NovelToon NovelToon
Usia 40+, Rayuan Sang Mafia

Usia 40+, Rayuan Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Mafia / CEO
Popularitas:20.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vlaucia Campos

Di usia empat puluh, Antonella pikir hidupnya sudah selesai dikhianati—sampai ia memergoki suaminya sendiri bersama sang sekretaris. Perceraian mengubahnya: dari istri yang patah hati menjadi wanita baru yang tajam, berani, dan tak takut pada siapa pun.
Termasuk pada Don Enrico Costello—mafioso paling ditakuti di seluruh Italia.

Ketika utang judi sang mantan suami membuat putri semata wayangnya terancam, Antonella melakukan hal yang tak pernah berani dilakukan siapa pun: ia menatap langsung mata sang Don dan menawarkan dirinya sebagai gantinya. Seorang guru berusia empat puluh tahun, di tengah dunia penuh darah, senjata, dan kuasa.

Enrico terbiasa ditakuti. Ia tak pernah mencintai, tak pernah tertawa, tak pernah mengizinkan seorang wanita pun terlalu dekat. Tapi wanita satu ini menolak gemetar di hadapannya—malah membuatnya ingin membunuh sekaligus tertawa di saat yang sama. Dan untuk pertama kalinya, es di hati sang Don mulai retak.

Di antara dua bocah lelaki yang haus kasih sayang, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan gairah yang membakar setiap malam, Antonella menemukan bahwa "dibawa oleh seorang mafioso" mungkin justru awal dari hidup yang selalu ia impikan—dan pertaruhan paling berbahaya yang pernah ia ambil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlaucia Campos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi Bersama Don Enrico

Antonella

Enrico sedang bicara dengan pria-pria lain, dan si Frederico itu mendampingiku. Aku tahu namanya Frederico karena tadi, waktu kami mau berangkat, Enrico menyebut namanya.

Aku menoleh dan melihat Bu Miriam mengintai dari jendela. Kau tahu, aku tak boleh melewatkan kesempatan untuk bilang bahwa yang bersalah adalah Fillipo—apalagi kalau nanti aku dibunuh, kan seseorang harus menyebarkan beritanya.

"Hai, Bu Miriam," sapaku.

Bu Miriam penasaran. "Hai, sayang, semua baik-baik saja?"

Nah, itu dia pertanyaan yang kutunggu, batinku.

"Tidak. Kau tahu, mantanku—si bajingan teman kalian, Fillipo itu—memaksaku menyerahkan diri pada mafia," kataku pura-pura sedih. "Gara-gara dia, Bu Miriam, aku bisa mati!!!"

Aku mengedip ke Frederico. Bantu aku dong, isyaratku sambil menunjuk pistolnya.

Frederico

Aku terpaksa menahan tawa, tapi kucabut juga pistolku. Ibu itu langsung memegang dadanya dan ternganga.

Antonella

Bu Miriam ketakutan. "Sayang, aku akan berdoa supaya kau lolos dari ini."

Berhubung mereka toh bisa membunuhku, lebih baik kuceritakan sekalian, batinku.

"Kau lebih baik mendoakan arwah burung beomu," kataku. "Maaf, Bu Miriam. Bob yang membunuhnya. Aku memang sedikit bersalah—"

Ia bahkan tak sempat mendengar bagian "aku sedikit bersalah" dan langsung pingsan—atau mati. Ya Tuhan, ya ampun.

"Frederico, kurasa aku membunuh si nenek," kataku.

Frederico terbahak dan menyimpan pistolnya.

"Dia benar-benar mati, ya???" tanyaku.

"Kurasa tidak," jawab Frederico sambil tertawa.

Enrico

Sebelum masuk ke mobil.

"Dante, Rinaldo, pastikan gadis itu sampai di rumah tantenya," kata Enrico.

"Oke," sahut mereka.

"Dan suruh Luigi cari tahu semua tentang Antonella. Semuanya! Kumau ada di mejaku, di kantor kasino. Bilang padanya aku mau laporan hidup wanita itu secepatnya—prioritas."

"Akan kusuruh dia mengerjakannya sekarang juga," kata Rinaldo.

Enrico hanya mengangguk tanda setuju, lalu pergi.

Dante

Aneh,* pikirku. Dia bukan tipe yang menyakiti anak di bawah umur, tapi juga bukan tipe yang berbaik hati.* Yah, permintaan darinya adalah perintah. Dan meski aku temannya, aku tak akan pernah mempertanyakannya. Sepertinya ia menyukai Antonella—wanita yang cantik dan lucu. Aku juga suka...

Di dalam mobil.

