NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 : Dugaan yang semakin menguat

Siang itu Alena benar-benar tidak fokus. Pekerjaan dapur bahkan tak bisa ia selesaikan tepat waktu seperti biasa. Batinnya merasa cemas dan curiga. Foto yang dilihatnya itu masih saja terbayang dalam ingatan meski Arinta sudah menjelaskan. Rasanya susah sekali untuk ditepis dan meyakini tidak terjadi apa-apa antara suaminya dengan wanita yang ada di dalam foto. Hati kecilnya terus menuntut pertanyaan, benarkah ucapan Arinta?

"Bi, tolong lanjutin ya...," ucapnya untuk istirahat sejenak.

Alena berjalan keluar dari ruangan dapur menuju ke kamar Alea. Ia tersenyum sedikit saat melihat sang putri sedang tertidur pulas sehabis makan siang tadi.

Dengan langkah hati-hati ia masuk ke dalam dan mengambil ponsel lalu berjalan keluar kembali.

.

.

Alena masuk ke dalam kamarnya dan membuka nomor kontak Andini. Tanpa banyak bicara dia segera mengirimkan foto Arinta yang terlihat mesra dengan wanita yang katanya cuma teman kantor kepada Andini tanpa konteks. Ia ingin tau apa reaksi pertama Andini nanti setelah melihat foto itu. Benarkah tampak seperti ketidaksengajaan atau terlalu janggal untuk dikatakan sebagai sebuah kebetulan?

Benar saja tak lama ponselnya heboh berdering. Itu panggilan dari Andini yang berarti ia sudah melihat foto tersebut.

"Alena, itu Arinta ngapain pegang-pegang sama cewek lain? Jangan bilang dia..., selingkuhin lu?!" Andini langsung nyerocos tanpa rem segera menodongkan pertanyaan sensitif pada sang kawan.

"Jadi menurut lu, dia selingkuh...?" Bukan jawaban yang diberikan oleh Alena, melainkan sebuah pertanyaan lain demi sebuah keyakinan.

"Hah, maksud lu gimana sih? Kok jadi bingung gue...," balas Andini ketika ia tak mendapat jawaban.

"Gak tau juga gue..., kata Arinta itu teman kantornya dan mereka gak sengaja ketemu di mall...." Alena mengungkapkan kejanggalan yang ia rasakan kepada Andini.

"Teman kantor? Kok mesra banget?" Nada suara Andini langsung ketus.

"Kata Arinta sih, kejadiannya gak terlihat seperti yang ada di foto...," balas Alena mendengus kecil. "Dia bilang..., sebenarnya dia sedang menahan tubuh teman kantornya yang hampir jatuh karena terpleset, lalu..., wanita itu berpegangan memeluk pinggangnya jadi ketika di foto terlihat seperti itu...," ungkapnya kepada Andini.

"Gila ya! Mana ada kebetulan jatuh kayak gitu? Apalagi sambil tertawa bareng!" Emosinya langsung naik ke kepala. Bisa-bisanya Arinta mengarang cerita kayak gitu untuk membodohi Alena.

"Itu jelas bukan kebetulan, Len! Arinta cuma ngarang!" Tegasnya meski terdengar pahit, tapi Alena setuju dengan pendapat Andini.

"Tapi saat ini, gue belum ada bukti yang cukup kuat sih...," ujar Alena agak bingung.

Keduanya sempat hening sesaat memikirkan cara yang tepat untuk bisa membuktikan semua Kecurigaan, dan akan lebih bagus lagi kalau bisa menangkap basah Arinta.

"Kenapa lu gak coba datengin mall itu untuk lebih jelas apa Arinta ke sana sendiri atau sama perempuan itu? Lu bisa tanya sama satpam atau penjaga toko yang mungkin liat dia!" Adinda langsung memberikan ide yang cukup bagus.

"Kayaknya gue punya ide yang lebih baik...," ucapnya sembari tersenyum kecil.

"Ide apa tuh?" Adinda seketika berubah penasaran.

"Besok pagi, lu bisa jemput gue gak? Balas Alena.

"Bisa...." Adinda pun menyanggupi.

"Oke, besok lu ke rumah gue, dan lu bakal tau rencana apa yang bakal gue lakuin...."

.

.

Malam harinya Arinta ternyata pulang tepat waktu. Ia sampai di rumah pukul 19:00. Alena mengernyit heran, karena selama beberapa waktu ini Arinta selalu terlambat dan beralasan sedang ada kerjaan tambahan di kantor yang bikin dia makin sibuk dan mengurusi sebuah proyek.

