Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.
Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 **Awan (kucing)**
Suasana tawa yang tadinya riuh perlahan mereda, digantikan suara langkah kecil Ila yang menyeret boneka besarnya kembali ke ruang tamu. Ia berdiri mematung di tengah lingkaran para pemuda itu, menatap mereka satu per satu dengan binar mata yang mendadak... mencurigakan.
"Abang... denger nggak? Tadi Ila denger ada suara meong-meong gitu," ujar Ila sambil menirukan suara kucing dengan polosnya.
"Abang nggak denger. Mungkin Adek salah denger kali," kilas Elzion cepat. Padahal, telinganya jelas menangkap suara itu. Ia hanya tahu jika ia mengaku, hari tenang mereka akan berakhir dengan permintaan aneh-aneh.
"Abang! Ila nggak salah denger, tadi beneran ada suara kucing!" sahut Ila, mulai kesal karena merasa tidak dipercaya.
"Ya terus kalau emang ada, Adek mau apa?" tanya Elzion jengah. Lama-lama ia gemas juga menghadapi tingkah adek kecilnya ini.
Bukannya takut, mata Ila justru makin berbinar penuh harap. Ia melangkah mendekat ke arah Alzian, abangnya yang satu lagi.
"Ila pengen beli kucing yang warnanya kayak awan, Abang," bisiknya penuh kegembiraan.
Elzion langsung berdiri tegak. "Nggak. Nggak boleh!" potongnya spontan. Benar saja kan, firasatnya tidak pernah melesat.
Alzian menarik napas panjang, mencoba memberi pengertian dengan lembut. "Ila, pelihara kucing itu nggak gampang, sayang. Capek, lho. Harus kasih makan, bersihin pup-nya..." ujar Alzian sambil mengelus rambut Ila.
"Jadi Abang nggak mau beliin Ila kucing?" Suara Ila mendadak lirih. Bibirnya melengkung ke bawah, wajahnya mendadak mendung.
Sedetik kemudian, pecahlah isak tangis dari bibir mungil itu. Alzian dan Elzion sontak panik bukan main.
"Eh—iya, iya! Oke, Abang belikan nanti, ya? Sudah, jangan nangis lagi. Ila mau ikut beli sekarang?" Alzian akhirnya menyerah kalah, sementara Elzion hanya bisa menghela napas pasrah melihat pertahanan mereka runtuh secepat itu.
Tangis Ila berhenti seketika. Dengan sisa-sisa air mata di pipinya, ia mendongak menatap Alzian. "Beneran? Ila boleh ikut? Ila mau pilih sendiri kucingnya!" serunya girang dengan mata kembali berbinar.
Tanpa aba-aba, Ila berlari kecil ke arah Lanka. Ia langsung menggandeng tangan pemuda itu erat. Entah mengapa, ia sering sekali merasa nyaman memegang tangan Lanka dibandingkan abang-abangnya sendiri.
Ila menarik tangan Lanka menuju pintu, meninggalkan Alzian yang pasrah dan Elzion yang masih melongo, bingung kenapa ia bisa kalah telak oleh tangisan balita.
"Ayo Gooo Abang! Kita pergi sekarang!" teriak Ila dari depan pintu. Mereka semua terkekeh melihat ketidaksabaran bocah itu.
Setelah perdebatan singkat, mereka meluncur dengan dua mobil menuju pet shop. Begitu sampai, suasana langsung meriah. Ila berjalan lincah di antara deretan kandang kaca, tangannya digandeng erat oleh Alzian.
Langkah kaki kecilnya terhenti di depan sebuah kandang. Di dalamnya, seekor kucing Persia putih yang sangat gembul tengah bersantai. "Abang... liat! Kucingnya lucu kayak Ila!" seru Ila takjub.
Saat penjaga toko membuka kandang, kucing itu tidak lari. Ia justru menguap lebar, berjalan santai, lalu menyundulkan kepalanya ke telapak tangan Ila.
