Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.
...
Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.
"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.
Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."
...
Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.
"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pening Tujuh Keliling
"Eh, nggak kok, Mas... Mas Evander. Cuma... aduh, aku tadi kepikiran sosis tadi pagi saja. Ternyata ada sosis yang pengen naik kelas jadi steak wagyu secara instan ya? Padahal teksturnya tetap saja sosis."
Wajah Desta seketika berubah jadi merah padam. Ia tahu persis sindiran itu ditujukan untuknya.
Cindy melotot ke arah Yumna. "Maksud kamu apa? Kamu menghina Desta?!"
Yumna mengibaskan tangannya dengan gaya elegan yang dipelajari dari Clarissa. "Lho, kok tersinggung? Saya kan cuma bahas makanan. Tapi kalau dipikir-pikir, permintaan kamu itu lucu banget, Cindy. Kayak lagi main gim simulasi ya? Tinggal klik 'Cheat Code', langsung naik level. Di Moreno Group itu ada yang namanya KPI, ada prestasi, ada integritas. Apa Mas Desta punya itu semua? Selain prestasi 'tikung-menikung' tentunya?"
"Kak! Lihat istrimu ini!" teriak Cindy mulai histeris. "Dia keterlaluan!"
Evander berdiri tegak, ia merapikan lengan kemejanya yang sedikit kusut. "Yumna benar, Cindy. Kamu meminta hal yang tidak masuk akal. Menaikkan jabatan seseorang tanpa alasan prestasi hanya akan merusak sistem perusahaan yang selama ini saya bangun."
Desta memberanikan diri bicara. "Tapi Pak... eh, Mas Evander... saya sudah bekerja keras. Dan saya mencintai Cindy. Saya hanya ingin layak bersanding dengannya."
Evander menatap Desta dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menghina yang sangat halus.
"Jika kamu ingin layak, bekerjalah lebih keras. Bukan meminta istrimu untuk memohon pada kakaknya."
Evander kemudian menoleh ke arah Yumna. "Dan soal Kakek... Yumna, menurutmu bagaimana? Apa Kakek akan senang mendengar cucunya bertunangan dengan pria yang... yah, kamu lebih tahu kualitasnya daripada saya."
Yumna turun dari ranjang, ia berjalan mendekati Evander dan dengan berani merangkul lengan suaminya. "Kalau menurut pengalamanku yang dulu hampir nikah sama dia, Kakek pasti bakal pening tujuh keliling, Mas. Kakek kan suka pria yang tegas dan jujur, bukan pria yang hobi cari celah lewat jalur belakang."
Yumna menatap Cindy dengan senyum kemenangan. "Saran saya sih, Cindy... mending kamu simpan dulu niat tunangan itu. Takutnya, pas kamu bawa dia ke depan Kakek, Kakek malah tanya, 'Ini calon suamimu atau kurir katering yang salah masuk?'"
"YUMNA!!!" jerit Cindy.
"Vera," potong Evander dingin. "Tamu kita sepertinya sudah mulai kelelahan. Tolong antarkan mereka ke pintu keluar."
"Baik, Tuan Evander," suara AI Vera menggema. Pintu kamar terbuka otomatis secara dramatis.
Cindy dan Desta tidak punya pilihan lain. Dengan wajah yang menanggung malu luar biasa, mereka berbalik dan keluar dari kamar itu. Cindy menghentakkan kakinya dengan keras, sementara Desta berjalan lesu di belakangnya.
Begitu pintu tertutup, Yumna langsung melepaskan tawa yang sejak tadi ia tahan. "Hahahahaha! Mas! Kamu lihat muka Desta nggak tadi? Kayak sosis yang kelamaan direbus! Pucat banget!"
Evander menatap Yumna yang tertawa sampai memegang perutnya. Ia kembali memijit pelipisnya. "Kamu benar-benar tidak bisa berhenti menjadi konyol, ya?"
"Habisnya lucu banget, Mas! Masa minta naik jabatan kayak minta uang jajan. Lagian, Mas hebat banget tadi pas bilang 'merusak sistem'. Aku bangga deh punya suami kulkas tapi pinter bela istri!"
Evander mendekat ke arah Yumna, menatapnya dengan intensitas yang mendadak serius. "Jangan terlalu senang. Kamu baru saja membuat musuh baru yang lebih nekat. Cindy tidak akan tinggal diam setelah ini."
Yumna berhenti tertawa, ia menatap mata Evander yang dalam. "Tenang saja, Mas. Selama aku di tim Mas, aku nggak takut. Lagian, aku punya senjata rahasia."
