Xavier Rey Lergan hidup dalam sangkar steril akibat dirinya yang mengidap Myshopobia, hingga orang tuanya nekat menjodohkannya dengan Nara, seorang single mom. Pernikahan ini menjadi medan tempur antara si perfeksionis dan wanita tangguh yang tak mau diatur.
"Nara, sudah kubilang jangan diletakkan di sini!" bentak Xavier saat melihat barang berserakan.
"Diam Tuan Bakteri! Ini kamarku, keluar! Kamu kan belok!" balas Nara sengit.
"Aku hanya anti bakteri, bukan anti wanita!" seru Xavier tak terima.
Di tengah pertikaian, hadir Raya seorang putri kecil Nara yang polos. "Papa Laya balu cekalang! Halusnya dali dulu mama cali Papa balu, kenapa balu cekalang? Papa lama, buang aja ke celokan!" ucapnya menggemaskan.
Akankah kesterilan Xavier runtuh oleh kehangatan keluarga kecil ini, ataukah perbedaan prinsip tentang kebersihan akan memisahkan mereka selamanya?
"Bagaimana bisa aku menikahimu, sementara aku tak suka bekas orang lain?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memancing Penuh Drama
Sinar matahari pagi mulai terasa menyengat di kulit, namun tidak melunturkan semangat dua sosok yang sedang duduk di pinggir danau pemancingan di area belakang mansion. Raya berj0ngk0k dengan antusias, matanya yang bulat menatap tajam ke arah air danau yang tenang. Biasanya, Biru memang datang ke sini untuk menyalurkan hobinya. Entah apa yang merasuki pikiran pemuda itu, meski memiliki uang, ia lebih memilih memancing di danau kecil berlumut yang bisa diakses secara gratis daripada menyewa kapal pesiar untuk berburu di tengah samudera.
Raya memiringkan kepalanya, menatap pancingan pamannya, lalu beralih menatap sendal jepit yang dikenakan Biru. "Angkel itu nda modal yah," ucap Raya tiba-tiba dengan nada polos namun menghujam.
Biru, yang sedang serius memperhatikan pelampung pancingnya, seketika menoleh dengan wajah tidak terima. "Enggak modal kenapa? Kamu kecil-kecil sudah pintar menghina hobi orang tua ya,"
"Maca mancingnya di combelan, Opa aja mancingnya di laut pake kapal kelen. Angkel pake cendal dua lebuan di walung," ucap Raya sambil menunjuk sendal karet Biru yang warnanya sudah mulai pudar.
Biru meng4nga, merasa harga dirinya sebagai kolektor barang branded sedang diinjak-injak oleh bocah yang bahkan belum lancar mengeja huruf 'R'. Ia melepas salah satu sendalnya dan menunjukkannya tepat di depan wajah Raya.
"Heeeee uupiiiil kuda! Dengar ya, ini tuh sendal bukan sembarang sendal! Ini merek desainer luar negeri, harganya dua juta satu pasang! Lebih mahal dari gerobak cireng di depan komplek situ! Etdah, sembarangan banget kalau bicara ini bocah," seru Biru dengan mata membulat sempurna karena emosi.
Raya mengerjapkan matanya pelan, sama sekali tidak terkesan dengan nominal jutaan yang disebutkan pamannya. Ia malah menatap sendal itu dengan tatapan kasihan. "Tapi itu nda bikin pelut Laya telici, cama aja telcikca. Emangnya ada cendal goleng? Nda ada kan, Angkel ini yang nda walas," ucap Raya dengan gaya sok bijak.
Raya kembali fokus pada pancingan kecilnya yang terbuat dari plastik. Sambil menunggu, ia membuka bungkus roti srikaya dan melahapnya dengan santai.
"Dih, anak siapa sih ini ... mulutnya pedas banget kayak bon cabe," desis Biru kesal sambil kembali melempar kailnya ke tengah danau.
Raya terdiam sejenak. Ia menatap ke arah danau yang airnya berwarna hijau pekat karena lumut. Kemudian, matanya melirik ke arah permen lolipop kesukaannya yang terletak di dalam tas kelincinya. Sebuah ide gil4 muncul di kepala kecilnya. Ia membuka bungkus permen berwarna merah cerah itu, lalu alih-alih memakannya, ia justru mengikatkan permen itu pada ujung tali pancingnya dan menjatuhkannya ke dalam air.
Biru yang melihat tingkah aneh keponakannya itu tertawa sinis. Ia merasa jauh lebih superior dalam hal memancing. "Ikan mana ada yang makan permen, Raya. Ikan itu makannya cacing atau pelet. Ada-ada saja bun.telan upil satu ini, buang-buang permen saja," ledek Biru dengan nada meremehkan.
Namun, belum sempat Biru menyelesaikan tawanya, tiba-tiba pancingan plastik Raya melengkung tajam. Tali pancingnya tertarik ke bawah dengan kekuatan yang cukup besar. Raya tersentak, wajahnya yang tadinya santai berubah menjadi syok dan tegang.
"Angkeeeeel! Ini gimanaaa, bibilnya telcangkuuuut! Gimanaaa!" teriak Raya panik sambil berusaha menarik pancingannya ke darat.
