Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu lagi
"Mulai hari ini, kau akan bekerja menjadi asisten profesor Liana Zhou."
Kata seorang pria paruh baya berjas abu-abu itu sambil menyerahkan map cokelat tipis ke hadapannya. Dira cukup kaget mendengar nama itu tersebut. Siapa yang tidak kenal Liana Zhou? Wanita cantik, terkenal yang berhasil mendapatkan gelar profesornya di usia yang masih terbilang sangat muda.
Dua minggu bekerja di perusahaan ini, Dira hanya menjadi karyawan biasa yang bahkan tidak di anggap sama sekali keberadaannya. Karena dia hanya lulusan kampus biasa yang tidak terkenal. Yang kuliah lebih terlambat dari yang lain, bahkan sudah cukup berumur. Usianya 28 tahun ketika ia di terima di perusahaan ini. Seumuran profesor Liana Zhou.
Dira juga sempat heran kenapa dirinya bisa di terima di sini. Padahal rata-rata yang bekerja di kantor ini adalah mereka yang lulus dari universitas bergengsi dalam negeri, bahkan hampir rata-rata luar negeri. Dira menganggapnya sebagai keberuntungan.
"Kamu yang namanya Dira Ananta?" seorang wanita pirang berwajah jutek bertanya. Dira menganggukkan kepala.
"Profesor Zhou menunggumu di ruangannya." habis berkata seperti itu, wanita itu langsung pergi. Dira pun harus mencari sendiri di mana letak ruangan sang profesor cantik. Padahal sudah dua minggu dia jadi karyawan di sini, tapi belum ada teman juga. Atau mereka memang sengaja tidak ingin berteman dengannya. Mungkin karena dia terlalu biasa?
Tok tok tok.
Dia mengetuk pintu.
"Masuk." suara dari dalam. Lembut dan halus. Dira menarik nafas dan menghembuskannya lagi.
"Siang prof, perkenalkan saya Dira, asisten baru anda."
"Oh iya, hai Dira. Kebetulan. Aku ingin kamu bantu aku di laboratorium." wanita cantik itu tampak ramah dan lemah lembut.
Sekejap Dira terdiam. Dia pikir wanita itu akan galak seperti yang lain. Ternyata jauh berbeda dari yang dia pikirkan. Sepertinya bos-nya yang ini akan membuat dia lebih betah.
Hari itu, Dira bekerja dengan sepenuh hati. Dia banyak belajar juga. Kalau dia salah, wanita itu akan mengajarinya melakukan dengan benar, tidak marah, tidak membentak dan tidak galak.
Dan setelah seharian bekerja, Dira diberitahukan nama lain wanita itu. Zora.
"Kamu boleh pulang. Pekerjaanmu sudah selesai." kata Zora. Dira melirik jam tangannya lalu menganggukkan kepala. Jelas dia suka pulang cepat, karena bocah kecilnya nungguin dia di rumah.
Arel sudah TK. Dan Dira membayar orang khusus buat jagain anaknya dari pagi hari sampai dia pulang kerja. Tabungannya lumayan untuk menyewa babysitter. Tapi Arel sangat melekat dengannya. Jadi kalau jam tujuh malam dia belum pulang, Arel pasti rewel.
"Makasih prof, aku pulang dulu."
Zora mengangguk tetap dengan senyum ramahnya yang adem sekali. Dira mampir ke supermarket, membeli susu dan snack sehat untuk buah hatinya. Tak lupa juga dia membeli stok makanan buat mereka bertiga. Dirinya, Raka dan Arel.
"Semuanya 379 ribu kak." ucap kasir. Dira segera membuka tasnya untuk mengambil dompet.
Dompetnya tidak ada. Ia terus mencari. Cukup lama sampai si kasir mulai kesal menunggu. Antrian di belakang makin panjang.
"Maaf kak, masih lama? Yang lain nungguin." kata kasir setengah sebal dari nadanya.
Wajah Dira memanas. Tangannya sedikit gemetar saat kembali mengaduk isi tasnya, berharap dompet itu tiba-tiba muncul di sela-sela kertas dan ponselnya. Nihil. Napasnya tercekat.
"Maaf, sebentar ya," ucapnya pelan, nyaris berbisik. Ia menoleh ke belakang, menangkap tatapan tidak sabar dari beberapa orang di antrean.
