"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Siang itu, kantin fakultas teknik yang biasanya gersang oleh pemandangan mesin dan kabel, mendadak terasa lebih berwarna namun tegang. Di salah satu meja panjang, empat sekawan yang sudah menjadi legenda asrama putra duduk melingkar. Ada Aydan yang tetap tenang dengan tatapan tajamnya, Dion sang biang kerok, Brian si kutu buku yang jenius, dan Samuel yang paling santai.
Keempatnya sedang asyik membahas rencana modifikasi mesin motor untuk kompetisi nasional, namun obrolan itu terhenti saat sesosok wanita dengan langkah percaya diri mendekat.
Cristin, mahasiswi dari jurusan Desain Komunikasi Visual yang dikenal karena penampilannya yang modis dan sedikit berani, berdiri tepat di hadapan Aydan. Ia mengenakan atasan tanpa lengan yang mengikuti lekuk tubuh, sangat kontras dengan lingkungan teknik yang kaku.
"Aydan, kan?" Cristin menyandarkan tangannya di meja, menatap Aydan dengan tatapan yang sulit ditolak pria mana pun. "Aku lihat kamu di aula kemarin. Caramu bicara, cara berpikirmu... jujur, aku tertarik. Bisa minta nomor ponselmu? Aku ada beberapa ide desain untuk bodi motormu."
Aydan tidak mendongak sepenuhnya. Ia hanya menggeser gelas jus jeruknya sedikit. "Maaf, Cristin. Aku lebih suka berkomunikasi lewat email untuk urusan kuliah atau proyek. Kamu bisa tanya ke ketua departemen."
"Ayolah, jangan sekaku itu," Cristin memaksa, suaranya sengaja dibuat sedikit manja. "Hanya nomor telepon. Aku tidak akan menggigitmu."
Dion, Brian, dan Samuel saling lirik. Mereka tahu Aydan adalah benteng yang mustahil ditembus, tapi Cristin tampak tidak punya niat untuk mundur.
Di saat yang bersamaan, Dayana bersama Sarah dan dua teman Psikologinya masuk ke kantin teknik. Mereka sengaja datang ke sana karena kafe di fakultas mereka sedang tutup. Langkah Dayana mendadak terhenti. Matanya menangkap pemandangan yang membuat dadanya terasa sesak.
Ia melihat Cristin, wanita yang penampilannya sangat mirip dengan dirinya dulu sebelum mengenal Bunda Ameera. Dayana melihat bagaimana Cristin mencoba mendekati Aydan, bagaimana wanita itu begitu berani meminta nomor telepon pria yang ia cintai dalam diam selama berbulan-bulan ini.
Dayana menegang. Ada rasa tidak nyaman yang merayap, namun juga ada rasa takut. Takut jika Aydan, singa dinginnya, akhirnya goyah karena godaan yang begitu nyata di depannya.
"Day, itu bukannya Aydan?" bisik Sarah. "Wah, cewek itu berani banget ya."
Entah keberanian dari mana, atau mungkin sisa-sisa jiwa Dayana yang lama yang bangkit demi melindungi miliknya, Dayana tidak berbalik pergi. Ia justru melangkah maju. Dengan jilbab abu-abu yang terjuntai sempurna dan langkah yang tenang namun pasti, ia membelah kerumunan mahasiswa.
"Ay, Aku Mau Jus Jerukmu"
Tanpa peringatan, Dayana menarik kursi tepat di samping Aydan. Ia memberikan jarak sekitar dua puluh sentimeter, jarak yang sopan, namun posisinya sangat menunjukkan kepemilikan.
Seketika, meja itu senyap. Brian berhenti mengunyah, Samuel melongo, dan Cristin menaikkan alisnya dengan wajah tidak suka.
"Siapa kamu?" tanya Cristin ketus, merasa teritorinya diganggu.
Dayana tidak menjawab Cristin. Ia justru menoleh ke arah Aydan yang saat itu juga tampak sangat terkejut. Mata mereka bertemu. Aydan bisa melihat kilat protektif di mata Dayana, sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Ay..." suara Dayana keluar begitu lembut, namun cukup jelas untuk didengar semua orang di meja itu. "Ay, aku mau jus jerukmu."
Duar!
