NovelToon NovelToon
JANJI CINTA SELAMANYA

JANJI CINTA SELAMANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Teen Angst / Romansa / Slice of Life / Konflik etika
Popularitas:705
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.

Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.

Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.

Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: TENDA DI AMBANG GERBANG

BAB 5: TENDA DI AMBANG GERBANG

Fajar menyingsing di Kota Simla, menyisakan sisa-sisa air hujan semalam yang masih menggenang di jalanan aspal. Namun, ketenangan pagi itu pecah saat sebuah truk tua berhenti tepat di depan gerbang raksasa kediaman Hendra Kashyap.

Vanya, yang tidak tidur semalaman karena mencemaskan keadaan Arlan, segera berlari ke jendela kamarnya. Matanya membelalak. Ia melihat Arlan—dengan punggung yang masih dibalut kain putih karena luka cambukan—turun dari truk itu bersama ibunya, Sujati.

Bukannya melarikan diri dari Simla setelah disiksa secara brutal, Arlan justru menurunkan beberapa tiang kayu, kain terpal tebal, dan yang paling mengejutkan: dua ekor sapinya.

"Arlan... apa yang kau lakukan?" bisik Vanya dengan jantung berdebar kencang.

Di bawah sana, dengan gerakan yang tenang namun pasti, Arlan mulai mematok tiang di trotoar, tepat di seberang gerbang mewah Hendra. Ia mendirikan sebuah tenda darurat. Ia tidak mengganggu tanah pribadi Hendra, namun keberadaannya di sana adalah tamparan keras bagi martabat keluarga Kashyap.

"APA-APAAN INI?!"

Suara Hendra menggelegar dari balkon lantai dua. Ia keluar dengan jubah tidurnya yang mahal, wajahnya merah padam melihat pemandangan di depan matanya. Seorang penjual susu yang kemarin ia cambuk hingga hampir mati, kini berkemah di depan hidungnya.

Arlan mendongak. Meskipun tubuhnya tampak kaku karena menahan sakit di punggungnya, sorot matanya tetap tajam dan tenang. Ia mengambil sebuah kendi kecil, lalu mulai menyalakan kompor gas kecil untuk membuat teh.

"Pagi, Tuan Hendra," sapa Arlan dengan nada yang sangat sopan namun penuh sindiran. "Karena rumah saya dihancurkan oleh orang-orang misterius semalam, dan saya tidak punya tempat tinggal, saya memutuskan untuk bertamu ke lingkungan yang paling aman di Simla. Bukankah ini lingkungan Anda?"

"Pergi dari sini sekarang juga! Gani! Panggil polisi! Seret dia ke penjara!" teriak Hendra sambil menunjuk-nunjuk ke arah jalanan.

Gani berlari keluar gerbang dengan emosi meledak, diikuti oleh beberapa pengawal. "Kau benar-benar cari mati, ya? Belum cukup cambukan semalam?" Gani mencoba menerjang, namun Arlan dengan tenang mengangkat sebuah dokumen.

"Silakan, panggil polisi," ucap Arlan tenang. "Saya berdiri di trotoar publik. Menurut undang-undang Kota Simla, selama saya tidak menutup akses jalan dan tidak melakukan tindak kriminal, saya punya hak untuk berada di sini. Dan mengenai cambukan semalam..." Arlan membuka sedikit balutan di bahunya, memperlihatkan luka yang masih basah. "Jika polisi datang, saya rasa mereka akan sangat tertarik melihat apa yang terjadi pada saya di dalam rumah megah ini."

Gani terhenti. Ia menoleh ke arah ayahnya. Hendra mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. Ia tahu Arlan sedang menjebaknya. Jika ia melakukan kekerasan di depan umum, nama baiknya sebagai tokoh terpandang di Simla akan hancur dalam sekejap.

Vanya keluar ke halaman, mencoba mendekati gerbang, namun Hendra mencegatnya. "Masuk ke dalam, Vanya! Jangan kau berani-berani menatap wajahnya!"

