Kisah cinta yang rumit antara Fajar Mahardika dan Cahaya Senja. Karena suatu alasan dan segala rasa yang berkemelut dalam hati,
Fajar tak pernah menyentuh istrinya.
Sedangkan Senja, ia harus bertahan memendam luka demi menjaga keutuhan rumah tangga. Suami yang tak pernah menyentuhnya, serta mertua yang selalu memojokkannya.
Di tengah keputusasaan, Kenzo Antonio Putra, lelaki dari masa lalu datang menguji kesetiaannya.
Mampukah Senja bertahan pada pernikahannya? Ataukah ia akan tergoda oleh kekasih lamanya?
Temukan jawabannya, hanya dalam novel Kesucian Cinta Yang Ternoda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menangis Sendiri
"Tidurlah! Ini sudah larut malam, aku akan ke kamar mandi terlebih dahulu." kata Fajar sambil melangkah pergi.
Senja menatap kepergian Fajar, sambil meneteskan buliran bening dari sudut matanya. Setetes demi setetes air mata itu berjatuhan, dan membasahi kedua pipinya yang mulus. Tubuh Fajar telah menghilang di balik pintu kamar mandi. Namun Senja belum juga bergeming dari tempatnya. Tubuhnya masih berdiri terpaku, dan hanya air matanya saja yang berbicara.
Tak berapa lama kemudian, Fajar keluar dari kamar mandi. Ia menatap istrinya yang masih berdiri sambil menangis. Fajar melangkah mendekati Senja, lalu ia meraih tubuh Senja, dan membawanya kedalam pelukannya.
"Jangan menangis!" kata Fajar sambil mengusap punggung Senja. Samar-samar ia merasakan dadanya mulai basah.
"Maafkan aku Senja, aku memang lelaki berengsek. Seharusnya aku tidap pantas bersanding dengan kamu, tapi sekarang kau sudah menjadi istriku. Adara, kau benar-benar mengacaukan hidupku!" ucap Fajar dalam hatinya.
Fajar memeluk Senja dengan semakin erat, hatinya ikut pilu saat mendengar isakan Senja yang cukup keras.
"Aku tidak ingin menyakitimu, itu sebabnya aku tidak mau menyentuhmu sayang. Tapi, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menjelaskannya kepadamu." batin Fajar sambil memejamkan matanya.
"Aku lelah Kak, aku ingin istirahat!" ucap Senja tiba-tiba, sambil melepaskan pelukan suaminya.
"Baiklah, ayo kita tidur!" ajak Fajar sambil menggenggam tangan Senja.
"Tidak Kak, aku akan tidur di kamar sebelah. Aku butuh waktu untuk sendiri." jawab Senja sambil menyeka air matanya.
"Tapi Senja, aku..."
"Tolong mengertilah! Seperti aku yang berusaha untuk mengerti jalan fikiran kamu." sahut Senja sambil membalikkan badannya. Lalu ia melangkah keluar kamar, meninggalkan Fajar sendirian.
"Maafkan aku Senja." ucap Fajar dengan pelan. Ia menunduk sambil memegangi kepalanya, semua ini terlalu menyakitkan baginya.
Setelah Senja benar-benar pergi, Fajar duduk di sofa kamarnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bayangan tentang masa lalu kembali melintas dalam ingatannya.
"Andai saja dulu aku bisa menahan hasratku, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya. Kenapa aku terlambat menyadarinya, tahu begini aku tidak akan pernah menikahi Senja. Sekarang semuanya sudah terlanjur, dia sudah menjadi istriku. Aku jujur, dan melepaskan dia, itu akan membuatnya terluka. Namun menahan dia untuk tetap menjadi istriku, itu juga akan membuatnya terluka. Aku harus bagaimana?" ucap Fajar seorang diri.
Fajar mengacak-acak rambutnya dengan kasar, sambil sesekali menggeram kesal.
"Tidak adakah jalan keluar dari semua ini, aku benar-benar benci dengan diriku sendiri yang sangat bodoh!" gerutu Fajar sambil mengepalkan tangannya.
Diwaktu yang sama di tempat yang berbeda. Senja sedang duduk sendiri di atas ranjang. Ia menyembunyikan kepalanya di kedua lututnya. Air mata, tak henti-hentinya berderaian di pipinya. Bukan pernikahan seperti ini yang ia inginkan, melainkan pernikahan yang sesungguhnya. Menghadapi sikap sinis Ibu mertuanya, mungkin Senja masih bisa tegar. Tetapi menghadapi sikap Fajar yang seperti ini, rasanya hatinya sesak, dan hancur berkeping-keping.
"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku Kak? Mungkinkah ada wanita lain, yang sedang kau jaga hatinya. Lalu apa artinya aku dalam hidupmu, sikapmu benar-benar membuatku terluka." ucap Senja disela-sela tangisnya.
Cukup lama Senja menangis seorang diri, sesekali ia menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Sesungguhnya ia sangat ingin, Fajar datang menyusulnya, dan membujuknya untuk kembali ke kamar. Namun nyatanya tidak, sudah lebih setengah jam Fajar tak juga menampakkan batang hidungnya.
"Kamu suamiku Kak, aku juga punya hak untuk tahu tentang kamu. Mulai saat ini aku akan mencari tahu tentang Adara, sepenting apapun dia dalam masa lalu kamu, tapi aku tidak akan pernah membiarkan dia hadir dalam rumah tangga kita." ucap Senja sambil meremas ujung gaunnya.
***
Sang fajar baru saja menyingsing di ufuk timur. Menyemburatkan cahaya jingganya yang elok mempesona. Senja yang baru saja terjaga dari tidurnya, baranjak dari ranjang, dan melangkah mendekati jendela. Senja menyibak tirainya, menatap suasana pagi yang masih sunyi, dan sepi.
