Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Wakasa tiba di kantor petualang saat suasana masih cukup ramai. Begitu melangkah masuk, ia langsung melihat Sakura di balik meja.
“Pagi, Sakura-san,” sapa Wakasa santai.
Sakura menoleh, lalu tersenyum hangat.
“Selamat pagi, Wakasa-kun.”
Ia memperhatikannya sejenak, lalu alisnya sedikit berkerut.
“Eh… kamu mau ambil misi hari ini?”
“Padahal kemarin kamu baru saja pergi mengalahkan monster itu.”
Nada suaranya jelas mengandung kekhawatiran.
“Jangan paksakan dirimu, loh.”
Wakasa tertawa ringan, mengibaskan tangannya.
“Hahaha, aku baik-baik aja kok.”
Beberapa detik berlalu, suasana jadi agak canggung. Sakura menggenggam ujung bajunya, terlihat ragu, lalu akhirnya membuka mulut.
“Anu… Wakasa-kun,” katanya pelan.
“Apa… kamu ada waktu akhir pekan?”
Wakasa memiringkan kepala.
“Akhir pekan?”
Ia berpikir sebentar.
“Gak terlalu sibuk sih. Ada apa emangnya?”
Sakura menarik napas kecil, wajahnya memerah samar.
“Aku… libur pekan depan.”
Ia menunduk sedikit.
“…Apa kamu mau pergi berdua denganku?”
Wakasa terdiam sejenak, lalu tersenyum santai.
“Eh, cuma itu aja?”
“Baiklah.”
Sakura langsung tersenyum manis, wajahnya makin merah, lalu menunduk lebih dalam.
“…Terima kasih, Wakasa-kun.”
Tak lama kemudian, Diana dan Starla datang menghampiri meja.
“Yoh, selamat pagi kalian berdua,” sapa Diana dengan santai.
“Selamat pagi, Wakasa-kun. Sakura-san,” tambah Starla dengan senyum kecil.
“Selamat pagi,” jawab Wakasa.
“Selamat pagi juga kalian berdua,” balas Sakura ramah.
Wakasa lalu menoleh ke Sakura.
“Ngomong-ngomong, Sakura-san, ada misi hari ini?”
Sakura mengangguk pelan.
Sakura membuka papan misi, matanya berhenti di satu lembar yang tertempel paling atas.
“Hari ini… cuma ada satu misi yang cocok buat kalian.”
“Cuma satu?” Diana memiringkan kepala.
“Tumben.”
Sakura mengangguk pelan.
“Misi pengawalan.”
Starla sedikit terkejut.
“Pengawalan pedagang?”
“Bukan pedagang biasa.”
Nada suara Sakura berubah lebih serius.
“Dia salah satu pedagang paling terkenal di kota. Jalur distribusinya menyentuh banyak wilayah, termasuk desa-desa terpencil.”
Wakasa menyilangkan tangan.
“Kalau sampai minta pengawalan petualang… berarti ada masalah.”
“Iya.”
Sakura menatap mereka bergantian.
“Beberapa waktu terakhir, jalur dagangnya sering diganggu. Bukan cuma monster—tapi juga manusia.”
Diana menyeringai tipis.
“Heh… berarti ini bukan sekadar ngusir binatang liar.”
Starla menatap kertas misi itu lebih lama.
“Kalau pedagang itu kenapa-kenapa… dampaknya bisa kemana-mana ya.”
Wakasa mengangguk pelan.
“Misi kayak gini justru berbahaya karena kelihatannya sederhana.”
Sakura tersenyum kecil, tapi matanya serius.
“Itu sebabnya aku ingin kalian yang mengambilnya.”
Diana menoleh ke Wakasa.
“Gimana, pemimpin? Kita terima?”
Wakasa tersenyum tipis.
“Pedagang terkenal, jalur berbahaya, dan ancaman yang belum jelas…”
Ia melirik Starla dan Diana.
“Kedengarannya menarik.”
Starla mengangguk pelan.
“Aku setuju.”
“Kalau begitu,” Diana mengepalkan tangan kecil,
“kita pastikan dia sampai tujuan tanpa goresan sedikit pun.”
Sakura mengambil stempel.
“Misi diserahkan pada kalian. Semoga selamat.”
Setelah misi resmi diserahkan, tak lama kemudian, pintu depan terbuka.
Seorang pria masuk dengan langkah percaya diri. Usianya tidak terlalu tua, rambutnya tersisir rapi, pakaiannya mahal tapi tidak berlebihan. Yang paling mencolok—cincin dan gelang berkilau hampir memenuhi kedua tangannya.
Ia menatap mereka bertiga, lalu tersenyum lebar.
“Namaku Albert,” katanya dengan suara ramah.
“Jadi… kalian yang akan mengawal ku?”
Wakasa melangkah sedikit ke depan.
“Eem, kau benar. Kami yang akan mengawal mu.”
Albert tampak menarik napas lega.
“Kalau begitu—”
Belum sempat Wakasa melanjutkan, pria itu tiba-tiba berseri-seri.
“Syukurlah!” katanya dengan nada berlebihan.
Ia langsung menggenggam tangan Wakasa dan mengayunkannya naik turun tanpa ragu.
“Aku sangat senang kalian yang akan mengawal ku. Rasanya beban di dadaku langsung hilang. Sekarang aku tidak perlu cemas lagi!”
