NovelToon NovelToon
Sistem Harapan

Sistem Harapan

Status: tamat
Genre:Menjadi Pengusaha / Anak Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying di Tempat Kerja / Sistem / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Arlan keluar dari mobil. Ia melihat Tegar juga keluar dari mobil belakang dengan wajah siaga. Mereka berjalan masuk ke dalam lobi gedung yang sangat luas.

[Peringatan: Sinyal Jammer Terdeteksi di Lantai 50. Koneksi Isogen-9 Mungkin Akan Terganggu.]

Arlan tersenyum tipis. Ia sudah menduga hal ini.

{Sistem, aktifkan mode offline dan gunakan buffer data lokal untuk merekam segala percakapan mulai detik ini.}

[Mode Offline Aktif. Perekaman Dimulai.]

"Mari kita selesaikan ini, Pak Wijaya," ucap Arlan sambil melangkah masuk ke dalam lift khusus eksekutif.

Pintu lift terbuka di lantai lima puluh, menampilkan sebuah ruang rapat yang sangat luas dengan dinding kaca yang menyajikan pemandangan seluruh kota Singapura. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dari kayu mahoni dikelilingi oleh belasan orang yang menatap kedatangan Arlan dengan tatapan bermusuhan.

"Perkenalkan, ini adalah dewan direksi global. Orang-orang yang memegang kendali atas separuh jalur logistik di Asia," ucap Wijaya sambil berjalan menuju kursi di ujung meja.

Arlan melangkah masuk dengan langkah tegap. Tegar berdiri di dekat pintu lift, tangannya bersiaga di balik jasnya. Arlan meletakkan koper perak itu di atas meja, tepat di hadapan Wijaya.

"Saya tidak datang ke sini untuk berkenalan. Saya datang untuk melakukan pengambilalihan," kata Arlan dengan suara lantang.

Seorang pria bule dengan jas abu-abu berdiri dan memukul meja. "Siapa anak ini? Keamanan! Kenapa dia bisa masuk?"

"Duduklah, Mr. Smith. Dia tamu saya," perintah Wijaya dengan nada tenang namun mengintimidasi.

Wijaya menatap Arlan. "Silakan, Arlan. Tunjukkan pada mereka apa yang kamu bawa. Buat mereka terkesan."

Arlan membuka koper perak itu. Ia mengeluarkan buku harian Hendra Gunawan dan papan sirkuit tua tersebut.

"Benda ini adalah bukti bahwa fondasi perusahaan ini adalah hasil curian. Tapi saya tahu kalian tidak peduli soal moral. Kalian hanya peduli soal uang," ucap Arlan sambil menatap wajah-wajah di sekeliling meja.

"Jadi, mari bicara soal uang. Saat ini, sistem saya sedang memegang kendali atas pintu belakang server kalian yang ditinggalkan oleh tim Pak Wiratama. Jika saya menekan satu tombol, seluruh data manifest kargo ilegal kalian akan terkirim ke Interpol," lanjut Arlan.

"Omong kosong! Sistem keamanan kami adalah yang terbaik di dunia!" bantah seorang wanita paruh baya di sisi kiri meja.

"Benarkah? Coba cek saldo rekening pribadi Anda di Bank Swiss sekarang, Nyonya Lee. Apakah angka terakhirnya berakhiran 789?" tanya Arlan dengan senyum tipis.

Wanita itu segera memeriksa ponselnya. Wajahnya berubah pucat pasi dalam sekejap.

"Ba... bagaimana kamu bisa tahu?" gagap Nyonya Lee.

Ruangan itu mendadak riuh. Ketakutan mulai merayap di wajah para direksi. Mereka menyadari bahwa Arlan tidak sedang menggertak.

"Cukup!" bentak Wijaya. Ruangan kembali hening.

"Kamu punya akses data kami, Arlan. Tapi kamu tidak punya modal untuk membeli kami. Valuasi kami seratus kali lipat dari perusahaan kecilmu," kata Wijaya dengan nada meremehkan.

"Itu valuasi kemarin sore, Pak. Pagi ini, setelah berita penangkapan Wiratama menyebar dan rumor investigasi pajak muncul, saham kalian sudah turun dua puluh persen. Dan akan terus turun setiap jamnya," balas Arlan.

Arlan mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya. Itu adalah surat penawaran akuisisi yang sudah disiapkan oleh Maya.

"Arlan Corp menawarkan pembelian saham mayoritas dengan harga pasar saat ini. Ini adalah tawaran terbaik sebelum harga saham kalian menjadi nol besok pagi," ucap Arlan sambil menyodorkan dokumen itu ke arah Wijaya.

Wijaya menatap dokumen itu, lalu menatap Arlan. Wajah tuanya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

"Kamu benar-benar ingin menghancurkan semua yang sudah saya bangun selama lima puluh tahun?" tanya Wijaya dengan suara yang sedikit bergetar.

"Saya tidak menghancurkannya, Pak. Saya membersihkannya. Saya akan membangun ulang sistem logistik yang adil, di mana tidak ada lagi suap, tidak ada lagi monopoli, dan tidak ada lagi pencurian hak paten," jawab Arlan dengan tegas.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah anggun. Itu adalah wanita yang memberikan koper perak kepada Arlan di hanggar Jakarta.

"Tanda tangani saja, Ayah. Sudah waktunya kita berhenti," ucap wanita itu.

Wijaya menoleh kaget. "Laras? Kamu yang memberikan koper itu padanya?"

"Iya. Aku lelah melihat Ayah hidup dalam ketakutan akan masa lalu. Kembalikan hak keluarga Hendra, dan biarkan Arlan memimpin masa depan," kata Laras sambil berdiri di samping Arlan.

Arlan baru menyadari bahwa Laras adalah putri kandung Wijaya. Pengkhianatan terbesar ternyata datang dari dalam keluarga Wijaya sendiri.

Wijaya menatap putrinya, lalu menatap Arlan. Bahunya merosot turun. Ia mengambil pena emas dari saku jasnya. Tangannya gemetar saat menyentuh kertas dokumen itu.

"Kamu menang, anak muda. Tapi ingat satu hal. Menjadi raja itu sepi. Dan mahkota ini sangat berat," ucap Wijaya sebelum membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen tersebut.

Seketika itu juga, sistem di kepala Arlan memberikan notifikasi dengan warna emas yang menyilaukan.

[Misi Utama Selesai: Penaklukan Raksasa.]

[Status: Arlan Corp Menjadi Pemegang Saham Pengendali Megantara Global.]

[Total Kekayaan Aset: Melonjak ke Angka 5 Triliun Rupiah.]

Arlan menghela napas panjang. Beban berat yang selama ini ia pikul terasa terangkat seketika. Ia melihat para direksi lain mulai menundukkan kepala, tanda menyerah pada kepemimpinan baru.

"Terima kasih, Pak Wijaya. Saya akan menjaga perusahaan ini dengan cara saya sendiri," ucap Arlan sambil mengambil dokumen itu.

Arlan berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Tegar membuka pintu dengan wajah yang berseri-seri.

"Kita berhasil, Mas?" bisik Tegar.

"Kita baru saja memulai, Gar," jawab Arlan.

Namun, saat Arlan melangkah keluar dari ruangan, pandangannya mendadak kabur. Kepalanya terasa sangat sakit seperti ditusuk ribuan jarum. Kakinya lemas dan ia hampir terjatuh jika Tegar tidak segera menopang tubuhnya.

[Peringatan Kritis: Beban Pemrosesan Isogen-9 Mencapai Batas Toleransi Otak Manusia.]

[Saran: Segera Nonaktifkan Sistem atau Risiko Kerusakan Saraf Permanen.]

"Mas Arlan! Mas Arlan kenapa?" teriak Tegar panik.

"Kepalaku... rasanya mau pecah," rintih Arlan sambil memegangi kepalanya.

Arlan terbangun di sebuah kamar rumah sakit kelas VVIP yang menghadap langsung ke Marina Bay. Cahaya matahari sore yang lembut masuk melalui celah tirai. Maya, Siska, dan Tegar duduk di sofa dekat jendela, wajah mereka tampak tegang namun lega saat melihat Arlan membuka mata.

"Jangan banyak bergerak dulu, Arlan. Dokter bilang kamu mengalami kelelahan otak yang ekstrem," ucap Siska sambil segera menuangkan air minum.

Arlan mencoba duduk, kepalanya masih terasa sedikit pening, namun rasa sakit yang menusuk itu sudah hilang.

"Berapa lama aku pingsan?" tanya Arlan dengan suara serak.

"Dua hari, Mas. Selama dua hari itu, dunia bisnis logistik gempar," jawab Tegar sambil tersenyum lebar.

Maya mendekat dengan membawa tabletnya. "Berita pengambilalihan Megantara Global oleh Arlan Corp menjadi headline di seluruh dunia. Harga saham kita melonjak gila-gilaan setelah kamu mengumumkan transparansi sistem."

"Dan Pak Wijaya?" tanya Arlan.

"Dia sudah resmi pensiun. Laras sekarang membantu kita sebagai penasihat transisi. Dia menyerahkan seluruh bukti paten ayaku secara legal," tambah Siska dengan mata yang berkaca-kaca. "Terima kasih, Arlan. Kamu menepati janjimu."

