NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Interogasi di Gudang Logistik

Aula Besar masih bergetar oleh sisa-sisa tepuk tangan dan musik penutup yang megah, namun bagi Genta, dunia seolah-olah telah menyempit hanya pada satu sosok gadis di depannya. Adrenalin pasca-pidato yang tadi memompa jantungnya kini bercampur dengan rasa panik yang jauh lebih primitif. Rahasianya bukan lagi sekadar rahasia. Rahasianya kini berada di tangan seorang gadis logistik yang baru saja ia bentak beberapa jam lalu.

Tanpa memedulikan Kania yang memanggil namanya dari kejauhan, atau para staf rektorat yang ingin menjabat tangannya, Genta melangkah cepat mendekati Rara.

"Ikut aku," bisik Genta. Suaranya rendah, tajam, dan penuh desakan.

Sebelum Rara sempat membalas dengan sindiran, Genta sudah mencengkeram pergelangan tangan gadis itu. Tidak keras, namun cukup tegas untuk menunjukkan bahwa ia tidak menerima penolakan. Ia menarik Rara menjauh dari kerumunan, melewati lorong-lorong sempit di belakang panggung, menembus pintu darurat, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan tua di belakang aula yang jarang dilewati orang: Gudang Logistik Pusat.

BRAK.

Genta menutup pintu kayu berat itu dengan satu tendangan kaki, lalu menguncinya dari dalam.

Suasana di dalam gudang itu sangat kontras dengan kemegahan aula. Cahaya matahari hanya masuk melalui celah-celah kecil di ventilasi tinggi, menciptakan garis-garis cahaya yang menampakkan ribuan partikel debu yang menari di udara. Bau apek dari kardus-kardus tua, aroma besi karat dari tumpukan tiang tenda, dan dinginnya lantai semen menyambut mereka.

Genta melepaskan tangan Rara seolah-olah ia baru saja menyentuh bara api. Ia mundur beberapa langkah, menyandarkan punggungnya pada tumpukan peti kayu. Napasnya masih terengah-engah. Jas almamaternya yang tadinya sangat rapi kini nampak sedikit kusut di bagian bahu, dan rambutnya yang tadi tertata sempurna mulai jatuh menutupi dahinya yang berkeringat.

Ia menatap Rara dengan pandangan yang kacau. Tidak ada lagi sisa-sisa 'Pangeran Es'. Di ruang gelap ini, Genta nampak seperti ksatria yang baru saja kehilangan seluruh senjatanya di tengah medan perang.

"Apa yang kamu inginkan?" tanya Genta. Suaranya bergetar, meski ia berusaha keras untuk menahannya.

Rara tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan Genta dengan teliti. Di bawah cahaya remang-remang, Genta nampak begitu ringkih. Pria ini, yang beberapa menit lalu dipuja oleh ribuan orang, kini berdiri di hadapannya dengan bahu yang merosot dan tangan yang terus-menerus diusapkan ke celana.

Rara tertegun sejenak melihat gerakan itu. Ia teringat salah satu curhatan Paladin_Z di voice chat beberapa bulan lalu saat pria itu sedang merasa sangat tertekan. "Tanganku selalu berkeringat kalau aku takut, Ra. Aku nggak bisa berhenti mengusapnya ke celana sampai kainnya terasa panas," begitu kata Paladin saat itu. Melihat Genta melakukan hal yang persis sama di depan matanya membuat potongan teka-teki itu terkunci sempurna.

"Apa kamu merekamnya?" Genta bertanya lagi, suaranya naik satu oktav. "Video saat aku gemetaran tadi? Atau saat aku memohon padamu di balik layar?"

Genta tertawa hambar, sebuah suara yang penuh dengan keputusasaan. "Berapa? Kamu mau uang berapa supaya video itu nggak tersebar? Atau kamu mau aku mundur dari jabatan Presma? Katakan saja, Rara. Aku tahu kamu membenciku karena sikapku tadi pagi. Kamu berhak melakukannya."

Pria itu memalingkan wajah, menatap ke arah bayangan di sudut gudang. Matanya terlihat merah, seolah ia sedang menahan beban yang sudah terlalu lama ia pikul sendirian. "Aku nggak bisa membiarkan Ayah tahu. Kalau berita ini sampai ke dia... kalau dia tahu anaknya ternyata cuma seorang pengecut yang butuh tarian konyol untuk sekadar bicara..."

