Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35- mati lampu
Arlan membiarkan Aluna memeluknya semakin erat. Meski di luar ia tetap terlihat tenang dan sedingin es, di dalam hatinya sedang terjadi perang hebat. Debaran jantungnya yang kian menggila seolah ingin melompat keluar, apalagi saat ia merasakan tubuh Aluna yang benar-benar bergetar hebat karena ketakutan.
"Kak... jangan ke mana-mana," lirih Aluna lagi. Wajahnya disembunyikan di balik dada Arlan, tangannya mencengkeram kain kaos cowok itu seolah takut jika dilepaskan sedikit saja, Arlan akan menghilang.
Arlan menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kewarasannya. Perlahan, tangan kanannya yang tadinya menggantung kaku di udara bergerak turun. Dengan gerakan yang sangat ragu dan pelan, ia menepuk-nepuk bahu Aluna, berusaha memberikan ketenangan yang tidak biasa ia berikan pada siapa pun.
Tepukan tangannya di bahu Aluna yang semula ragu, kini menjadi sedikit lebih mantap. Arlan tidak mendorongnya menjauh, tapi ia juga tidak membalas pelukan itu dengan melingkarkan tangannya. Ia tetap pada posisinya berdiri tegak sebagai sandaran bagi Aluna yang masih gemetar hebat. Arlan bisa merasakan suhu tubuh Aluna yang dingin menembus kaos tipisnya, kontras dengan dadanya yang terasa panas karena debaran jantung yang tak terkendali.
"Shut... Tenang... Gua ada di sini"
Aluna tidak menjawab, tapi ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada Arlan. Isakan kecil yang tadinya tertahan kini mulai terdengar samar. Ketakutan akan gelap, kecoa, dan rasa lelah setelah seharian berdebat dengan Arlan seolah tumpah begitu saja dalam satu pelukan ini.
Arlan merasakan kaosnya mulai sedikit basah oleh air mata Aluna. Ia memejamkan mata sejenak, menelan ludah dengan susah payah. Ada perasaan asing yang menjalar di dadanya sebuah keinginan untuk melindungi yang jauh lebih kuat daripada egonya.
Tangannya yang berada di bahu Aluna kini bergerak perlahan, mengusap punggung gadis itu dengan gerakan yang sangat kaku namun penuh kehati-hatian. Arlan tidak pandai menenangkan orang, apalagi Aluna, tapi ia mencoba sebisa mungkin agar gadis itu tidak merasa sendirian di tengah kegelapan ini.
Aluna mulai merasa sedikit tenang. Aroma maskulin dari tubuh Arlan yang bercampur dengan bau sabun mandi memberikan rasa aman yang tak terduga. Perlahan, getaran di bahunya mulai mereda, meskipun ia masih enggan melepaskan pegangannya pada kaos Arlan.
"Janji jangan pergi?" bisik Aluna dengan suara serak.
"Iya, janji," jawab Arlan pendek.
Tepat setelah kata itu terucap...
KLIK!
Cahaya lampu seketika membanjiri kamar, sangat terang sampai membuat mata mereka berdua perih. Lampu utama kembali menyala.
Kesadaran menghantam mereka berdua seperti ombak besar. Aluna tersentak dan langsung menarik wajahnya dari dada Arlan. Ia menyadari tangannya masih melingkar sempurna di pinggang cowok itu. Di sisi lain, Arlan juga baru sadar kalau tangannya masih mengusap punggung Aluna dengan sangat lembut sesuatu yang sangat tidak normal baginya.
Keduanya membeku di bawah cahaya lampu yang benderang. Mata mereka bertemu selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Wajah Aluna yang sembab kini mulai berubah warna menjadi merah padam, begitu juga dengan telinga Arlan yang mendadak memerah meski wajahnya berusaha keras kembali ke mode dirinya.
Arlan adalah yang pertama kali memutus kontak mata. Ia berdehem keras, sebuah usaha yang gagal untuk menutupi rasa canggung yang mencekik udara di antara mereka. Tangannya yang tadi mengusap punggung Aluna langsung ditarik kasar dan dimasukkan ke dalam saku celana, seolah ingin menyembunyikan bukti bahwa ia baru saja bersikap lembut.
