Ozora melangkah maju, memperpendek jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Bau alkohol dari napas Sky bercampur dengan parfum mawar Ozora yang menyesakkan.
"Kau ingin tantangan?" Ozora berbisik, suaranya bergetar antara amarah dan obsesi yang kembali menyala. "Kau ingin aku menghancurkan sesuatu? Atau kau ingin aku menghilang sehingga kau harus memburuku lagi?"
Sky menyeringai gelap. Adrenalin yang sudah lama hilang mulai merayap di pembuluh darahnya. "Mungkin itu ide bagus. Pergilah. Lari dariku. Berikan aku alasan untuk Mencintai mu lagi."
Ozora tertawa sinis, air mata mulai menggenang namun tidak jatuh. "Kau egois, Sky. Kau mencintai pengejaran, bukan orangnya. Kau tidak mencintaiku, kau mencintai rasa menang saat kau berhasil menjinakkan aku."
"Dan kau?" balas Sky telak. "Kau tidak mencintaiku. Kau hanya mencintai rasa dimiliki oleh seseorang yang sama gila dengannya. Kita tidak sedang membangun hubungan, Ozora. Kita sedang membangun neraka pribadi karena kita terlalu takut untuk merasa biasa saja."
Cekcok itu meledak. Ozora menyambar gelas wiski Sky dan melemparkannya ke dinding. Kristal pecah berkeping-keping, persis seperti bayangan mereka di cermin. Sky justru merasa hidup saat melihat pecahan itu. Dia mencengkeram rahang Ozora, menekannya ke dinding, tapi tidak dengan kasih sayang.
"Pecahkan lagi," tantang Sky. "Tunjukkan padaku kalau kau masih punya taring, Monster Kecil."
Ozora tidak membalas dengan ciuman. Dia meludahi wajah Sky. Sebuah penghinaan yang bagi orang normal akan mengakhiri hubungan, namun bagi mereka, itu adalah undangan.
"Aku membencimu karena kau membuatku menjadi pengecut yang takut kehilanganmu," bisik Ozora dengan kebencian murni.
"Bagus," jawab Sky, matanya berkilat gila. "Tetaplah membenciku. Jangan pernah jadi patuh lagi. Karena saat kau mulai mencintaiku dengan cara yang normal, saat itulah aku akan benar-benar meninggalkanmu."
Malam itu, mereka tidak tidur. Mereka menghabiskan waktu dengan saling menyakiti secara verbal, menggali luka lama, dan menghancurkan ketenangan apartemen itu. Mereka sadar, mereka adalah dua orang yang hanya bisa merasa utuh saat mereka sedang hancur. Kebosanan adalah musuh terbesar mereka, dan malam ini, mereka baru saja mendeklarasikan perang terhadap kedamaian.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