Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.
Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.
[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Bagian 2: Verifikasi Data Fisik
Lorong menuju Gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) untungnya sedang sepi.
Suara riuh tepuk tangan dari area Boulevard perlahan meredup, berganti dengan bunyi heels Bella yang beradu cepat dengan lantai marmer koridor. Cengkeraman tangannya di lengan Raka tidak mengendur sedikit pun. Malah, rasanya semakin erat, seolah takut Raka akan menguap jadi asap jika dilepas sedetik saja.
"Kak, ini kita mau ke ruang sekretariat atau mau simulasi penculikan?" goda Raka santai, membiarkan dirinya ditarik.
Bella tidak menjawab. Dia hanya menoleh sekilas, memberikan tatapan tajam tapi ada kilatan nakal di matanya yang membuat nyali cowok biasa pasti ciut, tapi Raka justru merasa tertantang.
Mereka tiba di depan pintu kaca bertuliskan "Sekretariat Divisi Seni & Budaya".
Bella menempelkan kartu aksesnya. Beep. Pintu terbuka.
Dia menarik Raka masuk, dan dengan gerakan cepat Bella membanting pintu itu kembali tertutup.
KLIK.
Suara kunci diputar terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi itu.
Hening.
Hanya ada suara dengungan halus AC sentral dan napas mereka berdua. Ruangan itu cukup luas, penuh dengan alat musik, kostum tari, dan aroma samar pengharum ruangan wangi Vanilla yang manis persis seperti aroma tubuh Bella.
Raka bersandar santai di pintu yang baru saja dikunci, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Dia menatap Bella dengan senyum miring yang khas.
"Dikunci, Kak? Saya pikir prosedur verifikasi data itu transparan?"
Bella berbalik perlahan. Napasnya masih sedikit memburu, bukan karena lelah berlari, tapi karena adrenalin yang mempompa darahnya ke wajah. Rona merah di pipinya membuat senior cantik itu terlihat berkali-kali lipat lebih menggoda.
Dia melangkah maju mendekati Raka. Satu langkah. Dua langkah. Hingga jarak di antara mereka hanya tersisa sejangkauan lengan.
"Transparan itu buat umum, Raka," bisik Bella, suaranya rendah dan serak, berbeda jauh dengan nada galaknya di panggung tadi. "Buat aset berharga Divisi Seni... prosedurnya tertutup. Private."
Bella mengangkat formulir pendaftaran Raka yang sudah sedikit lecek karena diremasnya tadi. Dia mengibaskannya pelan di depan dada bidang Raka.
"Sini," perintah Bella.
Dia mundur dan duduk di tepi meja kerja ketua yang terbuat dari kayu jati kokoh. Kakinya yang jenjang, dibalut stocking hitam tipis dan rok span di atas lutut, disilangkan dengan anggun. Pose itu sengaja. Bella tahu asetnya, dan dia tidak ragu menggunakannya.
"Mendekat," titah Bella lagi, kali ini sambil menggigit bibir bawahnya pelan.
Raka menurut. Dia melangkah maju, berdiri tepat di antara kedua kaki Bella yang terbuka sedikit di ujung meja. Posisi yang sangat berbahaya.
Jantung Bella berdegup kencang melihat Raka begitu dekat. Dari jarak sedekat ini, dia bisa mencium aroma Cologne maskulin yang mahal dari tubuh Raka, bercampur dengan aroma samar tembakau yang memabukkan.
"Nama... Raka Adhitama," baca Bella pelan, matanya tidak melihat kertas, tapi menelusuri wajah Raka. Dari alis tebalnya, mata tajamnya, hingga bibirnya.
"Benar," jawab Raka singkat. Suaranya berat.
Bella menurunkan kertas itu ke pangkuannya. Jari telunjuknya yang lentik dengan kuku bercat merah maroon bergerak naik. Menyentuh dada Raka yang terbalut kemeja putih di balik jas mahalnya.
"Tinggi badan...," gumam Bella. Jarinya perlahan menari, menelusuri kancing kemeja Raka satu per satu. "Berat badan... proporsional."
"Perlu ditimbang ulang, Kak?" tanya Raka, menahan seringai.
Bella mendongak, menatap lurus ke dalam mata Raka. Jarak wajah mereka kini kurang dari sepuluh sentimeter. Raka bisa merasakan hembusan napas hangat Bella yang beraroma mint menerpa dagunya.
"Nggak perlu timbangan..." bisik Bella. Tangannya yang bebas kini merayap naik, melingkar di belakang leher Raka, menarik wajah cowok itu semakin turun mendekatinya. "Kakak bisa ukur sendiri... pakai tangan."
Raka tidak menolak. Dia justru menumpukan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Bella, mengurung gadis itu di tepi meja.
"Kak Bella..." Raka membalas bisikan itu tepat di telinga Bella, membuat bulu kuduk gadis itu meremang seketika. "Kakak tahu kan, penyalahgunaan wewenang itu ada sanksinya?"
Bella tertawa kecil, suara tawa yang manja dan menggoda.
"Siapa yang mau ngehukum aku? Presma?" Bella menggeleng pelan, hidungnya kini bersentuhan lembut dengan hidung Raka. "Di ruangan ini... aku hukumnya, Raka."
