Namanya Ainun, seorang gadis berwajah elok. Ia seorang mahasiswi di perguruan tinggi terfavorit dikotanya. Hidupnya yang terlampau monoton, menjadikannya sosok yang cuek dan cenderung galak, terutama pada lawan jenis.
Siapa sangka, pertemuannya dengan Reza yang berawal dari pertengkaran dan permusuhan, malah membuat hari-harinya berwarna. Di selingi dengan permasalahan keluarga di masa lalu yang selalu menghantuinya.
Cinta keduanya tumbuh membuat lengah Sang Ayah dalam penjagaanya. Ada banyak pelajaran yang Ainun dapatkan saat-saat Tuhan menguji cintanya. Terlebih bayang- bayang masa lalu yang terus saja menguntitnya.
Ini adalah Novel perdana Author, semoga readers suka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olive Sparkly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8. Makan malam
"Enggak bisa! pokoknya aku tidak mau, titik!!" Sambungan telepon ditutup paksa.
'Kenapa harus aku sih! Selalu saja jadi bantalan. Kabur aja terus, bikin susah aja!"
Ceklek
Daun pintu terbuka, sosok Pria paruh baya, Gunawan menyembul masuk, berjalan mendekati putranya, Reza.
"Untuk kali ini, papi mohon ikutlah. Hanya kali ini saja papi janji."
"Tapi, pih..."
"Kali ini saja, papi merasa tidak enak dengan keluarga Tuan Dony, Kamu hanya duduk dan diam saja."
"Kenapa pakai acara kabur segala sih pih, ini kan acaranya?" Reza bersungut kesal.
"Papi juga sudah mencoba memperingatinya, tapi anak itu tetap lolos. Anak itu memang pemalu, biar acara perkenalan ini kamu menggantikannya sementara, toh wajah kalian sama. Sudahlah, kamu segera bersiap, ingat ya disana kau jadi Rezi."
"Ya kalau aku yang datang berarti aku saja yang nikah!" Kesalnya pada sang papi yang masih duduk disampingnya.
"Kamu yakin? Papi sih oke oke saja." Gunawan menantang. Lantas berdiri dari duduknya hendak pergi keluar.
"Eehh... tidak, tidak, tidak...! ya sudah, aku ikut, tapi kali ini saja!" Reza pasrah, hanya bisa memasang wajah kesal, kemudian berdiri dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera bersiap.
Reza menganju napasnya berat, hatinya menggerutu. Kesal. Ia harus menggantikan Rezi untuk sebuah pertemuan keluarga. Sedangkan dia, entah sembunyi dimana.
Rezi adalah saudara beda sepuluh menit Reza. Ya, mereka kembar. Meski kembar, mereka sangat berbeda. Reza lebih tinggi sedikit dari Rezi. Tubuh Reza pun lebih atletis. Karakternya pun berbeda, Reza yang humble, humoris dan santai, berbanding terbalik dengn Rezi yang introvert, selalu bersikap dingin namun tegas.
Rezi pun lebih cerdas dari Reza. Terbukti dari jejak pendidikannya yang hanya membutuhkan waktu tiga tahun untuk menyelesaikan study strata satunya, dan hanya setahun untuk study magisternya. Dan karena alasan itu pula, mereka bersekolah di tempat yang berbeda. sehingga jarang sekali yang tahu bahwa mereka kembar. Dan sekarang pun di usianya yang masih sangat muda, Rezi sudah memegang jabatan tinggi di perusahaan yang dinaungi oleh Gunawan, ayah mereka.
Itulah kenapa Gunawan sudah mempersiapkan semuanya termasuk urusan jodoh untuk Rezi.
Mobil berhenti di parkiran sebuah Restoran terbesar dikota itu. Dengan malas Reza keluar dan segera bergabung dengan Papi dan Mami nya berjalan masuk kedalam menuju tempat yang telah disiapkan.
'Oke, baiklah aku hanya perlu duduk dan diam saja bukan?'
Jemari Reza mengetuk ngetuk pahanya sendiri, menghasilkan suara yang hanya bisa dia dengar dan rasakan sendiri. Diliriknya Papi dan Mami nya yang sedang berbincang, Reza mengusap dahinya, berfikir. Akankah dia juga dijodohkan, sama halnya seperti Rezi?
