Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GUBUK DI TEPIAN TAKDIR.
Tiga hari telah berlalu sejak badai besar itu meluluhlantakkan sebagian wilayah Sumatera. Di Jakarta, waktu seolah berjalan melambat bagi mereka yang menunggu kabar, namun bagi Ferdiansyah yang berada di lokasi, setiap detiknya adalah pertaruhan nyawa. Ia tidak pernah sedikit pun menunjukkan raut putus asa. Dengan kekuasaan dan harta yang ia miliki, Ferdiansyah mengerahkan bantuan tambahan berupa tim penyelamat swasta yang lebih profesional dan peralatan deteksi yang lebih canggih.
"Jangan berhenti hanya karena medan yang sulit! Perluas jangkauan pencarian hingga radius sepuluh kilometer mengikuti arah aliran sungai!" perintah Ferdiansyah dengan suara serak namun tegas saat memimpin rapat kecil di posko utama.
Seorang petugas tim SAR mencoba memberikan penjelasan logis. "Tapi Pak, aliran sungai di titik ini sangat deras dan bermuara ke hutan belantara yang jarang terjamah. Kemungkinan untuk selamat setelah tiga hari sangat kecil."
"Aku tidak butuh statistik kemungkinan!" potong Ferdiansyah tajam. "Aku sangat yakin menantuku masih hidup. Dia wanita yang kuat, dan dia masih punya janji yang harus diselesaikan di dunia ini. Teruslah mencari!"
Ketegasan Ferdiansyah bukan tanpa alasan. Ia merasa berhutang nyawa pada Arumi karena selama ini ia pun turut andil dalam mendiamkan penderitaan gadis itu di bawah atap rumahnya sendiri. Ia ingin Arumi ditemukan sebelum Ariya benar-benar bisa berjalan kembali.
🍃
Jauh dari hiruk pikuk tim penyelamat dan raungan mesin helikopter, terdapat sebuah sisi hutan yang sangat tenang. Di sana, aliran sungai yang tadinya liar telah berubah menjadi arus yang lebih bersahabat, berkelok di antara pepohonan rimbun yang belum tersentuh eksploitasi manusia. Sebuah gubuk kecil berdinding bambu dan beratap rumbia berdiri kokoh di pinggiran sungai yang landai.
Di tepian sungai itu, sepasang suami istri yang sudah lanjut usia tampak sedang menikmati pagi. Sang kakek, dengan sarung yang disampirkan di bahu, memegang tanggok ikan dari anyaman bambu. Ia melangkah perlahan ke bagian sungai yang dangkal, matanya yang tua masih cukup jeli melihat pergerakan di balik air bening.
"Cepat, Kek! Di sebelah sana, di balik batu itu ada gerakan ikan besar!" seru sang nenek yang duduk di atas sebuah batu besar sambil tertawa kecil.
Kakek menoleh dan tersenyum simpul. "Sabar, Nek. Ikan kalau dikejar malah lari. Kita harus tenang, seperti memancing hati nenek dulu."
"Ah, kakek ini masih saja sempat merayu," sahut nenek sambil tersipu, membuat suasana di tepi sungai itu terasa begitu hangat dan damai.
Namun, keceriaan itu mendadak sirna saat pandangan nenek beralih ke arah tumpukan kayu yang hanyut dan tersangkut di akar pohon besar dekat muara kecil. Ia memicingkan mata, melihat sesuatu yang berwarna putih cerah kontras dengan warna kayu yang gelap dan air yang keruh.
"Kek! Lihat itu! Di sana ada apa ya? Putih-putih, seperti... Ya Tuhan, Kek! Sepertinya itu mayat!" teriak nenek dengan suara gemetar sambil menunjuk ke arah hilir.
Kakek segera mengangkat tanggoknya dan berlari kecil menghampiri titik yang ditunjuk istrinya. Ia menyeret tumpukan dahan kayu itu hingga ke pinggiran yang kering. Ternyata, itu adalah sosok seorang wanita. Tubuhnya sangat pucat, jas putih yang ia kenakan sudah robek di beberapa bagian dan penuh dengan lumpur yang mengering.
Kakek segera berlutut dan meletakkan dua jarinya di leher wanita itu. Ia memejamkan mata, mencari tanda-tanda kehidupan yang mungkin tersisa. Setelah beberapa saat, kakek mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa syukur.
