Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Deo terbelalak kemudian terdiam melihat Vania yang melepaskan cincin pemberiannya dan cicin tanda pengikat antara keduanya.
" Maksud kamu apa? Kok cincinnya di lepas?"
Vania memberikan cincin itu pada Deo, kemudian berkata." Aku kembalikan cincin ini, cincin ini lebih cocok diberikan pada gadis yang benar-benar kamu cintai dan aku tahu gadis itu bukan aku."
Deo menggelengkan kepalanya." Maksud kamu apa si? Aku ngasih cincin itu buat kamu, gadis yang aku cintai. Gak ada gadis lain yang aku cintai selain kamu."
Vania menggelengkan kepalanya, kemudian dia tertawa kecil. Ia mengambi ponselnya yang berada di dalam kantong celananya. Jemarinya dengan cekatan mencari sesuatu yang akan ia tunjukkan pada Deo. Vania membuka galeri ponselnya, mencari sebuah foto yang akan menjadi alasan kenapa dia memilih mengakhiri hubungannya.
" Selama ini aku percaya sama kamu. Saat orang lain berbicara buruk tentang kamu, aku selalu meyakinkan diriku kalau kamu tidak seperti apa yang mereka katakan, karena aku percaya kamu berbeda dari laki-laki lainnya. Tapi setelah aku melihat foto-foto ini, keprcayaan aku terhadap kamu hilang begitu saja," jelas Vania sembari menunjukkan foto-foto bukti bagaimana kelakuan Deo selama mereka berjarak.
" Aku berusaha untuk gak percaya dengan semua foto ini, tapi nyatanya foto ini menunjukkan segalanya. Semenjak mantanmu Karina nemuin kamu waktu itu, aku udah ngerasa gak enak. Apalagi jarak kita yang berjauhan sangat memungkinkan untuk salah satu dari kita berselingkuh," sambung Vania.
" Kamu jangan bicara yang aneh-aneh. Karina itu baru putus sama pacarnya, dia butuh teman curhat. Kamu kan tahu sendiri kalau aku dan Karina berteman dari jaman sekolah, normal aja kan kalau kita sebagai teman ketemu dan curhat," dalih Deo.
Vania berdecih." Kalau memang sekedar ketemu dan curhat normal. Tapi memang ada ya, teman yang saling peluk, ngelus rambut, bahkan sampai cium kening teman lawan jenisnya. Belum lagi kamu ngelakuin itu di sudut cafe, romantis banget kan pasangan teman ini."
" Kamu kenapa jadi gini si? Curigaan dan bahkan kamu stalking aku melalui orang lain. Kita baru tunangan, aku gak bisa bayangin gimana nanti kalau kamu jadi istriku, pasti kamu akan dikekang terus sama kamu."
Vania tertawa mendengar ucapan Deo. "Istri kamu bilang? Lawak banget ya kamu. Dengar ya, selama ini aku gak pernah ada pikiran buat stalking kamu, tapi ada aja orang yang kasih tau aku gimana kelakuan kamu di belakang aku. Dulu saking percaya aku sama kamu, apapun bukti yang orang-orang tunjukkan mengenai kamu, aku anggap itu semua angin lalu. Tapi sekarang kepercayaan itu sudah hilang. Aku bersyukur, Tuhan masih menunjukan siapa kamu sebenarnya sebelum kita menikah."
Napas Deo memburu karena apa yang dia sembunyikan selama ini akhirnya tercium oleh Vania. Lelaki itu meremas rambutnya frustasi karena Vania mengakhiri hubungan mereka. Alasan apapun yang dia ucapkan kini tidak bisa meyakinkan Vania lagi. Embusan angin sejuk kini tidak lagi bisa meredakan perdebatan mereka.
" Selama ini aku memang ada di hidup kamu, mengisi hari-hari kamu. Tapi aku sadar jika selama itu kamu melihat aku sebagai orang lain. Deo, aku tahu kamu masih cinta sama Karina kan? Aku juga tahu jika selama ini, aku hanya sekedar wanita asing yang terlanjur kamu ikat. Aku hanya pengganti Karina."
"Cukup Vania! Kamu salah! Aku cinta sama kamu, tapi karena selama kita berhubungan jarak jauh, kamu selalu sibuk dengan pekerjaan kamu. Aku juga butuh perhatian kamu, aku kesepian Vania," ujar Deo.
" Dan kamu mengisi rasa sepi itu dengan bermesraan dengan wanita lain? Kamu benar Deo aku salah! Aku salah mencintai laki-laki yang belum lepas sepenuhnya dari masa lalu. Kamu memperlakukan aku dengan baik hanya untuk menutupi kelakuan busuk kamu. Kamu tau? Selama ini aku sibuk kerja untuk masa depan kita, aku mengumpulkan uang untuk membeli rumah dan segala kebutuhan kita nanti, aku mau bantu kamu. Orang tuaku memang sanggup memberikan apapun yang aku mau, tapi aku ingin hidup mandiri dan membantu keuangan calon suamiku sendiri, apakah itu salah? Tapi kamu malah menggunakan itu sebagai alasan untuk perbuatan busuk kamu. Sudah cukup kesabaran ku, lebih baik kita akhiri saja semuanya disini. Sekarang kamu bisa bebas bermesraan dengan Karina."