"Liat! Awannya mau sama Ila, Abang!" teriaknya senang. Para sahabat si kembar langsung mengerubungi Ila, ikut gemas melihat interaksi anak kecil itu dengan kucing yang kini resmi ia beri nama 'Awan'.
...****************...
Sesampainya di rumah Weylin, ruang tamu yang tadinya rapi kini berubah seperti gudang karena penuh dengan kardus perlengkapan kucing. Ila duduk di karpet, memeluk kucing putihnya dengan wajah penuh kemenangan.
"Makasih Abang Al, Abang El," ucap Ila tulus. Ia kemudian menoleh ke arah teman-teman abangnya. "Makasih juga Abang Lanka, Abang Dian, Abang Juna, sama Abang Liam udah nemenin Ila beli Awan!"
"Sama-sama, Degem!" sahut Juna, Dian, dan Liam serempak.
Lanka hanya tetap dengan wajah datarnya, namun sebuah senyum tipis terukir di bibirnya saat mendengar ucapan terima kasih dari Ila.
"Gue curiga, ini kucing bakal lebih disayang daripada gue," gumam Elzion cemburu.
"Emang iya," sahut Alzian pendek sambil tersenyum tipis melihat kebahagiaan adiknya.
Seakan mengerti pembicaraan mereka, tiba-tiba Awan berjalan mendekati Elzion. Bukannya bermanja, kucing itu justru mulai menggaruk-garuk celana mahal yang dipakai Elzion.
"HEH! JANGAN CELANA GUE!" teriak Elzion panik sambil berusaha menjauhkan si kucing. Tawa pun pecah kembali, menutup hari itu dengan keceriaan di rumah Weylin.
"Awan kita makan yukk, "ajak Ila lalu menggendong kucing itu dengan tidak berperasaan Ila mengapit kan kucing itu di ketiaknya.
"Woyyy lah tertekan itu kucing punya majikan seperti dedek gemes haha," tawa Juna yang melihat Ila memperlakukan peliharaan nya seperti itu.
"Anjir pasrah banget lagi tu kucing haha." Liam ikut tertawa.
"Anjir..." gumam Ila masih terdengar di telinga mereka karena Ila masih di dekat ruang tamu.
"Heh." ucap meraka serempak dan seketika Liam merutuki mulutnya kembali, dia kembali was-was akan Alzian dan Elzion ditambah lagi sekarang Lanka.
"Peaceee," ucap Liam lalu menampilkan jari tunjuk dan tengahnya membentuk huruf "V".
"Kebiasaan lo kalau ngomong gak dijaga didepan bocil" tegur Dian.
"Kelepasan gue." sungut Liam.
"Awas aja kalau kelepasan lagi ngomong didepan adek gue.
"ancam Elzion dan Liam mengangguk kamu.
"Abang Lian anjirr.." celetuk Ila tiba-tiba.
"Nahh kan hahaha, "tawa Dian. Ila itu jika mendengar kata-kata yang menurut nya asing langsung dia praktekkan tanpa tahu artinya.
"Jangan ditiru kata-kata nya princess, "tegur Alzian lembut.
"Why? Kata-kata bang Liam tidak pernah Ila dengar dan itu lucu hihi." Ila terkikik sendiri.
Alzian menatap tajam Liam dan membuat sang empu meneguk ludah kasar.
"Pulang yuk pulangg "ajak Liam karena takut dengan tatapan Alzian.
Teman-teman yang lain menahan tawa melihat Liam yang ketakutan itu. Sedangkan Lanka dia terus melihat kearah gadis kecilnya itu dan tanpa sadar dia menalkan sudut bibir nya membentuk senyuman dan Ila yang melihat itu ikut tersenyum lucu.
"Bang Lanka ganteng hihi. "ucapnya polos dan terkikik.
"Heh." ucap mereka serentak lagi saat mendengar kalimat Ila.
Alzian mengalihkan tatapan tajamnya kearah Lanka, sedangkan Lanka hanya membalas dengan tatapan datarnya seraya tersenyum miring kearah Alzian.