NovelToon NovelToon
Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jullsr red

Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.

Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.

Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 — Jimat Batu Misterius

“Apa sebenarnya benda ini?”

Lin Zhantian menatap kosong pada benda yang kini berada di genggamannya. Ukurannya tak lebih dari dua ruas jari, berwarna abu-abu pucat dengan kilau samar yang nyaris tak tertangkap mata. Sekilas ia tampak seperti batu biasa, namun ketika jemarinya meremasnya perlahan, sensasi yang terasa justru aneh—lembut, lentur, sama sekali tidak seperti batu. Namun ia juga bukan giok, bukan pula kayu.

Bukan batu, bukan giok, bukan kayu.

Benda inilah yang berhasil ia peroleh setelah bersusah payah memanjat hingga ke celah tersembunyi di puncak langit-langit gua. Dari sanalah, setetes demi setetes cairan bercahaya merah yang sebelumnya ia saksikan menetes ke kolam batu, berasal.

Di sudut gelap puncak gua tempat benda itu tertanam, terdapat sebuah bekas telapak tangan yang begitu jelas—hingga gurat-gurat garis tangannya pun terlihat nyata. Dari jejak misterius itu, Lin Zhantian menyadari satu hal: jauh sebelum dirinya menemukan gua ini, telah ada seseorang yang datang. Seseorang yang meninggalkan jejak kekuatan di dinding batu.

“Benda yang benar-benar aneh…”

Ia bergumam lirih.

Pada permukaan kecil benda itu, terukir pola-pola samar yang rumit dan sulit dipahami. Pola tersebut melingkupi seluruh permukaannya, membentuk susunan simbol yang menyerupai sebuah jimat kuno. Karena itulah, benda tersebut lebih tepat disebut sebagai sebuah jimat batu misterius.

Sekilas, selain pola simbol yang tampak mendalam dan penuh misteri, jimat batu itu tidak menunjukkan keanehan lain. Namun Lin Zhantian tahu, cairan bercahaya merah yang dilihatnya sebelumnya bukanlah ilusi. Ia melihatnya dengan mata kepala sendiri.

“Kolam batu itu memiliki kemampuan aneh… pasti karena jimat ini.”

Wajah muda Lin Zhantian dipenuhi perenungan. Ia menyaksikan sendiri bagaimana titik-titik cahaya merah itu jatuh ke dalam kolam, dan hanya penjelasan ini yang masuk akal—jimat batulah sumber segala keajaiban tersebut.

Tiba-tiba—

“Tak!”

Suara batu bergulir terdengar dari luar gua. Seketika itu pula, Lin Zhantian tersadar dari lamunannya. Dengan sigap ia menyelipkan jimat batu itu ke dalam saku pakaian dalamnya, menempelkannya erat di dada.

“Gege Zhantian, hehe, aku tahu kau ada di sini!”

Sosok mungil laksana kupu-kupu muncul di mulut gua. Seorang gadis kecil berusia sekitar tiga belas atau empat belas tahun berdiri di sana. Ia mengenakan pakaian sederhana berwarna terang, namun kesederhanaan itu sama sekali tak mampu menyembunyikan kecerdasan yang terpancar dari wajahnya. Mata besarnya berkilau lincah, senyumnya polos namun memesona.

Melihatnya, Lin Zhantian diam-diam menghela napas lega.

Gadis itu bukan anggota keluarga Lin. Ia adalah bayi yatim piatu yang dahulu ditemukan oleh Liu Yan di tengah salju, tak lama setelah Lin Zhantian lahir. Ia sedikit lebih muda darinya, dan sejak kecil mereka tumbuh bersama seperti saudara kandung. Karena bukan berdarah Lin, ia tidak menyandang nama keluarga itu. Liu Yan memberinya nama indah—Qing Tan—yang berarti harum seperti kayu cendana, sebagaimana sifatnya yang lembut dan penuh aura spiritual.

“Gege Zhantian, hari sudah hampir gelap. Ibu sudah memanggilmu berkali-kali.”

Qing Tan terkekeh riang, meraih lengan Lin Zhantian dengan akrab lalu menariknya keluar gua.

“Kalau sudah malam, jalan berbatu di sini tak terlihat. Apa kau ingin tidur di gua lagi seperti waktu itu?”

Mendengar ocehan gadis itu yang tak henti-hentinya berbunyi seperti burung kecil, Lin Zhantian tersenyum tipis. Tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya. Jimat batu yang menempel di kulitnya memancarkan rasa dingin samar.

Ia tak tahu asal-usulnya.

Namun nalurinya mengatakan—benda ini luar biasa.

 

Malam turun menyelimuti bumi. Cahaya bulan yang dingin mengalir dari langit, membasuh sisa panas hari yang tertinggal.

Di dalam kamar sederhana, Lin Zhantian terlelap. Seberkas cahaya bulan menyelinap melalui jendela, jatuh tepat di tubuhnya.

Tiba-tiba—

Cahaya bulan itu bergetar seperti riak air.

