Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Singgah
Waktu tidak berjalan di Ruang Tunggu.
Kinan belajar ini dengan cara yang pahit menunggu, menunggu, menunggu, sementara tidak ada yang berubah, putih tetap putih, cahaya tetap cahaya. Dan perempuan tua itu tetap di sampingnya dengan mata biru tua muda, kesabaran yang tidak terbatas.
"Kamu harus belajar melihat," ujarnya seperti angin membawa debu. "Melihat bukan dengan mata—kamu tidak punya mata, melihat dengan... dengan hatimu. Dengan cintamu. Dengan apa yang masih menghubungkan dengannya"
Kinan mencoba melihat, merasakan Ruang Tunggu ini dengan cara yang berbeda. Tapi yang ia rasakan hanyalah kekosongan, putih tidak berbatas, keheningan yang menekan.
"Aku nggak bisa," katanya seperti keluhan, doa yang tidak dijawab. "Aku nggak bisa lihat apa-apa cuma rindu tidak tahu cara mendeskripsikan."
"Rindu itu adalah jalanmu, mata yang kamu butuhkan, bayangkan dia, wajahnya bukan seperti di foto—statis, tapi kehidupan yang bergerak, tertawa, menangis, marah sepenuhnya."
Kinan menutup karena tidak ada kelopak yang bisa ditutup, membayangkan, mencoba mengumpulkan potongan-potongan dari kenangan yang masih ada.
Laki laki itu tertawa terbahak-bahak saat ia jatuh dari motor pertama kali belajar mengendarai. Ia marah, benar-benar marah, saat lupa minum obat, menangis di pangkuannya ketika diagnosis datang dunia runtuh. Raka yang tidur dengan mulut terbuka, mendengkur pelan, dan selalu tersenyum walau masalah datang bertubi-tubi.
Dan Raka yang terakhir hancur memeluknya erat-erat disaat mesin berbunyi. "Jangan pergi, sayang," ucapnya seakan tidak rela
\=\=\=
Sesuatu berubah.
Di depan Kinan—atau di dalamnya, atau di sekelilingnya—muncul bayangan seperti kenangan yang menjadi nyata, merespons cintanya, rindunya, menciptakan sesuatu dari ketiadaan.
Bayangan itu bergerak perlahan, tidak stabil, Tapi Kinan mengenali tubuh kurus, bahu yang membungkuk, dan langkah tertatih tatih.
menuju rumah kontrakan mereka. Dengan tangan di saku, kepala menunduk, dan bayangan kegelapan yang mengikuti di belakangnya.
"Apa itu?" Suaranya bergetar. "Bayangan hitam.. apa itu?".
"Itu adalah godaan kematian, kehancuran akan terjadi, jika Raka tidak kuat. Jika kamu tidak membantunya."
"Aku harus bantu dia, ... harus ke sana. sekarang."Jiwanya memberontak pilu.
"Belum, kamu belum siap, belum tahu caranya. Dan... dan kamu harus tahu harganya."
"Apa pun," potongnya dengan tidak sabar, tidak peduli. "aku rela ."
" Kata apa pun" seringkali lebih berat dari yang bisa di bayangkan.
"Aku akan ceritakan kisahku," ucapnya pelan, seperti permohonan. "Kamu harus mengerti apa yang menunggumu, menunggu kita semua di sini."
Cahaya berpulsasi perlahan wujud kadang terlihat tua, muda, dan kadang terlihat seperti apa pun .
"Aku hidup di zaman yang berbeda," mulainya bukan zamanmu, aku... aku sudah lupa tahunnya. Tapi aku ingat tempatnya sebuah desa kecil di pinggir sungai rumah kayu kebun yang subur dan aku ingat dia."
Kata katanya penuh beban yang tidak bisa dijelaskan.
"Namanya... namanya..." Ia berhenti mencoba menemukan sesuatu yang sudah terkubur di bawah ribuan tahun kesendirian. "Aku lupa namanya. Tapi aku ingat suaranya, tawanya. caranya memanggilku dengan panggilan sayang hanya kami berdua yang tahu artinya."
