Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.
" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~
"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~
Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arelion
" Arelion ?" ulangnya pelan, seolah ingin memastikan telinganya tidak salah dengar.
Tiba-tiba cahaya di sekitar mereka berdenyut lembut. Sungai berkilau lebih terang, dan bunga-bunga seolah menunduk hormat.
Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya, namun jantung Elora justru berdegup lebih cepat. Ia menelan ludah. Udara di sekeliling terasa berbeda, seakan ikut menahan napas bersama mereka. Kata itu menggantung di antara kelopak bunga dan gemericik sungai, ganjil sekaligus menggetarkan.
“Apa hanya kita di sini?” tanya Elora akhirnya, suaranya nyaris berbisik.
Arelion menoleh, pandangannya menyapu taman luas yang dipenuhi bunga berwarna lembut. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya, senyum yang menyimpan kesepian panjang.
“Untuk sekarang,” jawabnya pelan. “Iya.”
Elora mengikuti arah pandangnya. Tak ada bangunan, tak ada manusia lain. Hanya hamparan taman yang seolah tak berujung, sungai kecil yang mengalir tanpa suara riuh, dan langit terang tanpa matahari.
“Tempat ini…” Elora menggenggam ujung gaunnya. “Rasanya indah, tapi juga sepi.”
Arelion kembali menatapnya. “Aku sudah lama sendirian di sini.”
Nada suaranya datar, namun ada sesuatu yang patah di baliknya. Dan entah kenapa, dada Elora terasa sesak, seolah kesepian itu merambat dan ikut menetap di hatinya.
Elora menarik napas pelan.
“Apa… kau sama denganku?” tanyanya ragu. “Sedang bermimpi juga?”
Ia tersenyum kecil, getir. “Entahlah… aku sendiri masih bingung. Aku jelas-jelas sadar kalau ini mimpi, tapi semuanya terasa terlalu nyata.”
Arelion terdiam.
Untuk pertama kalinya, sorot matanya bergetar. Bukan karena bingung, melainkan seolah kata mimpi itu menyentuh sesuatu yang selama ini ia pendam terlalu dalam. Jari-jarinya mengepal pelan, lalu mengendur kembali.
“Kalau bagimu ini mimpi,” ucapnya akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya,
“maka bagiku… ini adalah satu-satunya tempat aku bisa terjaga.”
Elora menahan napas.
Dan saat itu juga, ia sadar, mungkin mereka tidak sedang berada di dunia yang sama. Namun perasaan yang menyusup di antara mereka...
sunyi, hangat, dan rapuh..terasa nyata dengan cara yang menakutkan.
Laki-laki itu bangkit dari bangku batu. Saat berdiri, Elora baru menyadari betapa tenangnya gerakannya, seolah waktu di sekelilingnya bergerak lebih lambat. Ia melangkah mendekat, berhenti pada jarak yang aman, cukup dekat untuk membuat Elora merasakan kehangatan yang aneh namun menenangkan.
“Dunia ini,” ucapnya sambil menatap taman di sekeliling mereka, “adalah tempat di mana aku terjaga. Dan di duniamu… aku tertidur.”
Elora mengernyit. “Aku nggak mengerti.”
“Aku tahu.” Senyum kecil itu kembali muncul. “Tak ada yang pernah mengerti pada pertemuan pertama.” ucapnya lagi pelan.
Angin berembus lembut, membawa aroma bunga yang semakin pekat. Elora memeluk lengannya sendiri, bukan karena dingin, melainkan karena perasaan asing yang menyelinap ke dadanya. Ia merasa… terhubung. Seolah pertemuan ini bukan kebetulan.
“Tadi..kau sempat memanggil namaku,” katanya kemudian. “Darimana kamu tahu namaku?” Elora mengernyit heran.
Elora baru tersadar bahwa laki-laki itu sejak tadi memanggil namanya.
Seolah nama itu bukan sesuatu yang asing baginya. Seolah sudah lama ia ucapkan, berulang kali, dalam kesunyian yang tak pernah Elora kenal.
Arelion menatapnya lama. Sorot matanya meredup sesaat sebelum ia berbicara.
“Aku pun tak tahu,” ucapnya pelan. “Tiba-tiba sinar terang itu sedikit terbuka.”
Ia mengangkat tangan, menunjuk ke arah sebuah lingkaran kecil menyerupai bola api yang melayang di atas bangunan batu mirip candi. Cahaya itu berdenyut perlahan, seperti jantung yang hidup.
“Aku mendengar suaramu,” lanjut Arelion lirih. “Samar….”
Elora semakin bingung. Jantungnya berdetak tak beraturan.
“Apa kau tahu,” kata Arelion lagi sambil melangkah mendekati sebuah pohon besar yang berdiri megah di tengah taman, “namamu sudah lama terukir di sana.”