"Dia masih hidup, Nek! Denyut nadinya sangat lemah, tapi masih ada detak di sana," ujar kakek dengan suara mantap.
"Ayo kita bawa ke gubuk segera, Kek! Kasihan, dia pasti kedinginan tertimbun air selama ini," sahut nenek dengan cemas.
Dengan sisa-sisa tenaga tuanya, kakek menggendong tubuh wanita itu dibantu oleh istrinya. Mereka membawanya masuk ke dalam gubuk yang sederhana namun sangat bersih. Nenek dengan cekatan mengambil kain-kain kering miliknya. Ia segera membuka pakaian wanita yang sudah kotor itu dan menggantinya dengan kain sarung serta baju hangat yang ia miliki.
"Kasihan sekali anak ini. Wajahnya cantik, tapi penuh dengan luka goresan kayu," gumam nenek sambil menyeka dahi wanita itu dengan air hangat.
Sementara itu, kakek segera bergegas keluar menuju hutan di belakang gubuk mereka. Sebagai orang yang sudah puluhan tahun tinggal di belantara, ia tahu betul jenis akar dan daun yang bisa menurunkan demam serta mengobati luka dalam. Ia menumbuk beberapa ramuan dan merebusnya di atas tungku kayu bakar.
"Minumkan ini sedikit demi sedikit jika dia sudah mulai sadar nanti, Nek," pesan kakek sambil menyerahkan segelas air rebusan yang beraroma rempah kuat.
Wanita itu, yang tak lain adalah Arumi, masih belum membuka matanya. Napasnya pendek-pendek, dan tubuhnya sesekali menggigil meski sudah diselimuti beberapa lapis kain. Ia berada di antara ambang mimpi dan kenyataan, tidak menyadari bahwa ia baru saja melewati maut yang sangat dekat.
"Siapa sebenarnya anak ini ya, Kek? Pakainnya seperti orang terpelajar, tapi kenapa bisa sampai terombang-ambing di sungai ini?" tanya nenek dengan penuh rasa ingin tahu.
Kakek menatap ke arah sungai yang tenang dari balik jendela gubuknya. "Mungkin dia salah satu korban bencana besar di hulu sana. Biarlah dia istirahat dulu. Jika Tuhan sudah menghendaki dia selamat sampai ke gubuk kita, artinya dia masih punya urusan yang belum selesai."
Di gubuk sunyi itulah, Arumi dirawat dengan penuh kasih sayang oleh dua orang asing yang tidak mengetahui siapa dirinya. Tidak ada alat medis canggih, tidak ada monitor jantung, hanya ada ramuan tradisional dan doa tulus dari sepasang suami istri tua.
Sementara itu, di Jakarta, Ariya sedang menjalani terapi pertamanya pasca operasi. Ia dipandu oleh dua orang perawat untuk belajar mengerakkan jari-jari kakinya. Namun, fokus Ariya tidak ada pada terapinya. Matanya terus melirik ke arah ponsel yang ia letakkan di dekatnya, berharap ada panggilan masuk dari ayahnya yang membawa kabar baik.
"Fokus, Pak Ariya. Gerakan jari kaki Bapak pelan-pelan," instruksi perawat itu lembut.
Ariya mendengus frustrasi. "Bagaimana aku bisa fokus jika istriku belum juga ditemukan? Katakan padaku, apa yang dikatakan Papa melalui telepon tadi?"
Heny yang menemani terapi itu hanya bisa mengusap punggung putranya. "Papa hanya bilang pencarian terus dilanjutkan, Arya. Mereka sudah menambah personil. Kamu harus sembuh dulu agar bisa menyusul Arumi nanti."
Ariya mengepalkan tangannya. "Aku harus bisa berjalan. Aku tidak mau Arumi pulang dan melihatku masih tidak berdaya seperti ini. Aku ingin dia melihat suaminya yang baru, yang siap melindunginya."
Ariya tidak tahu bahwa ribuan kilometer dari sana, wanita yang ia rindukan itu sedang berjuang untuk membuka matanya kembali di sebuah gubuk kecil. Arumi sedang berjuang melawan dingin yang menusuk tulang, sementara Ariya sedang berjuang melawan ego dan kelemahannya sendiri.
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra