Aku mengalami kecelakaan saat menyelamatkan anak dari kakak laki-lakiku. Aku yang saat itu melihat Keponakanku nyaris ditabrak oleh mobil yang melaju kencang di jalanan, refleks mendorong dia menjauh sehingga aku yang ditabrak mobil. Secara samar-samar aku melihat kakak laki-lakiku datang dan meneriakkan namaku. Akan tetapi, pandanganku sudah gelap. 'Apakah aku akan bertemu Papa dan Mama sekarang?'
Begitu membuka mata, aku berada di sebuah tempat yang hanya ada satu cahaya terang tepat di atas kepalaku tetapi di sekelilingku gelap. Sebuah suara mengatakan bahwa aku bisa kembali, asalkan aku harus bisa melaksanakan misi kehidupan dari diriku yang dulu.
Ini kan tubuh Azalea Lorienfield, teman pemeran utama perempuan dalam novel favoriteku yang mati di ending novel! Apakah maksud suara misterius itu aku harus menyelamatkan diriku agar tidak mati seperti dalam novel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea Rhododendron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 : Liburan
...Happy reading^^...
...💮...
Aku melihat langit-langit ruangan tempatku di rawat. Sudah dua hari aku masih dirawat di Rumah Sakit. Padahal aku mulai bosan di sini dan ingin pulang. Tapi Dokter melarang, karena katanya aku harus memulihkan diriku terlebih dahulu. Aku sudah sehat kok!
"Sampai kapan kamu terus-menerus menatap langit-langit itu?" celetuk Kakak Ipar yang masuk ke Ruanganku dengan membawa satu tas tangan yang cukup besar.
Aku menghela nafas karena sudah merasa sesak tinggal di kamar rumah sakit. "Aku bosan, Kak! Kapan aku bisa pulang ke Rumah?"
"Tunggu tubuhmu benar-benar pulih dulu! Lagian salah siapa kamu masuk Rumah Sakit, hah?!" seru Kakak Ipar sambil berkacak pinggang.
Aku semakin cemberut mendengarnya. "Itu salahku," Kakak Ipar tersenyum kemudian mengelus rambutku dengan lembut.
"Tapi aku bosan, Kakak Ipar!"
"Nih!" Kakak Ipar menyodorkan beberapa buku di depanku.
Eh? Ini kan novel-novel favorite yang sering kubaca di rumah? "Kakak beneran bawa novelku dari rumah? Makasih, Kakak Iparku tercinta!" ucapku dengan ceria dan bahagia. Kakak Ipar tertawa mendengarnya.
"Lagian Kakak tahu kamu dari kemarin itu bosen, ya walau ada ponsel buat kamu mainin. Tapi tetap aja bosen. Jadi Kakak ambil aja novel-novel belian kamu di Apartemen kamu. Lagian semua yang kenal kamu tahu kalau kamu itu maniak novel." jelas Kakak Ipar dengan diakhiri oleh sindiran kecil.
"Hehehe," aku hanya terkekeh merespon ucapan Kakak Ipar. Aku mulai fokus pada novel-novelku.
"Harusnya kamu itu maniak baca buku pelajaran, bukannya maniak novel kek begini?" aku menoleh pada Kakak Iparku yang duduk di samping kasurku dan fokus pada ponselnya.
"Ih! Aku itu suka juga kok baca buku pelajaran dan lumayan pinter. Tapi seperti kata Kakak Ipar, aku memang maniak baca novel!" jawabku dengan percaya diri. Dapat aku dengar Kakak Ipar berdecih membuatku terkekeh.
"Apalagi ini nih! Ini novel paling aku sukai jalan ceritanya! Judulnya adalah Kekasihku adalah Nona yang Kulayani. Di mana tokoh Female Lad di cerita ini adalah pembaca novel yang merasuki salah satu pelayan Male Lead yang menyamar jadi perempuan. Pokoknya seru banget deh! Gimana ya rasanya kalau aku merasuki salah satu tokoh dalam novel yang kubaca? Tokoh extra aja gak papa kok,"
"Aduh!"
