"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.
"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.
Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.
***
Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 - Naga Terbang
"Ya ampun Gigiii sakit apa? Udah sembuh? Tau gak sih, kemarin itu Libra kasian banget. Mendadak jadi jomblo kesepian."
Pertanyaan heboh itu datang dari Pipit ketika Giselle memasuki kelas bersama Libra. Gadis itu salah satu murid perempuan yang lumayan dekat dengannya.
Giselle terkekeh mendengar perkataan Pipit. Sedangkan Libra mendengus kesal.
"Berisik, Pit!"
"Ngambekan, kaya cewek," ejek Pipit yang duduk di depan Giselle. Iya, Pipit duduk sebangku dengan Farhan.
Libra tidak menjawab. Dia terlalu malas berdebat dengan Pipit. Lebih baik diam dan mengalah. Selesai.
"Sakit apa, Gi?" tanya Pipit lagi karena belum mendapat jawaban.
"Cuma demam kok. Sekarang udah sembuh," jawab Giselle sembari tersenyum lebar. Merasa senang karena temannya itu perhatian padanya.
Pipit tersenyum kemudian membuka tasnya, mencari-cari sesuatu. Sebuah novel miliknya yang sengaja dia bawa untuk Giselle. Hobi mereka sama. Suka sekali membaca novel. Karena itu mereka sering meminjam novel satu sama lain. Mungkin itu juga yang membuat mereka dekat.
"Ini, novel yang dulu lo minta, Gi. Gue udah selesai baca." Pipit meletakkan novel berjudul The Black Dragon itu ke atas meja Giselle.
Mata Giselle berbinar. Ini adalah novel fantasi yang sudah dia incar sejak dulu. Baru-baru ini novel itu diterbitkan. Karena uang jajannya belum terkumpul, Giselle meminjam novel milik Pipit. Selagi ada kesempatan gratis, kenapa harus disia-siakan?
"Makasih, Pipit."
"Sama-sama."
Bertepatan dengan itu, bel tanda masuk berbunyi. Disusul seorang guru yang masuk ke dalam kelas. Jam pelajaran pun dimulai.
...***...
"Libra."
Libra menoleh menatap Giselle. Keningnya mengernyit bingung ketika Giselle tidak menatapnya, malah tersenyum menatap novel yang ada di atas meja. Saat ini kelas mereka sedang jam kosong. Guru yang mengajar sedang ada keperluan mendadak. Karena itu, Giselle memanfaatkan waktu untuk membaca novel.
"Apa?"
"Menurut lo naga itu nyata gak?" tanya Giselle. Setelah membaca novel yang mengisahkan tentang naga, mendadak dia ingin sekali melihat naga sungguhan.
"Enggak." Libra menghela napas kesal. Beginilah kalau Giselle sudah memegang novel. Aneh-aneh saja pertanyaan gadis itu. Dan Libra lah yang akan menjadi korbannya. Gadis itu selalu bertanya ini-itu. Kalau pertanyaannya benar, Libra dengan senang hati menjawabnya. Masalahnya, Giselle selalu bertanya hal yang di luar nalar. Seperti saat ini.
"Kok gitu, mungkin aja nyata." Giselle menatap Libra dengan pandangan serius. Dia tetap kukuh menganggap bahwa naga itu nyata.
"Enggak ada, Pendek!" Dengan gemas, Libra menyentil dahi Giselle pelan.
"Ishh, adaa tau, tapi gak di bumi," protes Giselle. Tangannya mengelus dahinya yg terasa sedikit sakit.
"Terus di mana?"
"Dimensi lain, mungkin?" Giselle berpikir keras tentang di mana kira-kira para naga tinggal. Pasti para naga itu tinggal di tempat yang jauh dari peradaban manusia.
"Lo kebanyakan baca novel, Pen."
Giselle tidak mendengar perkataan Libra. Gadis itu sibuk membayangkan bagaimana jika benar-benar ada naga di tempat ini.
"Pasti seru kan kalau ada naga. Apalagi naga terbang. Libaaa, pengen liat naga!"
Libra menggelengkan kepalanya heran. Giselle memang suka halu. Mana ada naga? Daripada menanggapi ketidakjelasan Giselle, lebih baik ia diam saja.
Pandangan Libra teralihkan pada dinding di sebelahnya. Matanya tertuju pada hewan kecil yang sedang merayap. Terlihat rapuh jika di sentuh. Mungkin hewan itu akan langsung mati ketika dipukul sekali saja.
Libra tersenyum miring, diraihnya cicak yang ada di dinding. Tapi sayang, cicak itu berhasil kabur. Menyisakan ekornya yang bergerak-gerak dalam genggaman jari Libra. Pemuda itu mengarahkan tangannya ke arah kepala Giselle yang masih menunduk membaca novelnya.
"Pen, nengok sini coba," perintah Libra.
Giselle menoleh, seketika dia menjerit. Gadis itu bangkit, mundur beberapa langkah menjauh dari Libra. Wajahnya terlihat sangat terkejut.
Karena teriakan itu, perhatian seluruh murid di kelas XI IPS 2 tertuju pada bangku pojok belakang.
"Ishh, buang jauh-jauh!" teriak Giselle.
Libra tertawa terbahak-bahak. Merasa berhasil mengerjai Giselle. Beberapa teman kelasnya ada yang ikut tertawa. Ada juga yang tersenyum geli karena melihat tingkah jahil Libra pada Giselle. Ada juga murid-murid perempuan yang ikut berteriak takut melihat ekor cicak yang bergerak-gerak tak tentu arah di tangan Libra.
"Ini lucu loh," ujar Libra sembari mendekatkan ekor cicak itu pada wajah Giselle.
"Libra stress! Mana ada lucu. Buang sana!" Giselle berteriak panik saat Libra melangkah semakin dekat. Sebagian murid bukannya menolong, justru tersenyum memperhatikan Libra dan Giselle yang terlihat lucu.
"Sini coba pegang."
"Libra sinting!"
Libra tertawa terbahak-bahak saat melihat Giselle berlari keluar kelas.
Libra sangat menyebalkan. Awas saja nanti, dia akan membalasnya.
...***...
16 Januari 2026