Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Penyatuan Sang Tuan
Udara di dalam kamar mewah itu terasa begitu berat dan penuh dengan aroma minyak cendana yang memabukkan. Arlan kini berada tepat di atas tubuh Amara, menumpu berat badannya dengan kedua lengan yang kekar. Di bawahnya, Amara terbaring pasrah dengan kulit yang berkilau karena minyak, napasnya tersengal-sengal, dan matanya berkaca-kaca menatap pria yang kini menjadi penguasa tunggal atas tubuhnya.
Arlan meraih kedua pergelangan tangan Amara, menguncinya di atas kepala gadis itu dengan satu tangan. Tangan lainnya bergerak ke bawah, mengarahkan kéjáñťáñáññýá yang besar, panas, dan berurat tepat di múľúť ľíáñg Amara yang sudah sangat báśáħ dan merah merona.
"Buka ķáķímú lebih lebar, Amara. Jangan dilawan," bisik Arlan dengan suara serak yang penuh perintah.
"T-Tuan... kumohon... itu terlalu besar. Saya takut..." isak Amara. Air mata mulai mengalir melewati pelipisnya saat ia merasakan ujung keras milik Arlan mulai menekan píñťú máśúķñýá yang masih sangat sempit.
"Aku akan melakukannya perlahan, sayang. Percayalah padaku," gumam Arlan.
Arlan mulai mendorong masuk secara perlahan. Baru satu senti saja, wajah Amara langsung berkerut kesakitan. Ia merasakan sensasi seperti kulitnya sedang diregangkan hingga batas maksimal, seolah tubuhnya akan terbelah menjadi dua.
"AAAKHH! Sakit, Tuan! Berhenti... hiks... hiks... sakiiittt!" jerit Amara tertahan. Tubuhnya menegang kaku, mencoba menjauh dari dorongan Arlan.
Melihat Amara yang mulai histeris karena rasa sakit, Arlan segera merunduk. Ia tidak berhenti mendorong, namun ia mencoba mengalihkan rasa sakit itu. Ia membungkus salah satu páýúďářá besar Amara dengan mulutnya, menghisap púťíñgñýá dengan sangat kuat dan dalam, sementara tangannya yang bebas meremas páýúďářá yang satunya.
"Mmphhh... hhh... dengarkan aku, Amara... fokus pada íśápáñķú," ucap Arlan di sela-sela kegiatannya menyesap ďáďá Amara. "Jangan tegang... biarkan aku masuk..."
Arlan kembali mendorong, inci demi inci, menembus pertahanan terakhir Amara. íśápáñ kuat di ďáďáñýá menciptakan sensasi panas yang aneh, mencoba beradu dengan rasa perih yang luar biasa di bawah sana.
"Hiks... hiks... hhh... T-tuan, rasanya seperti dibelah... ahhh!" Amara meracau dengan suara serak. Ia menggigit bahu Arlan untuk menahan teriakannya saat Arlan memberikan satu dorongan yang lebih dalam, merobek śéľápúť ķépéřáwáñáñ gadis itu.
Arlan mengerang tertahan saat merasakan jepitan yang luar biasa ketat dan panas dari dalam diri Amara. "Sial... kau sangat sempit, Amara... ahhh, rasanya luar biasa!"
Arlan berhenti sejenak saat ia sudah masuk separuh jalan, membiarkan tubuh Amara beradaptasi dengan ukurannya yang masif. Ia terus menjilati air mata Amara dan kembali menghisap ďáďáñýá dengan rakus, mengirimkan gelombang rangsangan agar ćáířáñ áśmářá Amara terus mengalir keluar untuk melumasi jalan masuknya.
"Apa masih sakit, hm?" tanya Arlan, suaranya kini terdengar lebih lembut namun tetap dominan.
"Hhh... hhh... m-masih perih, Tuan... tapi... tapi ada yang aneh..." jawab Amara dengan suara bergetar. Rasa sakit itu mulai bercampur dengan denyutan nikmat yang belum pernah ia rasakan.
"Itu artinya kau menikmatinya, Amara," Arlan menyeringai. Ia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan ritme yang sangat lambat. "Sekarang, peluk aku... dan rasakan bagaimana tuanmu ini memilikimu seutuhnya."
