NovelToon NovelToon
TYPO DI ANTARA KITA

TYPO DI ANTARA KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Ujian Profesionalitas

​​Gue baru saja mau naruh bekal makan siang di meja pantry saat suasana kantor mendadak berubah jadi suram. Pak Hermawan, direktur utama yang jarang banget keluar dari sarangnya, tiba-tiba berdiri di tengah ruang redaksi dengan wajah yang nggak bisa dibilang ramah. Matanya tajam, menyapu seisi ruangan sebelum akhirnya berhenti tepat di arah gue, lalu beralih ke ruangan Genta.

​“Genta, Aruna. Ke ruangan saya. Sekarang.”

​Kalimat itu pendek, tapi rasanya kayak vonis mati. Gue melirik Genta yang baru saja keluar dari ruangannya. Dia sempat menatap gue sekilas, sebuah tatapan yang penuh kekhawatiran yang berusaha disembunyikan. Gue mengekor di belakangnya, tangan gue dingin dan gemetar.

​Di dalam ruangan Pak Hermawan, keheningan terasa mencekik. Beliau melemparkan sebuah amplop cokelat ke atas meja. Isinya foto-foto kami saat makan seblak di pinggir jalan dan saat Genta mengantar gue pulang tempo hari.

​“Aksara Muda punya aturan yang sangat jelas tentang hubungan antar staf,” suara Pak Hermawan berat dan nggak bisa diganggu gugat. “Terutama antara Editor Kepala dan bawahannya. Ini masalah integritas, Genta. Bagaimana kamu bisa bersikap objektif mengoreksi naskah Aruna kalau kamu punya perasaan pribadi padanya?”

​Genta berdiri tegak, tangannya mengepal di samping paha. “Perasaan saya tidak mengganggu kualitas pekerjaan saya, Pak. Aruna adalah editor terbaik yang kita punya.”

​“Dunia luar nggak akan melihat itu sebagai prestasi, tapi sebagai favoritisme,” potong Pak Hermawan cepat. “Pilihannya cuma dua. Salah satu dari kalian harus pindah divisi ke bagian distribusi di luar kota, atau salah satu dari kalian mengundurkan diri. Saya kasih waktu sampai besok pagi.”

​Gue merasa dunia gue runtuh seketika. Pindah divisi ke luar kota? Atau mengundurkan diri? Ini bukan cuma soal pekerjaan, ini soal mimpi yang baru saja kami bangun bareng-bareng.

​Kami berdiri di balkon kantor setelah keluar dari ruangan itu. Langit mendung, seolah tahu hati gue lagi berantakan.

​“Biar saya yang pindah, Genta,” suara gue parau. “Bapak sudah berjuang keras buat posisi Editor Kepala ini. Jangan sampai gara-gara saya, karier Bapak hancur.”

​Genta berbalik, menatap gue dengan tatapan yang bikin gue sesak. Dia nggak pakai kacamata, matanya kelihatan sangat lelah tapi juga sangat bertekad.

​“Nggak, Aruna. Kamu itu penulis, kamu editor berbakat. Masa depan kamu ada di sini, di dunia kreatif. Kalau kamu pindah ke distribusi, kamu bakal kehilangan jati diri kamu.”

​“Tapi kalau Bapak yang mundur, Bapak bakal ngecewain keluarga Bapak!” gue setengah berteriak, air mata yang dari tadi gue tahan akhirnya jatuh juga. Gue ingat gimana tertekannya dia sama tuntutan keluarganya.

​Genta melangkah maju, menghapus air mata di pipi gue dengan ibu jarinya. Sentuhannya lembut, kontras dengan kenyataan pahit yang lagi kami hadapi.

​“Keluarga saya ingin saya jadi sukses agar saya bangga. Tapi apa gunanya jabatan ini kalau saya harus ngebunuh semangat orang yang paling saya kagumi?” Genta tersenyum tipis, senyum yang paling sedih yang pernah gue lihat. “Selama ini saya hidup dalam ketakutan buat berbuat salah. Tapi kali ini, kalau mencintai kamu dianggap sebuah kesalahan profesional... saya lebih baik kehilangan pekerjaan daripada kehilangan kamu.”

​Gue menggeleng, sesenggukan. “Ini nggak adil. Kenapa draf hidup kita selalu penuh revisi yang menyakitkan begini?”

...“Ini nggak adil. Kenapa draf hidup kita selalu penuh revisi yang menyakitkan begini?”...

​“Karena di sini kita memang butuh konflik besar sebelum kita sampai ke ending yang bahagia,” bisik Genta. Dia menarik gue ke dalam pelukannya, atoma khasnya menenangkan gue di tengah badai ini. “Percaya sama saya, Aruna. Saya bakal pastiin nggak ada satu pun dari kita yang bakal menyerah pada keadaan.”

​Gue membenamkan wajah di dadanya, ngerasain detak jantungnya yang kencang. Gue tahu, mulai detik ini, hidup gue bukan lagi soal typo di atas kertas. Ini soal perjuangan nyata di mana kami nggak boleh salah langkah sedikit pun, atau semuanya bakal berakhir menjadi naskah yang ditolak selamanya.

1
-Thiea-
apa nih? cinta diam-diam kah.
Kaka's: 🤭🤭.. 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
-Thiea-
jangan-jangan mereka orang yg sama 🤔
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
awal yang menarik 👍
Kaka's: mkasih kak
total 1 replies
Serena Khanza
wah genta udah tau senja ya 🤭
Hunk
hahah ternyata malah chatan sama orang yg di sebelah.🤣
Hunk
Berawal dari benci. Malah jadi suka🤣
Hunk
Jodoh nih🤣
Sean Sensei
cieee... saling lirik melirik nih 🤭
Hunk
Tsundere kah ni si genta?
Kaka's: yah sedikit kaku sih alias professional.. tapi bakal terjawab semua di salah satu bab nantinya🤭
total 1 replies
Serena Khanza
puitis banget tp keren kata katanya🤭
Sean Sensei
/Hey/ promosikan noveltoon /Ok/
Kaka's: 🤣🤣🤣🤣 pusing masa apk F🤭
total 1 replies
APRILAH
kehangatan di dalam kegelapan
Serena Khanza
yaah ketahuan deh gegara mati lampu 🤭 coba ada lagu nassar thor 🤣
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
SarSari_
Kak, aku mau kasih sedikit masukan yaa 🙏 Karena ini pakai sudut pandang orang pertama (gue), mungkin bagian “ada rasa kagum yang selama ini dia tutup rapat-rapat” bisa dibuat lebih seperti dugaan si tokoh, bukan kepastian. Soalnya di POV orang pertama kan kita cuma tahu apa yang dia lihat dan rasakan.
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.

Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻
Kaka's: menarik.. terima kasih masukannya kaks
total 1 replies
Sean Sensei
/Sweat/ : punya dendam kayaknya tuh
Hunk
Masih mening pak dari pada sianida.🤣
Hunk
kenapa ga biji kopi dari luwak nya langsung🤣
®Astam
Nah kan... betul🤭
®Astam: Okay bang😆
total 4 replies
®Astam
Bagus👍, kadang-kadang bikin penasaran dengan bab selanjutnya.
Kaka's: makasih kaks🤭
total 1 replies
®Astam
Kayaknya si genta, adakah kaka's deh🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!