Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.
Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:
"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."
Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Jebakan Sinta
"Istirahat sepuluh menit!" seru Kalandra sambil melonggarkan kerah kemejanya. Dia menatap jam dinding, lalu menoleh ke arah Zoya yang masih sibuk mencorat-coret papan tulis dengan spidol merah. "Zoya, minum dulu. Kamu sudah ngomong dua jam non-stop."
Zoya hanya mengangguk pelan, tenggorokannya memang terasa kering. Dia meletakkan spidolnya dan duduk kembali di kursi kebesarannya.
Di pojok ruangan, dekat meja dispenser, Sinta sedang sibuk mengaduk dua cangkir kopi. Senyum tipis yang licik terukir di bibirnya yang bergincu merah menyala. Tangannya bergerak cepat menuangkan susu kental manis ke salah satu cangkir—susu dari kaleng yang sengaja dia biarkan terbuka di laci mejanya selama tiga hari. Baunya sudah agak asam, tapi tertutup sempurna oleh aroma kopi hitam yang pekat dan gula yang banyak.
"Rasakan, Nyonya Besar," batin Sinta jahat. "Biar kamu mules-mules terus lari ke toilet pas Jenderal Bram minta laporan nanti. Biar aku yang ambil panggung."
Sinta merapikan seragamnya, lalu berjalan anggun membawa nampan berisi dua cangkir itu. Dia meletakkan cangkir yang "spesial" tepat di hadapan Zoya, dan cangkir yang aman untuk dirinya sendiri.
"Silakan, Bu Zoya," ucap Sinta dengan nada semanis madu. "Kopinya mumpung masih panas. Ibu pasti capek kan mikir keras begitu? Saya buatkan khusus biar Ibu segar lagi."
Zoya menatap cangkir kopi yang mengepul itu. Dia tidak langsung meminumnya. Hidungnya—indra penciuman yang terlatih membedakan bau formalin, amonia, dan gas metana mayat—berkedut sedikit.
Di balik aroma kopi robusta murah itu, tercium bau samar yang sangat spesifik. Bau fermentasi laktosa. Bakteri Lactobacillus yang sedang berpesta pora. Susu basi.
Zoya melirik Sinta sekilas. Polwan itu berdiri menunggu dengan mata berbinar penuh harap, seolah-olah sedang menunggu Zoya menelan racun.
"Makasih, Sinta. Kamu perhatian sekali," kata Zoya datar. Dia mengangkat cangkir itu perlahan, mendekatkannya ke bibir.
Jantung Sinta berdegup kencang karena kegirangan. Ayo minum, minum!
Tiba-tiba Zoya berhenti.
"Eh, Sinta," panggil Zoya. "Tolong ambilkan tisu di meja belakangmu dong. Ada noda spidol di tanganku. Lengket."
Sinta mendecak dalam hati, tapi tetap memasang senyum palsu. "Oh, baik Bu."
Sinta membalikkan badan, melangkah dua jengkal ke meja belakang untuk mengambil kotak tisu.
Itu dia. Celah dua detik.
Dengan gerakan tangan secepat kilat—kecepatan tangan seorang legenda forensik yang terbiasa mengiris jaringan tipis tanpa merusak bukti—Zoya menukar posisi cangkir kopinya dengan cangkir milik Sinta. Posisi kedua cangkir yang identik itu bertukar tempat tanpa suara sedikitpun.
Saat Sinta berbalik kembali sambil membawa tisu, Zoya sudah duduk tenang dengan tangan terlipat di meja.
"Ini tisunya, Bu," kata Sinta.
"Makasih." Zoya mengambil tisu itu, mengelap tangannya sekilas. Lalu dia mengambil cangkir kopi (yang kini adalah milik Sinta yang aman) dan menyeruputnya nikmat. "Hmm. Enak. Manisnya pas."
Sinta tersenyum lebar, merasa menang. Rencananya berhasil! Zoya sudah meminumnya!
"Kamu nggak minum, Sin?" tanya Zoya polos. "Nanti keburu dingin lho. Sayang kopinya."
