NovelToon NovelToon
Dragon Emperor: Rebirth Of The Alchemist

Dragon Emperor: Rebirth Of The Alchemist

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Kabar tentang peristiwa di Kedai Besi Tua menyebar laksana badai yang menyapu Kota Batu Hijau. Dalam waktu kurang dari dua jam, hampir setiap telinga di kota kecil itu telah mendengar kisah tentang bagaimana "Sampah Keluarga Lin" menghancurkan lengan pengawal elite Keluarga Wang hanya dengan sebatang besi berkarat.

Di kediaman Keluarga Wang yang mewah, atmosfer terasa berat dan mencekam.

Di aula tengah, Wu Gang berlutut dengan wajah pucat pasi. Lengan kanannya dibalut perban tebal, namun darah masih merembes keluar. Tulang pergelangan tangannya hancur total—sebuah cedera permanen yang mungkin akan mengakhiri kariernya sebagai kultivator.

Brak!

Sebuah cangkir teh porselen mahal hancur berkeping-keping setelah dilempar ke lantai. Pelakunya adalah seorang pemuda tampan dengan mata tajam yang memancarkan kekejaman—Wang Lei.

"Sampah!" bentak Wang Lei. Dia menendang dada Wu Gang tanpa ampun hingga pengawal itu terguling dan memuntahkan darah segar. "Kau seorang kultivator Tingkat 3! Dan kau dikalahkan oleh orang cacat yang bahkan tidak bisa mengumpulkan Qi? Kau mempermalukan wajah Keluarga Wang!"

"Tuan Muda... ampun..." Wu Gang merintih, suaranya gemetar ketakutan. "Dia... dia aneh. Gerakannya hantu. Dan kekuatannya... itu bukan kekuatan orang biasa. Saya curiga dia menyembunyikan kultivasinya selama ini."

"Menyembunyikan kultivasi?" Wang Lei mendengus sinis. "Lin Xiao lahir dengan Meridian Batu. Seluruh tabib di kota ini sudah memvonisnya. Bagaimana mungkin dia tiba-tiba punya kekuatan?"

Di kursi utama, duduk seorang pria paruh baya bertubuh kekar dengan jubah sutra biru. Wang Tian, Patriark Keluarga Wang. Dia mengetuk-ngetuk pegangan kursinya dengan jari, wajahnya tenang namun mematikan.

"Lei'er," panggil Wang Tian perlahan.

Wang Lei segera membungkuk hormat. "Ayah."

"Jangan remehkan musuh, sekecil apa pun dia," kata Wang Tian dingin. "Berita mengatakan Lin Xiao bisa menggunakan Qi untuk memperkuat pukulannya. Ada dua kemungkinan: dia menemukan obat terlarang yang membakar nyawa demi kekuatan sementara, atau... dia bertemu dengan nasib baik (lucky encounter) dan menemukan teknik iblis."

Mata Wang Lei berkilat. "Teknik Iblis? Kalau begitu kita bisa menggunakan alasan itu untuk memburunya sebelum turnamen."

Wang Tian menggeleng. "Jangan gegabah. Keluarga Lin, terutama Lin Hai, sedang terdesak. Jika kita menyerang sekarang, Lin Hai akan melawan mati-matian seperti singa terluka. Itu akan merugikan kita."

Dia menatap putranya tajam. "Tunggu sampai turnamen. Di atas panggung arena, hidup dan mati ditentukan oleh nasib. Jika kau membunuhnya di sana, tidak ada yang bisa menyalahkan kita. Lin Hai pun hanya bisa menelan kepahitan."

Wang Lei menyeringai, sebuah senyuman yang menjanjikan penderitaan. Dia mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya berbunyi. "Jangan khawatir, Ayah. Di turnamen nanti, aku tidak akan langsung membunuhnya. Aku akan mematahkan tulang-tulangnya satu per satu di depan seluruh kota, membuktikan bahwa sampah akan tetap menjadi sampah."

Sementara itu, di paviliun kecil Keluarga Lin.

Lin Xiao duduk bersila di lantai kamarnya. Di hadapannya, tergeletak pedang berkarat yang baru saja dia beli. Selain itu, ada beberapa botol kecil berisi cairan asam keras dan bubuk mineral yang dia beli dari uang rampasan Wu Gang.

"Orang-orang bodoh itu hanya melihat karat," gumam Lin Xiao sambil mengoleskan campuran cairan asam yang baru saja dia racik ke permukaan pedang.

Hiss...

Asap putih berbau tajam mengepul saat cairan itu menyentuh logam. Karat merah yang tebal mulai melepuh dan rontok seperti kulit mati, menetes ke lantai kayu dan meninggalkan noda hitam.

Lin Xiao terus menggosok pedang itu dengan kain kasar, menyalurkan sedikit Qi-nya untuk mempercepat reaksi kimia. Proses ini memakan waktu berjam-jam. Keringat membasahi dahinya, namun matanya berbinar antusias.

Perlahan tapi pasti, wujud asli pedang itu mulai terlihat.

Bukan warna perak mengkilap seperti baja biasa. Pedang itu berwarna hitam pekat, sehitam malam tanpa bintang. Permukaannya tidak mulus, melainkan memiliki pola alami yang rumit seperti aliran air atau serat kayu—tanda khas dari Meteorit Besi Dingin.

Saat serpihan karat terakhir jatuh, suhu di dalam kamar turun drastis.