Aku meringis sakit kepala bagian bagian kiriku berdenyut. Aku menatap Kakak Iparku yang menggelengkan kepalanya.
"Jangan halu kamu Aleya! Hadeh! Mana ada yang begitu tahu!"
Aku mengelus bagian kepalaku yang dipukul Kakak Ipar dengan tangan kosong. Seperti Kakak Ipar tidak memukulku dengan keras, tapi tetap saja masih terasa sakit.
"Iya iya! Tapi gak usah mukul kepala juga dong! Kakak Ipar kek gak tahu aja gimana maniak novel lagi mengkhayal."
"Lagian khayalanmu itu ketinggian!" seru sambil mengelus bagian kepalaku yang dia pukul sejenak, kemudian kembali ke aktifitas yang fokus pada ponselnya.
Aku pun juga fokus pada bacaan novelku, kepalaku juga tidak sakit lagi.
"Keponakanku gak jenguk aku, Kakak Ipar?" tanyaku tanpa menoleh dari bacaan novelku.
"Dia masih sekolah, sayangku. Dan kamu tahu sendiri, kan kalau Keponakanmu itu takut sama Rumah Sakit? Dia bilang gak mau ke Rumah Sakit sekali pun kamu lagi dirawat di sini," jelas Kakak Ipar.
Aku seketika menghentikan bacaanku dan menatap ke arah Kakak Ipar. "Tega banget tu Keponakan!" seruku tidak terima. Kakak Ipar pun menoleh padaku sambil tertawa.
"Lagian besok juga kamu boleh pulang kata Dokter, sekalian lusa kita jalan-jalan bareng gimana? Kata Kakakmu kita jalan-jalan biar kamu gak stress mulu. Kakakmu dan Keponakanmu juga libur karena Lusa hari minggu,"
"Wah! Beneran aku sudah pulang besok?" Kakak Ipar menganggukkan kepala.
"Asyik! Gak sabar buat lusa, biar bisa liburan bareng!" Kakak Ipar tersenyum.
...💮...
Akhirnya sampailah pada hari liburan bareng.
Untuk sementara ini, aku tinggal bareng Kak Diro dan Kakak Ipar. Selain mengawasiku yang baru keluar dari Rumah Sakit, kami bisa langsung berangkat bareng pas hari liburan.
"Kita mau liburan ke mana, Kak Diro?" tanyaku yang duduk di bangku belakang mobil bareng Keponakan yang sibuk sama game-nya.
"Kita ke Taman Kota aja gimana?"
"Setuju!"
Setelah beberapa lama, kami akhirnya sampai ke Taman Kota yang dimaksud. Di sini suasananya masih adem karena banyak pepohonan yang rindang. Terus ada Taman bermain buat anak-anak dan lapangan khusus basket dan bola. Pokoknya di sini lengkap buat refreshing.
Mobil kami akhirnya berhenti di dekat rerumputan. Rencananya kami pengen piknik dulu menikmati makanan yang Kakak Ipar siapkan dibantu diriku.
Setelah selesai piknik, kami jalan-jalan di sekitar Taman.
Di tengah acara jalan-jalan, Keponakanku tiba-tiba merengek ingin pergi ke Taman bermain anak-anak.
"Mama! Mama! Aku mau main ke sana Mama!" rengek Keponakanku pada Kakak Ipar.
"Loh, katanya kamu sudah besar? Kok malah mau main ke sana, sih?" ejek Kak Diro pada anaknya. Dapat kulihat Keponakanku itu cemberut pada Kak Diro.
Ya, keponakanku ini umurnya masih tujuh tahun tapi suka berlagak seperti orang dewasa.
Aku menyikut Kak Diro. "Biarin aja sih Kak!" belaku. Pembelaanku membuat dia memasang wajah bahagia.
"Iya ya, Mama!"
"Iya, iya!"
"Yeayyy!"
"Ya sudah, aku sama anak ini mau ke sana dulu. Kalian keliling aja dulu di Taman ini. Nanti kalau sudah selesai, nyusulin aja ke Taman takutnya aku sama ni bocah gak inget waktu."
"Oke!" aku menjawab Kakak Ipar.
Lalu keduanya pergi ke arah Taman bermain anak-anak.
