Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: KEBANGKITAN DARAH YANG TERLUPAKAN
Hujan badai mengguyur Seoul dengan intensitas yang tidak wajar. Petir menyambar silih berganti, menyinari kamar apartemen Liora yang remang-remang. Di atas meja belajarnya, botol kristal merah pemberian Elara tampak berdenyut redup, seolah-olah cairan di dalamnya memiliki detak jantungnya sendiri. Liora duduk di tepi tempat tidur, memegangi kepalanya yang terasa sangat berat. Sejak insiden di sekolah tadi pagi, ia terus-menerus mendengar bisikan-bisikan kuno di dalam pikirannya—suara yang memanggilnya dengan sebutan yang asing.
"Kenapa... kenapa rasanya sesak sekali?" bisik Liora.
Ia meraih botol kristal itu. Ingatannya kembali pada peringatan Elara: “Minumlah ini jika duniaku dan duniamu benar-benar bertabrakan.” Liora merasa saat ini adalah titik itu. Ia merasa dunianya yang normal telah hancur berkeping-keping sejak Arkan menghilang dan muncul kembali sebagai sosok misterius. Tanpa berpikir panjang, didorong oleh rasa sakit yang memuncak di dadanya, Liora membuka tutup botol itu dan meminum isinya sekaligus.
Seketika, rasa dingin yang membekukan tulang berubah menjadi api yang membakar pembuluh darahnya. Liora menjerit, namun suaranya tertahan oleh gelombang energi yang meledak dari dalam selnya.
The Blood Fortress – Himalaya.
Arkan sedang berdiri di depan peta dimensi Abyss saat jantungnya mendadak berdenyut sangat kencang. Itu bukan serangan jantung fisik, melainkan resonansi Blood-Link yang sangat kuat dari arah Seoul.
'Julian! Beritahu aku apa yang terjadi di apartemen Liora sekarang!' perintah Arkan, auranya meledak hingga meretakkan lantai obsidian benteng.
'Ayah... ini tidak mungkin!' suara Julian terdengar penuh dengan keterkejutan yang murni. 'Liora... dia meminum cairan Sanguine Protection-mu. Tapi bukannya menjadi pelindung, cairan itu justru memicu sesuatu yang tersembunyi di dalam DNA-nya. Ayah, Liora bukan manusia biasa. Dia memiliki "Ancient Core" yang tertidur!'
'Seer! Apa yang kau lihat?!' Arkan menoleh ke arah Elara.
Elara berdiri mematung, matanya yang bersinar merah silang meneteskan air mata darah. "Tuan... di masa lalu yang sangat jauh... sebelum Anda menjadi Sovereign... ada satu garis keturunan yang setara dengan Anda. Ksatria Matahari yang menjaga cahaya agar kegelapan tidak menelan segalanya. Liora... dia adalah reinkarnasi dari 'Solar Empress' yang hilang."
Arkan tertegun. Selama ribuan tahun, ia mengira ia adalah satu-satunya entitas yang tersisa dari zaman kuno. Ia segera membuka portal darah. "Vanguard, Phantom! Jaga dimensi ini! Aku akan ke Seoul sekarang!"
Apartemen Liora – Seoul.
Seluruh blok apartemen Liora kini diselimuti oleh cahaya keemasan yang sangat terang, menembus kabut hitam yang biasanya mengelilingi Crimson Eclipse. Energi matahari yang murni meledak dari tubuh Liora, menghancurkan seluruh furnitur di kamarnya. Rambut hitam Liora perlahan-lahan berubah menjadi warna emas putih, dan di dahinya muncul simbol matahari yang menyala.
Namun, tubuh manusia Liora tidak sanggup menahan beban kekuatan kuno tersebut. Ia mulai retak. Cahaya itu mencoba keluar dengan cara menghancurkan inangnya sendiri.
Arkan muncul di tengah ruangan yang hancur. Ia melihat Liora yang sedang melayang di udara, dikelilingi oleh api suci yang bahkan mampu membakar jubah Sanguine miliknya.
"Liora! Hentikan! Kau akan membunuh dirimu sendiri!" teriak Arkan.
Liora menoleh. Matanya kini berwarna emas murni, tanpa pupil. "Arkan...? Dingin... kenapa duniaku sangat dingin..."
Liora kehilangan kendali. Ia melepaskan ledakan energi matahari yang menghantam Arkan lurus di dadanya. Arkan terlempar menembus dinding apartemen, jatuh ke jalanan bawah yang sepi.
Arkan bangkit dari reruntuhan aspal, darah merah murninya menetes dari sudut bibirnya. Ia melihat Liora keluar dari lubang di dinding, melayang turun dengan aura yang mampu menghanguskan seluruh kota Seoul dalam hitungan menit.
