NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OBROLAN DENGAN BAPAK

 

🌙🌙🌙🌙🌙🌙🌙🌙🌙🌙

 

Malam harinya... Saat aku sedang duduk sendirian di teras rumah...

Sambil memandangi bulan sabit di atas langit, yang ditemani taburan bintang gemerlapan...

"Nis? Nisa?"

"Ya Pak? Aku di teras..."

Beberapa saat kemudian, bapakku ikut duduk menemaniku di teras. Dengan segelas kopi pahit kesukaannya.

Cekrek...

"Ssshhh... Huuufff..." suara bapak yang menyalakan rokok kreteknya, dan langsung mengepul asapnya ke udara.

"Bulan sabitnya bagus banget ya Nis..."

"Iya Pak..."

"Bintang-bintangnya juga banyak banget... Ada berapa ya jumlahnya?"

"Hehe... Mana aku tau toh Pak? Yang pasti jumlahnya lebih dari satu."

"Hahaha... Ya iyalah..."

Sejenak kemudian, kami berdua saling diam. Masih sambil memandangi langit yang sangat indah.

Semilir angin malam berhembus pelan. Disertai suara jangkrik yang saling bersahutan. Membuat pertunjukkan orkestra malam yang tiada tandingannya.

"Ssllrrrppp... Aakkkhh... Nikmatnyaa..."

Suara bapak menyeruput kopinya yang masih mengepul panas.

"Nikmat Tuhan yang mana lagi, yang kita dustakan..." ucap bapak kemudian.

"Tumben banget Pak ngomong gitu..." sahutku sambil menoleh ke arahnya.

"Hehehe... Ya memang harus kayak gini caranya Nis."

"Em? Kayak gini caranya? Maksudnya Pak?"

"Cara untuk kita bisa memikirkan ayat-ayat Alloh, Sang Pencipta alam dengan segala keindahannya..."

"Oooh..." responku sambil mengangguk pelan, kembali menatap bulan dan bintang.

Lalu kembali kami berdua hanyut dengan pemandangan indah di atas langit malam ini, dan juga semilir angin yang berhembus pelan, disertai suara jangkrik yang menenangkan. Bercampur aroma kopi bapak yang harum semerbak, dan juga aroma tembakau yang tercium dari rokoknya.

Mungkin kurang lebih lima menit, kami saling diam dalam suasana syahdu dan tenang ini...

Tiba-tiba bapakku melontarkan sebuah pertanyaan yang membuatku kaget...

"Nis... Kamu udah pengen nikah belum?"

Aku menoleh langsung ke arahnya. Semula tubuhku yang bersandar rileks di kursi teras, jadi terduduk agak tegak mendengar pertanyaan itu.

Tapi aku tak menjawabnya. Aku hanya menatapnya dalam diam.

"Bapak ini nanya serius... Bukan bercanda..." lanjut bapakku.

"Kenapa... Tiba-tiba banget nanya kayak gitu Pak?"

"Emangnya kenapa?"

"Ya, gimana ya... Kaget aku."

"Hahahaha..."

Bapakku kembali menatap langit malam, menghisap rokoknya, menghembuskan asapnya ke udara.

Lalu berkata lagi dengan pandangan lurus menatap bulan di atas sana...

"Mumpung Bapak masih hidup Nis..."

"Eh? Maksudnya Pak?"

"Mumpung Bapakmu ini masih ada umur, makanya Bapak tanya begitu sama kamu."

Aku mengalihkan pandanganku ke arah halaman. Menggigit pelan bibirku sendiri. Lalu ikut menatap bulan di atas sana.

"Nisa... Belum ada sama sekali pikiran ke arah sana Pak..." jawabku santai.

"Kenapa kok belum ada?"

"Ya... Gak apa-apa..."

"Em... Gitu ya..."

Beberapa saat, kami berdua kembali terdiam...

Aku sedikit merasa kaget, tapi masih ku bawa santai saja pertanyaan bapakku tadi. Dan mungkin bapak belum terlalu serius juga untuk mengajakku bicara soal keinginanku untuk menjalankan pernikahan.

"Pak..." panggilku memecah kesunyian kami.

"Em? Apa Nis?"

"Nisa... Mau tanya sama Bapak..."

"Tanya apa?"

"Kalau misalnya... Aku kerja di tempat yang jauh, gimana?"

Bapak menengok ke arahku. Aku pun menengok ke arahnya dengan tatapan seperti seorang anak yang masih polos bertanya pada bapaknya.

"Emang kamu mau kerja yang jauh?" tanyanya padaku kemudian.

"Kalau iya, gimana? Dan kalau enggak, gimana?"

"Em... Kalau iya, ya gak apa-apa. Kalau enggak, ya Alhamdulillah."

"Iiihhh... Kok gitu sih jawabnya Pak?" responku sambil mencubit pelan tangan bapakku.

"Ya terus Bapak harus gimana jawabnya cantikku sayang...?"

"Ya... Jawabnya lebih jelas gitu loh..."

"Ya itu tadi udah jelas banget."

"Hemmm... Dasar orang tua..." responku meledeknya dengan tatapan pura-pura sebal padanya.

"Hahahaha... Nis, Nis..."

Bapakku malah tertawa pelan, sambil kembali menyeruput kopinya.