"Apa?"
"Kalau mereka macam-macam, aku bakal suruh mereka dengerin alarm teloletku non-stop!"
Evander hanya bisa menarik napas panjang.
Sepertinya saya harus mulai membiasakan diri dengan kegilaan ini, pikirnya.
Suasana di lounge eksklusif hotel bintang lima itu sangat tenang, hanya diiringi denting piano yang lembut dan aroma truffle yang mahal. Kakek William sedang sibuk mendiskusikan masalah ekspor-impor dengan salah satu kolega bisnisnya di ujung meja, memberikan ruang bagi Yumna dan Evander untuk menikmati hidangan pembuka mereka.
Yumna menatap deretan menu di hadapannya. Ada Lobster Thermidor, Wagyu Carpaccio, hingga Foie Gras. Namun, bukannya merasa lapar, tenggorokan Yumna mendadak terasa sempit. Ia teringat Ayahnya yang pasti sekarang sedang makan nasi bungkus di depan TV, atau Ibunya yang hobi memanaskan sayur lodeh sisa semalam agar tidak mubazir.
Andai mereka ada di sini. Ibu pasti bakal sibuk bungkus kerupuk udangnya buat dibawa pulang, batin Yumna miris.
Evander yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik istrinya, menyadari ada yang salah. Yumna yang biasanya berisik dan hobi mengomentari rasa makanan, tiba-tiba diam seribu bahasa dengan tatapan kosong.
"Kenapa bengong?" bisik Evander tepat di samping telinganya. "Wajahmu tidak cocok sama sekali saat diam begitu. Terlihat seperti orang yang sedang merencanakan perampokan bank."
Yumna tersentak. Ia melirik Kakek William yang masih asyik mengobrol, lalu ia mendekatkan wajahnya ke telinga Evander. Aroma parfum woody suaminya kembali menyerbu, tapi kali ini Yumna terlalu melow untuk merasa gugup.
"Mas... makanan ini, yang udang pakai saus keju ini, kesukaan Ibuku banget," bisik Yumna pelan, suaranya sedikit serak. "Meskipun beda kualitas sih. Ibuku belinya di warung tenda pinggir jalan yang kejunya pakai keju lembaran murah. Tapi dia pasti seneng banget kalau lihat udang segede jempol kaki Mas ini."
Evander terdiam. Ia tidak menyangka jawaban Yumna akan se-emosional itu.
"Boleh nggak..." Yumna berbisik lagi, lebih lirih, "Nanti sore aku pulang sebentar ke rumah? Nggak lama, Mas. Cuma mau lepas kangen sama Ayah Ibu, terus... kalau boleh, aku mau bungkusin makanan kayak gini buat mereka. Boleh ya?"
Evander mengerutkan kening, menatap Yumna dengan tatapan selidik yang datar. "Bukankah aku sudah memberimu kartu kredit tanpa limit? Kamu bisa beli apa pun yang kamu mau, termasuk restoran ini kalau kamu perlu. Kenapa harus minta izin hanya untuk membawakan makanan?"
Yumna merengut, "Ini bukan soal uang, Mas Kulkas! Ini soal etika. Aku kan sekarang 'aset' Moreno Group yang harus dijaga keberadaannya. Kalau aku keluyuran bawa bungkusan makanan, nanti dikira aku mau jualan catering di pinggir jalan."
Evander menghela napas, namun tangannya di bawah meja diam-diam menggenggam jemari Yumna yang terasa dingin. "Sore ini saya ada rapat. Kamu boleh pulang, tapi jangan naik taksi. Saya akan suruh sopir pribadi mengantarmu. Dan soal makanan... jangan bungkus sisa dari sini."
"Lho, kenapa? Kan sayang kalau nggak habis?"
"Memalukan," desis Evander. "Saya akan suruh koki hotel ini menyiapkan paket baru yang masih segar untuk orang tuamu. Bawa yang banyak, supaya ibumu tidak perlu masak lodeh sisa itu lagi."
Mata Yumna seketika berbinar. Ia hampir saja mencium pipi Evander jika tidak ingat ada Kakek William di sana. "Beneran, Mas? Makasih ya! Ternyata Mas nggak cuma pinter cari uang, tapi pinter cari muka di depan mertua juga!"
Evander hanya berdehem kaku, melepaskan tangan Yumna saat Kakek William kembali menaruh perhatian pada mereka.
diajarin lah biar c,Yumna nya rada anggunan kalo di bentak mulu bukannya anggun yg ada malah ciut...