Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Me Time Almira # Hasutan Lila
.
“Fa, aku ingin segera menyimpan dokumen-dokumen penting ini ke Bank,” ucap Almira setelah mereka menghabiskan minuman dan cemilan yang mereka pesan.
“Ya udah, Mir. Aku antar kamu aja,” jawab Sifa sambil tersenyum memberi dukungan. “Sekalian jalan bareng. Sudah lama sekali rasanya kita gak pergi bersama.
Keduanya segera meninggalkan kafe dan naik mobil milik Almira, karena sebelumnya Sifa datang ke kafe dengan taksi. Dalam perjalanan, mereka bercanda dan tertawa, bahkan bernyanyi seiring suara musik yang sengaja diputar oleh Sifa, seolah tidak baru saja terjadi apa-apa. Sifa selalu pintar mencari bahan obrolan hingga Almira lupa pada rasa sakit hatinya.
*
Hampir setengah jam berkendara, mereka tiba di bank. Mereka disambut oleh petugas yang ramah di loket informasi. Setelah Almira menjelaskan maksud kedatangannya, petugas langsung membawanya ke meja layanan khusus untuk penyimpanan barang berharga dan dokumen penting.
“Selamat siang, Bu. Perkenalkan, saya Dina. Saya akan melayani Anda dengan sepenuh hati,” ucap Dewi dengan senyum hangat. “Silakan duduk dan beri tahu saya detail apa saja yang ingin Anda simpan di brankas kami.”
Almira mengeluarkan semua dokumen dari dalam tas-nya. Dina menangani setiap dokumen dengan sangat hati-hati dan teliti, mencatat semua detailnya ke dalam sistem dengan cermat.
“Selain ini, sebenarnya ada juga beberapa perhiasan yang ingin saya simpan. Tapi saya belum membawanya," ucap Almira.
“Untuk penyimpanan barang berharga seperti perhiasan kami juga menyediakan kotak penyimpanan khusus yang aman dan dilengkapi sistem keamanan tingkat tinggi, Bu,” jelas Dina ramah. “Anda bisa membawa perhiasan tersebut lain kali dan kami akan membantu proses penyimpanannya dengan cepat.”
Setelah semua proses verifikasi dan pendaftaran selesai, Dina memberikan kepada Almira sebuah kartu akses dan bukti penyimpanan resmi. “Seluruh dokumen Anda sekarang aman di sini, Bu. Anda bisa mengaksesnya kapan saja dengan membawa kartu ini dan identitas diri yang sah.”
Almira menghela napas dan tersenyum lega. “Terima kasih banyak, Bu Dina. Saya merasa jauh lebih tenang sekarang.”
Sifa menggenggam bahu Almira dengan lembut. “Kamu benar-benar hebat, Mir. Sekarang aset kamu aman dan tidak akan bisa diambil oleh orang yang tidak berhak.”
Setelah keluar dari bank, matahari sudah mulai meninggi. Hangatnya telah berubah menjadi sedikit panas. Sifa membuka pintu mobil dan menoleh padanya.
“Kamu mau langsung pulang atau mau pergi ke mana dulu?” tanya Sifa
Almira menggelengkan kepala perlahan. “Aku belum ingin pulang. Malas rasanya melihat muka adik madu yang sok itu. Mungkin lebih baik kita jalan-jalan dulu saja?”
Sifa mengangguk setuju. “Kalau begitu… bagaimana kalau kita ke salon? Salon langganan waktu kita kuliah makin rame loh,” ajak Sifa antusias.
Almira sedikit terkejut lalu mengerutkan keningnya. “Salon?”
Sifa kembali mengangguk. Matanya berbinar penuh harap. “Sudah lama rasanya kita tidak memanjakan diri bersama,” ucap Sifa sambil masuk ke dalam mobil. “Kamu selalu punya alasan untuk menolak ajakanku waktu itu,” protesnya dengan wajah cemberut.
Almira terdiam sejenak saat memasuki mobil dan menutup pintunya. Kata-kata Sifa memang benar. Semenjak menikah dengan Gilang, ia jarang sekali keluar untuk me-time atau sekedar bertemu Sifa. Ia lebih fokus mengabdikan diri pada suami yang ia kira mencintainya dengan tulus. Siapa sangka ternyata Gilang hanya seorang pengkhianat yang tidak menghargai segala pengabdiannya.
Almira menyalakan mesin mobil dan mulai mengemudi keluar dari area parkir bank.
“Nah sekarang kan waktunya kamu berpikir tentang dirimu sendiri, Mir,” ucap Sifa meyakinkan. “Kamu sudah terlalu lama mengorbankan kebahagiaan dan waktu untuk orang lain. Cukup sudah, sekarang giliran kamu untuk bahagia dan merawat dirimu sendiri.”