Amara melingkarkan kakinya di pinggang Arlan, mengikuti setiap dorongan yang semakin lama semakin dalam dan cepat. Isakan tangisnya perlahan berubah menjadi desahan pasrah yang memanggil-manggil nama Arlan di tengah malam yang membara itu.
Arlan mengerang rendah saat merasakan ďíñďíñg řáħím Amara yang begitu panas dan menjepit miliknya dengan sangat ketat. Rasa nikmat itu hampir membuatnya kehilangan kendali, namun ia ingin merasakan kepatuhan Amara lebih jauh lagi.
Dengan gerakan yang mendominasi, Arlan tiba-tiba membalikkan keadaan. Ia berbaring telentang di tengah ranjang dan menarik tubuh Amara untuk berada di atasnya. kéjáñťáñáññýá tetap tertanam jauh di dalam diri Amara, membuat gadis itu memekik saat merasakan pergeseran posisi yang sangat íñťím tersebut.
"Sekarang, kau yang memegang kendali, Amara," bisik Arlan. Tangannya mencengkeram pinggul Amara yang berminyak, membantunya untuk duduk tegak di atas kéjáñťáñáññýá.
"T-Tuan... saya tidak tahu harus bagaimana... ini masih sangat penuh di dalam," rintih Amara. Ia merasa sangat ťéřéķśpóś; rambutnya terurai berantakan, dan páýúďářáñýá yang besar menggantung tepat di depan wajah Arlan, berkilat karena sisa minyak dan keringat.
"Gerakkan pinggulmu naik dan turun... perlahan saja. Rasakan bagaimana aku mengisi setiap inci di dalam dirimu," perintah Arlan. Matanya menggelap melihat pemandangan indah di depannya—seorang gadis desa polos yang kini duduk di atas kéjáñťáñáññýá yang perkasa.
Amara menelan ludah, ia mencoba mengangkat pinggulnya sedikit demi sedikit. "A-akhh..." Ia mendesah saat merasakan gesekan itu kembali memicu rasa perih yang bercampur dengan rasa gatal yang hebat.
"Terus, Amara... lebih cepat sedikit," geram Arlan.
Tangan Arlan tidak tinggal diam; ia meraih kedua páýúďářá Amara, meremasnya dengan kuat seolah sedang memerah susu. Tekanan pada ďáďáñýá seolah memberikan kekuatan pada Amara untuk bergerak lebih liar. Amara mulai menemukan ritmenya, ia mulai naik dan turun dengan lebih berani, membuat lonceng di lehernya berdenting-denting dengan cepat, beradu dengan suara kecipak basah dari bawah sana.
"Nngghhh... Tuan... ahhh! Enak... rasanya sangat penuh... hhh!" Amara meracau, kepalanya terdongak ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang kini dihiasi bercak merah akibat ulah Arlan.
"Ya, sayang... kau begitu ketat... seolah kau diciptakan hanya untuk menjepitku seperti ini," Arlan menarik kepala Amara ke bawah, memaksanya untuk menunduk hingga ia bisa kembali melahap púťíñg Amara yang sudah basah kuyup.
Amara semakin memacu gerakannya. Ia merasa seperti sedang menunggangi badai. Setiap kali pinggulnya menghujam ke bawah, ia bisa merasakan ujung milik Arlan menyentuh bagian terdalamnya, menciptakan sensasi yang membuat matanya memutar ke atas karena kenikmatan yang meluap.
"Tuan... saya... saya mau meledak... ahhh!" Amara mencengkeram bahu Arlan, kuku-kukunya tanpa sadar menggores kulit punggung pria itu.
"Ledakkan di depanku, Amara! Tunjukkan betapa kau menyukai milik tuanmu!" Arlan memberikan dorongan pinggul yang kuat dari bawah, membantu Amara mencapai púñćáķñýá.
Dapur, wastafel, dan minyak—semua berujung pada penyatuan yang menggila di atas ranjang ini. Amara berteriak kencang saat tubuhnya mengejang hebat, sementara Arlan menyambut setiap jepitan itu dengan geraman liar, siap untuk menumpahkan seluruh ćáířáññýá ke dalam diri gadis yang kini telah ia taklukkan sepenuhnya.