Antonella

Aku berada di mobil bersama si cakep Enrico. Harusnya dia dipanggil Don Juan. Lina benar-benar tepat. Kalau berjas saja sudah kelihatan betapa cakepnya dia, betapa berototnya—bayangkan kalau tanpa apa-apa... ya ampun, Antonella...

Ada juga Frederico. Aku duduk di antara mereka berdua, tapi Frederico agak menjauh sedikit. Aku suka dia—dia membantuku menghadapi Bu Miriam, sepertinya dia orang yang menyenangkan. Tuhan, maafkan aku, apa aku benar-benar membunuh si tukang gosip itu...

Enrico, selain cakep, wangi pula. Astaga, ini justru jauh lebih berbahaya daripada ditembak. Aku hampir setuju dengan Lina bahwa mati di pelukan pria seperti ini bisa jadi pilihan yang bagus.

Enrico

Ia wangi. Dan waktu keluar tadi ia melepas apronnya, jadi aku bisa melihat tubuhnya sedikit lebih jelas—sepertinya cantik. Semoga sebentar lagi bisa kulihat tanpa sehelai benang pun.

"Frederico, telepon Sofia dan kirimkan ukuran Antonella padanya. Suruh dia menyiapkan pakaian yang modern dan bagus," kata Enrico.

"Beres," jawab Frederico.

"Maksudnya???" sela Antonella. "Tidak!!! Dia harus melihatku dulu. Tinggiku tak terlalu membantu, ada palet warnaku, gayaku, aku perlu mencoba tiap potongnya. Aku bermimpi diculik mafioso selama bertahun-tahun lalu diajak belanja, dan sekarang, tepat saat Tuhan mengabulkan permintaanku, kau malah mau menyuruh orang membelikannya untukku??? Tanpa aku bisa melihat atau memilih sendiri? Ah, itu menyedihkan sekali. Jangan tersinggung, ya, tapi aku sedang menikmati sekali diculik ini."

Frederico tertawa.

Aku ingin tertawa sekaligus ingin membunuhnya karena begitu lancang, tapi aku suka, batin Enrico.

Enrico hanya menatap Antonella.

"Frederico, suruh Sofia mampir ke mansion dan menemani Antonella berbelanja," kata Enrico.

"Aku harus bilang, kau luar biasa, Don Enrico," kata Antonella.

Dia akan membuatku gila, batin Enrico.

"Oke," kata Frederico sambil tertawa.

Frederico

Wanita ini lucu, dan aku suka caranya memperlakukan Enrico. Enrico tak pernah mengizinkan seorang wanita berbuat seperti yang barusan dilakukannya. Kurasa ia menyukainya, sangat menyukainya. Dan sejujurnya, kurasa temanku memang layak mendapatkan wanita seperti ini.

Di sisi lain—Dante, Rinaldo, Fillipo, dan Fiorella.

Dante

Dante dan Rinaldo kembali masuk ke dalam rumah. "Fiorella—itu namamu, kan?"

"Iya, tapi ibuku pergi menggantikanku. Kenapa kalian masih di sini?" tanya Fiorella.

"Don Enrico meminta kami mengantarmu sampai ke rumah tantemu. Dan jangan khawatir, utang ayahmu sudah lunas," kata Dante.

"Tepat sekali. Jadi kalian boleh pergi, putriku akan tinggal denganku," kata Fillipo.

"Kami punya perintah untuk mengantarnya ke rumah tantenya, dan aku tak akan melanggar perintah sang Don," kata Rinaldo.

"Tidak, Ayah. Ibu melakukan ini demi aku, dan dia menyuruhku tinggal dengan Tante Lina, jadi aku akan tinggal dengannya. Aku tak mau kena hukuman seumur hidup nanti," kata Fiorella.

"Ibumu tak mungkin memberimu hukuman seumur hidup," kata Fillipo.

"Aku akan tinggal dengan Tante Lina. Itu jauh lebih baik daripada bertemu muka dengan pacar kecilmu, Luna," kata Fiorella.

"Jaga bicaramu padanya, Fiorella," kata Fillipo.

"Kami tunggu di mobil. Kalau sudah siap, kami antar," kata Dante.

"Oke," sahut Fiorella.

"Ibumu tak lebih dari sekadar menjalankan kewajibannya sebagai ibu," kata Fillipo.

"Sama sekali tidak. Kau yang seharusnya berbuat sesuatu, tapi kau tak berbuat apa-apa. Atau lebih tepatnya, kau yang membuat utangnya, kan, Ayah?" balas Fiorella.

Rinaldo

Aku terus berpikir, bagaimana seorang pria bisa jadi bajingan sekelas Fillipo ini. Kuakui, aku suka kepribadian Antonella.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!