Dion, yang baru saja menyeruput kopi hitam panasnya, tidak sanggup menahan ledakan keterkejutan di tenggorokannya.
Pruuuuuttt!
Kopi itu menyembur dengan sukses tepat ke wajah Samuel yang sedang melongo.
"Uhuk! Uhuk! Aduh, mati gue!" Dion terbatuk-batuk hebat sambil menepuk dadanya sendiri, sementara Samuel hanya bisa mematung dengan cairan kopi hitam mengalir dari dahinya.
"Dion! Sialan lo!" umpat Samuel sambil menyambar tisu dengan kasar, namun matanya tetap tidak lepas dari Dayana.
Aydan, yang biasanya mustahil kehilangan kendali, kali ini benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Panggilan Ay itu... panggilan rahasia mereka di telepon, kini diucapkan secara terang-terangan di depan teman-temannya. Ia melihat Dayana menunjuk ke arah gelas jus jeruknya yang masih penuh.
Tanpa banyak bicara, seolah terhipnotis oleh keberanian Dayana, Aydan menggeser gelas jus jeruknya ke arah Dayana. "Minum saja," jawab Aydan pendek, suaranya sedikit parau.
Cristin mendengus kasar. "Jadi, ini alasan kamu menolakku? Dia?"
Aydan kini mendongak sepenuhnya, menatap Cristin dengan tatapan yang jauh lebih dingin daripada biasanya. "Aku tidak menolakmu karena siapa pun, Cristin. Aku menolakmu karena aku memang tidak memberikan nomor pribadiku pada sembarang orang. Dan Dayana... dia bukan sembarang orang."
Dayana meminum sedikit jus jeruk itu, matanya tetap menatap lurus ke depan, memberikan kesan elegan yang mematikan. "Terima kasih, Ay. Segar sekali," ucap Dayana tenang.
Cristin yang merasa dipermalukan akhirnya menyambar tasnya dan pergi dengan langkah cepat. Sementara itu, Sarah dan teman-teman Dayana yang berdiri tak jauh dari sana hanya bisa saling pegang tangan, menahan teriakan histeris melihat drama nyata di depan mata mereka.
Setelah Cristin pergi, suasana di meja itu justru semakin canggung namun penuh tawa tertahan. Samuel yang sudah bersih dari kopi menatap Aydan dan Dayana bergantian.
"Jadi... ini?" Samuel menunjuk Dayana. "Ini Ay yang lo maksud semalam di asrama, Dan? Yang katanya belum jadi istri?"
Dayana yang mendengar kata istri seketika tersedak jus jeruknya sendiri. Wajahnya yang tadinya putih bersih kini memerah hingga ke telinga.
Dion tertawa meledak sambil memukul-mukul meja. "Gila! Lo beneran gila, Dan! Gue nggak nyangka selera lo tinggi banget. Anak Psikologi ternyata! Pantesan lo nggak mau kasih nomor ke Cristin, ternyata lo udah punya berlian yang dijaga di asrama seberang."
Aydan berdehem, mencoba mengembalikan wibawanya. "Kalian bisa diam tidak? Dayana hanya ingin jus jeruk."
"Halah! Jus jeruk apaan yang harus duduk mepet gitu kalau bukan jus jeruk asmara?" goda Brian yang biasanya pendiam pun ikut bicara.
Dayana menunduk, ia baru menyadari betapa nekat tindakannya tadi. Namun, saat ia melirik ke arah Aydan, ia melihat pria itu sedang menatapnya dengan binar mata yang sangat hangat, binar yang mengatakan bahwa Aydan tidak marah, melainkan sangat bersyukur atas keberaniannya.
"Maaf ya, teman-teman Aydan," ucap Dayana sopan. "Aku... aku tadi cuma haus."
"Haus akan perhatian Aydan maksudnya?" Dion menyahut cepat yang langsung dibalas pelototan tajam dari Aydan.
Siang itu, kantin Teknik menjadi saksi bahwa Silent King mereka benar-benar sudah bertekuk lutut. Dan bagi Dayana, jus jeruk milik Aydan adalah minuman termanis yang pernah ia rasakan, karena di balik rasa asamnya, ada pernyataan tegas bahwa Aydan adalah milik yang ia jaga, dan ia adalah wanita yang Aydan muliakan.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