"Kami menikah muda, punya kebun, rumah, punya mimpi untuk anak-anak yang akan datang."
Fragmen muncul di sekeliling mereka seperti kenangan, warna yang pudar, suara samar.
Rumah kayu, kebun hijau, pasangan muda sambil mencuci pakaian di sungai, mata biru terang, penuh cinta.
"Tapi aku tidak bisa punya anak," ucapnya lagi , bayangan berubah menjadi rumah sunyi, penuh kesedihan. "Tiga tahun kami mencoba, tiga tahun kegagalan. Dan kemudian—kemudian aku sakit."
Bayangan berubah lagi menjadi kamar yang remang-remang, tubuh yang terbaring, suami yang menangis di sampingnya.
"Aku pergi usia muda diatas pangkuannya. Dengan janji yang tidak bisa aku penuhi untuk tua dan punya anak bersama."
Kinan merasakan pengertian mendalam, menghubungkan dua jiwa yang terpisahkan oleh waktu, disatukan oleh pengalaman sama."Aku juga," bisiknya, "pergi diatas pangkuan dengan janji yang nggak bisa dipenuhi, cinta yang belum selesai."
"Aku disini tidak bisa melepaskan, terlalu mencintainya, menolak segalanya demi menunggu dia."
"Dan dia?" tanya Kinan, dengan takut. "Dia... dia gimana?"
Bayangan berubah menjadi seorang laki laki, dengan rambut putih, wajah penuh kerutan. Suami yang menatap ke tempat yang tidak ada, mencari, menunggu balasan dari yang sudah pergi.
"Dia menunggu tahun demi tahun, dekade demi dekade. tidak menikah lagi, atau mencinta orang lain."
"Tapi kamu di sini, nggak bisa ke sana.Kamu nggak bisa... nggak bisa ketemu dia."
Perempuan tua itu mengangguk kesedihan dalam, menjadi bagian dari keberadaannya.
"Aku terlalu lama menunggu waktu dan ketika siap untuk melepaskan, dia sudah pergi."
Bayangan terakhir menjadi makam, batu nisan dengan nama yang sudah tidak bisa dibaca, berlutut di tempat yang tidak ada, menangis tanpa air mata, kehilangan segalanya untuk kedua kalinya.
"Aku terlambat," Suaranya seperti tangisan dan ratapan hancur. "Aku menunggu terlalu lama mencintai terlalu kuat. Dan aku... aku kehilangan dia untuk selamanya sampai dunia berakhir."
"Tapi kamu masih di sini masih menunggu?"
"Aku menjadi penjaga, membantu yang lain. mungkin dengan cara ini bisa menebus menunggu tidak pernah selesai."
Bayangan suara terdengar seperti nyanyian, doa dan janji. "Aku tidak akan lupa membantu Raka sekarang sebelum dia pergi, sebelum semua nya berakhir."
"Baiklah, Kinan, aku akan membantu, tapi ingat—setiap kali kamu berinteraksi dengan dunia sana, kamu kehilangan energi, kenangan, apakah kamu sudah siap?"
"Aku siap," katanya. "Demi dia selalu. Demi dia."
Tiba-tiba Kinan melihat benar-benar melihat ruang tunggu bukan lagi putih yang tidak berbatas. Ada warna samar, pudar, tapi ada, bentuk jiwa-jiwa lain, duduk, berdiri menunggu dengan ekspresi yang sama: cinta yang belum selesai.
"Selamat datang," ucapnya dengan suara yang kini terdengar seperti tiga suara sekaligus—tua, muda, dan sesuatu di antaranya. "Ke Ruang Tunggu. Ke tempat cinta terlalu kuat untuk melepaskan. Ke... ke rumah kita."
Dan di kejauhan—di bayangan yang masih samar—ia melihat Raka masih berjalan hidup dengan bayangan hitam mengikuti.
"Kita mulai sekarang sebelum terlambat, . sebelum kamu menjadi aku."
Kinan mengangguk dengan tekad terasa seperti api, cahaya, satu-satunya yang ia punya di tempat tidak punya apa apa.
mampir 🤭