NovelToon NovelToon
SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Romansa
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Hayra Masandra

Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.

"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira

"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara

"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang yang Berhenti Berdetak

Rumah nomor 13 di ujung gang itu selalu memiliki aroma yang sama: perpaduan antara kayu jati tua, minyak telon yang memudar, dan kesunyian yang tebal. Bagi orang luar, rumah itu tampak megah dengan arsitektur kolonialnya yang masih kokoh. Namun bagi Kasyaira Lawana, rumah itu adalah sebuah museum berisi barang-barang yang tidak lagi memiliki pemilik.

Aira melirik jam dinding di ruang tamu. Pukul 05.00 pagi.

Ia terbangun tanpa alarm. Kebiasaan bertahun-tahun sebagai anak bungsu yang kini harus melakukan segalanya sendiri. Dulu, pukul lima pagi adalah simfoni keberisikan. Suara sendok yang beradu dengan piring dari arah dapur tempat Ibunya memasak, suara gemericik air dari kamar mandi tempat Kakak pertamanya bersiap, dan suara radio Bapak yang menyiarkan berita pagi.

Kini, simfoni itu mati. Tersisa hanya detak jam dinding yang seolah mengejek Aira—bahwa waktu terus berjalan, sementara hidup di dalam rumah ini sudah berhenti sejak lama.

"Pagi, Bu. Pagi, Pak. Mas, Mbak..." gumam Aira pelan saat melewati deretan foto di atas bufet.

Ia menyeka debu imajiner di bingkai foto kayu itu. Senyum mereka di sana abadi, membeku dalam kertas yang mulai menguning. Aira tidak berani menatap mata mereka terlalu lama. Ada ketakutan purba yang merayap di dadanya—ketakutan bahwa jika ia terlalu lama menatap dan merasa terlalu rindu, takdir akan merasa "iri" dan merenggut sisa-sisa kenangan yang ia miliki.

Aira bergegas ke dapur. Ia menyeduh teh melati, aromanya menyeruak, mencoba mengusir hawa dingin yang selalu terasa menggigit di rumah itu, meski matahari mulai mengintip dari celah jendela.

"Aira! Nduk!"

Suara parau dari balik pagar mengejutkannya. Aira membuka pintu samping. Di sana berdiri Mbok Darmi, tetangga sebelah rumah yang sudah tinggal di gang ini sejak zaman kakek Aira masih hidup. Mbok Darmi membawa rantang plastik berisi nasi uduk.

"Ini, buat sarapan. Jangan cuma minum teh terus," ujar Mbok Darmi dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada belas kasihan, tapi ada juga gurat kecemasan yang tertahan.

"Terima kasih, Mbok. Repot-repot..."

"Nggak repot. Cuma..." Mbok Darmi menggantung kalimatnya. Matanya melirik ke dalam rumah Aira yang gelap. "Tadi malam Mbok mimpi lagi, Aira. Mimpi Bapakmu. Dia berdiri di depan pintu, tapi nggak mau masuk. Katanya, pintunya terkunci dari dalam."

Aira merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Ia tahu arah pembicaraan ini. Di kampung ini, ia bukan hanya dikenal sebagai anak yatim piatu. Ia adalah si Punggelan. Anak yang "memangkas" umur keluarganya.

"Mungkin Bapak cuma mau tengok rumah, Mbok," jawab Aira singkat, mencoba tersenyum meski bibirnya terasa kaku.

"Hati-hati, Nduk. Kamu itu bungsu, tapi jiwamu besar. Jangan terlalu sering memikirkan yang sudah tidak ada. Kamu itu seperti air samudera, diam tapi menyerap semua dingin. Mbok takut kamu malah tenggelam sendiri."

Aira hanya mengangguk sopan. Ia segera pamit untuk bersiap ke sekolah. Kalimat Mbok Darmi barusan terasa seperti duri yang terselip di tenggorokannya. Samudera. Namanya memang berarti itu. Lawana.

Di sekolah, ia adalah Kasya atau Syaira. Gadis teladan yang selalu duduk di barisan kedua, yang catatannya paling lengkap, namun kursinya selalu terasa terisolasi. Tak ada yang benar-benar berani duduk terlalu dekat dengannya untuk waktu yang lama. Bukan karena ia tidak cantik atau tidak baik, tapi karena ada aura "dingin" yang ia bangun seperti benteng.

Aira menyampirkan tas sekolahnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar dekat pintu keluar. Seragam putih abu-abunya rapi. Rambutnya diikat kuda dengan sempurna. Secara fisik, ia tampak seperti remaja biasa. Namun di balik matanya, ada samudera yang luas dan tak tersentuh.

Ia mengunci pintu rumah dengan tiga putaran kunci. Sebuah rutinitas untuk memastikan bahwa duka di dalam sana tidak ikut keluar bersamanya ke jalanan.

Aira tidak tahu, bahwa di hari itu, di antara ribuan orang yang biasanya hanya melewatinya seperti bayangan, akan ada satu cahaya yang mencoba menembus kedalamannya. Cahaya yang tidak takut pada dinginnya samudera, dan tidak peduli pada mitos tentang "pintu yang terkunci".

Langkah kakinya mulai menjauh dari rumah nomor 13, menuju sebuah gerbang sekolah yang akan mempertemukannya dengan seseorang yang akan menjadi bagian hidupnya.

Dan dari sini lah.. Kisahnya dimulai.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!