Rasa bosan sudah mulai menggerogoti pikirannya, berada disini membuatnya mengantuk, Ia merogoh benda pipihnya disaku celana. Membuka beberapa pesan di salah satu akun media sosialnya, dan membalasnya.
Jempol nya hanya menscroll naik dan turun tidak jelas, menampilkan sederetan nama akun chat, jarinya berhenti di satu nama, Nun. Menekannya dan memperhatikan setiap chatnya dengan Ainun. Reza rersenyum. Ia membuka foto profil, terlihat seorang gadis duduk menghadap senja membelakangi kamera, dengan rambut ikalnya yang terurai.
"Jika kukirim pesan, apakah dia akan membalasnya ya?" ucapnya dalam hati.
Tanpa disadari, jarinya sudah mengetik sesuatu.
"malam ... "
Pesan pun terkirim. Tersadar dengan semua ini, buru-buru ia akan menghapusnya kembali, tapi terlambat, pesannya sudah terbaca.
ting.
"malam juga,"
Reza terkejut, pesannya berbalas. Tapi kemudian senyumnya terbit, hatinya merasa senang. Akhirnya mereka pun berbalas pesan.
Reza *sedang apa?
Ainun *Baru selesai membantu adik adik mengerjakan PR
Reza *Kamu punya adik?
Ainun *ya aku punya adik dua, 👦👧
kamu sendiri punya adik?
Reza *bukan adik, tapi kakak. 😁
Ainun *Ooh,
Reza *gak malam mingguan?
Ainun *hehe, aku biasa dirumah , kamu sendiri?
"Za ini Tuan Dony sudah datang," Bisik mami. Reza segera menaruh kembali ponselnya. Pesan pun teputus begitu saja, ah, hanya pesan biasa. Tapi berhasil menghibur Reza yang tengah bosan.
Reza berdiri, dan bersalaman dengan beberapa orang yang sudah datang, Reza terhenyak, setelah berjabat tangan dengan sosok gadis di depannya. Tapi gadis itu, hanya tersenyum kecil, sepertinya dia sudah lebih tau.
Semuanya sudah datang dan jamuan makan malam pun dimulai dan berlangsung sangat hangat. Reza menatap wajah gadis yang duduk bersebrangan dengannya. Oh, jadi dia yang akan menjadi kakak ipar ku? Aku bahkan sudah mengenalnya lebih dulu.
Jamuan makan sudah selesai kini dilanjutkan dengan membahas permasalahan inti. Rasanya ia ingin segera pergi, ia takut sekali ditanya tanyai oleh Om Dony terlebih oleh gita. sedangkan gita sudah mengenalnya.
Aahaa.. Akalnya beraksi, ia mengeluarkan kembali ponselnya, membunyikan dering dan berpura pura mengangkat telepon. cara yang kuno memang. Tapi hanya itulah caranya. Ia pamit untuk keluar, dan yaa... Ia langsung tancap gas melajukan mobilnya mejauhi area itu.
"*H*ufft, ini bukan acaraku..." baru beberapa puluh meter dari jalan, ponselnya berdering, kali ini benar. ada yang menelpon. Sebab yang tadi hanya tipuan.
"Ya Pih, in-ini sudah mau masuk Pih, iya Pih." dengan suara ditekan dan dengan berat hati ia membelokkan lagi mobilnya dan kembali ketempat tadi. Dengan wajah yang ditekuk, dan hati yang menggerutu. Niat kaburnya sudah tercium dan sayangnya dia tidak bisa menolak perintah papinya.
Reza kembali masuk, dan duduk di tempatnya semula. tak berselang lama, Gunawan ikut duduk kembali.
Gunawan melirik tajam kearah Reza yang hanya mengela nafasnya yang berat. hanya menggantikan saja sudah keder begini, bagaimana kalau aku yang benar benar akan dijodohkan. aku bisa mati berdiri ! pekiknya dalam hati.
Beberapa pertanyaan, sebisa mungkin ia jawab dengan nada dan gaya yang dibuat semirip mungkin dengan Rezi. Sungguh kaku.