"Ah, iya Bu. Saya juga haus," jawab Sinta riang. Tanpa curiga sedikitpun, dia menyambar cangkir kopi di depannya (yang berisi susu basi racikannya sendiri) dan meneguknya rakus sampai habis setengah gelas.
Rasanya memang agak aneh, sedikit asam di ujung lidah. Tapi Sinta pikir itu cuma efek varietas biji kopi atau mungkin lidahnya yang salah rasa karena terlalu senang. Yang penting, Zoya bakal sakit perut sebentar lagi.
***
"Oke, waktu habis! Kembali ke tempat!" Kalandra menepuk tangan, memanggil semua anggota tim untuk kembali fokus. Jenderal Bramantyo juga sudah kembali duduk di ujung meja, wajahnya serius menanti kelanjutan strategi.
"Sinta," panggil Jenderal Bram tegas. "Saya mau lihat data logistik yang kamu pegang tadi. Maju ke depan, jelaskan alokasi personel untuk penyergapan di pelabuhan nanti malam."
Ini dia momen Sinta. Dia berdiri tegak, membusungkan dada. "Siap, Jenderal!"
Sinta melangkah percaya diri ke depan layar proyektor. Dia melirik Zoya sekilas dengan tatapan mengejek. Sebentar lagi lo bakal lari ke WC, dan gue bakal bersinar di depan Jenderal.
Namun, baru dua langkah Sinta berjalan, sebuah guncangan dahsyat terjadi di dalam perutnya.
Kruyuuuk...
Suaranya cukup keras, seperti suara kodok kejepit. Sinta berhenti mendadak. Senyumnya goyah. Perutnya terasa seperti diperas kain basah. Mulas yang datang bukan mulas biasa, tapi mulas level bencana alam. Susu basi tiga hari itu bereaksi instan dengan asam lambung Sinta yang kosong.
"Kenapa diam? Lanjutkan," tegur Jenderal Bram tidak sabar.
"S-siap, Ndan..." Sinta memaksakan diri bicara, tapi keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahinya. Kakinya gemetar. Dia mencoba menahan otot perutnya sekuat tenaga. Jangan sekarang... tolong jangan sekarang...
Dia menunjuk peta di layar dengan tangan gemetar. "Untuk... ngg... sektor A... kita akan tempatkan... ugh..."
Rasa sakit itu makin menjadi-jadi. Gas metana di ususnya mendesak ingin keluar mencari kebebasan. Sinta mengepit kedua pahanya rapat-rapat. Wajahnya yang tadi full makeup kini pucat pasi bercampur hijau.
Kalandra mengerutkan kening. "Sinta? Kamu sakit? Muka kamu pucat banget."
"Eng... enggak, Ndan. Saya... saya sehat..." Sinta mencoba menyangkal, tapi pertahanannya runtuh.
Tekanan di perut bawahnya sudah tidak bisa diajak kompromi.
BROT!
Pret... preet... tuuuuut...
Suara kentut yang basah, panjang, dan berirama itu menggema nyaring di ruang rapat yang hening dan ber-AC dingin. Bunyinya tidak main-main, terdengar jelas seperti suara knalpot motor butut yang meledak.
Hening.
Semua orang di ruangan itu membeku. Jenderal Bram melongo. Kalandra menjatuhkan pulpennya. Raka menutup mulut menahan tawa.
Dan baunya...
Aroma telur busuk bercampur sampah pasar langsung menyebar ke seluruh ruangan dalam hitungan detik.
Zoya, yang duduk santai di kursinya, menutup hidung dengan elegan menggunakan tisu. Dia menatap Sinta yang kini berdiri kaku dengan mata berkaca-kaca menahan malu.
"Wah," komentar Zoya santai, memecah keheningan yang mematikan itu. "Sepertinya kopinya terlalu strong ya, Sinta? Atau pencernaanmu yang nggak kuat menerima karma?"
Sinta tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Dia memegangi pantatnya, lalu tanpa permisi lari terbirit-birit keluar ruangan sambil menangis, meninggalkan jejak bau busuk yang membuat sang Jenderal harus mengibaskan tangannya di depan hidung.
"Bubarkan rapat lima menit!" perintah Jenderal Bram sambil menutup hidung dengan sapu tangan. "Buka jendela! Astaga, baunya!"