Arlan tersenyum tipis. Ia melihat ke arah sudut pandangnya. Kotak sistem yang biasanya melayang di sana kini terlihat lebih transparan, hampir pudar.

[Status Sistem: Mode Hemat Energi Aktif.]

[Pesan: Penggunaan Isogen-9 telah dibatasi untuk menjaga kesehatan biologis inang. Anda sekarang harus mengandalkan intuisi dan pengalaman Anda sendiri untuk keputusan sehari-hari.]

Arlan merasakan sebuah kelegaan. Ia tidak ingin menjadi budak sistem selamanya. Ia ingin menjadi Arlan yang hebat karena kemampuannya sendiri, bukan hanya karena bantuan AI.

"Jadi, apa rencana kita selanjutnya, Bos Besar?" tanya Maya dengan nada bercanda.

"Kita pulang," jawab Arlan mantap. "Ibu pasti sudah menunggu di desa. Aku ingin makan sayur lodeh buatan Ibu."

Seminggu kemudian, Arlan berdiri di depan toko kain besar di pusat kecamatan desanya. Papan nama "Toko Kain Bu Dirgantara" terpampang megah di atasnya. Ibunya sedang sibuk melayani pembeli dengan senyum yang sangat bahagia.

Arlan melihat dari kejauhan, bersandar pada mobil sedannya yang sederhana. Ia tidak membawa mobil mewah atau pengawal berlebihan. Ia hanya mengenakan kemeja putih dan celana bahan, sama seperti saat ia pertama kali melamar kerja.

"Mas Arlan, ada telepon dari kantor pusat. Mereka menanyakan soal ekspansi ke Eropa," ucap Tegar yang kini menjabat sebagai Kepala Keamanan Korporat.

Arlan mematikan ponselnya dan memasukkannya ke saku.

"Biarkan Maya dan Siska yang menanganinya dulu. Hari ini aku cuma mau jadi anak Ibu," kata Arlan.

Arlan berjalan mendekati toko. Ibunya menoleh dan langsung berlari memeluknya.

"Lan! Kamu kurusan, Nak. Kerja terus sih," omel Ibu sambil mencubit pipi Arlan, tidak peduli bahwa anaknya adalah salah satu orang terkaya di Asia saat ini.

"Arlan sehat kok, Bu. Arlan cuma kangen rumah," jawab Arlan sambil memeluk ibunya erat.

Di kejauhan, matahari mulai terbenam di balik bukit, menyinari desa yang kini mulai hidup kembali berkat jalur logistik yang dibangun Arlan. Ia melihat truk-truk Arlan Corp berlalu-lalang membawa hasil bumi petani dengan harga yang adil.

Arlan menyadari bahwa kekayaan sejati bukanlah angka triliunan di rekening bank, melainkan kemampuan untuk mengubah hidup orang banyak menjadi lebih baik. Dan sistem di kepalanya, meskipun kini diam, telah mengajarkannya satu hal penting: bahwa data terbaik adalah hati nurani.

"Ayo masuk, Lan. Ibu sudah masak sayur lodeh spesial," ajak Ibu sambil menarik tangannya.

Arlan melangkah masuk ke dalam toko, meninggalkan hiruk pikuk dunia korporat di belakangnya. Untuk saat ini, ia hanyalah Arlan, anak desa yang berhasil memanjat gunung tertinggi dan kembali dengan selamat.

1
Naga Hitam
bagus sekali
Naga Hitam
suka donk
Ahmad Refaldy
sistem apa kok gk guna
Was pray
sistem memperingatkan Arlan tapi bahaya udah di depan mata ya sama juga bohong.... 😄😄
sitanggang
jgn goblok2 kali, udah ada system tapi cupu, anjing🔥
boy
sistem gk guna,udh di tampar,kluar darah,tpi bacot doang,goblok
boy
Arlan pengecut,udh bner tpi masih pengecut,goblok lu Arlan,
Was pray
langkahmu terlalu cepat pingin sukses Arlan, pingin kaya secara instan , sukses instan, ntar kamu jadi mie instan lama lama Arlan, lalui proses dengan sabar, pertajam kemampuan bisnismu , perkuat koneksi bisnismu, baru punya ilmu analisis data secuil udah mendirikan perusahaan ... 🤣🤣🤣
Was pray
terlalu awal Arlan terjun ke dunia bisnis, kerja di megantara grup baru nenapak, asah dulu otak bisnismu dengan menimba ilmu di megantara, setelah kakimu kokoh berdiri baru terjun ke dunia korporat
aldo
up thor 🙏🙏🙏
aldo
lanjut thor 🙏🙏🙏
aldo
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!