"Jika kalian mau, kalian bisa mengobrol berdua untuk saling mengenal satu sama lain." Seru Tuan Dony, Om Gita.
Sepertinya Gunawan hendak mencegahnya, tapi Reza berkata, "Baik om, mungkin kami butuh waktu untuk mengobrol berdua sebentar."
Kemudian dibalas anggukan oleh Dony. Reza keluar diikuti oleh Gita di belakangnya, mereka mencari tempat duduk yang kosong.
Ada kecanggungan diantara keduanya, terlebih Gita, ini pertama kalinya ia duduk berdua dengan calon suaminya. ahh, sepertinya bukan!
Beberapa jam lalu, sebelum pergi ke jamuan makan malam yang diadakan di restoran bersama keluarga Gunawan. Om Dony dan tante Fika, sudah memberitahukan bahwa calon suaminya ini bernama Rezi Ferdian Syah, dan bekerja di perusahaan milik orang tuanya. Gita terkejut, yang dia tau Reza masih kuliah dan belum bekerja.
Tapi tunggu dulu namanya Rezi, bukan Reza? Tapi foto itu sangat mirip dengan Reza. Apakah yang dikenalnya selama ini bernama asli Rezi, bukannya Reza? Gita masih bingung. Hendak bertanya pada Om Dony pun ia malu.
Jadi dia hanya menerka nerka. mengingat kemarin melihat Reza dan Ainun mengobrol, ia termakan omongan Ross dan Mytha kemarin soal keduanya. Meski Ainun mengelak ketika digoda oleh kedua sahabatnya itu, tapi tatapan mata Ainun berbeda.
Entahlah, bagaimana jika benar? apa yang harus dilakukannya, akan dilanjut atau batalkan sesegera mungkin. Ia tidak mau menjadi duri dalam kisah sahabatnya sendiri.
Sesampainya di resto, ia pun merasa lega karena Reza eh, Rezi aah entahlah, kali ini dia datang. Gita tersenyum, tepatnya terpaksa tersenyum. Hatinya masih bergejolak, rasanya banyak pertanyaannya yang membutuhkan jawaban dari pria didepannya ini.
Gita merasa takut tapi senang ketika dipersilahkan untuk mengobrol berdua dengan rezi. ini adalah kesempatannya untuk bertanya banyak hal.
Gita masih menunggu Rezi untuk memulai perbincangan, tapi sudah sepuluh menit berlalu tapi mereka masih terdiam.
"Ehem, hai..."Gita mencairkan kebisuan diantara mereka.
Pandangan Reza yang sedari tadi menatap meja dan sekitarnya seketika mengadap Gita.
"Namamu sebenarnya Reza atau Rezi?" Lanjutnya bertanya to the poin kepada Reza.
Reza terhenyak mendengar pertanyaan Gita, astagaa!
Dia bingung, hatus menjawab jujur, atau tetap berpura pura menjadi Rezi.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Karena aku mengenalmu dengan nama Reza, tapi tadi Om Dony bilang yang akan dijodohkan denganku itu Rezi."
Reza masih bingung, tapi ia juga tidak bisa mengelak.
"A-aku... Aku Reza, bukan Rezi." jawaban Reza membingungkan Gita,
Reza menceritakan semuanya kepada gita, tentang Reza yang berpura-pura menjadi Rezi karena Rezi, tidak mau datang ke acaranya sendiri.
Raut wajah gita mendadak muram, ia merasakan lega sekaligus sakit didalam hati, lega ternyata bukan Reza yang dijodohkannya, karena ia mengkhawatirkan Ainun. dan sakit didalam hatinya, apakah ini disebut penolakan?
Gita hanya terdiam, bulir bening mulai mengalir tanpa sadarnya. Memang belum ada perasaan cinta, hanya ada rasa menerima. Meski tanpa di sadari ada penolakan dibalik semua itu.
Reza yang tersadar, merasa tidak berdaya, ia tidak menyangka pernyataannya akan membuat Gita menjadi sedih.
"Gita, maafkan aku,"
"Tidak, ini bukan salahmu, tapi ini salahku yang sudah menerima, tanpa tahu apakah dia menerimaku atau tidak."