'Ayah, WHA dan satelit seluruh dunia sedang mengunci koordinat ini!' Julian memperingatkan. 'Cahaya matahari itu... mereka akan mengiranya sebagai serangan nuklir atau kedatangan dewa baru!'
"Aku tidak peduli pada dunia!" raung Arkan.
Arkan melepaskan seluruh penyamarannya. Ia tidak lagi peduli jika identitasnya terbongkar. Ia melepaskan sepuluh sayap darah dari punggungnya, melesat ke arah Liora yang kini sedang bersiap melepaskan ledakan kedua.
"Sanguine Art: Eternal Embrace!"
Arkan memeluk Liora di tengah udara. Api matahari membakar kulit Arkan, membuat jubahnya terbakar dan lengannya melepuh. Namun, Arkan tidak melepaskannya. Ia menyuntikkan darah Sovereign-nya langsung ke jantung Liora, bukan untuk menguasainya, melainkan untuk menjadi "wadah" yang menampung kelebihan energi matahari tersebut.
"Tenanglah, Liora... aku di sini," bisik Arkan di telinga Liora. "Jangan biarkan cahaya ini memakan jiwamu. Berikan beban itu padaku."
Secara perlahan, cahaya emas itu mulai meredup, terserap masuk ke dalam tato sirkuit di lengan Arkan. Warna rambut Liora kembali menjadi hitam, dan ia jatuh pingsan di pelukan Arkan.
Arkan berdiri di tengah jalanan Seoul yang kini hancur berantakan. Di sekelilingnya, ratusan unit Hunter KHA dan helikopter militer mulai mengepungnya. Lampu sorot diarahkan tepat ke wajah Arkan yang kini tidak lagi memakai kacamata.
Choi Ha-neul turun dari salah satu kendaraan tempur. Ia menatap Arkan yang sedang menggendong Liora dengan jubah yang compang-camping dan mata merah yang menyala-nyala.
"Sovereign..." bisik Ha-neul. "Jadi ini wajah aslimu..."
Arkan menatap ke arah kerumunan Hunter tersebut. Ia tidak takut. Ia merasa sangat lelah, namun ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Liora.
"Mundur," ucap Arkan. Suaranya mengandung gelombang tekanan yang membuat seluruh mesin kendaraan militer itu mati seketika. "Atau aku akan memastikan fajar tidak akan pernah terbit lagi di kota ini."
Satu jam kemudian, Arkan membawa Liora kembali ke The Blood Fortress. Ia membaringkan Liora di tempat tidur yang paling aman, di dalam kamar yang dilapisi oleh kristal penenang.
Bastian dan yang lainnya berdiri di luar pintu dengan wajah penuh kekhawatiran. Mereka baru saja melihat Tuan mereka terluka parah untuk pertama kalinya demi menyelamatkan seorang manusia.
"Tuan... apakah Nona Liora akan baik-baik saja?" tanya Hana dengan suara gemetar.
Arkan yang sedang mengobati luka bakar di lengannya mengangguk pelan. "Dia sedang beradaptasi. Kekuatannya jauh lebih besar dari yang kubayangkan. Dia bukan lagi manusia biasa, Hana. Dia adalah cahaya yang akan menyeimbangkan kegelapanku."
Arkan menatap ke arah layar monitor. Di sana, wajah "Arkan si Murid SMA" kini terpampang di seluruh berita dunia sebagai tersangka utama di balik identitas Crimson Sovereign. Penyamarannya telah terbakar habis bersama api matahari Liora.
"Selesai sudah sandiwara sekolahnya, Ayah," Julian berkata pelan.
Arkan tersenyum getir. "Iya. Tapi setidaknya aku sudah lulus ujian sejarah."
Arkan berdiri, menatap ke arah pintu masuk benteng yang kini sedang didatangi oleh ribuan portal Abyss. Tampaknya, kebangkitan cahaya Liora telah memancing perhatian 'The Great One' secara langsung.
"Persiapkan pasukan, Crimson Eclipse," perintah Arkan, suaranya kembali menjadi dingin dan tajam. "Perang yang sebenarnya baru saja dimulai. Dan kali ini, kita tidak akan bertempur untuk menyelamatkan manusia. Kita akan bertempur untuk melindungi Ratu kita."
Malam itu, gerhana merah di langit Himalaya bersatu dengan cahaya keemasan yang samar. Sang Sovereign telah menemukan pasangannya, dan dunia akan segera menyadari bahwa saat matahari dan bulan darah bersatu, tidak akan ada satu pun entitas di alam semesta yang bisa menghentikan mereka.