Kami akhirnya berjalan menyusuri taman dalam keheningan.
"Gimana perasaanmu sekarang?" tanya Kak Diro mengusir kesunyian di antara kami.
"Baik, seger dan udah enakan? Pokoknya ya perasaanku baik-baik aja sekarang."
"Syukur deh," kata Kak Diro sambil tersenyum. "Maaf ya, Kakak jarang merhatiin kamu karena semua fokus Kakak terpecahkan. Dimulai dari ngurus Kakak Iparmu, anak sampai kerjaan di Kantor. Bahkan sampe Papa dan Mama meninggal,"
Aku tersenyum mendengarnya. Tanganku melingkari tangan Kak Diro. "Gapapa kok kak, lagian aku juga baik-baik aja sekarang. Mungkin aku memang stress beberapa hari yang lalu, itu juga karena aku syok berat Ayah dan Ibu meninggal. Lebih lagi, aku juga dapat tuduhan dari Kantor yang buat aku dipecat..."
"Kamu dipecat!? Kok gak bilang sama Kakak?!"
Aku menghembuskan nafas. "Aku emang gak mau cerita. Aku juga gak cerita sama Papa dan Mama kalau Kakak mau tahu. Tapi sekarang masalahnya udah selesai dan aku terbukti gak bersalah. Para petinggi meminta aku bekerja kembali, tapi aku meminta waktu buat berpikir ulang dulu."
"Ya udah gapapa, pikirkan ulang aja. Kalau kamu udah gak mau kerja di kantor itu lagi. Nanti Kakak akan buka usaha buatmu seperti Kakak Iparmu," aku tersenyum mendengarnya, beruntung sekali aku mendapatkan Kakak yang selalu mendukungku seperti Kak Diro.
"Makasih Kak!"
"Oh, ya. Gimana hubunganmu sama pacarmu? Lancar, kan? Kok dari kemarin dia gak jenguk kamu? Bahkan kakak gak lihat kamu komunikasi sama dia?"
Aku secara spontan berhenti berjalan membuat Kak Diro heran dan ikutan berhenti.
"Kenapa? Hubunganmu sama pacarmu baik-baik aja, kan?" dapat kulihat Kak Diro menaikkan satu alisnya bingung.
Aku tanpa sadar meneguk ludah sebelum menjawab. "Kami putus bersamaan dengan aku dipecat," aku bisa lihat wajah syok Kak Diro.
"Kok bisa?!"
"Ya bisa lah," aku melepas lengan Kak Diro karena merasakan kemarahannya.
"Apa si brengsek itu selingkuh?"
Aku menggelengkan kepalaku sekali. "Bukan,"
"Lalu? Dia dijodohkan seperti mantanku dulu?"
Aku juga menggelengkan kepalaku. "Bukan juga, Tante justru marah padanya karena memutuskanku. Karena aku dekat banget sama keluarganya,"
"Lalu apa? Kenapa dia memutuskanmu, Alea?"
"Alasannya sih bosan,"
"Brengsek! Kurang ajar! Dia pikir kamu mainan apa yang bisa dijauhin setelah bosan? Lihat aja kalau ketemu, kubuat dia masuk Rumah Sakit!" aku tertawa melihat respon Kak Diro.
"Udah kak, lagian aku biasa aja kok sekarang. Ya waktu diputusin lewat telpon sih aku sakit hati. Tapi sekarang udah biasa aja, lagian aku gak rugi apa-apa kok. Waktu pacaran aja aku sama dia gak macam-macam selain pegangan tangan sama pelukan sebentar. Dan sekarang aku mau fokus sama diriku sendiri!" Kak Diro diam tidak menjawab apa pun.
"Ya udah, ayo kita jalan-jalan lagi keliling Taman. Terus kita nyusul Kakak Ipar sama Keponakan di Taman bermain anak-anak."
Aku memeluk lengan Kak Diro dan menarik laki-laki itu untuk kembali berjalan menyusuri Taman.
...💮...
...Bersambung....
...Thanks For Reading My Story^^...
...Dipublikasikan pada tanggal 21 Januari 2026....