"Kak, kalau belum siap bayarnya, silakan minggir dulu," ujar kasir itu lebih tegas.
Dira menelan ludah. Ia mengangguk cepat.
"Iya, maaf."
Dengan wajah tertunduk, ia mendorong troli ke samping, membiarkan antrean berjalan lagi. Kepalanya berputar. Dompetnya jelas ada tadi pagi. Ia ingat betul memasukkannya ke tas sebelum berangkat kerja. Apa tertinggal di kantor? Atau … jatuh di jalan?
Dira memijat keningnya. Jam sudah hampir menunjukkan pukul enam sore. Arel pasti sudah menunggu. Dira makin gelisah sekaligus malu, orang-orang pasti natap dia sekarang. Mana hapenya pake habis baterai pula. Ketika ia mengangkat kepala, tatapannya tidak sengaja bertemu dengan mata tajam seseorang. Seseorang yang amat sangat dia kenal.
Ethan.
Deg ...
Lagi? Kebetulan macam apa ini? Dia baru sebulan resmi balik ke kota ini, tapi malah sudah dua kali bertemu dengan laki-laki itu. Pertama di kereta, sekarang di supermarket. Semuanya dalam situasi yang memalukan.
Tatapan pria itu tajam bak elang. Dira kembali menunduk pura-pura mencari dompetnya lagi. Padahal jantungnya sedang berdebar-debar luar biasa. Begitu ia melihat langkah kaki di bawah maju, ia diam-diam mencuri pandang.
Ethan tidak melihatnya lagi. Pria itu fokus mengambil barang di dekat kasir. Entah kenapa Dira penasaran dan terus menatap ke tangan Ethan yang meraih benda tersebut. Mengambil benda itu dalam jumlah yang cukup banyak.
Kondom?
Ia cepat-cepat membuang muka ketika Ethan menatap ke arahnya lagi. Dira berdeham. Ia memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan barang di troli yang sebenarnya sudah rapi. Dadanya naik turun tidak teratur. Ia berharap Ethan segera pergi tanpa menyadari keadaannya. Tapi tidak mungkin tidak sadar, mereka kan baru saja saling menatap.
"Lihat, lihat! Itu om ganteng abiss. Aktor ya?"
"Badannya bagus banget. Pria matang emang paling menggoda. Lihat yang dia pakai, semuanya mahal banget. Gue bahkan rela tidur sama dia biar gak di bayar."
Dira menatap pada kedua anak remaja yang masih mengenakan pakaian SMA dengan wajah tidak percaya. Bisikan mereka terlalu kencang hingga sampai di telinganya. Bahkan mungkin sampai di telinga Ethan. Memang Ethan yang mereka bicarakan.
Astaga, abg jaman sekarang memang luar biasa tidak tahu malunya. Begitu Ethan selesai membayar dan keluar tanpa menoleh padanya lagi, Dira langsung maju. Dompetnya sudah ketemu.
Dira mendorong troli ke kasir dengan langkah cepat, seolah ingin segera menutup bab memalukan barusan. Tangannya merogoh saku kecil di sisi dalam tas, dan jantungnya nyaris berhenti ketika jemarinya menyentuh kulit dompet itu. Ada. Dari tadi ada di situ.
Astaga.
"Maaf," ucapnya pada kasir, kali ini suaranya lebih tegas meski pipinya masih panas.
"Tadi dompetnya nyelip."
Kasir itu hanya mengangguk singkat, kembali memindai barang-barang. Bunyi beep mesin kasir terasa terlalu nyaring di telinga Dira. Ia menunduk, berusaha menenangkan napas, menyingkirkan bayangan punggung Ethan yang barusan keluar dengan langkah tenang tanpa menoleh sedikit pun.
Dia juga mengingat kondom yang pria itu beli. Lalu tersenyum kecut.
Dia berhak melakukan apapun yang dia mau Dira. Kalian hanya orang asing sekarang. Jangan berharap dia masih mencintaimu.
Gumamnya dalam hati. Begitu ia keluar, langkahnya terhenti. Ternyata Ethan masih di sana, bersandar di dinding samping supermarket sambil merokok. Dan Dira tanpa sengaja menjatuhkan barang-barang bawaannya, mengundang perhatian orang-orang. Ia menutup matanya dalam-dalam.
Dira ...
Kamu betul-betul ceroboh.
terimakasih thor udah up