> "Rei Jaavu, apakah anda siap meninggalkan dunia ini dan pergi menuju negeri impian anda sekarang?"
"Jepang? Beneran aku bisa ke Jepang?"
> "Jepang? Ya, Jepang. Tentu saja."
Kata-kata itu muncul di layar laptop Rei, seperti tawaran menggiurkan yang nggak mungkin ia tolak. Sebuah sistem bernama "AniGate" menjanjikan hal yang selama ini cuma ada di dalam imajinasinya. Jepang klasik, negeri isekai, atau bahkan jadi tokoh kecil di dalam novel klasik yang selalu ia baca? Semua seperti mungkin. Ditambah lagi, ini adalah jalan agar Rei bisa mewujudkan impiannya selama ini: pergi kuliah ke Jepang.
Tapi begitu masuk, Rei segera sadar... ini bukan petualangan santai biasa. Bukan game, bukan sekadar sistem main-main. Di tiap dunia, dia bukan sekadar 'pengunjung'. Bahaya, musuh, bahkan rahasia tersembunyi menghadangnya di tiap sudut. Lebih dari itu, sistem AniGate seolah punya cara tersendiri untuk memaksa Rei menemukan "versi dirinya yang lain".
"Sistem ini... mempermainkan diriku!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RE-jaavu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Silent Word: Bagian 2
Bagian 2: Ketika Sunyi Bicara Lebih Keras
Suasana kelas perlahan kembali normal setelah guru melanjutkan pelajaran, tapi aku masih merasa berat untuk mengalihkan pandangan dari Aiko Shizuru. Dia duduk di barisan depan, tubuhnya sedikit membungkuk saat menatap buku catatannya. Sesekali, tangannya bergerak pelan untuk menulis sesuatu, tapi gerakannya terlihat ragu-ragu.
Sementara itu, aku… hanya duduk di sini, di bangku belakang, berpura-pura memperhatikan pelajaran.
“Shizuru Aiko,” gumamku lagi, nama itu terasa asing di lidahku, tapi juga membuatku penasaran. Dia tampak seperti tokoh utama dalam kisah dramatis yang kutonton di anime. Gadis yang lemah lembut, penuh kesabaran, tapi terjebak dalam situasi sulit.
Tapi ini bukan anime. Ini nyata.
Suara gesekan kapur di papan tulis hampir tidak terdengar di tengah bisik-bisik para siswa. Beberapa anak di barisan tengah sesekali melirik ke arah Aiko, tertawa kecil sambil saling berbisik. Jelas, mereka tidak membicarakan hal yang baik.
Aku menggigit bibir. Sejak kecil, aku tahu bagaimana rasanya menjadi target. Aku tahu betul betapa menyakitkannya diabaikan atau bahkan direndahkan. Tapi sekarang, di dunia ini, aku hanya penonton. Tokoh latar.
“AniGate…” bisikku pelan, berharap sistem itu muncul lagi.
Tidak ada jawaban. Tentu saja.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Tidak ada yang bisa kulakukan sekarang.
...****************...
Waktu istirahat datang.
Kerumunan siswa langsung memenuhi lorong kelas. Beberapa anak berjalan keluar dengan obrolan riuh, sementara yang lain sibuk membuka bekal atau berbicara dengan teman sebangku mereka. Aku tetap di tempatku, mencoba menghindari perhatian.
Aiko masih duduk di tempatnya. Dia membuka kotak bekalnya perlahan, tampak berhati-hati seperti takut membuat suara. Dari jauh, aku bisa melihat dia membawa nasi kepal dan beberapa potongan buah, semuanya terlihat sederhana tapi rapi.
Saat aku sedang memperhatikannya, sekelompok anak laki-laki dan perempuan dari barisan tengah mendekati mejanya.
“Shizuru-san, itu makananmu?” salah satu dari mereka bertanya, nada suaranya terdengar manis tapi penuh ejekan.
Aiko mengangkat kepalanya, lalu tersenyum kecil sambil mengangguk. Tapi sebelum dia sempat merespon lebih jauh, salah satu anak laki-laki di kelompok itu, yang aku kenali sebagai Tetsuya Kagami, mengambil salah satu nasi kepalnya.
