Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Pemasangan Tali kekang
"Mau ke mana lagi?"
Suara berat itu menghentikan langkah Elena. Kairo duduk di sofa ruang tengah, koran bisnis di tangan, menatapnya dengan sorot mata tajam dan menyelidik.
Elena menghela napas panjang. "Ke apartemen, Kairo," jawabnya malas. "Aku mau pasang gorden."
"Kemarin ukur lantai, sekarang pasang gorden. Besok apa? Pasang genteng?" Kairo melipat korannya perlahan, gerakannya mengintimidasi.
"Apartemen tidak punya genteng, Tuan Jenius," Elena memutar bola matanya. "Lagipula, itu propertiku. Kau sudah tanda tangan kontrak untuk tidak ikut campur."
Kairo mendengus, bangkit dan mendekati Elena seperti predator mengitari mangsa. "Kau terlalu sering keluar rumah akhir-akhir ini. Dulu kau betah di kamar, sekarang seperti kucing liar yang ingin kabur."
"Karena dulu rumah ini penjara. Sekarang aku punya tempat bernapas," balas Elena tenang, menolak mundur dari tatapan suaminya.
Kairo menyipitkan mata. Istrinya berubah drastis—terlalu mandiri, terlalu licin. Dan Kairo benci hal yang tak bisa dikendalikannya. "Pakai mobil yang mana?"
"Mini Cooper. Alphard terlalu besar, dan aku tidak butuh sopir mata-mata."
"Remnya bermasalah. Pakai mobil lain," desak Kairo.
"Tidak mau. Itu mobil kesayanganku. Minggir, aku mau ambil kunci," Elena melengos pergi ke dapur.
Begitu punggung Elena menghilang, wajah Kairo berubah dingin. Ia berbalik cepat menuju garasi. "Danu!"
Kepala keamanan rumah itu berlari menghampiri. Kairo menunjuk Mini Cooper merah marun milik Elena. "Sekarang."
Danu tampak ragu. "Tapi Pak, Nyonya mau berangkat..."
"Aku tidak bayar kamu untuk banyak tanya," desis Kairo. Ia menyerahkan sebuah benda kecil hitam pekat seukuran koin—pelacak GPS standar militer grade A. "Pasang di sasis bawah. Dua menit."
Pak Danu, tanpa pilihan lain, merayap ke kolong mobil dengan gesit. Kairo mengawasi, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa seperti orang gila yang posesif, tapi ia harus tahu. Firasatnya mengatakan istrinya menyembunyikan sesuatu yang besar.
"Sudah, Pak!" bisik Danu sambil merangkak keluar.
Kairo segera mengecek ponselnya. Titik merah berkedip terang di aplikasi pelacaknya. TARGET: ASSET 01 - ACTIVE. "Sempurna," gumamnya puas. Tali kekang digital telah terpasang.
Saat Elena muncul, Kairo sudah bersandar santai di kap mobil, beralasan sedang mengecek ban. Elena menatapnya curiga, namun memilih tidak memperpanjang debat.
"Hati-hati di jalan, Sayang," ucap Kairo lembut namun bermakna ganda saat Elena masuk mobil. "Jakarta kota berbahaya. Jangan sampai kau... tersesat."
"Aku punya Google Maps," jawab Elena ketus, lalu tancap gas meninggalkan rumah.
Kairo menatap layar ponselnya, melihat titik merah itu bergerak menjauh. "Lari saja, Sora. Aku akan selalu tahu di mana lubang tikusmu."
Di dalam Mini Cooper yang membelah kemacetan Jakarta Selatan, Elena menyetir santai namun waspada. Sebagai mantan agen intelijen, paranoianya adalah insting bertahan hidup. Sikap aneh Kairo tadi—pura-pura mengecek ban—langsung memicu alarm bahayanya.
"Oke, mari kita lihat apa yang kau lakukan pada mobilku," gumam Elena.
Tanpa mengurangi kecepatan, Elena merogoh tasnya dan mengeluarkan RF Detector rakitan sendiri. Ia menyalakan alat itu dan mulai memindai interior mobil.
Dashboard: bersih. Pintu: bersih.
Elena mengarahkan alat itu ke lantai mobil, tepat di bawah kursi pengemudi.
Bip.
Mata Elena melebar. Ia mendekatkan alat itu.
Bip-bip-bip-bip! Lampu indikator merah berkedip heboh.
"Bingo," seru Elena. Ia melirik frekuensi di layar detektor. 1.2 GHz - Encrypted. "Enkripsi militer? Modal juga kau, Suamiku."
Kairo ingin mengawasinya seperti anjing peliharaan. Kebanyakan wanita akan panik atau menangis. Namun, Elena justru tersenyum lebar. Adrenalinnya terpompa. Kairo baru saja mengajaknya bermain, dan Elena suka permainan.
"Kau mau main petak umpet, Sayang? Oke. Tapi akulah yang menentukan aturannya," bisik Elena pada pantulan matanya di spion.
Elena tidak membuang pelacak itu—terlalu amatir dan akan memicu kecurigaan. Ia punya ide yang jauh lebih nakal.
Di persimpangan lampu merah Mampang, matanya menangkap sebuah truk besar berwarna oranye kusam. Truk Sampah Dinas Kebersihan DKI Jakarta yang penuh muatan, baunya menyengat bahkan dari jarak jauh. Tujuannya jelas: TPA Bantargebang, Bekasi.
Seringai licik Elena melebar. "Kairo, kau pasti penasaran kenapa istrimu hobi sekali pergi ke tempat yang... eksotis."
Lampu hijau menyala. Elena tidak berbelok ke Kuningan. Ia membuntuti truk sampah itu. Nanti, di tempat sepi, ia akan memindahkan "kalung anjing" pemberian Kairo itu ke bak besi truk sampah tersebut.
Biarkan Kairo kebingungan melihat titik merah istrinya bergerak menuju gunungan sampah terbesar di Asia Tenggara.
"Selamat menikmati tur keliling kota, Suamiku," ucap Elena riang sambil menyalakan lampu sein. "Semoga kau suka baunya."
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪
suka banget karakter utama ceweknya kuat, pinter,dominan,
sampe bab ini, kairo belum sedominan gavin di cerita sebelah ya Thor, kesannya msh lbh dominan sora/elena
ditunggu next nya, kairo-soraelena sm kuat
semangat Thor