Ini Novel Wuxia!
Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.
Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!
Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.
Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.
Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Puluhan mayat hidup itu tiba-tiba menerjang. Yue Niang segera memainkan kecapinya, menciptakan gelombang suara yang menghancurkan syaraf penggerak mayat-mayat tersebut.
Han Xiang bergerak dengan lincah, melemparkan bubuk pemusnah mayat.
Sementara itu, Liang Shan fokus pada Gui Mo. Ia menghunus goloknya, namun kali ini ada warna emas yang bercampur dengan aura hitamnya, hasil dari latihan singkat teknik Sembilan Matahari.
Liang Shan melompat tinggi. Goloknya memancarkan panas yang luar biasa, kontras dengan hawa dingin racunnya.
Benturan dua energi yang berlawanan ini menciptakan ledakan tekanan udara yang sangat dahsyat.
Gui Mo terkejut. Ia melepaskan Pukulan Hantu Beracun, namun serangannya hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan hawa sakti Liang Shan.
BOMM!!!
Gui Mo terlempar menghantam dinding batu hingga hancur. Ia memuntahkan darah hitam.
"Bagaimana mungkin kau bisa menggabungkan hawa panas dan dingin?"
Liang Shan mendarat tepat di depan Gui Mo. "Karena dendamku lebih panas dari api, dan hatiku lebih dingin dari es makam keluargaku."
Tanpa ampun, Liang Shan mengayunkan goloknya. Satu kepala lagi jatuh. Nama pertama dari lima pendekar bayaran itu telah dihapus dari daftar.
Kematian Gui Mo dalam sekejap menjadi berita besar. Para informan dunia persilatan menyebarkan berita ini ke seluruh penjuru negeri.
Kini, Liang Shan bukan lagi sekedar buronan, ia telah menjadi ancaman nyata bagi tatanan dunia persilatan yang korup.
Di sebuah tempat yang sangat jauh, di puncak sebuah gunung salju, seorang wanita cantik dengan pakaian serba putih membuka matanya dari meditasi.
Ia adalah Ratu Es Gunung Selatan.
"Putra Liang Qi telah membunuh Gui Mo ..." gumamnya, sebuah senyum tipis yang mematikan muncul di bibirnya.
"Rupanya naga kecil itu sudah menumbuhkan taringnya. Mari kita lihat, apakah dia lebih kuat dari Ayahnya saat menghancurkan hatiku dulu."
Sementara itu, di sebuah biara hitam, seorang pria tua dengan tangan yang sepenuhnya berwarna hitam—Pendekar Tapak Hitam—hanya mendengus.
"Racun buatanku digunakan untuk melawanku? Sungguh ironis. Aku akan mengambil kembali racun itu bersama dengan nyawanya."
Liang Shan, Han Xiang, dan Yue Niang kini berdiri di tepi lembah, menatap jalan panjang yang membentang di depan mereka.
Perjalanan menuju empat orang berikutnya akan semakin sulit. Intrik politik Menteri Wei akan berpadu dengan kekejaman dunia persilatan hitam.
"Langkah kita selanjutnya adalah ke arah Timur," ucap Liang Shan. "Menuju Pesisir Laut Merah. Tempat di mana 'Pendekar Tanpa Bayangan' bersembunyi."
Angin bertiup kencang, membawa aroma darah dan petualangan yang belum usai. Badai dunia persilatan telah pecah, dan Liang Shan adalah pusat dari pusarannya.
Dunia persilatan kini bergetar. Satu per satu musuh Liang Shan mulai muncul dari persembunyian mereka.
Persaingan antara aliran hitam yang ingin merebut permata dan aliran putih yang merasa terancam menciptakan kekacauan di mana-mana.
Liang Shan kini harus belajar menyeimbangkan kemanusiaannya dengan kekuatan iblis yang ia miliki, sembari mencari petunjuk tentang Bunga Teratai Sembilan Jiwa.
Awan hitam menggantung rendah di atas langit Pesisir Timur, seolah-olah semesta sedang menahan napas menyaksikan drama berdarah yang akan segera tergelar.
Angin laut yang membawa uap garam terasa lengket di kulit, bercampur dengan bau amis kematian yang samar.
Liang Shan, Han Xiang, dan Yue Niang kini memasuki wilayah Teluk Naga Tidur. Namun, berbeda dengan perjalanan sebelumnya, kali ini langkah mereka terasa berat.
Musuh telah mengubah strategi. Tidak ada lagi serangan frontal yang gegabah, yang ada hanyalah jebakan yang tertanam di balik keramahan penduduk desa dan intrik yang mengoyak batin.