"Tapi sepertinya, dia menolakku.". lanjutnya kemudian, dengan wajah ditundukkan kebawah.
Reza kelimpungan, ia mengusap kasar wajahnya. Bagaimana menghadapi gadis di depannya ini. "Tolong jangan menangis..." hanya itu yang terucap dari bibirnya.
Gita menghela nafas panjang, mengusap bekas cairan hangat di pipinya. mencoba tersenyum. "Tidak apa-apa."
"Besok sore jam lima, datanglah ke kafe dahlia didekat kampus, akan ku usahakan dia datang." pinta Reza. mungkin ini caranya supaya semua clear.
"Tidak usah.." Tolaknya.
"Why? kamu bisa bebas bertanya apapun dengannya."
"Itu tidak perlu, aku sudah tahu jawabannya."
"Aku hanya ingin membantumu, membantunya juga.",
"Dia tidak menolakmu, dia hanya perlu waktu untuk bertemu denganmu di waktu yang tepat."
Gita, menatap manik Reza, meyakinkan hatinya untuk percaya pada Reza.
" Aku tidak yakin..."
To be continue
Terima kasih sudah bersedia membaca kisah Ainun dan kawan kawan, Jangan lupa tinggalkan jejak kalian like vote dan comment yaa... kritik dan saran kalian sangat membangun. Support kalian sangat aku butuhkan...
luv luv luv luv luv*
Olive Sparkly
❤️❤️❤️❤️❤️
ada kalimat hamil dan kehilangan anaknya . yg di suruh ambil ngerawat si bibi sebelumnya itu yg mengenali dika. tp dia taruh di panti.
g mungkin dika muncul segini banyak partnya kalau bukan penting. entah saingannya si reza atau malah jd benar kakaknya
Ainun punya hape nih skg. tapi jika dia sangat terluka oleh apa yg diprbuat Bara pada Ridho. kenapa Ainun pas ngelihat nggak ada papinya malah menghubungi Reza?
bukannya dia mengkhawatirkan papinya? tp kok malah minta tolong sama Reza yg notabene jauh (5 jam perjalanan) dalam kondsi sakit, dan bukan bagian dr carut marut keluarganya.
pdhl papinya paling dkt jaraknya. misalpun di usir masih ada di sekitar situ. dan dia papinya bukan orang lain.
biar bagaimanapun yg bisa menyelesaikan masalahnya kan ttp aiunan dan keluarganya.
dia hnya menarik reza dlm bahaya.
papinya masih dibelain sma rekha
ainun sndr jls g bkl diapa2in
tp reza??
mlh jd ngeri.
hangat hangat, makan kolak
selalu semangat, kakak...
pantunku gak nyambung🙈tapi semoga itu bisa menambah semangat kakak dalam berkarya❤
tapi bahagia aku bacanya, ikut prok prok aja deh👏👏❤
kakak memang the best merangkai kata..😍🍃
aq smpe bingung cari 🥴🥴
terus paragraf terakhir coba d baca lagi, ad yang janggal g???
sorry sedikit bawel, soalnya aq baca isi ceritamu, bukan baca komen mu😎😎😎
kurang enk d baca
aku nyacroll kok teman kondangan nggak update tapi malah ilang.
aku smp buka profilmu buat nyariin judul.
CMIIW ya readers semua.
sebenarnya semua orang yg punya luka benturan di kepala, (entah apapun penyebabnya) tidak disarankan untuk diguncang2kan, digoyangkan, dipindahkan posisinya. efeknya fatal. dari memperparah keadaan sampai dengan meninggal. karena kepala itu identik dengan saraf dan pembuluh darah.
tapi kita bicara di Indonesia. cederung semua kecelakaan yg terjadi akan dipindahkan dl. entah karena ditengah jalan, panik, atau dianggap harus segra sadar. tanpa tahu proses yg kita berikan justru memperbesar resikonya..
saya pernah lihat kecelakaan dan menyarankan untuk menunggu petugas medis datang sebelum dipindahkan. tp malah saya yg kena omelan. buru2 mereka ingin bawa kr rs.
namun keadaan yang enggan Qt bertemu
seoalah tk ingin Qt bersatu
memecahkan rindu yg membatu