Tangan Bella di belakang leher Raka bergerak membelai rambut belakang cowok itu, memberikan pijatan lembut yang membuai.
"Kamu itu..." Bella menelan ludah, suaranya bergetar menahan hasrat. "Kamu bikin aku gila di panggung tadi. Main piano kayak gitu... itu ilegal, tau nggak?"
"Kenapa?"
"Karena itu bikin jantung cewek copot," desis Bella. "Dan sekarang... kamu harus tanggung jawab."
"Tanggung jawab gimana?"
Bella menarik kerah kemeja Raka pelan, memaksanya menunduk lebih dalam hingga bibir mereka hampir bersentuhan.
"Jangan pernah mainin lagu itu buat cewek lain," ancam Bella, tapi nada suaranya terdengar seperti permohonan yang putus asa. "Cuma buat aku. Jari-jari kamu ini..."
Bella meraih tangan kanan Raka tangan yang tadi menari lincah di atas piano. Dia menggenggamnya, lalu secara mengejutkan, Bella mencium punggung tangan Raka dengan lembut, matanya terpejam menikmati momen itu.
Sensasi bibir lembut Bella di kulit tangannya mengirimkan sengatan listrik ke sekujur tubuh Raka.
"Jari-jari ini... mulai sekarang jadi aset eksklusif Ketua Divisi Seni," ucap Bella setelah melepaskan ciumannya, menatap Raka dengan pandangan posesif yang membakar. "Kalau ada cewek lain yang berani pegang... bilang sama mereka, tangan ini udah diasuransikan atas nama Bella Anindya."
Raka tersenyum, lalu dengan gerakan berani, dia membalikkan keadaan. Dia memajukan wajahnya, mengikis jarak terakhir, dan berbisik tepat di bibir Bella.
"Siap laksanakan, Bu Ketua. Tapi..." Raka menyeringai nakal. "Biaya preminya mahal lho. Yakin sanggup bayar?"
Bella ternganga sedikit, terkejut dengan serangan balik Raka. Wajahnya memerah padam, napasnya tertahan. Dia pikir dia pemburunya, tapi ternyata mangsanya juga punya taring.
"Ka-kamu..." Bella tergagap, kehilangan kata-kata untuk pertama kalinya.
"Kalau mau aset eksklusif," Raka membelai pipi Bella dengan ibu jarinya, sentuhan yang sangat lembut namun dominan. "Kakak harus pastikan... servisnya memuaskan."
Suasana di ruangan itu memanas drastis. Bella memejamkan matanya perlahan, bibirnya sedikit terbuka, menanti pergerakan Raka selanjutnya. Tubuhnya sudah condong ke depan, siap menyerah pada gravitasi pesona juniornya itu.
Namun, Raka tahu persis di mana garis batasnya.
Tepat ketika napas Bella menerpa bibirnya, Raka justru menarik diri.
Dia menegakkan tubuhnya kembali, melepaskan kungkungannya dari meja dengan gerakan santai namun tegas. Jarak aman kembali tercipta.
"T-tunggu..." Bella membuka matanya, bingung. Ada kekecewaan yang jelas terpancar di wajah cantiknya yang memerah. "Kok berhenti?"
Raka merapikan kerah jasnya yang sedikit berantakan, lalu menepuk puncak kepala Bella pelan bukan sentuhan romantis, tapi lebih seperti perlakuan kakak kepada adik kecil yang sedang merajuk.
"Nggak sekarang, dan nggak di sini, Kak Bella," ucap Raka dengan senyum tipis yang mematikan. "Kita masih di lingkungan kampus. Saya nggak mau reputasi Kakak sebagai Ketua BEM yang terhormat hancur cuma gara-gara Maba baru di hari pertama."
Bella masih terdiam, dadanya naik turun menahan emosi campur aduk. Antara lega, kesal, dan hasrat yang tak tersalurkan. Dia merasa dipermainkan, tapi sialnya, itu justru membuatnya semakin menginginkan Raka.
Raka melangkah mundur menuju pintu, tangannya memutar kunci. KLIK. Pintu terbuka.
Dia menoleh sekilas ke arah Bella yang masih bersandar lemas di meja, tampak berantakan namun sangat cantik.
"Formulirnya saya tinggal di meja. Simpan baik-baik 'aset' Kakak itu. Sampai ketemu di rapat selanjutnya, Bu Ketua."
Dengan kedipan mata singkat yang penuh percaya diri, Raka melenggang pergi keluar ruangan. Meninggalkan Bella sendirian di sana.
Gadis itu merosot pelan, menutupi wajahnya yang panas dengan kedua tangan. Jantungnya masih berdegup gila-gilaan.
"Sialan... Raka Adhitama..." desis Bella di balik jemarinya, setengah mengumpat setengah memuji. "Liat aja nanti. Kamu nggak bakal bisa lari."
Dia sadar satu hal hari itu: Raka bukan sekadar pianis jenius. Dia adalah bad boy berkelas yang tahu cara memegang kendali. Dan Bella menyukainya. Sangat menyukainya.