"Ayah, dia hanya meminta keadilan!" seru Vanya dengan air mata berlinang. "Kau menghancurkan rumahnya, kau menyiksanya, sekarang kau ingin mengusirnya dari jalanan?"

"Dia sampah, Vanya! Dan sampah harus dibuang ke tempatnya!"

Hendra menarik Vanya masuk dan mengunci pintu utama dengan kasar. Namun, tindakan itu tidak bisa menghentikan apa yang dirasakan Vanya. Melalui jendela lantai atas, ia melihat Sujati, ibu Arlan, duduk di atas tikar di dalam tenda itu. Sujati tampak tenang, seolah ia percaya sepenuhnya pada langkah anaknya.

Arlan mulai memerah susu sapinya di depan orang-orang Simla yang mulai berkumpul untuk melihat keributan itu. Ia menjual susu itu tepat di depan gerbang Hendra.

"Susu murni! Susu yang diperah dengan kejujuran, bukan dengan kekuasaan!" teriak Arlan.

Warga Simla mulai berbisik-bisik. Mereka selama ini takut pada Hendra, tapi melihat keberanian Arlan, mereka mulai merasa kagum. Beberapa orang mulai berani membeli susu dari Arlan. Ini adalah serangan balik yang jenius; Arlan tidak melawan dengan senjata, tapi dengan mempermalukan ego Hendra di depan publik.

Malam pun tiba. Suhu di Simla turun drastis. Arlan duduk di luar tendanya, memandangi lampu-lampu di kamar Vanya yang masih menyala. Ia meringis saat mencoba menyandarkan punggungnya yang terluka.

Tiba-tiba, ia melihat sebuah keranjang kecil diturunkan menggunakan tali dari balkon samping rumah Hendra. Arlan berdiri dan menghampirinya. Di dalam keranjang itu terdapat obat luka, beberapa potong roti hangat, dan sebuah surat kecil.

Arlan membuka surat itu. Tulisan tangan Vanya yang rapi menghiasi kertas tersebut:

"Maafkan aku atas semua penderitaan ini. Tolong pakai obat ini, Ayah tidak boleh tahu. Kenapa kau melakukan ini, Arlan? Kau membahayakan nyawamu."

Arlan tersenyum kecil. Ia mengambil pena dari saku celananya dan menuliskan balasan di balik kertas yang sama:

"Aku melakukan ini agar kau tahu bahwa dunia ini tidak hanya milik mereka yang berkuasa. Aku tidak akan pergi, Vanya. Aku akan berdiri di sini sampai ayahmu sadar bahwa ia tidak bisa mengatur hati manusia seperti ia mengatur hartanya. Tidurlah, mimpikan Simla yang lebih indah tanpa dinding di antara kita."

Ia menaruh surat itu kembali ke keranjang dan menarik talinya perlahan agar Vanya bisa mengambilnya.

Dari atas balkon yang gelap, Vanya membaca surat itu dengan air mata menetes. Untuk pertama kalinya, ia merasa bangga mencintai pria ini. Arlan bukan hanya seorang penjual susu; dia adalah seorang pejuang.

Namun, di dalam ruang kerjanya, Hendra tidak sedang tidur. Ia sedang menatap monitor CCTV yang dipasang di luar gerbang. Ia melihat adegan keranjang itu. Giginya bergeletuk.

"Kau ingin bermain dengan cara ini, Arlan?" gumam Hendra dengan nada yang sangat dingin. "Maka aku akan menghancurkanmu melalui hal yang paling kau sayangi... ibumu."

Hendra mengambil teleponnya. "Halo? Lakukan rencana kedua. Buat ibunya masuk rumah sakit, dan pastikan Arlan yang disalahkan atas kelalaiannya."

Hendra menutup telepon dengan senyum keji. Di bawah sana, Arlan tidak menyadari bahwa badai yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.

1
falea sezi
mending bawa pergi jauh deh arlan
falea sezi
ksian bgt arlan knp semua novel mu isinya sedih teros kapan bahagia nya q baca semua nya tp isinya menderita trs jd g mood baca pdhl mau ksih hadiah jd males
falea sezi
menyimakkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!