Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.
Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dedek bayi
Kedatangan Arlo dan Dean mengundang banyak perhatian yang ada di sana dan membuat semua orang mengaggumi wajah tampan Arlo dan juga Dean. Itu malah membuat mood Valen seketika memburuk, belum lagi Ale yang tahu jika ada gadis yang juga terobsesi dengan Arlo kekasihnya.
"Ngapain kalian berdua datang kemari?" tanya Valen langsung membuyarkan suasana romantis yang ada di sana.
Dean menaikkan sebelah alisnya mendengaalen r pertanyaan Valen dan dia melihat wajah Valen yang cemberut ke arahnya. Dean belum sadar dengan apa yang di pikirkan Valen saat ini. Karena Dean dan Arlo datang kemarin karena dia mendapatkan info jika Valen dan Ale sedang bertengkar dengan seseorang di sebuah cafe, jadi untuk itulah mereka segera menyusul kekasih mereka. Tapi apa ini, sambutan yang di dapat tak sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran mereka terutama Dean.
"Sayang, kami kesini karena dengar jika kalian ada masalah jadi kami berdua datang kemari," sahut Dean tetap berusaha lembut.
"Tapi kami bisa mengatasi semuanya berdua, jadi nggak perlu kalian berdua datang kemari. Mana di lihatin banyak orang, kalian mau tebar pesona di sini?" gerutu Valen pada Dean.
Dean mengerutkan keningnya bingung mencerna apa yang di katakan oleh Valen kepadanya dan kemudian otak pintarnya langsung paham dengan apa yang di katakan sang tunangan. Dean mengulum senyumnya gemas dengan tingkah Valen saat ini, ingin sekali Dean mengurung Valen saat ini juga di dalam apartemen mereka agar tak ada yang mengganggu mereka berdua.
Sementara Arlo meringis kesakitan saat Ale mencubit keras pinggangnya dengan wajah yang menyeramkan menurut Arlo.
"Aw, aduh saikit sayang, kenapa malah di cubit," rintih Arlo pada Ale.
Ale segera melepaskan apa yang dia lakukan pada Arlo saat ini dan mendengus kesal. Dia juga memalingkan wajahnya agar Arlo tak melihat wajahnya saat ini. Tapi sialnya pandangannya malah bertubrukan dengan gadis yang katanya ingin di jodohkan dengan Arlo. Ralat, gadis itu yang memaksa ingin berjodoh dengan Arlo bukan Arlo yang menginginkan.
Pandangan mereka bertubrukan tapi bukan Ale namanya jika dia akan terintimidasi hanya dengan pandangan anak bau kencur itu.
Dean yang menyadari jika kedua adik kakak itu sedang dalam mood yang tak baik dia segera memberi kode pada Arlo untuk segera membawa pergi para tunangan mereka atau malah mereka yang akan menjadi sasaran kemarahan dua kakak adik itu.
"Arlo, lebih baik kira pergi dari sini dan biarkan yang di sini di urus sama anggota gue!" ucap Dean pada Arlo.
Dean mengedipkan matanya ke arah Arlo seraya memberi kode pada Arlo.
Arlo awalnya tak paham dengan kode yang di berikan oleh Dean tapi kemudian Dean melirik ke arah Valen dan Ale yang sudah semakin cemberut.
"Ah, iya, tadi kita juga janji pada om Altezza dan tante Zurra untuk membawa mereka segera pulang," sahut Arlo cepat.
Arlo tak ingin membuat masalah saat ini jadi dia segera menyetujui apa yang Dean katakan. Arlo segera menarik tangan Ale dan membawanya pergi dari sana, begitu juga dengan Dean yang langsung menyeret Valen dengan lembut.
"Eh...."
Valen dan Ale yang sedang cemberut kaget saat mereka di bawa pergi dari cafe itu dengan paksa tanpa melihat keadaan yang di sana. Mereka berempat bahkan menjadi pusat perhatian semua orang terutama gadis tadi yang menyukai Arlo.
"Mereka mau kemana?"Batin gadis itu.
Mata gadis itu terus mengikuti kemana arah pergi Dean dan Arlo. Dia menahan diri untuk tak mengejar Arlo agar tak menimbulkan banyak pertanyaan pada semua orang.
Arlo membawa Ale menggunakan mobilnya sedangkan Dean masuk ke dalam mobil Valen.