"Gini, anakku sayang..." kata bapak kemudian dengan memposisikan tubuhnya duduk sekarang. Tanda bahwa ia akan memberikan jawaban yang serius.

"Kalau emang kamu kerja ditempat yang jauh, boleh. Bapak izinkan. Tapi dengan syarat..." tambahnya.

"Apa Pak?"

"Kamu harus bisa jaga diri baik-baik. Jangan lupakan ibadah. Dan juga, jangan lupakan tirakatmu..."

"Itu aja Pak?"

"Iya..."

"Masa? Gak ada lagi yang lain syaratnya?"

"Hehehe... Nisa... Kamu udah dewasa, udah 25 tahun usiamu. Bapak yakin, selebihnya kamu juga udah tau..."

"Hmm... Gitu ya Pak..." responku.

Bapak kembali duduk bersandar di kursi teras.

"Emang kamu mau kerja dimana? Mau kerja apa? Terus gimana tugasmu sebagai guru ngaji di sini?" rentetan pertanyaan dari bapak.

"Aku... Tadi siang ke rumah Ustadz Furqon ngomongin itu Pak. Beliau meminta aku supaya jadi pembina asrama di pondok pesantrennya itu." jelasku langsung ke inti.

"Pondok pesantren yang di Jawa Timur itu?"

"Iya Pak... Jauh kan?"

"Hmm... Gitu ternyata..."

"Gimana menurut Bapak?"

Tampak bapakku terdiam, berpikir sejenak. Lalu ia menjawab...

"Terima aja tawarannya Nis."

"Kenapa aku harus nerima?" tanyaku.

"Karena jarang-jarang ada pekerjaan semulia itu yang ditawarin ke kamu. Malah belum pernah ada kan sebelumnya?"

"Em... Iya sih... Tapi kan jauh Pak. Terus nanti Bapak gimana di sini? Siapa yang jagain Bapak? Masakin makan buat Bapak? Ngurus semua kebutuhan Bapak?"

"Hehehe... Insyaa Alloh, Bapak bisa..."

"Jangan gitu dong Pak. Aku tuh khawatir kalo sampe jauh dari Bapak."

"Iya, Bapak tau... Tapi, jawaban Bapak, terima aja tawaran Ustadz Furqon. Lagian kamu di sana kerjanya juga bagus dan jelas. Ditambah lagi Ustadz Furqon menawarkan kamu kerjaan itu sebagai rasa hormat juga ke kamu Nis..." jelas bapak.

Aku tak menjawabnya. Aku malah memandang kedua tangan yang kugenggam sendiri.

"Nis..."

"Iya Pak?"

"Jangan ragu buat belajar ambil keputusan besar dalam hidupmu. Kamu udah dewasa. Udah waktunya juga memilih jalan hidupmu sendiri. Bapak cuma bisa mendukung. Mendo'akan. Sama kasih izin selama itu baik dan benar."

"Em... Iya Pak..."

"Kapan kamu kasih jawaban ke Ustadz Furqon?"

"Belum tau Pak. Aku masih harus pikirin dulu matang-matang."

"Oh... Ya udah kalo gitu."

Setelah beberapa tema obrolan panjang itu, kami berdua kembali menikmati suasana malam dalam kesyahduan yang tiada bisa dibeli oleh harta sebanyak apapun. Sambil diselingi juga dengan beberapa obrolan ringan, dan kuga candaan.

Singkat cerita, setelah rokok kretek dan kopinya habis, bapak merasa mulai mengantuk.

"Nis, udah agak ngantuk Bapak. Masuk yuk. Udah malem."

"Duluan aja Pak, aku belum ngantuk."

"Loh, tumben... Bapak yang ngopi, malah kamu yang gak ngantuk."

"Hehehe..." responku.

"Ya udah, Bapak duluan tidur ya. Kamu jangan terlalu larut masuknya."

"Iya Pak..."

Akhirnya Bapak masuk ke dalam, sambil membawa gelas bekas kopinya.

Dan sekarang, aku sendirian di teras rumah. Masih menikmati suasana langit malam yang indah.

Beberapa saat kemudian, aku memanggilnya...

"Dayang Putri..."

1
Akbar Aulia
Nisa Baek" ya disana nanti
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
tinggal nunggu keberangkatan
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
sepertinya bisa nanti akan menetap di Jawatimur sama iko
Ayuk Witanto
Alhamdulillah di kasih ijin
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
pasti si iko ada rasa sama kamu nis
Ayuk Witanto
si Gilang minta di getok tuh...makin lama makin jail gak bisa di kasiani
Ayuk Witanto
bener2 si Gilang
Ayuk Witanto
kerasukan
Ayuk Witanto
si Gilang harus di musnahkan
Ayuk Witanto
si Gilang perlu di pulangkan
Ayuk Witanto
si Gilang ini meresahkan
Ayuk Witanto
kok agak aneh ya
Ayuk Witanto
rumahnya di pucuk
Ayuk Witanto
Risa sakit apa yah
Ayuk Witanto
mencurigakan...kok tau dayang putri
Ayuk Witanto
kok ngomongnya gitu si risa
Ayuk Witanto
pasti saudara pak Handoyo punya pesugihan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!