Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Penyelamatan di Parkiran
"Alea! Tunggu! Jangan jalan cepat-cepat!"
Alea memutar bola matanya malas. Suara itu. Suara paling menyebalkan sedunia yang lebih buruk dari suara alarm margin call saat pasar crash.
"Mau apa lagi, Dion? Kita sudah putus tiga tahun lalu. Jangan bikin drama di parkiran hotel bintang lima," desis Alea tanpa menoleh, mempercepat langkah kakinya menuju area drop off VIP.
Sialnya, area itu sedang sepi karena semua tamu masih sibuk menjilat pejabat di dalam ballroom, dan Zahra belum kembali membawa mobil.
"Aku cuma mau ngomong sebentar, Al. Dengar-dengar perusahaan kamu lagi goyah ya? Butuh sandaran, kan?" Dion, pria dengan setelan jas mengkilap yang bau alkohol murahan, berhasil menyusul dan menghadang langkah Alea.
"Minggir. Bau alkohol kamu bikin saya mual," Alea mengibaskan tangannya di depan hidung, wajahnya jijik. "Dan koreksi sedikit, perusahaan saya baik-baik saja. Justru perusahaan Bapak kamu yang mau disita bank, kan? Makanya kamu ngejar-ngejar saya lagi buat minta suntikan dana?"
Wajah Dion memerah padam. Egonya tersentil telak.
"Jaga mulut kamu, Alea! Mentang-mentang kamu anak Ardiman, kamu bisa injak-injak harga diri orang sembarangan?"
"Memang itu faktanya. Sekarang minggir, atau saya panggil sekuriti."
Alea mencoba melangkah ke samping, tapi Dion mencengkeram lengan atasnya dengan kasar. Kuku pria itu menancap di kulit mulus Alea yang terekspos gaun backless, menimbulkan rasa perih.
"Aww! Sakit, gila! Lepasin!" teriak Alea, berusaha menepis tangan Dion.
"Nggak akan! Kamu harus dengerin aku dulu! Aku masih cinta sama kamu, Al. Kasih aku kesempatan kedua. Atau minimal, kasih aku pinjaman lima miliar buat nutup utang judi aku malam ini. Kamu kan kaya, uang segitu cuma recehan buat kamu!"
"Cinta mata lu sobek! Lepasin!" Alea memberontak, memukul dada Dion dengan clutch mahalnya. Tapi tenaga Dion jauh lebih besar karena pengaruh alkohol.
Dion malah menarik tubuh Alea mendekat, memojokkannya ke pilar beton parkiran yang dingin. Napas alkoholnya menerpa wajah Alea, membuat perut Alea yang sensitif mual seketika.
"Jangan jual mahal, Alea. Aku tahu kamu kesepian. Nggak ada cowok yang tahan sama sifat bossy kamu selain aku..."
"Tolong lepaskan tangan Anda dari Nona Alea. Sekarang."
Suara itu tenang, datar, dan dingin. Muncul dari arah belakang Dion.
Dion menoleh dengan berang. "Siapa lu?! Jangan ikut campur urusan orang pa..."
Belum sempat Dion menyelesaikan kalimatnya, sebuah tangan kokoh mencengkeram pergelangan tangan Dion yang sedang memegang Alea.
Itu Rigel. Masih dengan kemeja putihnya yang rapi, meski tanpa jas dan rompi pelayan tadi. Lengan kemejanya digulung, memperlihatkan otot lengan bawah yang menegang. Kacamata minusnya memantulkan cahaya lampu parkiran yang remang, menyembunyikan kilat berbahaya di matanya.
"Saya bilang lepaskan," ulang Rigel.
"Halah, sok jagoan! Lu siapa? Pelayan hotel ?" Dion tertawa mengejek melihat celana bahan hitam polos Rigel. "Balik ke dapur sana, babu!"
Rigel tidak menjawab hinaan itu. Dengan gerakan kilat yang tak terbaca mata, ibu jari Rigel menekan titik tertentu di siku bagian dalam Dion, tepat di celah antara tulang, lalu memutar pergelangan tangan pria itu ke arah luar dengan sudut yang tidak wajar.
Krak.
"ARGHHHH!"
Dion menjerit kesakitan. Cengkeramannya pada Alea terlepas seketika. Tubuh Dion meliuk ke bawah, berlutut secara paksa di aspal karena rasa nyeri yang menyengat langsung ke saraf pusat.
"Itu namanya Nervus Ulnaris," ucap Rigel datar, seolah sedang memberikan kuliah anatomi di ruang operasi, bukan sedang menghajar orang. "Kalau ditekan di sulcus yang tepat dengan rotasi empat puluh lima derajat, rasanya seperti tulang kamu dipatahkan. Padahal belum patah. Mau saya patahkan sungguhan?"
Rigel menekan sedikit lagi.
"Ampun! Ampun, Bang! Sakit! Sumpah sakit!" Dion meronta, wajahnya pucat pasi menahan nyeri yang luar biasa ngilu. Keringat dingin bercucuran.
"Pergi. Dan jangan pernah sentuh pasien saya lagi dengan tangan kotor kamu," perintah Rigel dingin, lalu menghempaskan tangan Dion begitu saja.
