NovelToon NovelToon
Ditempat Dimana Salju Berhenti

Ditempat Dimana Salju Berhenti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Yuh! No!

Sinopsis


Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.


Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.


Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.


Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Harga dari Bertahan

(POV: Alice)

Aku tahu ada sesuatu yang salah begitu Noah pulang lebih awal.

Dia jarang pulang sebelum senja. Dan hampir tidak pernah membawa keheningan bersamanya.

Tapi hari itu, dia masuk ke villa tanpa sepatah kata. Meletakkan jaket. Melepaskan sepatu.

Duduk di kursi dekat meja makan seolah kakinya tiba-tiba kehilangan tenaga.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

Dia menatapku. Lama. Terlalu lama.

“Mereka mulai bergerak,” katanya.

Aku menelan ludah. “Siapa?”

“Keluargamu.”

Tidak ada kejutan di sana. Hanya rasa bersalah yang akhirnya menemukan bentuknya.

“Mereka mengancam bengkelmu?” tanyaku pelan.

Dia tidak menjawab. Itu sudah cukup.

Aku duduk di hadapannya.

“Aku tidak ingin kau kehilangan hidupmu karena aku,” kataku.

“Kau tidak mengambil apa pun dariku,” jawabnya cepat. Terlalu cepat. “Mereka yang mencoba.”

“Tapi aku penyebabnya.”

Noah menghela napas panjang, lalu berdiri. Dia berjalan mondar-mandir, seperti singa di kandang yang terlalu kecil.

“Alice,” katanya akhirnya, “aku perlu tahu satu hal.”

Aku menatapnya.

“Jika ini menjadi lebih buruk—jika mereka benar-benar menarikmu kembali—kau akan melawan sampai sejauh apa?”

Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada ancaman mana pun.

Aku selalu berkata ingin bebas.

Tapi aku tidak pernah mengukur harga kebebasan itu secara nyata.

“Aku…” suaraku goyah. “Aku tidak tahu.”

Keheningan jatuh.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat kekecewaan di wajah Noah.

Bukan marah.

Takut.

(POV: Noah)

Sore itu, kepala polisi datang lagi.

Kali ini tidak ke bengkel.

Ke villa.

Aku berdiri di beranda, menghadapi dia dan dua petugas lain.

“Kami menerima laporan,” katanya. “Tentang penghuni tidak terdaftar.”

Alice berdiri di belakangku. Aku bisa merasakan kehadirannya tanpa menoleh.

“Dia tamuku,” kataku.

“Untuk berapa lama?”

“Selama yang dia mau.”

Kepala polisi menatapku lama. Lalu menghela napas.

“Ada tekanan dari luar kota,” katanya pelan.

“Orang-orang berpengaruh.”

Aku tertawa pendek. “Tentu saja.”

“Kami tidak ingin membuat masalah,” lanjutnya.

“Tapi kau tahu bagaimana ini bekerja. Jika ada dokumen hukum, kami harus bertindak.”

Alice melangkah maju.

“Apa yang harus kulakukan agar aku bisa tinggal?” tanyanya.

Kepala polisi menatapnya dengan ekspresi campur aduk—kasihan dan kehati-hatian.

“Buktikan bahwa kau bukan tanggungan,” katanya.

“Pekerjaan tetap. Alamat resmi. Dan—” dia ragu sejenak, “—tidak ada klaim hukum aktif.”

Alice tersenyum pahit.

“Itu hampir mustahil.”

Dia mengangguk. “Aku tahu.”

Mereka pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Villa terasa lebih dingin setelahnya.

(POV: Alice)

Malam itu, aku tidak bisa tidur.

Aku duduk di tepi ranjang tamu, memandangi jendela yang dipenuhi embun. Salju sudah berhenti turun, tapi dinginnya menetap.

Aku memikirkan kontrak itu.

Dokumen yang kutandatangani dua tahun lalu, saat aku masih percaya kata keluarga berarti perlindungan.

Aku tidak pernah benar-benar membaca setiap pasalnya.

Aku bodoh.

Aku bangkit dan berjalan ke ruang tamu. Noah masih terjaga, duduk di sofa dengan map tua di tangannya—dokumen villa, mungkin.

“Aku akan pergi,” kataku.

Dia mendongak tajam. “Apa?”

“Aku akan menemui mereka,” lanjutku cepat, sebelum keberanianku hilang. “Aku akan berbicara langsung. Mencari celah. Menunda.”

“Dan jika mereka tidak menunda?” suaranya keras.

“Aku akan kembali.”

Itu kebohongan.

Kami berdua tahu itu.

Noah berdiri. Jarak kami hanya satu langkah.

“Kau pikir aku marah karena kau ingin pergi?” tanyanya rendah. “Aku marah karena kau berpikir kau harus mengorbankan dirimu sendirian.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Aku tidak tahu cara lain,” bisikku.

Noah menghela napas, lalu mengusap wajahnya.

“Aku tidak bisa menghentikanmu,” katanya. “Dan aku tidak berhak.”

Dia menatapku, matanya gelap.

“Tapi jika kau pergi, lakukan dengan jujur.”

Aku menelan ludah. “Apa maksudmu?”

“Jangan bilang kau akan kembali jika kau sendiri tidak percaya.”