Genta terdiam, napasnya terdengar berat dan tersengal. Ia nampak benar-benar hancur.

Melihat pemandangan itu, Rara justru merasa rasa kesalnya yang tadi pagi meluap kini benar-benar hilang sepenuhnya. Ia tidak merasa marah lagi. Sebaliknya, ia merasa situasi ini sangat... lucu. Bukan lucu yang mengejek, tapi lucu karena betapa absurdnya takdir mempertemukan mereka.

Rara berjalan santai menuju sebuah peti logistik yang kosong. Ia meniup debu di atasnya sedikit, lalu duduk di sana dengan kaki yang diayun-ayunkan dengan ringan. Ia nampak sangat nyaman, kontras dengan Genta yang nampak seperti sedang menunggu hukuman mati.

"Duduklah, Paladin," ucap Rara lembut, namun ada nada jahil di suaranya. "Kamu nampak seperti mau pingsan sebentar lagi."

Genta tertegun mendengar nama itu disebut secara terang-terangan di dunia nyata. Ia menatap Rara dengan tidak percaya. "Kamu... kamu benar-benar tahu."

"Tentu saja aku tahu," jawab Rara sambil tersenyum lebar. Ia mengeluarkan ponselnya, tapi bukan untuk merekam, melainkan untuk menunjukkan foto profil karakter healer-nya di aplikasi game. "Gantungan kunci Slime Blue itu cuma ada sepuluh di dunia, Genta. Dan aku sendiri yang membungkusnya pakai bubble wrap tebal supaya nggak pecah pas dikirim ke PO Box-mu."

Rara menatap Genta yang masih terpaku. "Dan soal video? Aku nggak punya waktu buat merekam hal membosankan kayak gitu. Lagian, buat apa aku menghancurkan reputasi ksatria pelindungku sendiri? Di game, kalau Paladin mati, Healer-nya juga bakal kesulitan, kan?"

Genta perlahan-lahan merilekskan bahunya, meski ia tetap waspada. Ia menatap Rara yang sedang duduk dengan santainya di atas peti kayu, seolah-olah dialah yang memiliki gudang ini, dan mungkin, secara kiasan, dialah yang kini memiliki Genta.

"Jadi... kamu nggak akan menyebarkannya?" tanya Genta pelan.

"Tergantung," jawab Rara singkat, sengaja menggantung kalimatnya untuk melihat reaksi Genta.

"Tergantung apa?"

Rara menopang dagunya dengan tangan, menatap Genta dengan intens. "Tergantung seberapa baik kamu bersikap mulai sekarang. Kamu tahu kan, Genta, selama ini kamu itu sangat, sangat menyebalkan. Kamu dingin, sombong, dan memperlakukan orang seolah-olah mereka itu cuma Slime level rendah yang mengganggu jalanmu."

Genta menunduk, wajahnya memerah padam karena malu. "Aku... aku harus melakukannya. Itu satu-satunya cara supaya nggak ada yang berani mendekat dan menyadari kalau aku gemetaran."

"Yah, alasan itu nggak berlaku lagi buatku," kata Rara sambil melompat turun dari peti. Ia berjalan mendekati Genta hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter. Genta refleks mundur selangkah, namun Rara justru tertawa.

"Jangan takut, aku nggak bakal menggigit," goda Rara. "Tapi mulai hari ini, 'Pangeran Es' Universitas Nusantara sudah resmi mencair di depanku. Kamu bukan lagi bosku di sini, Genta. Malah, kayaknya posisi kita sekarang terbalik."

Rara menepuk bahu Genta yang masih kaku. Ia bisa merasakan sisa-sisa getaran di tubuh pria itu. "Aku akan simpan rahasiamu. Semua ketakutanmu, trauma ayahmu, sampai fakta bahwa kamu suka meme kucing konyol dariku. Tapi sebagai gantinya, aku butuh bantuanmu."

Genta mendongak, matanya bertemu dengan tatapan Rara yang kini tidak lagi jahil, tapi penuh rencana. "Bantuan apa?"

Rara menyeringai kecil, menyandarkan tubuhnya ke rak besi di belakangnya. "Aku nggak butuh uangmu, Genta. Aku butuh namamu untuk menyelamatkan nilai mata kuliahku. Dan aku butuh kamu... untuk jadi manusia di depanku."

1
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!