Pedang itu menyerap cahaya di sekitarnya. Bilahnya sedikit lebih lebar dari pedang biasa, dan beratnya... luar biasa. Berat aslinya hampir mencapai 50 kilogram. Bagi orang biasa, ini adalah gada besi, bukan pedang. Tapi bagi Lin Xiao yang sedang mempraktikkan Teknik Naga Surga Purba, berat ini sempurna untuk melatih ototnya.

Dia mengangkat pedang hitam itu, mengayunkannya pelan.

Wuuusss.

Suara angin yang terbelah terdengar berat dan rendah, seperti auman binatang buas.

"Bagus," puji Lin Xiao. Dia meraba pangkal pedang, di sana samar-samar terukir dua huruf kuno yang hampir pudar: Xuan Tie (Besi Misterius).

"Mulai sekarang, namamu adalah 'Xuan'," bisik Lin Xiao. "Di kehidupan ini, kau akan menemaniku membelah langit."

Dia menyarungkan pedang itu ke dalam sarung kulit sederhana yang juga dia beli di pasar, lalu menyimpannya di sisi tempat tidur. Waktunya untuk agenda kedua: Kultivasi.

Lin Xiao mengeluarkan sisa bahan herbal yang dia beli. Rumput Roh Angin, Bunga Tiga Warna, dan Kristal Energi Rendah.

"Dengan tubuh Tingkat 1, aku tidak bisa melawan Wang Lei yang berada di Tingkat 5. Perbedaan 4 tingkat sangat besar dalam hal cadangan Qi," analisis Lin Xiao. "Aku harus mencapai minimal Tingkat 3 sebelum turnamen."

Waktu tersisa: 29 hari.

Bagi kultivator jenius di kota ini, naik satu tingkat membutuhkan waktu 6 bulan sampai 1 tahun. Naik dua tingkat dalam sebulan? Itu mimpi di siang bolong.

Tapi Lin Xiao adalah mantan Supreme Alchemist. Dia tahu jalan pintas yang tidak diketahui orang awam.

Alih-alih membuat pil (karena dia belum punya tungku alkimia yang layak), Lin Xiao memilih metode Ekstraksi Murni. Dia meremas herbal-herbal itu di tangannya, menggunakan teknik getaran Qi presisi tinggi untuk memisahkan esensi murni dari ampasnya.

Cairan hijau zamrud menetes dari sela-sela jarinya, jatuh ke dalam mangkuk.

"Minum ini akan sangat menyakitkan," gumamnya sambil menatap cairan kental itu. "Tanpa proses pembakaran api, energi liarnya masih utuh."

Tanpa ragu sedikit pun, dia menenggaknya.

Boom!

Panas. Jauh lebih panas daripada mandi obat sebelumnya. Perutnya terasa seperti diisi timah cair.

Lin Xiao segera memejamkan mata, tangannya membentuk segel tangan Naga Tidur.

"Tarik napas... serap!"

Energi spiritual di kamar itu berputar, membentuk pusaran kecil di sekitar tubuh Lin Xiao. Di dalam tubuhnya, Dantian yang semula hanya berisi kabut tipis kini bergolak. Qi-nya yang berwarna putih keemasan mulai memadat, tetes demi tetes.

Satu hari berlalu.

Dua hari berlalu.

Lin Xiao tidak keluar kamar sama sekali. Xiao Yun yang setia hanya meletakkan nampan makanan di depan pintu, yang selalu habis setiap kali dia kembali.

Pada hari ketujuh.

Paviliun kecil itu tiba-tiba bergetar.

Di dalam kamar, Lin Xiao membuka matanya. Sebuah kilatan cahaya tajam memancar dari pupilnya. Debu di lantai tersapu keluar dalam lingkaran konsentris.

KRETEK!

Tulang-tulangnya berbunyi nyaring, seperti petasan yang meledak beruntun. Kulitnya tampak lebih berkilau, seolah ada lapisan giok di bawah dagingnya.

"Ranah Pengumpulan Qi... Tingkat 3," ucap Lin Xiao, suaranya tenang namun mengandung kekuatan magnetis.

Dia merasakan aliran tenaga di tubuhnya. Jika sebelumnya kekuatannya seperti aliran sungai kecil, sekarang rasanya seperti sungai yang deras. Indra pendengarannya menajam; dia bisa mendengar suara langkah kaki semut di sudut ruangan dan percakapan pelayan di kejauhan.

"Belum cukup," batinnya. "Secara teori, Qi-ku sekarang setara dengan kultivator Tingkat 5 biasa karena kemurniannya. Tapi Wang Lei memiliki Teknik Cakar Elang Darah, sebuah teknik tingkat Menengah yang mematikan."

Dia berdiri, meregangkan ototnya. Perutnya berbunyi keras. Seminggu hanya makan bubur dan pil membuatnya lapar setengah mati.

Saat dia membuka pintu kamar, cahaya matahari sore menyambutnya. Namun, bukan hanya matahari yang menunggunya.

1
jamanku
ga sabar nunggu
Op L
lanjutkan tor
Yuu Li
gas
Yuu Li
oke
Yuu Li
makinnnn seruuuu👍
Lucy Sandy
makin seru👍👍👍
Lucy Sandy
lanjutkan sampai tamat
Roy Kkk
ceritanya menarik
Roy Kkk
bagus👍👍👍👍👍
Roy Kkk
matap bangat karyamu
King Salman
bagus
Jinan 2
cepat update
Raikuu 1
bagus
Rayhan Purwanto
lanjutkan
Lamia Dante
semangat namatin
Lamia Dante
bagus ceritanya👍👍👍
Jake King
luar biasa ceritanya
Jake King
makin sery👍
Op L
ceritannya seru
Op L
makin seru lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!