Vania cukup lega setelah meluapkan apa yang mengganjal dalam hatinya selama ini. Setelah puas berbicara dengan Deo, ia pun berlari meninggalkan laki-laki itu. Tidak ada tangis saat Vania mengungkap segalanya, Vania berpikir tidak pantas untuknya menangisi laki-laki seperti Deo. Buket bunga yang dibawa Vania dibuang begitu saja di tanah.
Sedangan Andra hanya bisa meraung sambil memanggil nama Vania. Hubungannya yang sudah berlangsung lama dan diketahui oleh banyak orang kandas begitu saja. Deo menendang tanah sambi menggerutu kesal. Cincin yang Vania kembalikan dilempar jauh entah kemana.
Suasana yang semula romantis mendadak menjadi keruh karena perseteruan antara Vania dan Deo. Hari yang seharusnya bahagia dan langkah untuk ke jenjang selanjutnya berubah menjadi hari yang paling menyakitkan.
...
Mendengar putrinya nyaris terjerat dalam upaya penculikan, kecemasan menggelayut di hati Farel. Dalam menawar kegelisahannya, Farel menghabiskan malam ini untuk menemani Cila belajar, menepis kegelapan hatinya dengan terangnya cinta yang ia berikan pada sang anak. Meskipun tak lagi memiliki pasangan hidup, auranya yang masih muda dan tampan sering kali menimbulkan kesalahpahaman bagi yang tak mengenalnya, seolah dia masih seorang bujangan.
Di tengah pelajaran, suara Cila yang gemetar memecah keheningan, “Tante Vania cantik loh, Pah.”
“Tentu, sayang. Tante itu kan terkenal," sahut Farel dengan lembut, sambil menatap dalam-dalam kedalam mata berbinar putrinya. Namun ada bayang duka yang berkecamuk di balik kata-katanya.
Cila mengerucutkan bibirnya, “Ih, Papah nggak ngerti sih. Papah pernah mikir nggak sih kalau Cila pengen punya mamah baru? Biar nanti ada yang perhatiin dan jagain Cila. Cila selalu iri lihat teman-teman diantar sekolah sama mamahnya.”
Kalimat itu bagai guntur di siang bolong bagi Farel, menohok dada dan mencabik lapisan keberaniannya yang berusaha dia jaga. Farel tersadar bahwa meski dia berusaha mengisi ruang yang kosong, ada kehangatan seorang ibu yang tak bisa dia gantikan. Di mata imut Cila, ia melihat cerminan rasa kehilangan yang mendalam dan keinginan terpendam yang telah lama bertunas di hati putrinya.
" Eum, papah sempat berpikir juga. Tapi kan Cila sudah punya Bibi sama mbak sus."
Cila mencebik." Ih, beda papah."
" Cila, dengerin papah. Mamah kandung dan mamah sambung itu beda loh. Papah gak mau kalau nanti kamu punya mamah baru yang jahat."
" Papah kok ngomongnya gitu terus? Apa semua ibu tiri itu jahat?"
Tiba-tiba mata Cila mengembun, seolah penuh harap agar papahnya menuruti permintaannya agar punya ibu baru. Farel tidak tega dengan ekspresi Cila, ia lalu memeluk erat putrinya itu.
Sejenak Farel mencium kening putrinya. Ia merasa kasihan karena sejak lahir putrinya tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Harusnya Farel bersyukur, secara tidak langsung Cila menginginkan dirinya menikah lagi, tapi..
" Papah kok, diem aja?" tanya Cila.
" Cila, gak semua ibu tiri itu jahat, banyak kok ibu tiri yang baik dan sayang banget sama anak-anak. Tapi nak, cari mamah baru itu gak mudah."
Cila melepas pelukan ayahnya, dengan antusias gadis kecil itu berceloteh. " Mudah aja, pah! Papah kalau mau cari mamah baru yang baik, papah jangan cari mamah baru di mall, papah carinya di pasar."
Farel tertawa mendengar ucapan anaknya." Kenapa bisa begitu?"
" Soalnya cila lihat tante-tante di mall suka belanja yang mahal-mahal. Kalau tante-tante yang suka ke pasar pasti belanjanya sayur, itu artinya tante itu bisa masak dan sayang keluarga."
Farel kembali tertawa mendengar celotehan putrinya." Ya ampun,nak. Pinter banget anak papa, siapa yang ngajarin kamu si?"
Cila menggeleng. " Gak ada yang ngajarin Cila. Cila cuma mau punya mamah baru yang bisa masak kayak mamahnya temen-temen Cila. Cila juga mau punya mamah yang baik dan sayang sama Cila."
Farel tersenyum mendengar harapan putrinya, harapan sederhana yang belum bisa ia wujudkan.