Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama di kandang singa
Keesokan paginya, Syren bangun dengan perasaan campur aduk. Antara semangat mau kerja baru atau sedih karena dompetnya bakal kering setahun ke depan. Setelah mandi kilat, ia mengenakan blouse berwarna pink soft yang dipadukan dengan celana cokelat senada.
Ia pun segera menggelung rambutnya dengan rapi—kali ini dia memastikan tidak ada helai rambut yang berantakan, biar si Bos Peot nggak punya alasan buat marah-marah.
Syren kemudian menuju meja makan. Di sana hanya ada Ardi yang sedang asyik menyuap sarapannya. Papa mereka sudah berangkat sejak subuh karena ada rapat, sedangkan sang ibu sudah pergi untuk mengajar di SMA.
"Sarapan apa, Di?" tanya Syren sambil mengambil piring.
"Nasi goreng," jawab Ardi singkat tanpa menoleh.
"Lo dikasih uang saku berapa hari ini sama Mama?"
"Lima puluh ribu," jawab Ardi heran. Tumben banget kakaknya nanya soal duit.
Syren merogoh sakunya, lalu mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dan menaruhnya di meja. "Nih, gue tambahin lima puluh ribu lagi."
Mata Ardi langsung melotot. "Cie, Mbak! Tumben amat baik! Habis menang lotre lo ya?"
"Udah lah, Di! Nggak usah banyak tanya, mumpung gue lagi baik," sahut Syren malas menjelaskan kalau itu mungkin uang jajan terakhir yang bisa dia kasih sebelum masa "kering" dimulai.
"Gue berangkat dulu. Oh ya, awas aja PCX putih itu sampai lecet! Kalau sampai lecet, gue potong jajan lo sebulan!" ancam Syren sambil menyambar kunci motornya.
"Iya, iya, Mbak! Bawel amat!" balas Ardi sambil nyengir senang dapat uang tambahan.
Syren pun melangkah keluar, memanasi Scoopy hitam kesayangannya sejenak sebelum memacu motornya menuju gedung Aldrin Group. Di sepanjang jalan, dia terus merapal doa agar hari ini tidak ada lagi insiden jam tangan pecah atau video call nyasar.
Syren melangkah percaya diri melewati lobi, meski hatinya sedikit menciut saat melewati tempat "TKP" tabrakan kemarin. Ia menaruh tasnya di meja kerja yang tepat berada di sebelah Gaby. Gaby hanya bisa memberikan kode jempol "semangat mampus" dari kejauhan. Syren pun segera naik ke lantai atas menuju singgasana sang Bos Peot.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," suara bariton Julian terdengar dari dalam.
Syren pun melangkah masuk. Ruangan itu sangat dingin, sedingin wajah Julian yang saat ini tampak sangat sibuk menatap layar laptopnya tanpa menoleh sedikit pun.
"Pak Bos, hari ini tugas saya untuk Bapak apa?" tanya Syren dengan nada yang diusahakan seprofesional mungkin, meski dalam hati dia masih teringat kejadian video call dada bidang semalam.
Julian akhirnya mendongak sebentar. "Duduk di sini," perintahnya singkat sambil menunjuk kursi kosong yang tepat berada di sebelah kursinya. Jaraknya sangat dekat.
Syren menelan ludah. "Hah? Di situ Pak? Deket banget."
"Duduk saja, Syren Fauzana," balas Julian tanpa bantahan.
Syren pun duduk di sebelah Julian. Wangi parfum mahal Julian yang maskulin langsung menyerbu indra penciuman Syren. Jujur, kalau bukan karena utang 100 juta, Syren pasti sudah tidak betah berlama-lama di sini.
"Tolong bacakan data di kertas itu. Saya akan menggantinya di laptop ini," kata Julian sambil menyodorkan setumpuk berkas yang penuh dengan angka-angka rumit.
Syren mengerutkan dahi. Ya ampun, ini angka atau deretan semut? batinnya. Namun, ia tidak punya pilihan. Ia mulai mengambil kertas itu dan mendekatkannya ke arah Julian agar mereka bisa melihat data yang sama.
Syren menarik kursi itu pelan, berusaha menjaga jarak meski Julian menyuruhnya duduk di sebelahnya. Wangi parfum Julian yang elegan—mungkin campuran sandalwood dan sedikit aroma citrus mahal—mulai memenuhi indra penciuman Syren. Sebagai orang yang paham estetika, Syren harus mengakui kalau setelan kemeja Julian hari ini punya potongan slim-fit yang sempurna, jahitan bahunya sangat presisi.
