Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.
Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butuh Bantuan
Maura menyambut pagi dengan hati yang cerah.
"Pagi nyonya bos, sudah update berita hangat pagi ini belum?" seloroh Maura menghampiri Berlian yang barusan datang.
"Aku nggak ada waktu untuk berita gosip sayangku," ucap Berlian.
Semalam setelah sampai rumah, Berlian fokus ke persiapan planing hari ini yaitu kunjungan eksternal.
"Kerja boleh fokus, tapi sesekali hati juga butuh hiburan," sambung Maura.
"Nggak penasaran?" canda Maura.
"Nggak tuh," tukas Berlian tertawa.
"Untung aja kamu bos, kalau nggak sudah kujitak kamu," seru Maura sok kesal.
"Meski nyonya Berlian, bos ku ini tidak penasaran. Tapi, sebagai sahabat yang baik aku tetap akan kasih tahu berita hangat pagi ini," kata Maura seraya menjulurkan lidah.
Berlian membereskan berkas yang ada di meja, menunggu ocehan Maura selanjutnya.
"Arya, mantan kamu itu....," Maura menjeda ucapan, yang ternyata ampuh untuk membuat Berlian berhenti dari pekerjaan sesaat.
"Nah kan penasaran," Maura tertawa riang.
"Apaan sih," balas Berlian kesal.
"Mantan itu tuk dilupakan bukan untuk dikenang," tawa renyah Maura terdengar.
"Sialan," umpat Berlian.
"Perusahaan Arya dinyatakan kolaps," ucap Maura menyampaikan inti berita.
"Beneran? Kok bisa?" tanya heran Berlian. Pada saat mereka berpisah, perusahaan baik-baik saja. Itu yang diketahui Berlian.
"Dengar-dengar sih ada orang berpengaruh di balik kejadian ini," kata Maura.
"Gosip ah," sangkal Berlian.
"Kali aja tuan Dom," tebak Maura.
"Perusahaan Arya sama perusahaan tuan Dom beda bidang, dan secara level kalah jauh guysss. Ngapain tuan Dom menghabiskan waktunya sia-sia," oceh Berlian menelaah.
"Demi kamu. Apalagi alasannya selain kamu," sambung Maura.
"Ngaco!" sangkal Berlian.
"Dibilangin nggak percaya. Ya udah," Maura kembali ke meja kerjanya.
Berlian duduk bersandar.
"Benarkah ucapan Maura barusan?" Berlian berpikir. Tapi semakin dipikirkan, belum ketemu jawabannya.
Di tengah lamunan, ponsel Berlian berdering.
"Arya?" netra Berlian memicing.
"Ngapain nelpon pagi-pagi?" Berlian malas untuk menggeser layar ponsel. Dibiarkan getar ponsel beberapa saat.
Barulah panggilan ke tiga Berlian angkat.
"Halo sayang, bisa kah kita ketemu hari ini?" sapaan Arya terdengar.
"Sayang? Aku nggak salah dengar?" kata Berlian.
"Aku akan menjemputmu," bilang Arya.
"Aku sibuk, dan kalau pun ada waktu aku tak mau," sarkas Berlian.
"Please, aku butuh bantuan kamu," rayu Arya membuat Berlian muak.
"Aku nggak bisa,"
Saat hendak memutus panggilan dari Arya, "Aku butuh suntikan modal, please,"
"Emang aku gudang uang. Sono, cari aja di bank," Berlian menutup panggilan.
"Enak aja, giliran susah inget aku," gerutu Berlian.
Berlian bersiap untuk pergi, sesuai agenda yang disiapkan Maura.
"Asisten Maura, mari berangkat sekarang," gurau Berlian.
"Iiissss," desis Maura dengan bibir mencebik. Panggilan asisten terdengar aneh di telinga nya.
Sampai di lobi, ada kericuhan.
"Kita lewat sana aja," Berlian menghindari, toh sudah ada satuan pengamanan yang dipekerjakan oleh perusahaan Wijaya.
"Nyonya.... Nyonya ... Nyonya Berlian," suara yang tak asing itu mampu membuat Berlian menoleh.
'Hadech, cangcorang lagi,' batin Berlian.
Berlian menahan satpam untuk menangkap Arya.
"Please, aku butuh banget bantuan kamu," Arya hendak memegang tangan tapi segera ditepis oleh Berlian.
"Aku tak bisa," tolak Berlian.
"Sayang, please. Hanya kamu yang bisa menolongku," rayu Arya. Maura memutar bola matanya malas. Tidak suami, tidak istri baru nya semua suka main drama.
Berlian masih ingat, Arya akan merayunya dengan segala macam cara agar Berlian membantunya. Seperti halnya saat menjadi suami istri. Hal seperti ini lumrah dilakukan oleh Arya.
Tapi tidak sekarang. Berlian tak akan luluh.
"Tuan Arya yang terhormat, aku tak bisa," pertegas Berlian.
"Kenapa?" reaksi Arya.
Berlian tak bereaksi.
"Apa karena tuan Dom? Asal kamu tahu, perusahaan ku seperti ini karena ulahnya," jelas Arya.
"Apa kamu mengusiknya? Tuan Dom tak akan melakukan semua itu, kalau tak diusik duluan," sanggah Berlian.
"Cih, dari cara kamu membela dia, aku tahu kamu ada hubungan dengan dia kan?" tuduh Arya.
"Kalau memang aku ada hubungan dengan tuan Dom? Kenapa? Kamu nggak terima? Toh statusku jelas dan aku bukan pelakor," jelas Berlian.
Arya kesal.
"Aku tunggu bantuan kamu," ucap Arya seraya menjauh.
"Maksa banget nih orang," gerutu Maura. Berlian tertawa.
"Kita jadi berangkat nggak nih?" ajak Berlian.
"Tentu," Berlian dan Maura berjalan beriringan.
Ponsel Berlian kembali berdering.
"Siapa?" Maura ikut geregetan setelah kejadian tadi.
"Nyonya cangcorang," bilang Berlian tertawa geli. Menyebut Intan dengan sebutan cangcorang lucu juga.
"Nggak usah diangkat, kita telat ntar," larang Maura.
"Baik, assisten Maura," Berlian ngikut apa kata Maura.
"Oke nyonya bos, mobil sudah menunggu di depan lobi. Let's go!" ajak Maura.
Tring
Pesan masuk ke ponsel Berlian.
"Cangcorang?" tanya Maura
"Bukannya kepo, apa pesannya?" lanjut Maura.
Berlian tertawa. Nanya isi pesan masuk kalau bukan kepo apa namanya. Maura oh Maura.
"Come on, kita berangkat," Berlian masuk ke mobil.
Berlian membuka pesan yang dikirim oleh Intan barusan.
"Kak, help me. Aku butuh banget suntikan dana nih. Kartu kredit ku diblokir sama mantan suami kakak," ketik Intan dalam pesan.
"Emang aku perbankan apa" gumam Berlian kesal.
"Apa kakak nggak kasihan calon keponakan. Dia ingin beli tas, beli baju, beli sepatu keluaran terbaru. Plisss kakak!" pesan Intan dengan gaya rayuan.
Berlian memblokir kontak Intan.
'Apa ini semua ada hubungannya dengan yang aku sampaikan semalam ke tuan Dom. Dan tuan Dom bertindak,' batin Berlian bermonolog.
"Kita sampai," beritahu Maura.
Setelah merapikan riasan, Berlian turun dengan elegan.
.
,
Malam Kamis setelah Rabu#Waktu berjalan tanpa henti
Jikalau hatimu galau, lanjutkan baca novel ini.