Biru terbelalak. Ia segera membantu menarik tali tersebut, dan betapa terkejutnya dia saat melihat seekor ikan berukuran cukup besar menggelepar di ujung kail. Mulut ikan itu benar-benar menempel pada lengketnya permen lolipop milik Raya. Ikan itu rupanya tertarik pada rasa manis yang mencolok di tengah air payau tersebut.
"Bisa-bisanya cuma dengan permen dapet ikan sebesar ini ...," gumam Biru dengan tatapan kosong. Ia menatap pancingan mahalnya yang sejak tadi bahkan tidak disentuh oleh ikan sekecil teri pun. Rasa iri mulai merayap di hatinya.
Raya tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Dengan bangga, ia mengambil ikan itu dengan bantuan Biru yang masih syok dan memasukkannya ke dalam ember pink miliknya. "Bica makan ikan ciang nanti Laya," gumam bocah itu dengan nada penuh kemenangan.
Biru merasa dunianya runtuh. Sebagai pria dewasa yang mengaku ahli memancing, ia kalah telak oleh seorang bocah dengan modal permen. Ia berdehem pelan, mencoba memasang wajah manis yang dibuat-buat.
"Raya cantik ... keponakan Uncle yang paling imut ... boleh tidak Uncle minta permennya satu lagi? Buat umpan Uncle juga?" tanya Biru sambil cengengesan.
Raya mendelikkan matanya, menatap pamannya dengan tatapan penuh selidik. "Tadi di bilangnya uupiiiil kudaaaa, cekalang tantiiiik! Bibil Angkel calah alah yah?! Kadang ke kili, kadang ke kanan! Kadang luluuuus" seru Raya menyindir ketidakkonsistenan Biru.
"Bukan salah arah, Sayang, tapi ini namanya negosiasi!"
"NDA BOLEH! Angkel cali cendili!" Raya mendengus kesal. Ia kembali mengikat sisa permennya dan melemparkannya lagi ke danau. Biru hanya bisa mengumpat dalam hati, terpaksa ia kembali menggunakan umpan cacingnya yang membosankan. Namun si4l, yang memakan umpannya hanyalah ikan pembersih kaca yang hitam dan buruk rupa.
"RAYAAAAAA! BIRUUUUU!"
Suara teriakan Jingga yang menggelegar dari kejauhan mengejutkan keduanya. Biru yang sedang melamun meratapi nasib pancingannya langsung berdiri tegak karena panik. Namun, karena gerakannya yang terlalu mendadak dan ceroboh, b0k0ngnya tak sengaja menyenggol tubuh Raya yang saat itu sedang menvngg1ng untuk melihat ikannya di dalam ember.
BYUR!
Tubuh kecil Raya terjatuh ke dalam air danau yang dangkal namun penuh lumpur. Air memuncr4t ke mana-mana.
"Astaga, Raya!" Jingga berlari secepat kilat dengan wajah pucat pasi.
Biru yang tersadar akan kesalahannya langsung terjun dan menarik kerah baju Raya untuk membawanya kembali ke tepi. Raya terbatuk-batuk, berusaha mengeluarkan air danau yang terasa pahit dari mulutnya. Rambutnya penuh dengan lumut hijau, dan yang lebih parah lagi, seekor ikan kecil entah bagaimana malah masuk dan menyangkut di dalam lipatan bajunya. Raya berteriak histeris saat merasakan sesuatu yang licin bergerak-gerak di perutnya.
"EKHEEEEE ANGKEL CILUMAAAAAN! CEMBALANGAN BANGET!" teriak Raya penuh emosi sambil memvkul-mvkul lengan Biru.
Jingga sampai di lokasi dan langsung menyambar Raya dari pelukan Biru. Ia memeluk cucunya yang kini beraroma pekat seperti lumpur dan amis ikan. Tak ada lagi aroma bedak bayi yang manis, yang tersisa hanya aroma danau yang memuakkan.
"Biru! Apa-apaan sih, bawa keponakannya mancing ke tempat kotor begini sampai nyebur!" tegur Jingga dengan mata berkilat marah.
"Apaan sih Bunda, orang dia yang mau ikut sendiri! Biru cuma mau mancing tenang," bela Biru sambil merapikan sarungnya yang basah kuyup.
"Ekheee Omaaa ... Angkel dolong Laya!" adu Raya sambil sesenggukan di gendongan Jingga.
Jingga menatap putranya dengan tatapan maut. "Sudah, ayo pulang! Lagipula untuk apa kamu memancing ikan-ikan bvruk rupa begini! Punya uang banyak itu dipakai, Biru! Beli ikan yang benar, bukan ikan begini. Daripada bikin penyakit, hari ini juga Mama goreng semua sisa ikan hias kesayanganmu di akuarium!" ucap Jingga asal bicara karena emosi, lalu ia berlalu pergi meninggalkan area danau.
Biru mematung, wajahnya berubah horor mendengarnya. "Bundaaaa! Jangan dong Bun! Itu aku mancingnya perjuangan lhoo! Bundaaaa jangan digoreng ikannyaaa!" rengek Biru sambil berlari mengejar ibunya dengan langkah pincang karena sendal dua jutanya tertinggal satu di dalam danau.
"Opa mancing boleh, masa aku gak boleh! Gak adil banget sih dunia ini!" gerutu Biru sambil mencak-mencak di sepanjang jalan.
______________
Maaap kawaaaan, seharian sibuk baru bisa bikin malam😭
Xavier....saatnya kamu beraksi.....🤭🤭🤭🤭🤭