Jalan raya yang tak jauh dari apartemennya sudah terlihat ramai. Banyak mobil, dan motor yang melaju menyusuri jalan, tak peduli dengan dinginnya angin pagi. Entah kemana tujuan mereka Senja tidak tahu, dan ia juga tidak ingin tahu. Untuk apa mengurusi orang lain, jika hidupnya saja masih penuh dengan kemelut yang menyesakkan.
Senja menatap sinar fajar yang semakin jingga. Mungkin sebentar lagi sang mentari akan muncul menyapa hari. Fajar, sebuah nama yang bermakna matahari terbit. Sedangkan Senja, sebuah nama yang bermakna matahari terbenam. Dua hal yang diciptakan untuk saling melengkapi, dua hal selalu beriringan, dan dua hal yang saling menyempurnakan.
Senja menunduk, seraya tangannya mencengkeram tirai jendela dengan sangat erat. Pernikahan yang awalnya ia bayangkan akan seindah fajar, seelok senja, dan sehangat mentari. Namun nyatanya tidak, pernikahannya kini ibarat malam tak berbintang. Dingin, sepi, kelam, dan mencekam. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Fajar, apa yang lelaki itu sembunyikan darinya? Itulah satu pertanyaan yang selalu berputar-putar dalam fikiran Senja.
"Ahh, kenapa ini sangat menyakitkan!" keluh Senja sambil menggigit bibirnya.
Lalu ia berjalan keluar dari kamar, ia melihat kamar sebelahnya masih tertutup rapat. Mungkin Fajar belum bangun, fikir Senja kala itu. Kemudian ia berjalan ke kamar mandi yang berada tak jauh dari ruangan dapur. Ia mengambil satu piyama panjang yang masih digantung di sana. Lalu Senja mengganti gaunnya, dengan piyama itu.
Setelah selesai mengganti baju, dan mencuci mukanya, Senja bergegas menuju ke dapur. Walaupun hatinya sedang kesal, namun ia harus tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, yakni memasak untuk suaminya.
Sudah satu jam Senja berkutat di dapur. Sup jamur, dan ayam kremes sudah selesai ia buat, hanya tinggal menyajikannya saja di atas meja makan. Namun Fajar belum juga keluar dari kamarnya, entah dia masih tidur, atau memang sengaja menghindari Senja.
Disaat Senja sedang mencuci peralatan yang kotor. Tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Senja mengernyitkan keningnya, siapa yang bertamu sepagi ini? Mungkinkah itu mertuanya, tapi biasanya beliau langsung masuk begitu saja.
Tanpa banyak kata Senja melangkah menuju ke pintu utama. Dengan cepat ia membuka pintunya, dan ternyata Alvin yang datang.
"Kak Alvin!" sapa Senja sambil tersenyum.
Alvin tidak langsung menjawab, ia menilik wajah adiknya cukup lama. Kala itu mata Senja terlihat sembap, dan merah.
"Kau habis menangis?" tanya Alvin tanpa basa basi.
Senja tersentak kaget, ia sedikit gugup saat melihat Alvin masih menatapnya.
"Tidak Kak, aku baru saja masak. Tadi hanya sedikit pedih, karena terkena bawang merah." jawab Senja berbohong.
"Aku bukan anak kecil Nja! Katakan kenapa kau menangis!" kata Alvin.
"Aduh gawat, kalau sampai Kak Alvin tahu kenapa aku menangis, bisa dihajar Kak Fajar." ucap Senja dalam hatinya.
"Aku tidak menangis Kak, ini hanya karena bawang merah. Aku serius tidak berbohong." kata Senja mencoba meyakinkan Alvin.
Belum sempat Alvin berbicara lagi, tiba-tiba Fajar datang menghampiri mereka. Dengan balutan celana kasual, dan kaos pendek warna putih, Fajar terlihat sangat tampan pagi itu.
"Hai Vin, lama tidak bertemu, bagaimana kabar kamu?" sapa Fajar sambil tersenyum lebar, seraya tangannya menepuk bahu Alvin.
"Selamat pagi sayang." ucap Fajar sambil memeluk Senja, dan mencium keningnya sekilas.
Alvin menatap mereka dengan sedikit curiga, senyuman Fajar terlihat berlebihan, sementara Senja, ia terlihat gugup dan salah tingkah. Apa yang terjadi?
"Kabarku baik, bagaimana dengan kalian?" tanya Alvin.
"Kami juga baik, ayo masuk Vin!" kata Fajar mengajak Alvin masuk, dan duduk di sofa ruang tamu.
"Aku buatkan kopi dulu ya, sekalian juga menyiapkan sarapan." ucap Senja sambil melangkah pergi.
"Iya sayang." jawab Fajar sambil tersenyum.
"Jangan berpura-pura lagi, apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Alvin dengan cepat.
Melihat mata Senja yang sembap, dan senyuman Fajar yang tampaknya tidak tulus. Alvin curiga jika terjadi sesuatu dengan mereka.
Fajar terdiam, ia kenal betul bagaimana sifat Alvin. Ia sangat menyayangi adiknya, dan ia sangat benci jika ada seseorang yang menyakiti adiknya.
"Memilih Senja sebagai istri, mungkin ini memang kesalahan. Tapi apa yang harus kulakukan, semuanya sudah terlanjur." batin Fajar dalam hatinya.
BERSAMBUNG.....
nebak² nih, penasaran 😅😅
ceritanya bagus, keren dan banyak pelajaran yang bisa diambil, selalu sehat dan selalu semangat dalam berkarya ❤️💪💪💪