Wakasa sempat terkejut, tapi hanya tertawa kecil, membiarkan tangannya ditarik-tarik.
Diana mengangkat alis, setengah heran setengah geli.
Starla menutup mulutnya, menahan senyum melihat reaksi itu.
Albert masih menggenggam tangan Wakasa dengan wajah puas, seolah baru saja mendapat jaminan hidupnya sendiri.
“Aku sangat senang kalau kalian yang akan mengawalku,” ujar Albert dengan senyum lebar.
“Siapa sangka petualang terkenal akan mengawalku.”
“Eeeh—tidak, tidak, tidak. Kami tidak seterkenal itu,” jawab Wakasa sambil mengibaskan tangan, sedikit malu.
“Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang,” kata Albert tanpa ragu.
Mereka bertiga pun pamit pada Sakura sebelum keluar dari kantor petualang.
Di luar, Wakasa berjalan berdampingan dengan Albert.
“Ngomong-ngomong,” Wakasa membuka percakapan,
“apa yang membuat Anda sampai perlu pengawalan?”
Albert tertawa kecil.
“Kau tahu sendiri, banyak perampok yang mengincar perhiasanku. Aku sudah beberapa kali meminta pengawalan petualang, tapi banyak yang menolak.”
Wakasa hanya menarik napas pelan.
Tak heran—dengan perhiasan sebanyak itu, siapa pun pasti jadi target empuk.
Sesampainya di alun-alun kota, dua kereta kuda sudah menunggu.
“Kalian berdua naik kereta yang belakang,” kata Wakasa menoleh ke Starla dan Diana.
“Aku akan di kereta satunya bersama Tuan Albert.”
“Baik,” jawab Starla.
“Iya,” sambung Diana singkat.
Mereka pun naik ke kereta masing-masing.
Tak lama kemudian, roda-roda kereta mulai bergerak, perlahan meninggalkan ibu kota kerajaan.
Di perjalanan, suasana di dalam kereta kuda cukup tenang.
Derak roda dan langkah kuda jadi satu-satunya suara yang terdengar.
Wakasa memecah keheningan.
“Ngomong-ngomong, kira-kira berapa lama kita akan sampai di kota Anda?”
“Sekitar dua hari lagi,” jawab Albert santai.
“Kalau boleh tahu,” lanjut Wakasa,
“kota Anda namanya apa? Dan seperti apa kota itu?”
Albert tersenyum bangga.
“Bisa dibilang kota kami adalah surganya para pedagang.”
Ia mulai bercerita dengan semangat.
“Di sana dijual berbagai alat sihir, ramuan langka, buku-buku sihir kuno, dan bahkan… perhiasan yang sangat langka.”
Wakasa terdiam sesaat.
Kata terakhir itu langsung menarik perhatiannya.
Perhiasan langka…
Rasa penasaran muncul tanpa bisa ditahan.
Seperti apa perhiasan yang dimaksud Albert?
Tanpa sadar, Wakasa menatap ke depan,
tak sabar menunggu dua hari perjalanan itu berakhir.
Kereta kuda di belakang berguncang pelan mengikuti jalan berbatu.
Starla duduk di dekat jendela, pandangannya sesekali melirik ke depan, ke arah kereta Wakasa.
Diana menyadarinya dan langsung menyeringai.
“Kenapa?” katanya santai.
“Kelihatan banget loh.”
Starla tersentak kecil.
“A-apa?”
Diana menyandarkan punggungnya.
“Biasanya duduk bareng Wakasa-kun,”lanjutnya dengan nada menggoda,
“sekarang malah terpisah. Kurang nyaman ya?”
Starla buru-buru menggeleng.
“B-bukan begitu…”
Tapi pipinya sedikit memerah.
Diana tertawa kecil.
“Tenang aja. Mukamu udah jawab semuanya ko.”
Starla menunduk, jemarinya saling menggenggam.
“…Aku cuma ngerasa aneh aja.”
“Anyaah~” Diana sengaja memanjangkan nada.
“Baru beberapa jam doang, udah kangen.”
Starla tidak membalas, hanya menoleh ke luar jendela.
Namun senyum kecil tak sengaja muncul di bibirnya.
Diana melihat itu dan tersenyum puas.
“Tenang,” katanya lebih pelan.
“Kereta depan juga masih satu rombongan kok.”
Starla menatap jalanan yang terus bergulir di balik jendela kereta.
Angin sore menyapu rambutnya, tapi pikirannya jauh lebih ribut dari itu.
Kenapa aku jadi begini…
Padahal hanya terpisah satu kereta.
Bukan pertama kalinya Wakasa-kun pergi sendiri.
Bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.
Tapi dadanya terasa sedikit kosong.
Dia di depan… bersama orang lain.
Bukan cemburu.
Setidaknya, itu yang ingin ia yakini.
Namun bayangan Wakasa yang tersenyum santai, cara bicaranya yang tenang, dan bagaimana ia selalu berdiri di depan saat bahaya datang—semuanya muncul begitu saja di kepalanya.
Kalau aku ada di sana…
aku pasti duduk di sebelahnya sekarang.
Starla menghela napas pelan, menempelkan dahinya ke jendela.
Aneh ya…
Sejak kapan aku mulai merasa tenang cuma karena dia ada di dekatku?
Kereta terus berjalan.
Dan tanpa Starla sadari—
Perasaan itu, perlahan, mulai berubah menjadi sesuatu yang tak bisa lagi ia abaikan.