Mereka berdua pergi dengan dua tujuan yang berbeda dan membuat Ale serta Valen mengerutkan keningnya kemana Dean dan Arlo akan membawa mereka. Bukannya mereka sedang di tunggu oleh kedua orang tua mereka saat ini. Kenapa ini malah berbeda arah.
Di dalam mobil Valen...
"Kita mau kemana? Kok bukan ke arah mansion papi?" tanya Valen penasaran.
Dean meraih tangan Valen dan menggenggamnya erat, Dean juga mencium lembut tangan Valen yang membuat Valen semakin bingung.
"Kamu kalau cemburu lucu banget sih sayang, aku kan jadi gemas pengen ngarungin kamu. Pengen aku kurung di kamar aja," ucap Dean gemas.
"Hah?"
Valen melongo mendengar perkataan Dean kepadanya dan tangan Valen di tarik dengan keras oleh Valen yang kembali kesal.
"Loh kenapa di lepas? Kamu nggak suka tangannya aku pegang?" tanya Dean dengan wajah yang sudah di imut imutkan untuk menggoda Valen.
Valen melengos ke arah lain, dia lebih memilih melihat jalanan dari balik kaca mobil miliknya. Dia juga berpikir sejak kapan dia menjadi posesif dengan Dean lebih dari sebelumnya. Dia menghela napasnya panjang, dan itu membuat Dean tersenyum tipis. Tangan Dean kembali terulur ke arah Valen yang kali ini bukan untuk menggenggam tangan Valen karena dia tahu jika kekasihnya itu sedang kesal kepadanya.
"Maaf udah bikin kamu cemburu sayang, tadi aku sama Arlo khawatir kan kamu kenapa napa, ya meskipun aku tahu kalau kalian jago bela diri tapi kamu kan masih sakit," ucap Dean lembut.
Valen masih tak bergeming di tempatnya, dia masih menatap ke luar jendela dan membiarkan Dean terus mengusap rambutnya yang sudah mulai memanjang.
"Sayang jangan marah lagi, kamu tahu kan aku cuma milik kamu? Dan aku juga nggak peduli dengan orang lain. Tapi aku juga nggak bisa mencegah dan melarang semua orang buat suka sama aku 'kan? Itu hak mereka sayang," kata Dean lagi.
Dean tak akan bisa marah dengan Valen bagaimanapun Valen.
Jika dia masih bisa membicarakannya dengan baik dengan Valen dia akan melakukannya, jika tidak tentu saja Dean punya caranya sendiri untuk membujuk Valen agar tak marah dengan nya lagi.
Valen menghelas napasnya kembali dan meraih tangan Dean yang ada di kepalanya. Dia mengusap telapak tangan Dean yang lebar dan hangat untuknya.
Dia seharusnya tahu itu jika cinta Dean hanya untuk nya dan bukan buat orang lain.
"Aku nggak tahu, padahal aku tahu banget dari dulu dan sampai nanti kakak tetap akan jadi milikku!" ucap Valen lirih.
Dean meraih kepala Valen untuk di bawa bersandar di pundaknya dan Valen hanya menurut karena hal itu adalah hal ternyaman yang selalu dia dapatkan dari Dean.
Cup....
Dean mencium puncak kepala Valen dengan lembut dan Valen tentu saja menikmatinya.
"Setelah ini kamu harus istirahat, aku nggak mau kenapa napa. Sudah cukup tadi kamu berkelahi dan menghajar orang. Ingat kamu masih dalam masa pemulihan sayang," kata Dean mengingatkan Valen.
Tapi Dean tak mendengar jawaban dari Valen, dia malah mendengar dengkuran halus dari bibir mungil Valen yang membuatnya kembali tersenyum.
"Gadis nakal, di ajak ngobrol malah di tinggal tidur," ucap Dean pelan.
Dean terus melajukan kendaraannya agar cepat sampai di apartemennya dan dia bisa meletakkan Valen di tempat yang nyaman.
Sementara itu, Arlo sudah membawa Ale ke pantai tempat mereka sering menghabiskan waktu berdua.
"Ngapain bawa aku kemari? Bukannya mami pengen ketemu ya?" tanya Ale bingung.
"Bukan mami dan papi yang ingin ketemu, tapi aku yang ingin bawa kamu ke sini untuk bikin dedek bayi!"
"Apaaa???"
to be continued...