"Bacakan yang teliti. Jangan sampai ada angka yang terlewat," ucap Julian dingin tanpa menoleh, jemarinya sudah siap di atas keyboard.
Syren berdehem, mencoba menghilangkan rasa canggung gara-gara insiden video call semalam. Dia mulai membacakan deretan angka yang ada di kertas.
"Data pertama, penjualan ekspor periode Januari... lima ratus... eh, lima miliar enam ratus juta?" Syren sedikit ragu melihat banyaknya angka nol di kertas itu.
"Yang fokus, Nona Syren. Jangan sampai nol-nya kurang atau lebih," potong Julian datar.
Syren mendengus pelan. Sabar, Syren. Sabar. Ingat, ini demi hutang seratus juta, batinnya. Dia kembali fokus membacakan data demi data. Namun, posisi mereka yang sangat dekat membuat Syren bisa melihat dengan jelas bulu mata Julian yang ternyata cukup lentik dan rahangnya yang tegas saat sedang serius.
"Kenapa berhenti? Datanya masih banyak," Julian menoleh, membuat tatapan mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat.
Syren tersentak, hampir saja menjatuhkan kertas di tangannya. "E-eh... ini, selanjutnya... biaya operasional gudang..."
Syren segera memalingkan wajahnya kembali ke arah kertas, berusaha menutupi pipinya yang sudah panas seperti disetrika. Jarinya menunjuk-nunjuk angka di kertas dengan kasar, meluapkan rasa kesalnya.
"Iya, Pak Bos yang paling tampan sedunia sampai bikin silau! Puas?" sindir Syren pelan, namun tetap terdengar oleh telinga Julian yang tajam.
Julian hanya bergumam kecil, "Lanjutkan bacanya."
"Data selanjutnya... Biaya perawatan gedung, dua ratus lima puluh juta delapan ratus ribu rupiah," Syren membaca dengan nada ketus.
"Ulangi. Berapa?" Julian tiba-tiba menghentikan ketikannya dan menoleh, membuat jarak wajah mereka kembali menipis.
Syren tersentak, dia refleks memundurkan kepalanya. "Du-dua ratus lima puluh juta delapan ratus ribu... Kenapa? Salah ya?"
Julian tidak menjawab, matanya justru fokus menatap bibir Syren yang bergerak-gerak gugup, lalu naik ke mata Syren yang bulat. Suasana di ruangan itu mendadak jadi sunyi dan canggung.
"Lain kali, kalau mau memuji saya, pastikan volumenya pas. Jangan setengah-setengah," ucap Julian dengan nada rendah yang bikin merinding, lalu dia kembali menatap layar laptopnya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ih, bener-bener ya ini orang! Nyesel gue muji!" batin Syren sambil menghentakkan kakinya di bawah meja.
Tepat saat itu, pintu ruangan CEO terbuka tanpa ketukan. Gaby muncul dengan wajah panik sambil membawa sebuah map biru.
"Pak Julian, maaf! Ini ada berkas darurat yang harus... eh..." Gaby menghentikan ucapannya saat melihat Syren duduk mepet banget di sebelah Julian.
Mata Gaby beralih dari Julian ke Syren, lalu kembali ke Julian lagi. Bibirnya membentuk huruf 'O' tanpa suara.
"Ren? Lo ngapain di situ? Kok mukanya merah gitu?" tanya Gaby dengan nada curiga yang kental.
Syren langsung gelagapan, "Ini... ini lagi bantuin Pak Bos, Geb! Bantuin baca data!" sungut Syren sambil buang muka.
Julian menatap Gaby dengan dingin. "Taruh saja berkasnya di meja dan keluarlah. Jangan mengganggu waktu saya dengan temanmu ini," perintah Julian tegas. Gaby pun buru-buru keluar sambil senyum-senyum meledek Syren.
"Pak bos mau apa , kok bilang nya nggak boleh nggangu saya dan bapak ",
Tanya syren curiga sambil melotot ke arah Julian .
"Kamu jangan mikir yang aneh aneh nona syren , kamu pikir kerjaan kita nggak banyak ",
Sahut Julian lalu beralih lagi ke laptop nya
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui