Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 : Keponakan
Langkah kaki Wu Lian terdengar berat dan tegas menyusuri selasar panjang menuju Paviliun Utama. Di dalam gendongannya, Qinqin bisa merasakan detak jantung sang Jenderal yang masih tidak beraturan akibat amarah yang tertahan. Meskipun suasana tadi sangat mencekam, ada rasa kemenangan yang manis di lidah Qinqin.
"Mr. Jenderal, turunkan aku. Pelayan-pelayan itu melihat kita," bisik Qinqin sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Wu Lian.
"Biarkan mereka melihat," sahut Wu Lian dingin. "Mereka harus tahu siapa nyonya yang sebenarnya di rumah ini, agar tidak ada lagi yang berani memberikan 'teh kesehatan' sembarangan padamu."
Begitu sampai di Paviliun Utama, Wu Lian meletakkan Qinqin di atas ranjang yang dilapisi sutra lembut. Ia tidak langsung pergi, melainkan berlutut di sisi ranjang, menatap Qinqin dengan tatapan yang sulit diartikan---campuran antara rasa bersalah yang tinggi.
"Aku akan menempatkan pengawal tambahan di depan pintu. Mulai hari ini, setiap makanan yang masuk ke paviliun ini harus diuji oleh Han Luo," ujar Wu Lian tegas.
Qinqin hanya bisa tersenyum simpul. Ia tahu, di balik sikap kaku ini, sang Jenderal Es sudah mulai mencair untuknya. Namun, pikirannya kembali pada satu hal. Jika Nyonya Besar berani meracuniku, maka rencana "penggantian istri" pasti sudah berjalan. Batin Qinqin.
"Memang nya boleh aku berada di Paviliun utama, Suamiku." Qinqin bergelayut manja di tangan Jenderal Wu. Mata nya membulat sempurna seperti anak kecil. "Nanti suami ku yang tampan ini akan dicap sebagai anak durhaka..."
Wu Lian menghela nafas. Menatap istri nya. "Aku, aku, dia sebenar nya itu ---" Lelaki itu tak melanjutkan kalimat nya. Ia kemudian menatap ke langit-langit. "Nanti kau akan tahu sendiri, Qinqin."
"Dan saat itu tiba... Kuharap kau masih mau menjadi istri dariku." ujar lelaki itu. Suara nya parau.
Qinqin melihat tatapan suami nya. Tatapan nanar seakan rindu dengan kasih sayang. Selama ini yang Qinqin perhatikan, Nyonya Wu memang selalu baik pada Jenderal Wu, namun, kebaikan itu terasa janggal. Seperti dibuat-buat dan untuk sekadar formalitas. Jika dia benar menyayangi Wu Lian seperti anak, ibu mertua mana yang akan memutus garis keturunan anak nya sendiri --- yang mana, anak Qinqin itu adalah cucu kandung nya. Lagipula di jaman kuno ini, kehadiran pewaris sangat didambakan. Apalagi, Wu Lian adalah anak satu-satu nya.
"Aku pergi dulu. Jika butuh bantuanku, tinggal panggil saja, aku ada di kamar sebelah." Lontar Wu Lian terdiam lama.
"Ah... Sayang, nanti kau disini saja." Qinqin menarik lengan Wu Lian ketika lelaki itu akan berdirk dari posisi. "Aku ingin kau berada disini, aku merasa lebih aman saat kau disisiku, Suamiku." Lontar Qinqin amat manja.
Wu Lian terdiam. Nampak berpikir sejenak. Bagaimana bisa istri nya memiliki banyak kepribadian. Terkadang nakal, terkadang pendiam, terkadang manja. Sebenarnya Qinqin itu yang mana? Banyak sekali kepribadian nya. Wu lian sampai geleng kepala.
"Suami!" Panggil Qinqin. "Kenapa diam saja? Aku ingin kau seranjang denganku." Lontar nya kemudian.
"Ini masih pagi, Qinqin. Kau ingin kita melakukan adegan 'itu' kah? Apa kau sudah tidak tahan?" Lontar Wu Lian dengan wajah memerah ia tak berani melihat wajah istri nya. Pandang an fokus ke jendela besar berbentuk kotak. "Aku tahu setahun pernikahan kita tak pernah melakukan nya. Apa kau sudah ---"
"Sssstttt... Jenderal Es.... Bukan itu! Maksudku nanti malam, tidurlah disampingku ya..." Qinqin membekap mulut Wu Lian sebelum lelaki itu melontarkan kalimat yang membuat Qinqin malu. Tapi, sejujur nya wanita itu juga tidak masalah jika Jenderal Es nya itu melakukan 'adegan itu' bersama nya. Lagipula mereka kan suami istri. Tapi... Qinqin bukan tipe yang rakus, ia tak akan memaksa suami nya untuk melakukan itu.
Bakal hot banget nih, muka nya aja kaya artis majalah dewasa. Pikir Qinqin.
"Baiklah, nanti malam aku seranjang denganmu. Demi keamanan mu juga!" Ujar lelaki itu. "Kau makan dulu, setiap makanan yang akan kau makan harus dicicipi oleh pelayan khusus agar kasus tadi tidak terulang."
"Aku akan keluar dulu memeriksa kondisi ibu."
Qinqin kali ini tak menghentikan nya.
"Jangan lupa... Nanti malam, Jenderal Es!" Pekik Qinqin keras sekali.
Wu Lian keluar dari Paviliun Utama dengan langkah yang masih sedikit kaku, telinganya masih memerah akibat teriakan "Nanti malam" dari istrinya yang luar biasa berani itu.
Xue yang tengah berdiri di depan pintu kamar itu pun mendengarnya. Ia berniat menghampiri majikan nya itu dan membicarakan langkah selanjut nya. Tapi malah ia tak sengaja menyaksikan pemandangan Jenderal Wu yang baru keluar kamar dan teriakan majikan nya yang sangat berani.
"Hihihi, aku akan punya keponakan." Tawa Xue pelan dengan kepala tertunduk.
Xue masuk ke kamar dengan wajah yang berseri-seri, tangannya membawa nampan berisi bubur hangat yang sudah diperiksa ketat.
"Nona! Anda benar-benar hebat! Jenderal sepertinya sudah benar-benar mencair di tangan Anda," bisik Xue sambil meletakkan nampan. "Hamba sempat melihat wajah Tuan Jenderal memerah seperti kepiting rebus saat keluar tadi."
Qinqin tertawa puas sambil menyandarkan punggungnya pada bantal sutra. "Tentu saja, Xue. Menghadapi pria kaku seperti dia tidak bisa pakai cara kasar. Harus pelan-pelan, manja sedikit, lalu... boom! Dia tidak akan bisa lepas."
Namun, tawa Qinqin terhenti saat ia teringat raut wajah Wu Lian yang sempat parau tadi. 'Nanti kau akan tahu sendiri...' Kalimat itu terus terngiang. Ada rahasia besar yang disembunyikan Wu Lian tentang keluarganya, dan Qinqin yakin itu ada hubungannya dengan Nyonya Tua itu.
"Xue, jangan senang dulu. Wanita tua itu memang sedang tumbang, tapi aku yakin dia sudah menyiapkan hama baru untuk menggantikanku karena... Ibu mertua mana yang ingin menantu nya mandul. Ia pasti berencana merengek meminta pewaris jika aku benar benar mandul karena minum teh itu... Dih males banget," ujar Qinqin serius.
"Awasi pintu gerbang. Beritahu aku jika ada tamu asing yang datang." Ujar Qinqin.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
dan diabaikan🥹