Almira mengangguk perlahan dan mulai tersenyum sedikit. Ia melihat refleksi wajahnya di kaca mobil – wajah yang terlihat lelah dan kurang perawatan. Benar saja, sudah sangat lama ia tidak memberikan perhatian pada diri sendiri.
“Oke deh, kita ke salon aja!” ucap Almira dengan nada yang lebih ceria. “Aku juga ingin merubah penampilan sedikit, mungkin potong rambut atau menicure pedicure, facial, apa saja. Yang penting bisa bikin lebih rileks."
Sifa tersenyum lebar mendengar kata-kata sahabatnya. “Itu baru dong Almira yang aku kenal! Kita akan bikin kamu terlihat cantik dan segar kembali, sampai siap menghadapi semua tantangan yang ada!”
Mereka melanjutkan perjalanan menuju salon dengan suasana hati yang jauh lebih ringan. Perlahan tapi pasti, ia akan kembali pada dirinya yang hilang selama ini. Almira juga mulai berpikir, mungkin ia hanya akan mengenakan hijab jika hendak keluar rumah saja. Toh hanya Gilang satu-satunya laki-laki yang ada dalam rumah itu.
*
*
*
Sore hari, Gilang kembali dari kantor dengan wajah kusut. Pria itu masuk ke dalam rumah dengan wajah pucat dan tanpa suara. Ia melihat Lila sedang duduk di sofa sambil memegang perutnya, wajahnya tampak lesu.
“Mas Gilang, kamu kembali?” tanya Lila dengan harap. “Kamu bawain aku makanan gak?”
Gilang tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke arah sofa lalu menghempaskan tubuh dengan kasar.
“Mas Gilang, jawab dong! Kamu bawa makanan, gak? Aku lapar dan badanku merasa tidak enak,” ucap Lila sambil bergelayut di lengan pria itu, menampilkan wajah memelas. Biasanya setiap dia mengeluarkan ekspresi seperti itu Gilang akan langsung memberikan apa yang ia inginkan.
Tapi…
“Astaga, Lila!” geram Gilang dengan wajah kesal. Matanya yang semula terpejam terbuka lebar. Punggungnya yang bersandar pun ia tegakkan. “Aku ini baru pulang kerja dan kamu merengek seperti itu?!" Gilang menggelengkan kepala seperti tak habis pikir.
"Mas… kamu membentakku?” Mata Lila seketika berkaca-kaca.
Gilang meraup wajahnya kasar. Ia sudah lelah. Ia juga lapar. Bukankah seharusnya Lila yang menyediakan makanan untuknya?
Lila menghapus air matanya yang mengalir deras. “Padahal kamu, Mas, yang bilang akan menjagaku dan bayiku kan?”
Gilang menutup matanya dan menghela napas dalam-dalam. Sebelumnya ia tak pernah menghadapi hal remeh temeh seperti ini. Pagi berangkat kerja dengan perut kenyang, pulang disambut Almira dengan senyum manis. Makanan sudah ada di meja. Sekarang bahkan hanya untuk sekedar mengisi perut saja Lila merengek seperti anak kecil. Tak mau ribut karena hal sepele, akhirnya pria itu mengambil ponselnya dan memesan makan via online. Ada anaknya dalam perut Lila. Itu yang selalu membuatnya lemah.
Setelah memesan makanan, Gilang mengedarkan pandangannya. Rumah itu terasa hampa. Seperti ada sesuatu yang kurang.
“Lila… dimana Almira?” tanya Gilang setelah menyadari apa yang kurang.
Lila mengusap mata yang masih basah dan segera mengangkat wajahnya, wanita itu melihat Gilang dengan tatapan yang tampak khawatir namun seringai licik tersimpan di otaknya.
“Mas… Mbak Almira sudah pergi sejak pagi, lho. Bahkan sebelum Mas pulang untuk mengambil file yang tertinggal tadi,” ujarnya perlahan.
Gilang mengerutkan kening mendengarnya. Itu tidak biasanya. Almira tak pernah keluar rumah tanpa dirinya. “Benarkah? Dia bilang mau kemana gak?”
“Tidak, Mas,” jawab Lila sambil menggelengkan kepala. Dua tangannya menekan perutnya seolah merasa semakin tidak nyaman.
“Aku merasa mbak Almira bukan istri yang baik untuk kamu, Mas. Dia pergi tanpa memberitahu siapapun, bahkan tidak meninggalkan makanan sedikitpun untukku. Padahal dia tahu aku sedang hamil.”
Lila mendekat sedikit ke Gilang, dengan suara yang semakin lembut namun penuh tuduhan terselubung. “Jangan-jangan mbak Almira sengaja ingin membuat aku kelaparan, mas. Kalau memang seperti itu, dia sangat jahat sekali. Apa dia ingin terjadi apa-apa sama anak kita?”
semangat thor