Dion terhuyung mundur, memegangi lengannya yang mati rasa dan gemetar. Dia menatap Rigel dengan horor, lalu menatap Alea yang masih syok memegang lengannya sendiri.
"Awas lu ya! Gue laporin polisi karena penganiayaan!" ancam Dion sambil berlari terpincang-pincang menuju mobilnya, nyalinya ciut total.
Suasana parkiran kembali hening.
Alea masih berdiri mematung, jantungnya berdegup kencang. Bukan karena takut pada Dion, tapi karena melihat sisi lain dari Dokter Kulkas ini. Dia pikir Rigel cuma kutu buku yang jago ngomel, ternyata dia bisa bela diri?
Rigel berbalik menatap Alea. Tatapan tajamnya melembut sedikit saat melihat bekas merah di lengan atas Alea.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Rigel.
"Siapa yang minta tolong?" Alea langsung memasang tembok pertahanannya lagi, meski suaranya sedikit bergetar. Dia mengusap lengannya yang sakit. "Saya bisa tangani sendiri. Saya punya sabuk hitam karate waktu SD."
"SD itu dua puluh tahun yang lalu. Tadi kamu cuma kayak kucing kejepit pintu," balas Rigel pedas.
Tiba-tiba, lampu kilat kamera menyambar dari kejauhan.
Jepret! Jepret!
Alea menoleh panik. Di ujung area parkir, dua orang paparazzi dengan kamera lensa panjang sedang membidik mereka. Sial! Skandal "Ratu Saham Bertengkar dengan Mantan di Parkiran" akan jadi berita utama besok pagi. Reputasi perusahaannya bisa hancur lagi!
"Sialan! Wartawan!" desis Alea panik. "Zahra mana sih?! Mobil saya mana?!"
"Nggak sempat nunggu Zahra. Ayo."
Tanpa permisi, Rigel menyambar tangan Alea—tangan yang tidak sakit—dan menariknya berlari kecil menuju deretan mobil staf di pojok parkiran yang gelap.
"Heh! Mau ke mana?! Mobil saya jemput di lobi!" protes Alea sambil terseok-seok mengikuti langkah lebar Rigel dengan heels dua belas sentinya.
"Kamu mau wajah kamu masuk akun gosip besok pagi? Masuk!"
Rigel membuka pintu sebuah mobil sedan tua berwarna silver. Mobil tahun 2000-an yang catnya sudah agak kusam, dan ada stiker parkir rumah sakit di kaca depannya.
Alea berhenti mendadak, menatap benda itu dengan tatapan tidak percaya.
"Masuk ke rongsokan ini?!" Alea melotot horor. "Gila ya?! Saya alergi debu! Joknya pasti bau apek! Saya nggak mau! Mending saya naik taksi!"
"Alea, masuk atau saya tinggal di sini biar kamu diwawancara wartawan soal mantan kamu yang tukang judi itu?" ancam Rigel, menahan pintu mobil. "Satu... dua..."
Alea menoleh ke belakang. Para wartawan itu mulai berlari mendekat.
"Argh! Sialan!"
Dengan sangat terpaksa, Alea menghenyakkan pantat mahalnya ke jok kain mobil tua itu. Rigel langsung membanting pintu, berlari memutar ke kursi kemudi, dan menyalakan mesin.
Brum... brebet... brum.
Suara mesinnya kasar, batuk-batuk seperti kakek tua perokok berat. AC-nya baru terasa dingin setelah satu menit, itupun baunya seperti pewangi jeruk murah.
"Ya Tuhan... ini mobil apa odong-odong?" keluh Alea sambil memegang pegangan tangan di atas pintu erat-erat saat Rigel tancap gas keluar dari area hotel lewat jalan belakang.
"Ini namanya 'Si Putih'. Kendaraan dinas operasional yang setia," jawab Rigel santai, tangannya lincah memutar setir yang belum power steering sempurna.
Mobil itu melaju menembus jalanan Jakarta, meninggalkan kemewahan hotel dan kejaran wartawan di belakang. Di dalam kabin sempit yang berisik itu, Alea duduk diam dengan tangan bersedekap, kakinya yang jenjang terasa sempit.
Anehnya, meski mobil ini bergetar dan suspensinya keras seperti batu, detak jantung Alea perlahan menjadi tenang. Dia melirik Rigel dari samping. Pria itu fokus menyetir dengan wajah datar, lengan kemejanya yang tergulung memperlihatkan otot tangan yang tadi memelintir Dion dengan mudah.
Untuk pertama kalinya malam ini, di dalam mobil butut yang dia hina, Alea merasa... aman.
"Masih mau protes soal mobil?" tanya Rigel tanpa menoleh, seolah bisa membaca pikiran Alea.
"Masih. Joknya keras. Pinggang saya sakit," jawab Alea gengsi, tapi dia menyandarkan kepalanya ke kursi, tidak benar-benar ingin turun. "Tapi... makasih udah ngusir lalat tadi."
Rigel tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat di kegelapan malam.
"Sama-sama, Ratu Saham. Anggap saja bonus pelayanan."
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....