Peristiwa aneh pun terjadi.

Cahaya yang seharusnya hanya menerangi ruangan itu perlahan-lahan mengalir dan berkumpul di dada Lin Zhantian. Dari balik pakaiannya, muncul sinar redup. Di pusat sinar itu—terdapat jimat batu kuno yang memancarkan cahaya lembut.

Saat jimat memancarkan cahaya, kelopak mata Lin Zhantian yang sedang tertidur sedikit terbuka. Namun sebelum kesadarannya benar-benar pulih, rasa pusing yang hebat menyeruak dari kedalaman pikirannya.

Dalam sekejap—

Ia terkejut mendapati dirinya berada di ruang yang sepenuhnya gelap.

Tak ada cahaya.

Tak ada suara.

Hening. Dingin. Sunyi tak bertepi.

Perubahan mendadak ini membuat jantung Lin Zhantian berdegup kencang. Bagaimanapun, ia hanyalah remaja berusia empat belas tahun.

“Shhh…”

Suara halus memecah keheningan.

Di hadapannya, muncul segumpal cahaya.

Ketika cahaya itu memadat, sosok yang terbentuk membuat Lin Zhantian membelalakkan mata.

Itu adalah dirinya sendiri.

Namun wajah sosok cahaya itu kosong tanpa emosi—mati rasa, tanpa kehidupan.

“Apa yang sedang terjadi…”

Ia bergumam gemetar.

Tiba-tiba—

“Pa!”

Sosok cahaya bergerak.

Kedua tinjunya terangkat, tubuhnya berubah lincah, dan satu set jurus yang amat dikenali Lin Zhantian mengalir dari gerakannya.

Itu adalah… Tinju Tongbei!

Mata Lin Zhantian membesar.

Namun segera setelah itu, keterkejutan yang lebih besar menyapu hatinya.

Gerakan Tinju Tongbei yang diperagakan sosok cahaya itu—lebih halus daripada milik ayahnya, Lin Xiao. Lebih mengalir. Lebih sempurna.

Pa! Pa! Pa! Pa! Pa! Pa! Pa! Pa! Pa!

Di ruang gelap, sembilan dentuman renyah terdengar jelas.

Sembilan gema kekuatan!

Lin Zhantian menahan napas.

Namun—

Saat jurus berakhir, tubuh sosok cahaya itu bergetar aneh.

Dari lengannya terdengar satu bunyi lirih tambahan—

Dentuman kesepuluh!

Sepuluh gema!

Lin Zhantian terpaku.

Tinju Tongbei yang ia ketahui hanya memiliki sembilan gema kekuatan. Bahkan ayahnya pun belum pernah memperlihatkan lebih dari sembilan.

Namun sosok cahaya itu—mencapai sepuluh!

Ia yakin, bahkan Lin Xiao sendiri takkan mampu melakukannya.

“Apa arti semua ini?”

Pikirannya berputar liar.

Namun satu perasaan samar muncul di lubuk hatinya—

Ia mungkin telah menemukan harta yang tak ternilai.

Sosok cahaya tidak menghilang. Ia kembali memulai jurus dari awal.

Rasa takut dalam hati Lin Zhantian perlahan sirna. Digantikan oleh fokus yang membara. Ia menyaksikan setiap gerakan dengan saksama—lengkungan kecil pergelangan tangan, sudut langkah kaki, aliran tenaga dalam tiap hentakan.

Akhirnya—

Ia membuka kuda-kuda.

Meniru.

“Pa!”

Dua sosok—cahaya dan manusia—berlatih tanpa lelah di ruang gelap.

Sebagian besar dentuman berasal dari sosok cahaya.

Namun Lin Zhantian tidak berkecil hati.

Wajahnya dipenuhi kesungguhan.

Ia menyesuaikan setiap gerakan, mengubah detail kecil sesuai contoh. Perubahan itu tampak sepele—namun efeknya luar biasa.

“Pa! Pa! Pa! Pa!”

Empat gema terdengar!

Empat gema kekuatan!

Mata Lin Zhantian bersinar terang.

Hanya dalam satu malam—ia mencapai empat gema!

Jika Lin Xiao mengetahui hal ini, mungkin ia akan terdiam tak percaya. Dahulu, sang ayah membutuhkan hampir satu bulan untuk mencapai tingkat itu.

Sedangkan Lin Zhantian?

Ia melampaui kecepatan itu berkali-kali lipat.

Semangatnya berkobar.

Ia terus berlatih.

Berulang kali.

Tanpa henti.

Di ruang tanpa waktu itu, dua sosok bergerak seperti kera spiritual yang lincah, menari di antara bayangan.

Tinju menghantam angin.

Dentuman demi dentuman menggema.

Dan di kedalaman malam, tak seorang pun tahu bahwa seorang pemuda bernama Lin Zhantian tengah menapaki awal jalan menuju takdir agungnya—berkat sebuah jimat batu misterius yang menyimpan rahasia langit dan bumi.

(Bersambung…)

1
anggita
ikut ng👍like aja👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!