Langkah Elora terhenti.
Matanya membulat saat melihat batang pohon itu.
Di antara guratan kayu yang tua dan berlumut, tertulis jelas sebuah nama.
Elora.
“Si...siapa yang membuatnya?” suaranya nyaris tak keluar.
Arelion menoleh padanya.
“Tulisan itu sudah ada sejak aku tersadar di tempat ini.”
Dan untuk pertama kalinya, Elora merasakan ketakutan yang aneh.
Bukan karena dunia asing ini..
melainkan karena kemungkinan bahwa kehadirannya di sini… bukanlah kebetulan.
Laki-laki itu menatapnya lama, sorot matanya meredup sejenak.
“Benarkah kau tak tahu kenapa kau tiba di sini?”
Elora terdiam. Pikirannya berusaha mundur, menelusuri apa pun yang ia lakukan sebelum tertidur. Ingatannya berhenti pada satu momen yang terasa paling jelas.
Romi.
Dongeng sebelum tidur.
Ia ingat suaranya sendiri yang lirih, halaman demi halaman yang dibacanya, dan judul aneh yang sejak awal terasa ganjil.
Mata Elora membola seketika.
“Buku itu…” gumamnya pelan, ragu namun yakin pada saat yang sama.
Arelion menunggu, tak memotong.
“Apa mungkin… karena buku dongeng itu aku sampai di sini?” suara Elora bergetar, seolah takut pada jawabannya sendiri.
“Buku dongeng?” Arelion mengernyit. Alisnya saling mendekat, ekspresinya jelas asing dengan istilah itu.
Ia menatap Elora dengan sorot mata yang dalam.
“Sejak aku terbangun di dunia ini, tak pernah ada buku,” katanya pelan. “Yang ada hanya kisah yang berulang… dan namamu.”
Elora menelan ludah.
Jika buku itu adalah pintu..
lalu siapa yang membukanya lebih dulu?
Dan yang lebih menakutkan…
apakah pintu itu bisa tertutup kembali?
Jantung Elora berdegup keras.
"Mungkin...setiap kata yang kamu ucapkan malam ini membuka pintu. Suaramu menembus batas antara dua dunia.”
Elora mundur setengah langkah. “Ini mimpi, kan? Aku cuma ketiduran setelah baca dongeng.”
“Kalau ini hanya mimpi,” katanya lembut, “kenapa hatimu berdebar seperti itu?”
Elora terdiam. Ia membenci kenyataan bahwa laki-laki ini benar.
Tiba-tiba, suara samar itu terdengar.
“Kak Elora…”
Elora tersentak. Napasnya tercekat.
Itu suara Romi. Jelas. Terlalu jelas untuk sekadar angin atau ilusi.
“Kak Elora…”
Kali ini lebih pelan, seolah datang dari kejauhan.
Elora menoleh panik ke segala arah. Taman bunga itu masih sama indahnya, sungai kecil tetap mengalir tenang, namun bola api di atas bangunan menyerupai candi kini berpendar lebih terang. Cahayanya berdenyut, seperti sesuatu yang hidup.
“Apa kau mendengarnya?” suara Elora bergetar.
Arelion mengangguk pelan. Wajahnya menegang, sorot matanya mengarah pada cahaya itu.
“Itu bukan suara dari dunia ini,” katanya lirih. “Itu panggilan.”
Elora menggeleng, tangannya refleks memegang kepala. Dadanya terasa sesak.
“Ini nggak masuk akal…” gumamnya putus asa. “Kenapa suara Romi bisa sampai ke sini? Kenapa aku bisa mendengarnya?”
Ia memejamkan mata, jemarinya menekan pelipis seolah ingin mengusir semua yang terlalu sulit dicerna. Dunia ini, taman ini, Arelion...semuanya terasa nyata, namun sekaligus mustahil.
“Kalau itu benar-benar pintu…” bisiknya nyaris tak terdengar, menatap bola api yang terus berdenyut, “berarti aku nggak cuma bermimpi, kan?”
Arelion melangkah mendekat, berhenti tepat di sampingnya.
“Jika kau bisa mendengar duniamu,” ucapnya pelan, penuh makna, “maka dua dunia itu memang sudah bersentuhan.”
Cahaya itu tiba-tiba membesar.
Elora bahkan tak sempat berteriak. Suara Romi memanggil namanya terdengar semakin dekat, bercampur dengan denyut cahaya yang menyilaukan. Taman bunga memudar, warna-warnanya luruh seperti lukisan yang tersapu hujan.
“Arelion—!” serunya refleks.
Tangannya meraih udara kosong.
Detik berikutnya, semuanya runtuh.