"Tumben gak lembur," ucap Alena yang sedang duduk di ruang tamu dengan nada sedikit ketus.

Arinta terdengar menggeram marah. Ia bahkan belum masuk ke rumah tapi sudah disambut dingin oleh sang istri.

"Aku lembur salah, sekarang pulang kayak biasa pun tetap salah...." Pria itu hanya mengeluh lalu berjalan masuk melewati Alena begitu saja tanpa salam. Ia segera pergi dan masuk ke kamar.

Alena tak peduli, dia tetap memilih untuk duduk di sana sambil membaca sebuah buku motivasi. Tak lama ia dapat melirik Arinta yang sudah keluar memakai kimono mandi berwarna putih ke arah kamar mandi.

Hanya selang 10 menit pria itu sudah keluar dari kamar mandi, menuju ke kamar untuk berpakaian dan Alena hanya diam sambil mengamati dari kejauhan. Dalam hati rasa curiganya semakin berkobar. Kalau benar dia selingkuh, bisa-bisanya ia bersikap tenang seperti itu?

Lalu, muncul pertanyaan lain. Sudah berapa lama keduanya menjalin hubungan dan sejauh apa? Membayangkan dua hal itu saja membuat Alena langsung merasa mual. Dia satu ranjang dengan pria yang sudah bersentuhan dengan wanita lain juga. Rasa jijik mulai bergelayut dalam hatinya. Sebagai wanita ia tak rela. Tapi semua itu harus ditahannya sampai ia benar-benar dapat kepastian dari dugaannya tersebut.

Arinta yang sudah berganti pakaian biasa keluar kamar dan berjalan mendekati Alena yang masih sibuk membaca.

"Len, di dapur gak ada makanan?" Tanyanya yang sempat melihat meja makan namun tak mendapati apapun.

"Aku gak sempat masak lebih buat kamu, cuma buat Alea, Bi Yani dan aku saja," jawab Alena cuek.

Arinta pun terdiam saat mendapati jawaban seperti itu. Lalu, ia menghela napas dan pergi keluar dengan gusar.

Alena langsung menutup buku yang dibacanya dengan kasar saat melihat pria itu berjalan keluar rumah tanpa permisi.

"Mau kemana kamu?" Tanyanya dengan sikap tegas.

"Aku mau beli makanan dulu, gak boleh?" Arinta menatap Alena dengan perasaan kesal.

Wanita itu tak menjawab, Arinta pun tak menunggu jawaban. Ia segera membuka pintu pagar lalu berjalan keluar.

"Tutup pintunya!" Ujarnya setengah berteriak kepada Alena.

Lelaki itu sudah pergi, Alena pun berjalan dengan wajah kaku dan menutup pintu pagar rumah.

.

.

Udara malam cukup sejuk hari itu, membuat Arinta sedikit betah untuk menikmati. Rasanya sudah lama ia tak berjalan kaki untuk sekedar berolahraga dan menjaga kebugaran diri. Terlalu fokus bekerja. Sekalinya weekend dia malah lebih sering tidur di rumah seperti beruang kutub.

Dia berjalan ke tempat nasi goreng langganannya. Begitu tiba ia langsung membeli dua bungkus porsi seafood.

"Wah, Pak Arinta. Udah lama nih, gak mampir." Ternyata si penjual itu kenal dengan Arinta dan langsung menyapanya.

"Hahahaha, masa sih? Emang udah berapa lama saya gak kemari?" Balas pria itu sembari tertawa canggung.

"Udah lama banget loh, Pak! Kayaknya sejak Bapak punya anak deh!" Jawab si penjual nasi goreng yang ternyata bisa dengan sangat jelas menghitung berapa lama Arinta absen dari antrian nasi gorengnya.

"Astaga, udah selama itu ya?" Arinta tampak kaget sendiri.

"Duduk saja dulu, Pak. Sabar ya, nunggu saya buatkan tiga bungkus lagi, baru giliran Pak Arinta." Lelaki yang sudah hampir seusia ayahnya Arinta itu dengan sopan mengambil sebuah bangku plastik dan memberikannya kepada Arinta.

"Makasih, Pak...," ucapnya sambil tersenyum tipis lalu duduk tak begitu jauh dari gerobak si penjual dengan pandangan mata yang kosong. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.

Apa yang sedang dipikirkan Arinta? Sikap Alena kah? Atau Melinda dan tentang bagaimana ia harus terus menutupi itu semua? Atau ada hal lain yang ia sendiri bingung untuk mengungkapkannya?

.

.

Bersambung....

1
partini
kesempatan kedua
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang
Panda: wah baru tau aku 😱
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!