“Kelihatannya enak, ya,” katanya sambil tersenyum lebar. Dia melempar nasi kepal itu ke udara dan menangkapnya dengan satu tangan, seolah-olah itu hanya mainan.
Aiko menatapnya dengan bingung, tangannya bergerak pelan untuk menggunakan bahasa isyarat. Tapi sebelum dia sempat menyampaikan sesuatu, Kagami sudah menggigit nasi kepal itu dengan sengaja, mengunyah dengan ekspresi puas.
“Wow, enak juga,” katanya, lalu menoleh ke teman-temannya. “Kalian mau coba?”
“Hey, hentikan itu!”
Aku tidak sadar kapan aku bangkit dari tempat dudukku, tapi suaraku menggema di seluruh kelas. Semua orang menoleh ke arahku, termasuk Kagami dan Aiko.
“Ah, ternyata kau. Hahaha, si latar belakang akhirnya ngomong juga,” kata Kagami, tertawa kecil sambil menatapku dengan tatapan meremehkan. “Ada apa, kamu juga mau nasi kepalnya?”
Aku mengepalkan tanganku, mencoba menahan amarah. “Itu makanan miliknya. Kau nggak berhak mengambilnya.”
Kagami memiringkan kepalanya, ekspresinya seolah-olah aku baru saja menceritakan lelucon yang buruk. “Oh, jadi kamu pahlawan sekarang?”
Aku menelan ludah. Tubuhku gemetar, tapi aku mencoba menatap matanya dengan tegas. “Kembalikan nasi kepalnya.”
Kagami hanya tertawa. “Hei-hei? Lihatlah siapa dirimu? Memangnya apa yang akan kamu lakukan kalau aku nggak mau?”
Aku terdiam. Aku tahu aku tidak bisa melawan Kagami. Dia lebih tinggi, lebih kuat, dan memiliki geng yang siap mendukungnya kapan saja. Semua yang ada di tubuh ini, karakter ini, terasa tidak memadai.
“Tepat sekali,” kata Kagami, melempar sisa nasi kepal ke tempat sampah di sudut ruangan. “Kamu nggak bisa ngapa-ngapain.”
Aku menggertakkan gigi, merasa darahku mendidih. Tapi sebelum aku bisa melakukan apa pun, Aiko tiba-tiba berdiri. Dia melangkah maju, berdiri di depan Kagami dengan ekspresi tenang yang sulit dijelaskan.
Dia tidak berbicara, tentu saja. Sebaliknya, dia mengambil kotak bekalnya dan memegangnya erat, seolah mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan Kagami mengambil lebih banyak lagi.
Selama beberapa detik, suasana menjadi hening. Kagami menatapnya dengan tatapan bingung, lalu tertawa kecil. “Kamu punya nyali juga, ya.”
Dia berbalik, berjalan kembali ke tempat duduknya sambil tertawa dengan teman-temannya.
Aku hanya bisa berdiri diam, merasa marah pada diriku sendiri. Kenapa aku tidak bisa melakukan apa pun?
> “User, tampaknya Anda menghadapi kesulitan dengan peran Anda.”
Suara AniGate muncul lagi, kali ini terdengar sedikit lebih sinis dari biasanya.
“AniGate,” bisikku, “kenapa kau menempatkanku di posisi ini? Aku ingin membantu, tapi aku tidak bisa!”
> “Tugas Anda bukan untuk menjadi pahlawan, User. Tugas Anda adalah menemukan cara untuk membantu tanpa melawan sifat dasar karakter Anda.”
Aku memejamkan mata, mencoba menenangkan diriku sendiri. Tapi suara tawa Kagami dan teman-temannya terus bergema di telingaku, membuatku merasa semakin tidak berguna.
Aiko kembali ke tempat duduknya. Dia membuka buku catatannya, berusaha mengabaikan semua yang baru saja terjadi. Tapi dari jarak ini, aku bisa melihat tangannya sedikit gemetar.
Aku mengepalkan tanganku lagi. Dalam hati, aku berjanji, Aku harus menemukan cara untuk membantumu, Aiko. Bagaimanapun caranya.
aku mampir ya 😁