Di pintu masuk desa, mereka disambut oleh pemandangan yang menyentuh hati. Mayat-mayat penduduk desa digantung di pohon-pohon besar, namun ada yang aneh. Tubuh mereka tidak kaku, melainkan mengeluarkan uap hijau yang tipis.
"Jangan mendekat!" teriak Han Xiang. "Itu adalah Mayat Berbisa Sembilan Hari!"
Belum sempat mereka berbalik, dari balik gundukan pasir, muncullah sosok misterius mengenakan jubah abu-abu dengan topeng kuningan berbentuk wajah menangis.
Ia membawa sebuah seruling bambu hitam. Dialah Si Pengetuk Gerbang Neraka, seorang ahli sihir suara yang merupakan tangan kanan dari Dewa Tanpa Nama.
Tanpa sepatah kata, ia meniup serulingnya. Suara yang keluar bukanlah nada, melainkan lengkingan frekuensi tinggi yang membuat telinga Yue Niang berdarah.
"Ahhh!" Yue Niang jatuh terduduk, kecapinya terlepas. Kekuatan suaranya dihancurkan oleh frekuensi yang lebih gelap.
Liang Shan meradang. Ia melesat maju, namun tiba-tiba tanah di bawah kakinya amblas. Sebuah jaring raksasa yang terbuat dari kawat meteorit—yang tidak bisa dipotong oleh baja biasa—melesat dari bawah tanah, mengurung Liang Shan.
"Strategi yang licik!" geram Liang Shan.
Dia mencoba mengerahkan Metamorfosis Racun Langit, namun kawat itu ternyata telah diolesi dengan Cairan Pemutus Nadi yang membuat tenaga saktinya tersumbat setiap kali mencoba meledakkan energi.
Dari kegelapan, muncul sosok kedua. Seorang wanita dengan pakaian serba hitam yang wajahnya ditutupi cadar tipis, namun matanya memancarkan hawa dingin yang luar biasa.
Dialah Utusan Ratu Es, bernama Xue Me.
"Tuan Muda Liang, kau terlalu sombong dengan kekuatan racunmu," suara Xue Me sedingin salju di puncak gunung.
"Ratu Es mengirimku untuk mengambil kembali 'kenangan' yang kau bawa."
Xue Me menggerakkan tangannya, dan ribuan jarum es seukuran rambut melesat menuju Han Xiang yang sedang berusaha menolong Yue Niang.
"Tidak!" teriak Liang Shan.
Melihat kedua rekannya terancam, Liang Shan melakukan hal yang nekat. Ia menggigit lidahnya sendiri dan menggunakan rasa sakit untuk memicu aliran darah yang dipaksakan menembus sumbatan nadi.
Ini adalah teknik terlarang yang bernama "Membakar Sumsum Menggapai Langit".
BOMM!!!
Jaring kawat meteorit itu memang tidak putus, namun tubuh Liang Shan mengeluarkan hawa dingin yang begitu pekat hingga kawat-kawat itu membeku dan menjadi rapuh seperti kaca.
Dengan satu hentakan, Liang Shan memecahkan jaring itu.
Sayangnya, harga yang harus dibayar sangat mahal. Darah segar menyembur dari pori-pori kulit Liang Shan.
"Mati kau!" Liang Shan menghunus Golok Sunyi.
Xue Me tidak gentar. Ia mengeluarkan sepasang pedang pendek yang terbuat dari kristal es abadi.
Pertarungan tingkat tinggi pun meletus.
Setiap kali pedang kristal Xue Me beradu dengan Golok Sunyi, terjadi ledakan kristal es yang tajam ke segala arah. Xue Me bergerak dengan jurus Tarian Salju Mengubur Bunga.
Tubuhnya seolah-olah terpecah menjadi tujuh bayangan yang menyerang dari tujuh sudut berbeda.
Liang Shan, yang kondisinya tidak stabil, terdesak. Satu tusukan pedang kristal menembus bahu kirinya, mengirimkan rasa dingin yang membekukan jantung.
"Langit Retak, Jiwa Terbelah!"
Liang Shan tidak punya pilihan lain. Ia menggunakan jurus penghancur itu lagi. Namun, Si Pengetuk Gerbang Neraka tidak tinggal diam.
Sosok itu meniup serulingnya lebih keras dan mengacaukan konsentrasi energi Liang Shan.
Akibatnya, jurus tersebut meledak sebelum waktunya. Liang Shan terlempar, menghantam sebuah perahu nelayan hingga hancur berkeping-keping.
Han Xiang, yang melihat Liang Shan terkapar, berlari menerjang Xue Me hanya dengan belati kecil.
"Jangan sakiti dia!"
Xue Me mendengus. "Gadis bodoh."