"Udah nyala. Lepas, Al," suara Arlan kembali berat, meski ada sedikit getaran yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Aluna tersentak seperti baru saja tersengat listrik. Ia segera melepaskan pelukannya dan melompat mundur dua langkah hingga hampir menabrak meja belajar. Wajahnya yang tadi pucat kini benar-benar merah padam, matanya yang sembab menatap ke arah lantai, tidak berani sedikit pun melirik ke arah Arlan.
"T-tadi gua cuma kaget doang" bela Aluna dengan suara serak. Ia sibuk merapikan piyama dan rambutnya yang sedikit berantakan, berusaha keras mengembalikan harga dirinya yang sudah jatuh berserakan di lantai kamar.
Arlan tidak langsung menyahut. Ia masih berdiri mematung di tengah kamar, mencoba menormalkan kembali napasnya yang sempat tertahan. Matanya melirik ke arah kaosnya yang sedikit basah dan kusut akibat cengkeraman tangan Aluna tadi.
"Ya," sahut Arlan singkat. Suaranya terdengar serak, sebuah usaha keras untuk tetap terdengar datar padahal pikirannya sedang kacau balau. Ia berbalik membelakangi Aluna, pura-pura sibuk mematikan lampu senter di ponselnya padahal tangannya masih sedikit gemetar.
"Tidur. Besok sekolah," lanjut Arlan lagi tanpa menoleh. Langkahnya terasa kaku saat ia berjalan menuju sisi kasur mereka. Ia menarik selimut tebal itu, lalu merebahkan tubuhnya di sisi kanan, memunggungi sisi kosong yang biasanya ditempati Aluna.
Aluna masih berdiri di dekat meja belajar selama beberapa saat. Ia menatap punggung tegap Arlan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Malu, canggung, tapi juga ada rasa aman yang masih membekas di kulitnya. Perlahan, Aluna melangkah mendekati kasur. Ia naik ke atas tempat tidur dengan sangat hati-hati, seolah takut jika gerakannya akan memicu kecanggungan yang lebih parah.
Aluna merebahkan tubuhnya di sisi kiri, menyisakan jarak yang cukup lebar di tengah-tengah mereka. Ia menarik selimutnya hingga sebatas hidung, hanya menyisakan matanya yang masih sembab untuk menatap langit-langit kamar yang kini diterangi lampu tidur remang-remang.
Hening kembali menguasai ruangan. Tidak ada suara ejekan, tidak ada perdebatan pedas seperti biasanya. Hanya ada suara napas mereka yang perlahan mulai teratur, meskipun keduanya sama-sama tahu kalau kantuk masih sangat jauh dari mata mereka.
"Kak..." panggil Aluna sangat pelan, hampir menyerupai bisikan.
"Hm?" Arlan menyahut tanpa berbalik, tapi suaranya tidak lagi sedingin es.
"Lampu tidurnya... jangan dimatiin ya," ucap Aluna lirih.
Arlan terdiam sejenak. Ia menatap dinding di depannya, lalu mengembuskan napas panjang yang sangat halus. "Iya. Nggak bakal gue matiin."
Setelah itu, tidak ada lagi kata-kata. Namun, di bawah selimut yang sama, Arlan perlahan-lahan merilekskan bahunya yang tegang, sementara Aluna akhirnya mulai memejamkan mata dengan perasaan yang jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
Malam pun larut, membawa keduanya ke dalam tidur yang lebih lelap dari yang mereka duga. Mungkin karena kelelahan emosional setelah mengobati Arlan dan drama kecoa terbang, pertahanan diri yang biasanya mereka bangun kokoh saat terjaga, kini runtuh total saat mereka terlelap.
Di tengah malam yang dingin, tanpa sadar tubuh mereka mencari sumber kehangatan. Jarak lebar yang tadi mereka buat di tengah kasur perlahan terkikis.
Cahaya matahari pagi mulai mengintip dari celah gorden kamar, menyinari dua sosok yang masih terbungkus dalam mimpi. Aluna adalah yang pertama kali mengerjapkan matanya. Ia merasakan sesuatu yang sangat nyaman dan hangat mendekap tubuhnya. Alih-alih guling, ia merasa tangannya sedang memeluk sesuatu yang kokoh dan berdegup teratur.
Begitu matanya terbuka sempurna, jantung Aluna serasa berhenti berdetak.