Kejujuran itu menyakitkan.

Aku mengangguk pelan.

(POV: Noah)

Kami berdiri di depan pintu villa keesokan paginya.

Alice membawa tas kecil. Terlalu kecil untuk seseorang yang mungkin tidak akan kembali.

Angin pagi menusuk, membawa aroma salju dan kayu basah.

“Kau tidak perlu mengantarku,” katanya.

“Aku tahu.”

Tapi aku tetap berdiri di sana.

Alice menatapku lama. Seolah mencoba menghafalku.

“Aku tidak menyesal datang ke sini,” katanya.

Aku menelan ludah. “Bagus.”

“Dan aku tidak menyesal bertemu denganmu.”

Itu lebih dari yang bisa kutanggung.

Aku mengangguk.

“Jika suatu hari aku kembali,” katanya pelan, “aku ingin—”

“Alice,” potongku.

Dia terdiam.

“Jangan jadikan aku alasan,” kataku. “Jadilah alasanmu sendiri.”

Matanya berkaca-kaca. Dia mendekat, ragu sejenak, lalu memelukku.

Singkat. Kuat. Nyata.

Lalu dia pergi.

Aku berdiri lama setelah truk yang menjemputnya menghilang di tikungan.

Musim dingin mulai berakhir.

Tapi dingin yang tertinggal di dadaku tidak mengikuti musim.

(POV: Alice)

Saat Norden menghilang dari pandanganku, aku akhirnya mengerti.

Bertahan tidak selalu berarti tinggal.

Kadang itu berarti pergi dengan mata terbuka.

Dan menerima bahwa tidak semua rumah bisa kau pertahankan—

tanpa kehilangan dirimu sendiri.

(POV: Alice)

Gedung itu tidak berubah.

Dinding kaca tinggi, lantai marmer mengilap, udara yang selalu terlalu bersih—seolah tidak ada manusia yang benar-benar tinggal di dalamnya.

Semuanya steril. Terkontrol. Sama seperti hidup yang ingin mereka kembalikan padaku.

Aku berdiri di lobi dengan mantel hitam yang kupinjam dari seseorang yang tidak ingin kutemui lagi. Rambutku kusanggul rapi. Wajahku tenang.

Topengku kembali terpasang dengan sempurna.

“Miss Blackwood,” sapa resepsionis dengan senyum profesional. “Mereka sudah menunggu.”

Tentu saja.

Aku berjalan melewati lorong panjang menuju ruang rapat keluarga. Setiap langkah terasa seperti kembali memasuki sel yang dulu kupikir nyaman.

Pintu dibuka.

Ayah duduk di ujung meja. Tegak. Rapi. Dingin.

Di sebelahnya, Victor Lang—pria dengan suara telepon itu. Pengacara keluarga. Algojo berjas.

Dan di kursi paling dekat jendela, tunanganku.

Dia berdiri ketika melihatku.

“Alice,” katanya lembut, seolah aku baru pulang dari liburan singkat.

Aku tidak menjawab.

Aku duduk.

“Terima kasih sudah datang dengan kemauan sendiri,” kata ayah.

Aku tersenyum tipis. “Aku datang untuk mengakhiri ini.”

Keheningan jatuh.

Victor menyilangkan tangan. Tunanganku—Leon—menegang.

“Maksudmu?” tanya ayah.

“Aku ingin kontrak itu dibatalkan,” kataku jelas. “Aku ingin hidupku kembali.”

Leon tertawa kecil. “Alice, jangan dramatis. Kita bisa membicarakan ini—”

“Tidak,” potongku. “Kau tidak pernah membicarakan apa pun denganku. Kau hanya mengumumkan.”

Ayah mengetuk meja pelan.

“Kau menandatangani kontrak itu dengan sadar,” katanya. “Kau tahu konsekuensinya.”

“Tidak,” jawabku. “Aku tahu ketakutanku saat itu. Dan kau memanfaatkannya.”

Wajah ayah mengeras.

Victor membuka map. “Secara hukum, perjanjian ini sah. Namun,” dia melirik ayah, “ada klausul pembatalan jika salah satu pihak terbukti berada dalam tekanan psikologis ekstrem saat penandatanganan.”

Aku menahan napas.

Ayah menatap Victor tajam.

“Kau mengakui itu?” tanyaku.

Victor tidak menjawab. Tapi diamnya cukup.

“Kau menghilang,” kata ayah. “Membuat skandal. Membawa nama keluarga ke kota kumuh.”

“Dan di sana,” kataku pelan, “untuk pertama kalinya aku bisa bernapas.”

Leon berdiri. “Aku memberimu segalanya.”

“Kau memberiku kandang,” jawabku.

Keheningan kembali.

Aku berdiri.

“Aku tidak meminta izin,” kataku. “Aku memberi tahu. Aku akan bekerja. Aku akan hidup dengan namaku sendiri. Jika itu berarti aku tidak lagi menjadi bagian dari keluarga ini—”

Ayah berdiri juga.

“Kau tetap anakku,” katanya.

Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, tanpa harapan.

“Tidak jika kebebasan harus selalu dibayar dengan kepatuhan.”

Aku berbalik dan berjalan keluar.

Tanpa menoleh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!